Arsenal nyaris menderita kekalahan pada matchday II Liga Inggris di stadion Goodison Park. Sempat ketinggalan dua gol dari Everton, skuat asuhan Arsene Wenger bisa memaksakan hasil imbang 2-2.
Hasil ini sebenarnya bisa saja dihindari andai Wenger tak melakukan eksperimen taktik pada babak pertama. Eksperimennya ini gagal total sehingga Arsenal tak mampu mengembangkan permainan sebelum turun minum.
Eksperimen Wenger
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjadi sulit bagi Wenger, karena memainkan salah satu atau semua pemain tersebut berarti membangku cadangkan pemain yang minggu lalu mengantarkan Arsenal meraih poin penuh atas Crystal Palace.
Akhirnya Wenger memutuskan untuk memasang Mertesacker sejak menit pertama. Pemain yang dikorbankan atas pemilihan ini adalah Laurent Koscielny. Artinya, Mertesacker diduetkan dengan Calum Chambers.
Sepertinya opsi ini dipilih agar Mertesacker yang bertipikal lambat ditemani bek lain yang memiliki kecepatan. Karena, jika Mertesacker dan Koscielny diduetkan, kemungkinan lini pertahanan Arsenal akan kelimpungan menghadapi pelari-pelari cepat Everton.
Sebuah kejutan terjadi pada pemilihan komposisi pemain di lini depan. Selain membangku cadangkan Santi Cazorla dan lebih memilih memasang Alex-Oxlade Chamberlain, pada pertandingan ini Wenger memasang Alexis Sanchez sebagai penyerang tengah pada formasi 4-1-4-1.
Hal ini bisa dibilang perjudian besar, karena idealnya Sanchez bermain sebagai penyerang sayap, atau di belakang ujung tombak.
Tampaknya skema ini dipilih dilakukan untuk mengakomodir Oezil dan Chamberlain agar bisa bermain sejak menit pertama. Duet Aaron Ramsey-Jack Wilshere di lini tengah sudah cukup solid dan terlalu beresiko jika salah satunya disimpan.

Tak Efektifnya Permainan Sanchez
Kreativitas The Gunners pada 45 menit pertama sangat memprihatinkan. Hanya Chamberlain yang cukup berani untuk melakukan penetrasi ke dalam kotak penalti ketika umpan-umpan pendek yang diperagakan selalu buntu.
Dari lima usaha tembakan yang dilepaskan Arsenal, semuanya dilakukan oleh Chamberlain, meski tak satu pun yang mengenai sasaran.
Ini memperlihatkan bahwa second line Arsenal tak begitu banyak membantu ketika Sanchez kesulitan mendapatkan bola. Padahal, lini ini diisi oleh Wilshere, Ramsey, Mathieu Flamini, dan Oezil yang notabene fasih mengolah bola dan mengirimkan umpan.
Sanchez sendiri tak mampu memerankan false nine. Gaya permainannya yang mengandalkan kecepatan dan kemampuan dribbling di atas rata-rata tak berguna ketika diposisikan sebagai penyerang tengah.
Biasanya, penyerang tengah pada pola permain Arsenal lebih diposisikan untuk menjadi pemantul atau decoy bagi rekan-rekannya. Ia dituntut untuk bisa memancing pertahanan lawan agar meninggalkan posisinya sehingga memberikan ruang bagi pemain lain.
Namun, justru Sanchez yang berhasil dieksploitasi para pemain bertahan Everton. Pemain tim nasional Chile ini kesulitan untuk mendapatkan bola. Bahkan beberapa kali ia harus turun hingga ke tengah lapangan untuk menjemput bola. Yang lebih buruk, Sanchez beberapa kali harus melanggar pemain Everton karena frustasi tak bisa mendapatkan bola.

Sepanjang babak pertama Sanchez hanya melepaskan 19 umpan dengan akurasi umpan 63%
Dampaknya adalah, umpan-umpan pendek yang diperagakan para pemain Arsenal selalu berhasil diamankan ketika hendak diarahkan pada Sanchez. Mantan pemain Barcelona ini memang cukup kesulitan mendapatkan bola karena selalu dijaga oleh salah satu dari Sylvain Distin atau Phil Jagielka.
Everton sendiri menggunakan pressing ketat dan tekel agresif untuk memutus serangan-serangan yang dilancarkan Arsenal. Taktik bertahan ini berhasil membuat koordinasi umpan antar pemain Arsenal menjadi kacau sehingga The Gooners mudah kehilangan bola.
Serangan Sayap Everton
Sadar lawannya kesulitan menemukan bentuk permainan terbaik, manajer Everton, Roberto Martinez, menginstruksikan para pemainnya untuk tak mengurangi intensitas serangan. Namun sial bagi Martinez karena Steven Pienaar tak bisa melanjutkan pertandingan sebab cedera pada menit ke-12.
Perubahan posisi terjadi setelah masuknya Leon Osman yang menggantikan Pienaar. Osman ditempatkan sebagai gelandang serang menggantikan peran Steven Naismith. Naismith lalu didorong ke depan menjadi penyerang tengah.
Romelu Lukaku kemudian ditempatkan sebagai winger kanan, menggeser Kevin Mirallas yang berganti beroperasi di sisi sebelah kiri.
Pergantian tersebut telah diperhitungkan matang-matang oleh Martinez. Mantan pelatih Wigan Athletic ini ingin memaksimalkan penyerangan lewat sayap untuk memanfaatkan celah yang sering ditinggalkan duo fullback Arsenal, Mathieu Debuchy dan Nacho Monreal.
Fullback Everton yang diperankan Seamus Coleman dan Leighton Baines pun diinstruksikan untuk lebih rajin untuk mengeksploitasi sisi ini.

Heatmap: Grafik di atas menunjukkan Fullback kedua tim yang rajin membantu lini penyerangan
Taktik ini ternyata berbuah manis. Kedua gol yang diciptakan Everton merupakan keberhasilan dari skema penyerangan ini.
Gol pertama berawal dari serangan sayap kiri yang dibangun oleh Baines-Kevin Mirallas. Mirallas kemudian menyodorkan bola ke Gareth Barry yang mendekati area sisi sebelah kiri.
Barry lantas mengirim umpan silang ke dalam kotak penalti yang kemudian disambut oleh Coleman. Pun begitu dengan gol kedua yang diciptakan Naismith. Gol ini menjadi jawaban mengapa Lukaku yang biasanya bermain sebagai penyerang tengah dioperasikan sebagai kanan.
Everton melancarkan serangan balik melalui sisi kanan tempat Lukaku berada. Lukaku, yang handal dalam penguasaan bola dan cukup memiliki kecepatan dalam lari, pun berhasil melewati penjagaan Nacho dan Mertesacker saat melakukan serangan balik.

Grafik passing Everton yang memfokuskan serangan ke arah sayap
Giroud Jadi Kunci
Setelah jeda babak pertama, Wenger memasukkan Olivier Giroud untuk menggantikan Sanchez. Pergantian yang benar-benar sangat dibutuhkan mengingat Sanchez sangat tak mampu berkontribusi sepanjang babak pertama.
Masuknya Giroud langsung memberikan dampak positif. Tak lama setelah pertandingan babak kedua dimulai, Giroud nyaris mencetak gol lewat tendangan volinya.
Sejak masuknya Giroud permainan Arsenal terlihat lebih berkembang. Peluang demi peluang berhasil didapatkan. Hanya saja penyelesaian akhir yang buruk menyebabkan belum terjadinya gol bagi kubu Arsenal.
Giroud memang paham betul bagaimana caranya bermain sebagai penyerang tengah di Arsenal. Ia mampu dengan efektif mengalirkan bola atau menahan bola yang diarahkan kepadanya.
Postur tubuh tinggi yang dimilikinya pun memudahkannya untuk memenangi duel bola-bola atas, hal yang tak bisa dilakukan Sanchez pada babak pertama.
Proses terjadinya gol pertama Arsenal pun berawal dari kecerdikan Giroud memantulkan bola ke sisi kiri lapangan, di mana Santi Cazorla berada.
Cazorla yang masuk menggantikan Wilshere pada pertengahan babak kedua kemudian mengirimkan umpan silang mendatar pada Ramsey yang sudah menunggu di mulut gawang.
Peran Giroud pada gol kedua tak perlu diragukan. Meski dijaga ketat oleh Distin, penyerang tim nasional asal Prancis ini berhasil menyambut umpan silang Nacho Monreal untuk menjadikan gol.
Itu merupakan usaha kelimanya dalam melepaskan tembakan ke arah gawang, yang artinya Giroud memang kerap membahayakan gawang Everton.
Kesimpulan
Berhasil meraih hasil imbang setelah sempat tertinggal dua gol mungkin merupakan hasil yang cukup memuaskan bagi Arsenal. Namun, keberanian Wenger bereksperimen pada laga tandang melawan Everton βpada musim lalu pun kalah telak 3-0βadalah sebuah tindakan terlalu gegabah.
Satu pekerjaan rumah yang harus dipikirkan Wenger adalah bagaimana ia bisa mengakomodir pemain-pemain sayapnya, jika memang Sanchez tak mampu memainkan peran sebagai penyerang tengah.
Selain itu satu masalah lain adalah tentang gelandang tengah. Memang, absennya Mikel Arteta tak begitu terasa pada laga ini. Namun ini disebabkan minimnya bentrokan yang melibatkan Flamini sebagai pengganti Arteta. Everton lebih memilih mengeksploitasi sisi sayap dibanding menyerang lewat tengah.
Wenger perlu mencari strategi lain jika memang tak berencana mendatangkan gelandang bertahan baru. Karena, tentu saja akan ada pertandingan-pertandingan lain di mana Arsenal tak bisa diperkuat Arteta. Apalagi jika Arsenal berhasil mengalahkan Besiktas Rabu nanti, sehingga jadwal pertandingan musim ini semakin ketat.
(cas/cas)










































