Garis Pertahanan Rendah Atletico Gagalkan Serangan Sayap Real Madrid

Piala Super Spanyol: Atletico 1-0 Madrid

Garis Pertahanan Rendah Atletico Gagalkan Serangan Sayap Real Madrid

- Sepakbola
Sabtu, 23 Agu 2014 13:22 WIB
Garis Pertahanan Rendah Atletico Gagalkan Serangan Sayap Real Madrid
AFP/Gerard Julien
Jakarta -

Impian Real Madrid untuk merengkuh sextuple pada musim ini sirna. Mereka takluk 0-1 dari rival sekota, Atletico Madrid, pada leg kedua Piala Super Spanyol, Sabtu (23/8) dinihari. Secara aggregat, El Real kalah 1-2 dari juara La Liga musim lalu tersebut.

Bagi Atletico, ini merupakan gelar pertama pada musim ini. Kemenangan ini terasa spesial karena digelar di hadapan pendukung sendiri, di stadion Vicente Calderon. Los Rojiblancos seolah meneruskan tren dalam enam tahun terakhir, di mana juara Piala Super Spanyol adalah juara La Liga musim sebelumnya.

Memanfaatkan Raul Garcia untuk Menyisir Sayap

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



[grafis formasi Atletico Madrid vs Real Madrid]

Di leg pertama, Diego Simeone menempatkan Raul Garcia untuk berduet dengan Mario Mandzukic di lini serang. Saul Niguez pun diplot untuk mengisi pos gelandang kanan.

Namun terdapat peran yang berbeda antara Niguez dan Garcia. Niguez diinstruksikan untuk membantu Juanfran di sisi kanan pertahanan Atletico. Ini penting karena Cristiano Ronaldo dan Marcelo beroperasi di sisi tersebut.Saat itu, Niguez mampu menjalankan tugasnya karena El Real tidak bisa menembus area tersebut. Sayangnya, ini berdampak pada arah serangan Atletico itu sendiri. Sisi kanan mereka menjadi tidak aktif kala membantu serangan.

Pada leg kedua, Simeone pun berbenah. Ia memasang Garcia di sisi kanan sejak awal. Formasi 4-4-2 pun ditinggalkan. Pelatih kelahiran Argentina tersebut menempatkan Antoine Griezmann di belakang Mario Mandzukic dalam skema 4-2-3-1.

Sementara itu, pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti, memasang Fabio Coentrao sebagai fullback kiri. Ini bukan tanpa sebab. Posisi yang pada leg pertama dihuni Marcelo tersebut rentan dieksploitasi lawan. Maka, Coentrao pun diplot untuk lebih bertahan dan menahan diri saat membantu serangan. Berbeda dengan Carvajal yang dibebaskan untuk membantu Gareth Bale, sehingga area permainannya bisa mencapai kotak penalti Atletico.

Menekan Sejak Awal

Salah satu kunci keberhasilan Atletico Madrid menjuarai La Liga pada musim lalu adalah mereka selalu menekan lawan sejak awal. Ini yang membuat lawan seringkali tidak mampu melepaskan tekanan sehingga sering melakukan kesalahan dan terburu-buru dalam menyelesaikan peluang.

Serangan balik pun dirancang sejak dari kiper.Mendatangkan Miguel Angel Moya dari Getafe, merupakan keputusan yang tepat. Moya bukanlah tipe kiper yang serampangan kala membuang bola. Ia bermain tenang dan bisa menjadi bagian dari taktik pertandingan itu sendiri.

Kehadiran Mandzukic di lini depan, membuahkan hasil positif. Striker timnas Kroasia ini memiliki kemampuan duel udara yang baik. Untuk memaksimalkan umpan lambung, maka Mandzukic akan begitu berguna di lini depan. Gol yang tercipta pada menit 2 terjadi karena skema yang sama.



[Proses umpan dari Moya ke Mandzukic]

Penerapan skema ini sebenarnya sudah diperhitungkan secara matang. Simeone juga melakukannya pada pertandingan leg pertama, hanya saja hasilnya belum maksimal.

Simeone beranggapan buruknya lini tengah El Real kala bertahan membuat Mandzukic bisa langsung berduel dengan Sergio Ramos ataupun Varane.Ini yang kemudian dimaksimalkan.

Saat Mandzukic berduel dengan Varane, praktis Sergio Ramos kehilangan konsentrasi untuk mengawal Griezmann. Sundulan Varane pun malah mengarah pada Griezmann yang tak terkawal. Kehilangan langkah, Ramos pun mendekat untuk berduel. Tapi bola lebih cepat menyentuh kepala Griezmann. Sialnya, bola jatuh di kaki Mandzukic yang tak terkawal. Gol pun tercipta.



[Adanya ruang kosong yang tidak ditutup Sergio Ramos dan Coentrao]

Terdapat perbedaan yang cukup signifikan dalam permainan Atletico dibandingkan dengan leg pertama. Di leg kedua, Los Rojiblancos bermain dengan determinasi tinggi. Secara konstan mereka lebih sering memegang bola dan melakukan umpan-umpan langsung ke jantung pertahanan Real Madrid. Ini yang membuat Fabio Coentrao pada 15 menit awal tertahan di posisinya. Ia tidak berani naik untuk mencegah serangan balik Atletico.

Permainan seperti inilah yang tidak terlihat pada leg pertama, yang digelar di Stadion Santiago Bernabeu. Perbaikan yang dilakukan Simeone pun berhasil. Menempatkan Garcia di sayap kanan, serta Griezmann yang bermain sebagai gelandang serang membuat lini tengah Atleti menjadi lebih hidup.

Garis Pertahanan Rendah Mematikan Lini Tengah Madrid

Ancelotti kembali menurunkan trio Luka Modric, Xabi Alonso, dan Toni Kroos di lini tengah. Akurasi umpan ketiganya begitu diandalkan dalam membongkar pertahanan Atletico.

Saat menyerang, terlihat tiga pemain di lini serang Madrid yang dihuni James Rodriguez, Karim Benzema, dan Gareth Bale, selalu membuka ruang. Pergerakan mereka begitu dinamis sehingga sering mengecoh lini tengah Atletico yang mencoba untuk menjaganya.

Sayangnya, hal ini sudah diantisipasi oleh Simeone. Ia menerapkan garis pertahanan rendah. Memang, skema ini memberikan jarak antara lini belakang dan lini tengah, tapi cukup efektif untuk meredam serangan para gelandang Madrid.

Dengan garis pertahanan yang rendah, membuat serangan balik El Real tertunda. Mereka harus men-delay serangan karena harus berduel dengan bek Atletico yang berjarak sekitar tiga meter di depan mereka. Ini memberikan waktu bagi gelandang Los Rojiblancos untuk turun membantu pertahanan.

Bek Atletico diinstruksikan untuk tetap pada posisinya. Saat bola diterima Rodriguez, Bale, ataupun Benzema, maka yang bertugas untuk melakukan pressing adalah gelandang, bukan bek maupun fullback. Ini yang membuat pada leg kedua ini, jarang ada akselerasi dari winger Madrid yang menusuk langsung ke dalam kotak penalti.



[Garis pertahanan rendah Atletico Madrid]

Rendahnya garis pertahanan Atletico dapat menjadi jawaban mengapa El Real lebih banyak melakukan tendangan dari luar kotak penalti. Mereka pun menyerang seperti tergesa-gesa, dengan melakukan tendangan spekulasi.

Tapi, tendangan ini tidak hanya dilakukan sekali dua kali, tapi berkali-kali. Dari 14 tendangan hanya dua yang mengarah ke gawang. Ini merupakan catatan yang buruk bagi ukuran tim dengan lini depan seharga 240 juta pounds.

Dampak Ditariknya Toni Kroos

Saat babak kedua bergulir, Ancelotti memutuskan untuk memasukan Cristiano Ronaldo. Maksudnya tentu untuk menambah daya gedor di lini depan. Terutama setelah Rodriguez seperti gagal untuk melaksanakan tugas yang biasa diemban Ronaldo.

Anehnya, Ancelotti malah menarik Toni Kroos ketimbang Rodriguez. Padahal, peran Kroos di lini tengah amat vital. Ia tidak hanya sebagai penyalur bola dari lini belakang ke lini depan, tapi juga sebagai pengatur aliran bola itu sendiri.

Kroos seperti pengendali serangan Madrid. Saat membawa bola, ia yang menentukan apakah bola akan diberikan ke kiri, atau ke kanan.Dengan ditariknya Kroos maka tidak ada lagi pemain yang mengatur serangan Madrid. Ini yang membuat serangan mereka menjadi mudah terbaca.

Lini pertahanan Atletico sudah siaga dengan hal ini. Saat menyerang, El Real selalu mengarahkan bola ke kedua sisi. Sisi kiri sudah pasti dijaga Juanfran, sedangkan sisi kanan dijaga Siqueira. Keduanya dibantu oleh poros ganda yang bermain melebar.

Dari sini sebenarnya ada celah yang bisa dimaksimalkan untuk menarik poros ganda tersebut untuk kembali ke posisinya. Jika ini terjadi, maka dua winger Madrid yang dihuni Rodriguez dan Bale tidak bekerja terlalu berat karena hanya menghadapi satu pemain.



[Kiri: Real Madrid saat Kroos bermain. Rodriguez dan Bale punya ruang. Kanan: Real Madrid tanpa Kroos. Ruang gerak Bale dan Ronaldo lebih sempit]

Saat Kroos bermain, ia kerap menggiring bola di area tengah lapangan, sehingga memberikan ruang bagi dua winger untuk bergerak lebih bebas.

Namun, saat ia keluar, Rodriguez dan Isco tidak mampu menggantikan perannya sebagai pengatur bola dari lini belakang ke lini depan. Bola lebih banyak dipegang Ronaldo yang bergerak dari samping. Ini menyulitkan baginya untuk mengkreasikan serangan karena penjagaan ketat para pemain Atletico.

Dengan masuknya Ronaldo memang menambah intensitas serangan Real Madrid. Namun hal tersebut tidak diimbangi dengan efektifitas. Toh setelah Ronaldo masuk, hanya satu tembakan yang mengarah ke gawang. Sisanya melebar ataupun melambung.

Kesimpulan

Carlo Ancelotti lebih memilih untuk memasang James Rodriguez di sisi kiri. Padahal, sisi tersebut bisa saja diisi Angel Di Maria yang memang terbiasa bermain di sayap. Memang, Di Maria menginginkan untuk pergi dari Santiago Bernabeu, tapi ia masih terikat kontrak dan memiliki kewajiban untuk membela Los Blancos.

Penempatan Rodriguez di sisi kiri tidak banyak membuahkan hasil. Ia tidak memiliki kemampuan duel sekuat Ronaldo. Saat menerima bola, ia lebih banyak melepaskannya kembali ke rekan satu tim, ketimbang menggiringnya sendirian menyisir lapangan.

Masuknya Ronaldo dan ditariknya Kroos tidak mengubah apa-apa. Malah, lini tengah Real Madrid seperti tidak bernyawa karena tidak ada pemain yang mengatur alur serangan. Kroos diibaratkan sebagai mesin serangan Madrid.

Dipasangnya Raul Garcia di sayap kanan membuat serangan Atletico lebih berwarna. Ia memiliki sejumlah opsi serangan, apakah akan menyisir sayap, memberi umpan terobosan, atau menuntaskan peluang sendirian. Meski tidak mencetak gol, tapi lima tendangannya cukup membuat jantung fans Real Madrid berdegup kencang.

Jika permainan seperti ini kembali ditunjukkan Atletico di liga, maka persaingan La Liga musim ini akan semakin ketat dan menarik. Bukan hal yang aneh pula jika mereka kembali merebut gelar juara.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(roz/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads