Saya yakin, ada antusiasme tinggi dari segenap fans Manchester United dari penampilan mereka di tur pramusimnya di Amerika Serikat. Faktor terbesarnya tentu saja figur Louis van Gaal.
Sesungguhnya musim lalu pun saya mengalami antusiasme yang sama, karena untuk pertama kalinya sepanjang sejarah saya menjadi penggemar MU, tur pramusim dipimpin bukan oleh orang selain Sir Alex, melainkan David Moyes. Antusiasme yang terjadi pada tahun lalu dan saat ini bersumber dari satu hal, yaitu rasa penasaran mengenai pola permainan MU ditangan pelatih baru.
Tahun ini antusiasme itu lebih besar dibandingkan tahun lalu -- apalagi Moyes memang sudah "ke laut". Selain CV Van Gaal yang begitu mentereng, orang Belanda ini sudah show off kemampuan selama Piala Dunia 2014, yang membuat saya berimajinasi dan bertanya, apakah MU akan bermain seperti Belanda di Piala Dunia?atau apakah Van Gaal akan menerapkan Total Football sebagaimana dulu dia di Barcelona? Juga, pemain muda mana yang akan diorbitkan oleh Van Gaal, mengingat reputasinya sejak dulu di Ajaxa. Antusiasme tersebut mendorong saya untuk mencoba menganalisis beberapa pertandingan pramusim MU.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang unik setelah kemenangan 7-0 MU atas LA Galaxy (23/7/2014) adalah mengenai formasi yang dipakai MU, di mana terdapat perbedaan persepsi terkait formasi apa yang dipakai Van Gaal. Guardian mengatakan 5-3-2, Daily Mail menyebut 3-4-3, bahkan situs resmi MU menuliskan 3-5-2. Perbedaan persepsi yang terjadi seolah menegaskan sifat dasar Van Gaal yang tidak memusingkan formasi dan lebih menekankan pada filosofi permainan.
Van Gaal adalah seorang filusuf sepakbola, baginya filosofi berada di atas sistem (baca: formasi). Van Gaal pernah mengatakan "Itβs footballing philosophy more than a system", menurutnya formasi bergantung dengan pemain yang dimilikinya dan lawan yang akan dihadapi. Alhasil, wajar apabila Van Gaal seringkali merombak formasinya di setiap tim yang dilatihnya. Ia pernah menerapkan 3-4-3 diamond di Ajax, 4-3-3 di Barcelona, dan 4-4-2 di Bayern Munich. Bahkan pada tahun pertamanya di Bayern Munich Van Gaal berkali-kali merombak formasinya. Akan tetapi, sebagaimana perkataannya di atas, apapun formasinya, filosofi sepakbolanya tidak pernah berubah.
Pada pertandingan melawan LA Galaxy, filosofi Van Gaal diperagakan dengan baik oleh para pemainnya. Sebagai orang Belanda dan penggemar total football, filosofi pertama adalah terkait penguasaan bola, di mana Van Gaal menekankan penguasaan bola dan melakukan pressing terhadap lawan. Terlihat bagaimana cairnya permainan MU, di mana ketika seorang pemain memegang bola, rekan-rekannya yang lain akan membuka ruang dan garis operan.
Pada gambar di bawah terlihat bahwa ketika seorang pemain MU memegang bola (dalam gambar adalah Ander Herrera), maka dia akan memiliki banyak pilihan untuk melakukan operan, setidaknya terdapat tiga segitiga operan di sekitar Herrera.

Sedangkan gambar kedua merupakan proses terjadinya gol ketujuh yang dicetak oleh Ashley Young. Pada gambar terlihat bahwa ketika Herrera memegang bola, setidaknya empat pemain disekitarnya berlari membuka ruang operan. Hal ini memudahkan Herrera sekaligus akan membagi konsetrasi dari pemain bertahan lawan.

Guna menunjang penguasaan bola, Van Gaal menginstruksikan pemain belakangnya untuk turut membantu penyerangan, sehingga wajar apabila tiga bek tengah sering didorong untuk maju ke depan. Ketika melatih klub-klubnya terdahulu, Van Gaal sering mendorong pemain bertahannya untuk lebih maju ke depan dan memulai inisiatif serangan. Contohnya pada pertandingan melawan LA Galaxy terlihat betapa aktifnya Jonny Evans dalam mendukung serangan. Pada gambar di bawah terlihat bagaimana posisi Evans yang sangat maju dan turut dalam mendukung penguasaan bola.

Filosofi kedua adalah menempatkan pemain yang khusus membangun serangan dari sisi sayap. Antonio Valencia (yang kemudian digantikan Rafael) dan Luke Shaw (yang digantikan Reece James) melakoni pekerjaan dengan baik. Mereka terlihat aktif membuka ruang disisi sayap tanpa melupakan tugas untuk bertahan. Pada gambar di bawah terlihat Shaw yang sedang berlari untuk membuka ruang, di mana posisinya sejajar dengan Valencia yang berada di sisi kanan lapangan.

Hal lain yang menarik adalah posisi Darren Fletcher yang justru berada di belakang kedua wing-back dan dua gelandang tengah lainnya. Di saat posisi wing-back sedang menusuk ke depan, maka Fletcher sebagai defensive midfielder centre (DMC) bersiap mengisi pos pertahanan yang kosong. Pada formasi 3 bek, maka di saat wing-back maju maka dua bek tengah akan mengisi pos yang kosong di kedua sisi lapangan (seperti gambar di bawah). Sedangkan, sebagai DMC, dalam kondisi diserang, maka sebagai DMC Fletcher akan membantu tugas satu orang bek tengah yang tersisa.

Filosofi ketiga adalah memplot trio lapangan tengah dengan komposisi DMC box to box midfielder-playmaker murni. Perpaduan dari tiga penguasa lapangan tengah tersebut yang menjadi resep manjur Van Gaal selama ini. Contohnya, ketika di Ajax, untuk mendampingi playmaker murni semacam Jari Litmanen, Van Gaal menugaskan Edgar Davids-Ronald De Boer-Rijkard. Hal tersebut membuat lapangan tengah Ajax menjadi sangat dinamis, terutama karena sang playmaker dapat bergerak bebas untuk menyerang, karena sisi bertahan sudah di-cover oleh box to box midfielder dan DMC.
Pada babak pertama komposisi ini diisi oleh Fletcher-Herrera-Mata, yang dijalankan dengan sangat baik. Fletcher mampu menjadi pelindung 3 bek tengah MU sekaligus mendistribusikan bola dengan baik. Herrera yang tampil sangat impresif sukses membuktikan mengapa Van Gaal lebih memilih dirinya ketimbang Toni Kroos. Kemampuan passing orang Spanyol itu dilengkapi dengan kemampuan bertahan yang sangat baik. Statistik menunjukkan, selama di Athletic Bilbao, akurasi umpan Herrera di atas 80% plus rata-rata tackling per pertandingan mencapai 3,1 (Kross hanya 1,8).
Alhasil, pada pertandingan debutnya bersama MU Herrera terlihat sangat dominan. Khusus untuk Juan Mata, kehadiran Herrera dan Fletcher membuatnya tidak terbebani untuk bertahan, sehingga dia dapat menjalankan tugasnya sebagai playmaker murni. Jika skema ini terus dijalankan, maka Mata akan kembali kepada performa puncaknya.
Memang terlalu dini untuk menilai tim dari satu pertandingan persahabatan. Tapi setidaknya fans MU bisa melihat satu hal yang satu musim terakhir hilang, yaitu "karakter". Karakter permainan terlihat dengan jelas dan pemain memiliki visi permainan yang sama, sehingga menghasilkan permainan yang sedap untuk ditonton.
"Survival of the Fittest"
Pertandingan lain yang menarik untuk dicermati adalah kala MU mengalahkan Inter Milan lewat adu penalti. Di situ pasukan Red Devils terlihat semakin menguasai sistem dan filosofi yang diterapkan Van Gaal. Satu hal yang menarik dari pertandingan ini adalah fenomena "survival of the fittest" yang terjadi di kubu MU. Teori yang dipopulerkan oleh Herbert Spencer ini dapat diartikan sebagai spesies yang dapat menyesuaikan/sesuai dengan lingkungan yang ada, maka dia memiliki kesempatan yang lebih baik untuk melakukan reproduksi (baca: selamat). Dalam konteks MU, fenomena ini sedang melanda para pemain dengan posisi sayap.
Dalam dua musim terakhir MU mengalami krisis di sektor sayap. Pada tahun terakhir kekuasaan Sir Alex, problem ini sudah sebegitu kronisnya sehingga membuat Fergie bereksperimen dengan formasi 4-4-2 diamond. Di era Moyes keadaan tidak lebih membaik. Moyes kerap memasang Valencia dan Young, dan sialnya mereka (hampir) selalu tampil dibawah standar. Begitu pula dengan Nani yang rentan cedera dan belum bisa menurunkan egonya, sementara Wilfried Zaha entah mengapa tidak kunjung diberi kepercayaan. Satu-satunya cahaya harapan dari sektor ini adalah Januzaj yang menunjukkan kelasnya musim lalu. Pemain yang menciptakan 1,1 key passess setiap pertandingan ini, paling tinggi di antara semua pemain sayap MU lainnya, menciptakan gol sebanyak jumlah gol Valencia, Young, Nani dan Zaha.
Kedatangan Van Gaal tentu membawa asa baru bagi pendukung MU. Pelatih yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas filosofi permainannya ini memulai revolusi dengan memperkenal sistem (formasi) 3-5-2. Formasi ini diterapkan pada tiga pertandingan persahabatan dan membuahkan hasil yang positif. MU memiliki surplus di sektor gelandang tengah dan penyerang, dan formasi ini membuat MU memaksimalkan potensi mereka. Akan tetapi, formasi ini memakan korban, yaitu pemain sayap.
Guna menjalankan formasi 3-5-2, pemain yang beroperasi di sektor sayap adalah pemain dengan tipikal wing-back. Pemain yang beroperasi sebagai di wing-back membutuhkan spesifikasi kemampuan bertahan dan menyerang yang sama baiknya dan dilengkapi dengan disiplin yang tinggi. Valencia merupakan pemain sayap pertama yang lolos dari "survival of the fittest" yang sedang terjadi. Kemampuan Valencia dalam bertahan sudah lama menjadi andalan Sir Alex, di mana dalam kondisi tertinggal, Sir Alex sering menggeser Valencia ke posisi wing-back. Perpanjangan kontraknya baru-baru ini menjadi sertifikat lolosnya Valencia dari seleksi alam ini. Sedangkan Januzaj tampaknya tidak perlu terlalu khawatir, karena pada dasarnya dia memiliki kemampuan untuk menempati posisi no 10, yang mungkin akan menjadi posisinya di masa yang akan datang. Fenomena survival of the fittest saat ini sedang melanda tiga pemain sayap lainnya, yaitu Nani, Zaha, dan Young.
Sebelum pertandingan melawan Inter Milan, Van Gaal ditanyakan terkait Zaha dan dia menjawab, "When we play this system (3-5-2), he has to play as a striker, otherwise he cannot play". Sedangkan ditanya tentang Young, dia menjawab, "Young is another winger but he can play as wing-back". Seolah-olah Van gaal menegaskan pada semua pemain sayap MU, khususnya ketiga pemain tersebut, "Jika masih ingin bermain maka beradaptasi dengan formasi yang ada, dan tingkatkan kemampuan yang mendukung untuk bermain di posisi tersebut".
Pada pertandingan melawan Inter Milan, Young memulai pertandingan sebagai wing-back kiri dan di babak kedua digeser sebagai wing-back kanan. Sedangkan Zaha dan Nani, yang masuk pada babak kedua, diposisikan sebagai striker. Ketiga pemain ini seolah sedang mengikuti audisi dengan Van Gaal sebagai jurinya. Young, menurut penulis, kurang tampil meyakinkan. Kurang membantu dalam menyerang dan kurang disiplin dalam bertahan. Sedangkan Zaha dan Nani yang berposisi sebagai striker relatif bermain lebih baik, walaupun Nani hanya sempat tampil 30 menit. Mereka setidaknya berusaha menjalankan tugasnya sebagai striker, dan dalam beberapa kesempatan terlihat membahayakan. Walaupun begitu, mereka tetap tidak pada level yang sama dengan striker MU lainnya. Sehingga, eksistensi mereka pada skuad MU masih sangat terancam.
Van Gaal terkenal atas reputasinya dalam mengeliminasi pemain yang dia rasa tidak sesuai dengan filosofinya, Luca Toni dapat bercerita banyak mengenai hal tersebut. Van Gaal datang ke MU dengan membawa kampak besar ala Gimli untuk menebang sektor sayap yang selama ini lumpuh total. Pilihan yang dimiliki oleh pemain-pemain sayap MU adalah beradaptasi dengan sistem dan filosofi baru, atau mereka akan tereliminasi oleh seleksi alam. Jika evolusi adalah proses lama dan bertahap, sedangkan yang diperlukan oleh pemain sayap MU adalah revolusi. Di mana dalam waktu cepat mereka harus beradaptasi dan berkembang, sehingga mereka dapat terus bertahan.
===
* Penulis adalah penggemar Manchester United, berprofesi sebagai analis kebijakan ekonomi, sedang mencoba mendalami bidang keilmuan "soccernomics". Dapat dijumpai di blog msyarifh88.wordpress.com
(a2s/krs)











































