Skema Baru Pellegrini yang Mulai Jalan

Liga Inggris: Newcastle 0-2 City

Skema Baru Pellegrini yang Mulai Jalan

- Sepakbola
Senin, 18 Agu 2014 15:45 WIB
Skema Baru Pellegrini yang Mulai Jalan
Getty Images/Serena Taylor
Jakarta - Hasil bagus diraih Manchester City di laga perdana Liga Primer. Anak asuhan Pellegrini ini berhasil unggul dua gol dua gol tanpa balas atas Newcastle United yang bermain di kandang. David Silva dan Kun Aguero menjadi aktor penting di balik kemenangan ini berkat sumbangan golnya.

Tak seperti partai sebelumnya di Community Shield, kali ini The Citizens sudah bisa turun ke lapangan dengan beberapa pilar tim yang absen saat dikalahkan Arsenal karena faktor kebugaran. Hasil akhir 0-2 untuk kemenangan City menjadi sinyal kesebelasan ini masih solid dan siap untuk mempertahankan gelar.

Susunan Pemain

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Ada dua pemain Newcastle yang menjalani debut dan tampil mengesankan semalam, yakni Jack Colback dan Remy Cabella. Peran keduanya di lini tengah begitu sentral dengan tugas yang diemban masing-masing.

Terlepas dari hasil akhir yang buruk bagi Newcastle, Colback setidaknya memperlihatkan kemampuan yang cukup prima guna memperkuat sektor tengah dari gempuran tim tamu. Gaya main anak asuh Pellegrini yang fokus menyerang lewat tengah memaksa gelandang bertahan menjadi posisi yang bekerja paling keras dan sejauh ini Colback tidak mengecewakan.

Sedangkan Remy Cabella tak hanya menjadi pusat perhatian berkat gaya rambutnya yang banyak diperbincangkan saat pertandingan. Serangan yang dibangun Newcastle banyak dimulai dari kaki Cabella, mulai dari membangun serangan hingga penetrasi ke area sepertiga akhir.

Sementara dari kubu tim tamu, ada sedikit kejutan dengan dipasangnya Fernando menjadi starter menggantikan Fernandinho di lini tengah. Tetapi ketika melihat jalannya pertandingan, nampaknya hal ini karena faktor permainan City yang menjalankan skema tak seperti musim lalu (dijelaskan pada poin selanjutnya). Lalu dicadangkannya Mangala dan Aguero murni karena faktor kebugaran yang belum maksimal, seperti yang dikatakan Pellegrini sebelumnya.

Menyerang Lewat Tengah Melalui Nasri dan Silva

Menggunakan formasi 4-4-2, Pellegrini memilih menurunkan dua gelandang sayap dengan tipikal hampir sama. Nasri dan Silva adalah dua pemain yang memang punya kemampuan menjadi playmaker, bagus dalam menguasai bola, dan sama-sama bisa ditempatkan di belakang striker atau mendekati area striker melalui pergerakan dari sayap.

Musim lalu, tugas menopang striker diemban dengan baik oleh Yaya Toure dengan dibantu Silva. Baik Nasri maupun Navas, atau bahkan Millner, akan fokus menyerang dengan menyisir sayap kanan. Cara menyerang dengan memaksimalkan Nasri dan Silva di belakang striker kali ini membuat City banyak fokus menyerang melalui tengah.



[Grafis umpan Silva dan Nasri sepanjang pertandingan- Squawka]

Sementara Toure dan Fernando menunggu di tengah dan tidak terlalu agresif naik hingga sepertiga akhir. Antara Silva, Nasri, dan Toure kemudian membentuk segitiga di belakang striker. Sedangkan salah satu penyerang terkadang melebar jika kotak penalti dirasa terlalu penuh dan saat City kesulitan mengalirkan bola.

Dengan menahan Toure dan Fernando untuk tidak banyak aktif menyerang juga menguntungkan bagi City guna mengantisipasi cara menyerang Newcastle yang banyak mengandalkan serangan balik. Konsentrasi Toure dan Fernando di tengah ini praktis membuat Newcastle kesulitan menembus pertahanan City melalui tengah.

Sementara agresivitas dari sayap kali ini menjadi pekerjaan kedua fullback City yang maju hingga sepertiga akhir, meski hanya Kolarov di kiri yang lebih aktif ketimbang Clichy di sisi sebaliknya.

Pada awalnya taktik Pellegrini ini seakan terlihat memaksa karena tidak memanfaatkan sisi sayap Newcastle yang kerap ditinggal pemainnya. Tetapi ketika melihat cara The Magpies menyerang, pilihan taktikal Pellegrini ini bisa dikatakan jitu.

Pujian juga patut dialamatkan kepada barisan belakang The Citizens, meski belum dapat menampilkan pemain barunya Eliaquim Mangala. Duet Kompany dan Demichelis yang sudah bersama sejak musim lalu bermain apik semalam. Sebagai catatan, meski melakukan 12 kali tembakan, tidak ada satupun percobaan mencetak gol dari Newcastle yang bisa mengenai sasaran. Lini serang The Magpies berhasil ditekan sedemikian rupa sehingga momen-momen eksekusi akhir sering dilakukan dalam posisi yang tidak ideal.

Pressing Ketat Tetapi Statis Newcastle

Alan Pardew menginstruksikan anak asuhnya untuk melakukan pressing ketika bertahan. Tak tanggung-tanggung, dengan model bertahan man to man marking (satu pemain, satu penjaga) pemain City akan terus dikejar hingga daerah bertahannya sendiri. Cara ini membuat proses membangun serangan Vincent Kompany dkk., sempat terganggu sehingga kesulitan untuk mengalirkan bola ke depan.

Hal ini pula yang membuat City baru bisa mencetak gol pada menit 38 meski menguasai jalannya pertandingan sejak awal. Ketika ditekan, bola tak dapat mengalir lancar ke sepertiga akhir, jika sudah mencapai sayap bola harus mengalir dahulu ke tengah. Namun apabila tertutup rapat, bola akhirnya dikembalikan lagi ke belakang begitu seterusnya.

Gol pembuka pada babak pertama sendiri terjadi karena kecerdikan Dzeko dan pergerakan yang baik dari Silva. Saat membuka ke sayap dan menerima bola, Dzeko kemudian melakukan backheel yang disusul masuknya Silva dari lini kedua. Gol. 1-0. Kecerdikan Dzeko-lah yang akhirnya mampu membongkar ketatnya man to man marking pemain Newcastle di pertahanan.

Sayangnya, kinerja relatif baik dari pertahanan Newcastle ini tak diimbangi tak diimbangi saat menyerang. Pergerakan para pemainnya terlalu statis dan minim dalam hal membuka ruang. Cabella terlihat bekerja sendirian dengan terus bergerak ke seluruh lapangan. Mulai dari menyisir sayap hingga masuk ke kotak penalti.



[Heatmap Cabella-Squawka]

Sissoko yang seharusnya menjadi poros serangan karena berada di belakang striker justru minim kontribusi. Ketika berada di antara gelandang bertahan City, ia tak melakukan inisiatif untuk menjemput bola. Sissoko terlalu pasif dan statis sehingga Riviere di depan praktis sedikit sekali mendapatkan ruang.

Pergantian Pemain yang Mengubah Pertandingan

Ada dua pergantian kunci yang mengubah jalannya pertandingan, keduanya adalah pergantian pertama kedua tim. Yakni masuknya Obertan menggantikan Anita (Newcastle) pada menit 63 dan ditariknya Jovetic yang digantikan oleh Fernandinho (City) 10 menit kemudian.

Masuknya Obertan yang menempati sayap membuat Cabella lebih leluasa bergerak. Sissoko yang minim kontribusi kemudian ditarik mundur menggantikan peran Anita. Sebelumnya, Cabella tidak dapat terlalu sering meninggalkan posnya di sayap karena harus menahan pergerakan Kolarov di sisi yang sama.

Pola penyerangan dari Newcastle mulai jalan karena kini ada Cabella yang bertugas menjemput bola dan mendistribusikannya ke depan. Tetapi sayang justru pada fase ini pemain Perancis tersebut terlihat kelelahan dan tak lagi mampu berlari terutama saat serangan balik.

Sementara masuknya Fernandinho kemudian mengubah pola permainan City dari 4-4-2 ke -4-2-3-1. Menarik striker (Jovetic) dan menggantikannya dengan gelandang bertahan, sedangkan Yaya Toure kemudian didorong ke depan. Pada skema ini permainan The Citizens justru menurun, alih-alih semakin kokoh bertahan. Kordinasi di lini belakang bahkan menjadi kacau karena tak padunya Fernandinho dan Fernando.

Peluang yang dimiliki oleh Newcastle pada detik-detik akhir pertandingan menjadi bukti bagaimana rapuhnya pertahanan The Citizens. Kedua gelandang bertahan yang seharusnya bertugas melindungi keempat bek dari lini kedua malah ikut turun ke dalam saat menerima umpan silang lawan.
Beruntung bagi tim tamu karena masih punya Aguero yang baru masuk tujuh menit menjelang laga berakhir. Tenaga segar menantu Maradona ini membuat dirinya tak terkejar saat adu lari dengan Coloccini untuk mencetak gol penutup pertandingan.

Kesimpulan

Terlepas dari hasil buruk bagi tuan rumah, Newcastle perlahan mulai menemukan pola permainannya. Melawan juara bertahan dengan skuat yang tak banyak berubah dan sudah memiliki pakem memang tak mudah. Keberanian dari Alan Pardew untuk menurunkan pemain muda juga patut diacungi jempol. The Magpies bisa jadi kuda hitam Liga Inggris musim ini.

Sedangkan bagi City, hasil ini bisa jadi menambah kepercayaan diri mereka untuk bisa mempertahankan gelar. PR yang masih harus dikerjakan oleh Pellegrini hanyalah memadukan dua gelandang yang bertugas sebagai poros ganda agar dapat melakukan rotasi di empat kompetisi. Apalagi di bangku cadangan masih ada nama Frank Lampard yang terlalu sayang jika tidak dimanfaatkan.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini

(roz/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads