Argentina yang tampil tadi malam adalah Argentina yang berbeda dari biasanya, mereka bermain sangat berhati-hati, memilih bersabar dan melupakan angan-angan untuk banyak-banyak menguasai bola.
Tim asuhan pelatih Allejandro Sabella ini mampu tampil baik selama 90 menit awal, sistem pertahanan yang mereka galang mampu membuat frustrasi barisan penyerangan Jerman.
Apa yang Sabella terapkan memang sukses, tapi kelengahan akibat konsentrasi yang berkurang akibat stamina yang terkuras membuyarkan mimpi tim berjuluk Albiceleste itu. Kesalahan kecil Demichelis yang terpancing mengikuti pergerakan Mueller merobohkan kekokohan pertahanan Argentina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada kebiasaan yang jadi ciri khas Sabella dalam menentukan pola permainan dan starting line-up yang diturunkan. Pola permainan yang dia pakai biasanya mirip dengan bagaimana dia bereaksi dan mengolah taktik di pertandingan sebelumnya. [Baca: Pembelajaran Allejandro Sabella]
Pada laga dinihari tadi hal itu kembali dia lakukan. Kesuksesan Argentina memaksa Belanda hingga adu penalti di babak semifinal adalah berkat ditukarnya posisi Ezequiel Lavezzi dan Enzo Perez di sisi sayap pada pertengahan babak kedua. Lavezzi yang semula bermain di sayap kiri, ditukar dengan Perez di sayap kanan.
Otomatis Lavezzi, tipikal striker flank yang biasa melakukan cut inside, diplot lebih cenderung bermain melebar hingga tak bisa memakai kaki terkuatnya. Di sisi lain, Perez lebih leluasa menutup ke tengah. Bermain melebarnya Lavezzi dan Perez yang ke tengah, mampu meredam serangan Daryl Blind dan Nigel De Jong naik ke depan. Alhasil Argentina pun bisa memaksa menahan Belanda hingga adu penalti terjadi.
Dan siapa sangka, skema seperti inilah yang diturunkan Sabella melawan Jerman di final. Sabella memasang Lavezzi di kanan dan Perez di kiri, padahal dua pemain ini asing menempati posisi ini. Mungkin kesuksesan saat melawan Belanda sedikit membutakan Sabella, yang ingin meredam arah serangan sayap Jerman yang timpang melebar ke sayap kiri lewat Toni Kross.
Lepas dari pergantian posisi Perez dan Lavezzi, Sabella sama sekali tak mengutak-atik starting line-up pada posisi lain. Semua bermain pada tempatnya. Dengan formasi 4-2-3-1 dia mengandalkan Zabaleta β Garay β Rojo dan Demichelis.
Cara Argentina Bertahan dan Menyerang di Babak Pertama
Di 30 menit pertama Argentina bermain bertahan total. Lini belakang mereka memainkan garis pertahanan yang dalam, dua poros ganda Biglia dan Mascherano terlihat enggan jauh-jauh naik ke depan membantu saat mereka melancarakan serangan balik. Rojo dan Zabaleta berhati-hati untuk naik ke depan, backfour mereka nyaris selalu sejajar terutama di 20 menit awal.

Saat bertahan Argentina akan memakai formasi 4-4-2 dengan menyejajarkan Lavezzi dan Perez bersama Biglia dan Mascherano. Mereka cenderung menunggu Jerman masuk ke area final third mereka, tak ada pressing atau usaha merebut bola saat Jerman memainkan bola di area tengah. Secara kompak, ketika Jerman mendapat bola lini tengah dan belakang akan bermain rapat dan meninggalkan Messi dan Higuain di depan.
Apa yang dilakukan Sabella ini memang efektif, Jerman kesulitan untuk mengalirkan atau mendrible bola masuk ke dalam kotak penalti. Menumpuk dan rapatnya lini tengah dan belakang argentina membuat serangan Jerman dari tengah sia-sia. [lihat grafis passing Jerman di bawah]

Lantas kendati bermain bertahan, bukan berarti Argentina tak ada celah. Dari grafis passing di atas terlihat dengan jelas beberapa kali Jerman mampu mengeksploitasi sisi sayap kiri yang dijaga Marcos Rojo. Lantas bagaimana hal itu bisa terjadi?
Partner di depan Rojo, Perez bukanlah seorang winger. Dia gelandang tengah yang memiliki kemampuan lebih dalam soal bertahan. Lantas saat saat diserang, dia akan cenderung bergeser ke tengah membentuk segitiga dengan Biglia dan Mascherano. Hal ini tak lain untuk menutup pergerakan 3 pemain Jerman yang sering pula membentuk segitiga dengan rapat antara Mueller β Klose β Oezil.

Berbeda dengan Zabaleta, Rojo tampaknya diintruksikan untuk menjaga jarak dengan Garay. Hal ini demi menutup ruang bagi Mueller yang pandai memanfaatkan bola-bola daerah. Rojo sering terlihat banyak bergeser ke tengah saat diserang. Untungnya hingga menit 10, peran Lahm tidak terlalu ofensif. Dia akan naik hanya hingga garis batas area final third.
Masalah muncul saat Mueller bermain melebar, kondisi ini yang kadang membingungkan Rojo ke mana dia harus menutup. Pasca Mueller yang melebar, Lahm dan Schweinsteiger mengikuti melebar juga, alhasil Jerman mampu melepaskan 6 crossing. Ya meskipun, hanya 2 yang sukses.

Masuknya Andrea Schuerlle pada menit 33 membuat Sabella mengubah taktik. Perez dikembalikan ke posisi kanan dan Lavezzi ke kiri. Perez diplot untuk menjaga Schuerrle. Masuknya pemain Chelsea itu membuat serangan Jerman langsung dialirkan ke sayap kanan dan kiri. Tak ada lagi upaya menerobos lewat tengah, jauh-jauh dari belakang bola sudah digiring ke sayap.

Lantas bagaimana cara Argentina menyerang di babak pertama? Mereka lebih cenderung melancarkan serangan balik lewat bola-bola dan dribling panjang dari lini tengah, terutama mengandalkan Lionel Messi.
Di babak pertama saja tercatat Messi sudah melakukan setidaknya 7 dribling. Menarik dicermati adalah taktik Sabella yang memaksa Lavezzi bermain melebar, hal ini tak lain untuk mengisi posisi Hoewedes yang saat bertahan pasti akan menutup ke tengah, membantu Matt Hummels β menjaga Messi/Higuain agar tak menyambut bola menusuk dari sayap.
Lavezzi sebenarnya bermain efektif, sebagaimana yang dia perlihatkan saat menghadapi Belanda. Dia bukan hanya mampu mengganggu sisi pertahanan yang dijaga Hoewedes, tapi seringkali efektif menopang Zabaleta yang menjaga sisi kanan pertahanan Argentina.
Beberapa Perubahan
Ada sebuah tipikal Sabella lainnya, yakni akan merombak formasi saat jeda turun minum. Di laga ini dia memasukkan Aguero mengganti Lavezzi. Masuknya pemain Manchester City ini membuat Argentina memainkan pola lama yakni 4-3-1-2.
Saat ada Di Maria, sisi kiri akan dimainkan lebih tinggi dari sisi kanan yang dijaga Fernando Gago sebelah kanan, saat menyerang tranformasi akan berganti jadi 4-2-2-2 atau 4-2-3-1. Dan ketika bertahan berubah jadi 4-3-1-2 dan 4-3-3. Hal inilah yang dilakukan Sabella, ya meskipun tanpa memainkan Di Maria.
Di babak kedua Perez bermain lebih ofensif namun tidak melebar seperti yang biasa dilakukan Di Maria dalam sistem ini. Terpusatnya lini serang di tengah mempermudah tugas Aguero dan Higuain yang bertindak sebagai pemecah ruang dan mitra kombinasi dengan Messi. Peran Perez di babak kedua diberi lebih kebebasan untuk naik dan mundur, kondisi ini yang membuat kerjasama Schweinsteiger dan Tony Kroos sebagai poros ganda sempat terpecah.
Bagi Sabella, menurunkan Aguero adalah solusi untuk menahan Schweinsteiger. Sementara Higuain diplot untuk menahan Kroos. Taktik ini membuat Jerman rapuh di tengah. [Lihat grafis passing di bawah]

[Passing Jerman Babak II]
Menarik dicermati adalah asimetris yang terjadi di belakang Argentina yang cenderung mendorong Zabaleta jauh ke depan dan menahan Rojo tak terlalu overlap. Bantuan mengeksploitasi sayap Jerman pun dilakukan oleh para gelandang Argentina, terutama Biglia dan Perez. Kedua pemain ini selalu membantu full back untuk menakan sisi sayap Jerman. Rotasi yang kerap dilakukan Perez dari kiri ke kanan begitupun sebaliknya memberikan ruang terbuka bagi Biglia untuk bebas naik ke depan.
Ditariknya Perez dan memasukkan Gago membuat Argentina mencoba mengeksploitasi sisi tengah. Hal ini terjadi karena pergerakan Gago cenderung vertikal ketimbang horizontal yang berpindah dari sayap satu ke sayap lain. Serangan Argentina pun selalu diakhiri lewat umpan-umpan terobosan, walaupun selalu gagal.

Argentina sebenarnya mampu bermain baik di laga ini, perubahan taktik yang dilakukan Sabella pun cukup reaktif dan tak pasif. Di babak pertama misalnya, secara mengejutkan mereka memainkan garis pertahanan yang dalam dan hanya mengandalkan kemampuan dribling Messi.
Di babak kedua Sabella merombak semua itu dan menghancur leburkan pola diamond di lini tengah Jerman. Masuknya Gago selain membuat pola permainan sedikit berubah, tampaknya Argentina pun memang ingin memaksa laga berakhir dengan adu penalti. Pasca babak dua extra time, mereka kembali ke pola seperti babak pertama. Petaka itu memang tak dapat diprediksi, namun kelengahan menjaga Goetze dan tertariknya Demichelis oleh pergerakan Mueller menjadi lubang hitam yang tak terampuni.
Kesimpulan
Sabella memang gagal mempersembahkan trofi Piala Dunia untuk rakyat Argentina. Tapi keberhasilannya membawa timnya sampai ke babak final tetap menarik untuk dicermati.
Argentina di Piala Dunia 2014 ini memang diperkuat oleh nama-nama mentereng di lini serang. Argentina bukan hanya Messi, tapi juga ada Di Maria, Aguero, Higuain dan Lavezzi. Hanya saja, stok pemain bertahan dan gelandang tengah Argentina memang agak timpang dibandingkan nama-nama tenar di pos penyerangan.
Menyadari ada minus di sisi pertahanan, Sabella bukannya memaksimalkan daya gedor penyerangan yang diperkuat nama-nama top. Sabella justru punya kecenderungan untuk memperkuat pertahanan lebih dulu dan sampai batas tertentu terlihat mengorbankan ketajaman dan agresivitas lini serangnya.
Pilihan itu terbukti sanggup membawa Argentina masuk ke babak final, capaian yang terakhir kali bisa dirasakan Argentina 24 tahun lalu, di Piala Dunia 1990. Hanya saja, pilihan ini juga memakan korbannya: keunggulan dan ketajaman Di Maria, Higuain, Aguerro, dan Lavezzi menyusut jauh jika dibandingkan apa yang mereka pertunjukkan di level klub.
Kinerja Messi akhirnya menjadi pengatrol laju Argentina. Dan begitu Messi tak mendapatkan ruang yang cukup untuk memperlihatkan sihirnya, seperti saat mencetak gol di injury time saat mengalahkan Iran walau sepanjang laga bermain biasa saja, maka nasib Argentina pun menjadi terancam. Dan semalam, Jerman sanggup menutup Messi sehingga dia tak sekali pun mendapatkan celah yang dibutuhkan untuk mengembangkan sayap-sayap mesianik-nya.
Inilah sebentuk pragmatisme ala Sabella yang berhasil membawa Argentina sampai laga puncak tapi justru gagal di laga puncak. Antiklimaks. Dari sisi pencapaian taktikal dan hasil akhir, kita bisa memahami pragmatisme Sabella ini seperti membaca pragmatisme Belanda di era Van Maarwijk pada Piala Dunia 2010.
====
* Pandit Football Indonesia Mengkhususkan pada analisis sepakbola, baik Indonesia maupun dunia, meliputi analisis pertandingan, taktik dan strategi, statistik dan liga. Keragaman latar belakang dan disiplin ilmu para analis memungkinkan PFI untuk juga mengamati aspek kultur, sosial, ekonomi dan politik dari sepakbola. Twitter: @panditfootball Facebook: panditfootball Website: www.panditfootball.com.
(roz/a2s)











































