Lubang di Sisi Kiri Atletico dan Perubahan Taktik Ancelotti

Piala Super Spanyol: Madrid 1-1 Atletico

Lubang di Sisi Kiri Atletico dan Perubahan Taktik Ancelotti

- Sepakbola
Rabu, 20 Agu 2014 11:54 WIB
Lubang di Sisi Kiri Atletico dan Perubahan Taktik Ancelotti
AFP/Gerard Julien
Jakarta - Real Madrid meraih hasil imbang 1-1 kala menghadapi Atletico Madrid dalam pertandingan leg pertama Piala Super Spanyol. Hasil ini memberikan keuntungan bagi Atletico karena skuat asuhan Diego Simeone tersebut tinggal bermain imbang tanpa gol pada leg kedua, Jumat (22/8) mendatang.

Bagi Atletico Madrid, pertandingan ini sekaligus sebagai sebuah pembuktian. Ditinggalkan banyak pilar-pilar sekali pun, seperti Diego Costa, Filipe Luis, Thibaut Courtois, David Villa, serta Adrian, tak membuat Los Rojiblancos menjadi tim yang keropos dan ringkih. Ditinggal nama-nama penting itu sekali pun, mereka masih sanggup memberikan perlawanan yang sangat sengit, dan bahkan sanggup menahan Real Madrid di kandangnya sendiri.

Sedangkan bagi Real Madrid trofi Piala Super Spanyol akan menjadi gelar kedua mereka di musim ini. Mereka masih berambisi meraih sextuple atau enam gelar dalam semusim. Sebelumnya, skuat asuhan Carlo Ancelotti ini berhasil memenangi Piala Super Spanyol setelah mengandaskan Sevilla, dua gol tanpa balas, sepekan silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Skuat Baru Atletico



Simeone mempercayakan Miguel Angel Moya untuk mengawal gawang Atletico, menggantikan peran yang musim lalu dijalankan dengan nyaris sempurna oleh Courtois. Pemain yang musim lalu membela Getafe ini diharapkan mampu memaksimalkan visi bermainnya untuk menunjang permainan Atletico. Ia tak hanya berperan sebagai kiper, tapi juga sesekali mampu menjadi inisiator serangan dengan umpan-umpan panjang yang efektif dalam skema serangan balik.

Posisi kiper ini terbilang penting. Musim lalu, Cortouis memiliki peran yang sama. Selain bertugas menahan gempuran lawan, ia mesti melihat celah di lini pertahanan lawan untuk memberikan umpan langsung ke jantung pertahanan lawan.

Di lini pertahanan, kepergian Luis ke Chelsea menjadi kehilangan besar bagi Atletico. Ini yang membuat Simeone mesti mendatangkan Guillherme Siquiera dari Granada. Sisi kiri Atletico menjadi begitu rentan karena harus menjaga area yang biasa dieksploitasi Gareth Bale dan Daniel Carvajal.

Banyak yang meragukan Mandzukic akan bersinar bersama Atletico. Dari cara bermain, Mandzukic jelas berbeda dengan Diego Costa maupun David Villa. Namun, Mandzukic memiliki kelebihan dalam duel bola udara.Ia juga mampu mencari celah saat lawan lengah. Kemampuannya ini ditunjang kecepatan Raul Garcia yang diplot sebagai tandem pemain Kroasia ini.

Menekan Sejak Awal

Ciri permainan Atletico pada musim lalu adalah selalu menerapkan pressing ketat sejak menit awal. Hal yang sama terlihat saat menghadapi Real Madrid, Rabu (20/8) dinihari tadi

Ada yang berbeda dari peragaan pressing ketat Los Rojiblancos kali ini. Apalagi jika dibandingkan saat mereka dikalahkan 1-4 oleh Real Madrid di final Liga Champions musim lalu. Jika musim lalu, mereka bisa menahan serangan Los Blancos hingga setengah lapangan, kali ini tidak demikian. Bisa dibilang, Real Madrid sedikit demi sedikit mampu melepaskan tekanan.

Sejumlah tekel malah menghasilkan pelanggaran. Karena tensi yang begitu tinggi, hingga menit ke-12 telah tercipta dua kartu kuning untuk Atletico. Satu untuk Koke dan satunya lagi untuk Siqueira. Lini tengah Atleti masih terlalu terburu-buru untuk menahan serangan El Real. Pressing ketat ini hanya berlangsung hingga paruh waktu babak pertama. Sisanya, Real Madrid berhasil memanfaatkan jarak antar lini Atletico Madrid yang terlampau lebar.

Ada Jarak Antarlini

Dengan mengandalkan 4-4-2, Simeone menduetkan rekrutan anyar mereka, Mario Mandzukic dengan Raul Garcia. Mandzukic berperan untuk menuntaskan umpan. Sementara itu, Garcia diplot untuk menjemput bola dan menyisir sayap kanan Los Rojiblancos.

Meskipun demikian, pola ini tidak terlihat sepanjang pertandingan. Atletico lebih sering tertekan dan kehilangan bola. Adanya jarak antar lini, membuat lini tengah Atletico bermain tak maksimal. Suplai bola ke lini depan menjadi minim.

Begitu pula kala bertahan. Lini tengah Atletico yang dihuni Saul Niguez, Gabi, Mario Suarez, serta Koke seringkali terlambat untuk bertahan. Padahal peran Suarez dan Gabi begitu vital untuk menahan serangan dari tengah.

Menjadi problem ketika lini pertahanan Atleti semakin terdesak sehingga terpaksa menggunakan garis pertahanan yang rendah. Dengan Suarez dan Gabi yang kerap terlambat melindungi back-four, Atleti dalam persoalan serius. Jarak antar lini ini membuat Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale beberapa kali menggiring bola dengan bebas di sisi kotak penalti Atletico. Tidak ada penjagaan yang terlalu ketat saat mereka menggiring bola.
Tapi El Real sendiri tidak terlalu prima untuk memanfaatkan celah ini. Mereka terlalu asyik untuk mengeksploitasi sisi permainan Atleti. Di babak pertama, kontribusi Kroos dan Modric sendiri tidak begitu terlihat. Bola lebih sering dialirkan ke sayap, ketimbang melakukan penetrasi langsung lewat area tengah lapangan.

Masalahnya, menyerang lewat sisi lapangan ini pun menemui jalan buntu jika dilakukan di sisi kanan. Di babak pertama, El Real begitu kesulitan untuk menembus sisi kanan pertahanan Atletico Madrid. Bahkan, kombinasi Cristiano Ronaldo, Toni Kroos, dan Marcelo, kesulitan untuk menembus rapatnya sisi ini.

Kehadiran Juanfran di sisi kanan pertahanan Atletico menjadi begitu vital. Total lima tekel dan empat clearence dibuatnya dalam pertandingan tersebut. Pemain bernama lengkap Juan Francisco Torres Bellen ini bermain begitu lugas untuk mematahkan serangan Real Madrid. Selain itu, dukungan Niguez membuat sisi kanan pertahanan Atletico begitu kuat untuk dapat ditembus. Niguez mencatatkan dua tekel dan dua clearence, sedangkan Gabi melakukan lima tekel dan tiga intercept.

Rapuhnya Sisi Kiri Atletico Madrid

Penampilan Siqueira di sisi kiri pertahanan Atletico belum bisa dikatakan mengesankan. Kepergian Luis ke Chelsea, benar-benar membuat Simeone kehilangan pemain yang bisa diandalkan untuk mengisi pos fullback kiri.Padahal dua sisi pertahanan Atletico harus berhadapan dengan Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale.

Di lima menit awal, El Real mencoba membuka celah di sisi kanan pertahanan Atletico. Namun, tak sekalipun mereka berhasil masuk lewat sisi ini. Juara 32 kali La Liga ini tak kehabisan akal. Lini tengah mereka yang dihuni Toni Kroos, Luka Modric, dan Xabi Alonso mengalihkan bola ke sisi kanan penyerangan. Di sisi inilah mereka menemukan celah tersebut.

Jarak antara Koke dan Siqueira terlampau jauh. Ini yang membuat Gareth Bale begitu leluasa, bahkan untuk melakukan sprint. Ketika telah melewati Koke, ada jarak yang cukup lebar bagi Bale untuk menerobos masuk ke lini pertahanan Atletico.Hasilnya, kombinasi Bale-Carvajal sukses melepaskan 13 umpan silang lewat sisi ini.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Simeone akhirnya mengganti Siqueira dengan Cristian Ansaldi pada menit ke-64. Meski alasan utamanya adalah cedera yang diderita Siquira saat duel dengan Karim Benzema, tapi tak bisa dipungkiri sisi ini memang menjadi salah satu yang paling ringkih di pertahanan Atleti.

Mengubah Orientasi Serangan

Di babak kedua, Carlo Ancelotti memutar otak. Don Carlo pun mengganti Ronaldo dengan James Rodriguez di awal babak kedua. Ia sadar, anak asuhnya akan sulit jika terus menekan lewat sisi kiri yang diisi Ronaldo.

Pada menit ke-78, Ancelotti memasukkan Angel Di Maria yang menggantikan Luka Modric. Pergantian ini membuat Madrid bermain dengan pola 4-2-1-3, dengan Rodriguez yang bermain di belakang Benzema.

Serangan pun mulai dipusatkan lewat area tengah. Selain itu pergantian Siqueira dengan Ansaldi pun menjadi bahan pertimbangan. Madrid tak ingin mengambil resiko dengan kembali mengeksploitasi sisi kiri pertahanan Atletico.

Strategi ini akhirnya membuahkan gol pada menit ke-81. Berawal dari umpan di sisi kanan, bola yang dibuang Juanfran malah jatuh di kaki Kroos. Tidak berlama-lama dengan bola, Kroos lantas memberi umpan terobosan pada Carvajal yang menyisir sisi kanan kotak penalti. Dengan sekali sentuhan, Carvajal memberi umpan pada Benzema. Namun, Miranda berhasil menghadang pergerakan Benzema tersebut.

Sial bagi Atletico, bola muntah mengarah tepat ke hadapan Rodriguez. Tendangan Rodriguez membentur kaki Ansaldi, sehingga bola berbelok dan masuk ke gawang.

Dari sini bisa terlihat bagaimana visi seorang Rodriguez yang mengerti ke mana bola akan mengarah. Sebenarnya, hal tersebut tidak akan menjadi gol andai Mario Suarez tidak berleha-leha. Melihat rekan-rekannya berjibaku menyelamatkan gawang, ia malah berdiri santai di depan kotak penalti, dan menyaksikan dengan tenang ketika tendangan Rodriguez merobek jala gawang timnya.



[Suarez hanya menonton pergerakan Rodriguez yang menusuk ke dalam kotak penalti]

Memaksimalkan Setiap Peluang

Simeone pernah berujar tentang timnya, "Possession bukanlah segalanya. Bahkan Atletico tetap hebat tanpa bola." Atletico bukanlah Barcelona atau Bayern Munich yang selalu menang sekaligus unggul penguasaan bola. Meski hanya mengandalkan serangan balik, toh Atletico berhasil juara La Liga musim lalu. Ini mengisyaratkan jika mereka memang pandai memanfaatkan peluang sekecil apapun.

Meski menguasai hingga 72% penguasaan bola, tapi di babak pertama, tak satupun tendangan pemain El Real mengarah tepat ke gawang. Hal sebaliknya ditunjukan Atletico. Mereka unggul dengan dua kali tendangan, meski tepat ke dalam pelukan Iker Casillas.

Filosofi "memanfaatkan sekecil apapun peluang" akhirnya dilakukan skuat Simeone tersebut pada menit ke-88. Sebuah kesalahan dalam menghalau tendangan sudut, berhasil dimaksimalkan Garcia menjadi gol. Meski Alonso, Sergio Ramos, dan Pepe berdiri di kotak kecil, tapi tak seorang pun yang menjaga Garcia. Ketika bola lepas, ia pun menghukum pertahanan Real Madrid tersebut dengan sebuah gol.



[Raul Garcia yang tidak terkawal dan kesalahan antisipasi bek Madrid]

Kesimpulan

Real Madrid tampil perkasa dengan penguasaan bola hingga 70%. Pertahanan Atletico sebenarnya tidak begitu baik. Mereka memfokuskan untuk menahan gempuran di kedua sisi pertahanan. Sisi kanan yang dihuni Juanfran berhasil mengisolasi Ronaldo dan Marcelo untuk mengkreasikan serangan. Serangan El Real pun dipusatkan ke sisi kanan yang dihuni Bale. Tidak padunya Koke dan Siqueira berhasil dimanfaatkan oleh Bale dan Carvajal. Mereka bahu membahu untuk mengeksploitasi sisi ini.

Gol pertama Real Madrid berasal dari umpan di sisi kanan. Kelengahan lini tengah yang dihuni Suarez dan Gabi membuat Atletico kecolongan. Mereka membiarkan Rodriguez bebas tak terkawal.

Namun, Atletico adalah tim yang pandai memanfaatkan peluang. Satu kesalahan dari lini pertahanan Madrid berhasil dimaksimalkan.

Madrid sebenarnya menguasai pertandingan. Lini tengah Atletico tidak mampu mengimbangi trio Kroos-Alonso-Modric.Begitu pula dengan serangan Atletico yang seperti tak terpola. Meski bermain di sisi kiri, Koke terkadang terlihat memberikan umpan di sisi kanan. Begitu pula dengan Mandzukic yang sering berlari ke sisi kanan.

Atletico tidak dapat memanfaatkan kosongnya sisi pertahanan Real Madrid. Padahal, dua fullback Madrid yang dihuni Marcelo dan Carvajal sering terlambat membantu pertahanan. Koke mencatatkan tiga umpan silang, sedangkan Niguez hanya satu kali umpan silang. Tidak ada pemain seperti Adrian yang bermain di sisi lapangan membuat permainan Atletico menemui jalan buntu.

Laga ini bisa dibilang berat sebelah. Real Madrid begitu frontal melakukan serangan, sedangkan Atleti hanya bertahan dan melihat kemungkinan untuk melancarkan serangan balik. Hasil seri ini menjadi pertanyaan bagi lini serang El Real. Padahal, lini pertahanan Atleti tidaklah padu.

Secara statistik, El Real lebih banyak menyerang lewat sisi kiri atau sebanyak 42%.Di sisi ini Ronaldo dan Marcelo kesulitan untuk mengeksploitasi karena lugasnya permainan Juanfran, Niguez, dan Gabi. Sementara serangan dari sisi kanan hanya sekitar 38%. Padahal, sisi ini merupakan titik kelemahan Atletico.

Kesalahan di menit-menit akhir semestinya tidak terjadi, terlebih bagi tim sekelas Real Madrid. Penampilan mereka sepertinya akan sulit ditunjukkan saat menjalani leg kedua dengan bertandang ke Vicente Calderon. Hasil imbang tanpa gol akan mengaburkan ambisi El Real untuk merengkuh enam gelar dalam semusim.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(roz/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads