Penyebab Van Gaal Gagal di Laga Awal

Liga Inggris: Manchester United 1-2 Swansea City

Penyebab Van Gaal Gagal di Laga Awal

- Sepakbola
Minggu, 17 Agu 2014 20:12 WIB
Penyebab Van Gaal Gagal di Laga Awal
Getty Images
Jakarta -

Louis van Gaal menerbitkan kembali optimisme di Old Trafford. Di tengah bubungan optimisme yang terkerek tinggi itu, Van Gaal memberikah hadiah pahit di laga perdana Liga Primer: untuk pertamakali sejak 1992, baru semalam Manchester United kalah di laga pembuka. Dan itu terjadi di depan mata van Gaal, sang pengerek optimisme itu.

Gol dari Ki Sung-Yeung mengagetkan sang tuan rumah di menit ke-28 sebelum kemudian aksi akrobatik kapten Wayne Rooney berhasil membuat skor menjadi sama kuat di babak ke dua. Meskipun United lebih banyak menguasai bola, Swansea lah yang berhasil pulang dengan riang gembira. Pahlawan mereka malam tadi adalah Gylfi Sigurdsson dengan gol pamungkasnya di 15 menit sebelum pertandingan berakhir.

Sejak musim 1984/1985, tidak pernah ada tim yang menelan kekalahan di kandang sendiri pada laga pembuka bisa menjadi juara liga di akhir musim. Van Gaal menghadapi situasi yang tak mudah, anggaplah ini laga yang sekali lagi menegaskan: laga di Liga Primer selalu lebih sulit ketimbang laga ujicoba melawan Real Madrid sekali pun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini Masih Manchester United yang Sama

Kecuali dengan kehadiran Ander Herrera, Manchester United semalam masihlah Manchester United yang sama dengan musim lalu. Banyak pemain yang cedera, termasuk Luke Shaw yang terbaru. United harus bermain tanpa sembilan pemain tim utama.

Van Gaal menurunkan formasi 3-4-1-2 atau 3-5-2 (yang manapun yang Anda lebih sukai untuk disebutkan) andalannya. Tyler Blackett yang bermain gemilang pada pra-musim pun dimainkan untuk menjalani debut penuhnya bersama tim utama di kompetisi resmi. Ini semakin menegaskan pernyataan van Gaal sebelumnya, bahwa ia membutuhkan seorang bek tengah yang berkaki dominan kiri yang bisa banyak memainkan bola (ball playing defender).

Maka dari itu jangan heran kalau Van Gaal kesal setengah mati ketika mereka gagal mendatangkan Thomas Vermaelen. Tapi untuk sementara ini, Blackett memang merupakan jawaban Van Gaal yang paling benar (jika ini bukanlah jawaban yang paling baik).

Jesse Lingard pun senasib dengan Blackett, ia memperoleh debutnya semalam di sayap kanan. Menyingkirkan nama-nama Antonio Valencia dan Rafael da Silva yang sebenarnya lebih mumpuni. Namun, sayangnya mereka berdua sedang cedera.


Susunan pemain Manchester United dan Swansea City (sumber: whoscored.com)

Sementara Garry Monk menurunkan susunan pemain terbaik mereka, meskipun mereka telah kehilangan Michael Vorm, Chico Flores, Ben Davies, dan Michu musim ini. Sorotan utama adalah kembalinya Sigurdsson mengisi posisi idealnya yang pernah ia jalankan di Swansea dua musim lalu, yaitu di belakang striker (Wilfried Bony).

Mengintip Pertahanan United Secara Umum

Bermain dengan tiga bek adalah sesuatu yang asing untuk United. Mereka tidak pernah memainkan pola ini bahkan sejak Liga Premier lahir. Tetapi dari semua pembicaraan tentang sebuah awal yang baru menyusul kepergian Moyes, ini tetap menjadi kisah yang sama: penguasaan bola tanpa penetrasi.

Herrera terlihat sibuk di lini tengah tapi tanpa efek seperti yang dia perlihatkan pada pra-musim. Umpan-umpan terobosan yang terlihat menjanjikan sepanjang pra-musim kali ini gagal diperlihatkannya. Dengan Fletcher sebagai tandemnya, sulit untuk melihat inspirasi United akan datang dari lini tengah. Rooney yang ditandemkan bersama Javier Hernandez dan Juan Mata di belakangnya juga beberapa kali terlihat kebingungan.
Penampilan Lingard yang menjanjikan di awal pun harus sirna karena cedera dini. Adnan Januzaj yang kemudian menggantikannya beberapa kali tersiksa oleh Neil Taylor di kiri, apalagi dengan sentuhan akhirnya yang selalu berantakan.

Sistem tiga bek dan dua wing-back semalam memiliki satu ciri khas utama dalam bertahan, yaitu kedua wing-back ditarik ke belakang sehingga United terlihat memiliki lima bek di belakang.

Satu sorotan utama semalam adalah Ashley Young. Memilih Young terbukti adalah sebuah upaya yang sia-sia. Young bukanlah bek kiri ataupun sayap kiri, perannya terbukti sangat berat. Di babak pertama, mayoritas serangan Swansea adalah lewat kiri United, di mana Young (bersama Blackett) bermain.


Proses gol Ki

Blackett memang terlihat kompeten sebagai bek tengah kiri, tetapi levelnya masih jauh dibandingkan lawannya semalam, Nathan Dyer. Pada gol pertama, dia kebingungan ketika harus memilih antara Wayne Routledge atau Sigurdsson untuk dijaga, yang menjadi awal gol pertama Swansea.

Selain Blackett yang kebingungan, pada gol di atas bisa dilihat Herrera yang tidak melakukan track-back kepada Ki. Young dan Blackett tidak bisa berkoordinasi, sehingga Chris Smalling terpaksa harus meng-cover Sigurdsson padahal seharusnya dia meng-cover Ki. Smalling harus melakukan ini karena Herrera telah jauh berada di depan sehingga tak ada yang bisa melindungi back-three.

Swansea Membuat Lapangan Menjadi Terlalu Lebar untuk United

Saat Lindgard harus keluar karena cedera, van Gaal menghadapi persoalan tak ada lagi stok wingback yang bisa dimasukkan. Solusi sementara adalah memasukkan Januzaj dengan mengorbankan sisi kanan pertahanan. Januzaj sama sekali tak punya kemampuan bertahan yang menjadi prasyarat seorang wingback.

Risiko inilah yang agaknya memaksa van Gaal mengubah taktik di babak kedua dengan memainkan empat bek sejajar. Young turun menjadi fullback kiri, Phil Jones sebagai fullback kanan, dengan duet center back diisi oleh Bleckett dan Smalling. Selanjutnya, dia menarik Chicarito dan memasukkan Nani di sisi kanan penyerangan. United memainkan formasi 4-2-3-1 dengan Rooney sendirian di depan.


Grafik pengaruh pemain Manchester United di babak ke dua (sumber: FFT Stats Zone)

Pada grafik di atas, jika dibandingkan dengan grafik susunan pemain pada halaman pertama, bisa dilihat United bermain dengan empat bek seperti yang biasa mereka lakukan di bawah Sir Alex Ferguson dan Moyes. Inilah yang memang dimainkan United di babak kedua.

Awalnya, United bermain lebih ciamik dan bisa menyamakan kedudukan pada babak ke dua. Bahkan, United bisa saja unggul 2-1 jika mereka bisa menyelesaikan peluang dengan lebih baik. Untuk masalah ini, kita bisa menyoroti Januzaj yang beberapa kali menyia-nyiakan peluang dari sisi kanan.


Grafik permainan Januzaj dan Young (sumber: FFT Stats Zone)

Blackett kembali ke peran bek tengah kiri yang lebih ortodoks di babak kedua dan itu adalah kunci perubahan permainan United. Tapi perubahan Young menjadi bek kiri terbukti menjadi awal bencana pertahanan United.

Berseberangan dengan van Gaal, Monk harus bangga dengan cara bermain Swansea. Swansea bermain terorganisir, disiplin, dan berkomitmen, sehingga sulit bagi United untuk mengalahkan mereka, padahal banyak yang memprediski United akan menang dengan 2 atau 3 gol.


Grafik permainan menyerang Sigurdsson dan bertahan Williams (sumber: FFT Stats Zone)

Bony melakukan pekerjaan yang mengagumkan di depan, sementara Jonjo Shelvey dan Routledge dipersilakan untuk bermain lebih bebas di lini tengah. Peran terbaik dijalankan oleh Sigurdsson yang terlihat menemukan kembali permainan terbaiknya yang lenyap di Tottenham Hotspur musim lalu. Pemain internasional Islandia ini menjadi bintang dengan mencetak satu assist dan satu gol.

Namun di antara itu semua, lini belakang adalah zona di mana Swans unggul berkat penampilan yang luar biasa dari kapten Ashley Williams. Sang kapten terlihat selalu fokus dan sabar dalam timing pengambilan keputusan. Ia juga selalu mengkoordinasi rekan-rekan timnya di sekitarnya dan memastikan bahwa United diberi sedikit mungkin ruang. Sosok ini yang tidak dimiliki oleh tim United, itu juga yang membuat mereka mengejar mati-matian Mats Hummels sekarang.

Evaluasi Lini Tengah untuk United

Selain fokus van Gaal untuk merekrut bek baru, tidak terlalu banyak sikap kritis dari sudut pandang defensif dari debutan Blackett yang dipasang di belakang bersama Phil Jones dan Smalling.

Cara bermain United sudah benar, satu-satunya kelemahan mereka di belakang adalah pengalaman. Itu bisa terpecahkan lambat laun nantinya. Tetapi lini tengah yang menjadi sorotan van Gaal. Lini tengah mereka sangat kekurangan kreativitas, energi, dan dinamisme, yang semuanya berkontribusi dalam hasil buruk semalam.

Jika van Gaal ingin memainkan 3-4-1-2 di United untuk waktu yang lama, ia membutuhkan sosok seperti Nigel de Jong di tim nasional Belanda. Seorang pemain fisikal dan energik, yang tidak sungkan bermain keras untuk melindungi tiga bek di belakangnya. Selain Arturo Vidal yang semakin dekat, Marouane Fellaini sebenarnya bisa memerankan itu. Kuncinya ada di tangan van Gaal sendiri.

"Saya tahu pemain baru mana dan di posisi mana yang saya butuhkan," kata Van Gaal. "Tapi Anda harus membeli hanya ketika pemain dapat memenuhi cara bermain yang saya minta. Kita harus menunggu dan melihat."

Lalu ada satu lagi yang perlu kita sorot semalam, yaitu fisik pemain-pemain United yang loyo. Bahkan bek-bek tengah merekapun seringkali kalah oleh tubuh keras Bony dan Bafetimbi Gomis. Semalam, Swansea menunjukkan kepada kita bahwa United belum bermain sebagai sebuah tim.

"Saya telah melihat banyak pemain yang sangat gugup, membuat pilihan yang salah, dan itu patut disayangkan," kata Van Gaal. "Para pemain ini harus terbiasa dengan harapan karena itu adalah Manchester United. Anda harus bisa mengatasi tekanan itu."

Hal ini bisa saja menjadi berbeda jika Robin van Persie, Michael Carrick, Luke Shaw, Antonio Valencia, dan pemain lainnya bisa bermain. Tetapi untuk saat ini, van Gaal harus bekerja dengan apa yang ia punya, dan itu tidaklah cukup baik.

(din/mfi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads