Banjir gol terjadi di Goodison Park dalam satu pertandingan, Sabtu (30/8/2014) malam. Bagaimana tidak, sembilan gol lahir dalam laga Everton kontra Chelsea yang berakhir dengan kemenangan 3-6 bagi Chelsea tersebut.
Pertandingan ini sendiri berlangsung sengit, baru dua menit laga berjalan Chelsea sudah mampu unggul 2-0. Intensitas tinggi kedua tim, plus permainan terbuka yang dirancang Roberto Martinez dan Jose Mourinho membuat kejar-kejaran gol terjadi. Sayangnya di menit-menit akhir babak kedua, Everton terpaksa "mengalah" hingga akhirnya Chelsea mampu membesar defisit selisih menjadi tiga gol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perubahan menarik terjadi di lini tengah. Setelah di dua laga sebelumnya memaksa Fabregas menempati posisi poros ganda--berduet bersama Nemanja Matic pada laga malam tadi, Mou kembali menjadikan Fabregas sebagai pemain No.10. Entah apa yang ada di benak Mou, yang jelas dia tak membawa sama sekali Oscar ke markas Everton.
Dengan mendorong Fabregas lebih maju, tugas untuk menemani Matic diberikan pada Ramires. Rotasi menarik terjadi di lini tengah. Mou lebih memilih Willian ketimbang Schurrle. Hal ini dilakukan mengingat Schurrle buruk dalam bertahan.
Menghadapi Everton yang memiliki kemampuan lebih dalam menyerang di sayap, terutama demi mewaspadai pergerakan fullback Leighton Baines, maka opsi memasang Willian akan lebih baik ketimbang memaksa Schurrle harus ikut bertahan.
Performa apik Ivanovic selama dua pertandingan terakhir, dimana dia sering aktif membantu serangan, membuat Mou lebih memilih Ivanovic ketimbang pemain anyar Felipe Luis.
Sementara itu di kubu tuan rumah, hasil imbang 2-2 saat menghadapi Leicester City dan Arsenal membuat pelatih Roberto Martinez beberapa kali mengubah starting line up. Martinez nampaknya ingin memaksimalkan serangan dari sayap, karena itu wajar saja dia memasang pemain yang sering berposisi sebagai gelandang yakni Seamus Coleman dijadikan oleh fullback kanan.
Pada lini tengah, Everton meski kehilangan Steven Pienaar akibat cedera. Perannya digantikan oleh Kevin Mirallas.
Gol Cepat Chelsea dan Kesalahan Poros Ganda Everton
Unggul dua gol di markas Everton dalam waktu dua menit? Hal itu bisa dilakukan Chelsea. Sebuah gol yang kebetulan sajakah? Tentu saja tidak. Mou tampaknya sudah tahu kelemahan Everton saat bertahan terletak pada dua poros ganda mereka yang sering overlapping hingga membuat musuh dengan mudah head to head dengan centerback.

Proses gol pertama terjadi diawali setelah peran Willian yang menarik Gareth Barry hingga jauh ke depan. Berbeda dengan Schurrle yang bermain melebar, Willian saat menyerang lebih banyak bergeser ke tengah mendekat kepada Fabregas. Kondisi ini tentu memancing Barry berlari mengejar demi menutup Willian.
Lantas kecenderungan Everton yang memaksimalkan sayap, membuat pola backfour mereka cenderung melebar dengan menarik dua fullback yakni Leighton Baines dan Seamus Coleman bermain di garis tepian. Kerenggangan inilah yang dilihat Diego Costa yang berlari diagonal. Kecerdasan dan kemampuan Fabregas memberikan throughball mempermudah Chelsea memecah pertahanan Everton. Gol pertama pun tercipta.

Kendati pada starting line up Mou menempatkan Fabregas sebagai pemain no.10, nyatanya di lapangan tidaklah demikian. Pada menit-menit awal, Fabregas cenderung bermain di belakang. Mou memberi leluasa Ramires yang bertipikal sebagai box to box midfielder untuk jauh naik ke depan. Sifat Fabregas ini yang membuat Barry atau McCarthy selalu jauh naik ke depan, dan memberi ruang kosong yang biasa dieksploitasi Ramires. Proses gol kedua pun terjadi karena itu [lihat grafis di atas]
Masalah lainnya adalah malasnya tiga gelandang serang Everton yakni Aiden McGeady, Steven Naismith dan Mirallas untuk membantu pertahanan. Lihat gambar no 2, bagaimana dengan leluasa Ramires berada di depan kotak penalti Everton tanpa penjagaan siapapun.
Petaka muncul saat Ivanovic ternyata menusuk masuk kotak penalti. Fokus dua poros ganda Everton yang kembali terpancing oleh Willian, membuat posisi Barry tak ideal untuk memotong umpan yang diberikan Ramires pada Ivanovic. Lepas dari gol itu offiside atau tidak, nyatanya poros ganda Everton memang bermasalah.
Rotasi Taktik Mourinho di lini tengah Chelsea
Selepas dua gol yang bersarang di gawang Tim Howard, Chelsea bermain lebih bersabar dan membuat Everton bisa berlama-lama menguasai bola. Mou pun terlihat mengintruksikan anak asuhnya memainkan garis pertahanan yang dalam. Kondisi inilah yang membuat Everton kesulitan menembus final third Chelsea.

Kendati sudah mampu unggul 2-0, Mou tetap meminta anak asuhnya bermain terbuka. Kendati bermain bertahan, saat Chelsea menyerang, Mou tetap memainkan Terry dan Cahill bermain setinggi mungkin. Kondisi ini tentu saja dilakukan demi maksud mendorong Fabregas, Ramires dan Matic untuk maju juga.
Jika menilik hal ini, Mou sepertinya membuat batasan maksimal jarak antara Diego Costa sebagai penyerang dan John Terry sebagai center back yang tak boleh lebih dari 60 meter.
Berbeda dengan pada dua pertandingan sebelumnya yang dimana Chelsea selalu membangun serangan dari lini ke lini lewat umpan-umpan pendek, di laga ini Mou cenderung langsung meminta anak asuhnya langsung mendirect bola jauh ke depan. Bola selalu sampai ke depan setelah melalui 2-3 passing.

Namun ada yang terlihat taktik baru Mou di laga ini. Yakni disposisi diantara empat gelandang yaitu Fabregas, Willian, Matic dan Ramires. Keempat pemain ini seringkali menempati posisi yang acak. Bergerak ke kanan, kiri atau tengah. [lihat grafis passing di atas]
Berkat pemain ini pula kita kadang melihat banyak transformasi formasi Chelsea saat pertandingan berlangsung. Kadang terlihat 4-3-3 dengan Willian yang sejajar dengan Hazzard dan Costa. Kadang pula menjadi 4-4-2 dengan menggeser Willian jadi gelandang sayap yang punya kewajiban bertahan sejajar dengan back-four ketika diserang.

Uniknya, ketika William bermain melebar di sayap--sejajar dengan Ramires, maka Matic dipastikan akan ikut bermain melebar pula di sayap kiri. Formasi 4-4-2 yang dilakukan Mou jelas untuk mematikan serangan sayap Everton.
Ketika menyerang kadang Chelsea memainkan pola 4-3-3 atau 4-2-3-1, hanya saja peran Fabregas dibatasi jauh di belakang. Mou memanfaatkan kemampuan Ramires sebagai gelandang serang, pemanfaatan Ramires inilah yang membuat Chelsea jarang memakai shortpass lama-lama, mengingat Ramires bukan pemain yang bertipikal jago mendelay bola seperti Fabregas.
Hanya saja dari pertandingan ini, terlihat dengan jelas ada upaya dengan rotasi-rotasi disposisi Mourinho ingin mengurangi beban peran Fabregas yang selama dua pertandingan terakhir memang selalu jadi tumpuan Chelsea. Apa yang dilakukan Mourinho ini terbukti sukses untuk mengecoh Everton. Terbukti Matic dan Ramires mampu tampil baik dengan mencetak gol, assist, dan key passes malam tadi.
Β
Rapuhnya Lini Belakang Chelsea
Tiga gol yang bersarang di gawang Thibaut Courtouis, dua diantaranya berkat kesalahan pemain Chelsea itu sendiri. Dalam proses gol pertama misalnya, Kevin Mirallas dengan bebas bergerak menusuk ke kotak penalti untuk menyambut umpan Bannes. Bagaimana dengan jelas terlihat bahwa Fabregas tak bisa membackup posisi yang ditinggalkan oleh Ramires, saat pemain Brasil ini jauh naik ke depan.

Hal serupa terjadi saat gol balasan cepat yang dilakukan Everton pada menit 69. Fabregas meninggalkan posisinya, padahal di babak kedua oleh Mou dia dikembalikan jadi poros ganda. Masalah lainnya adalah ketergantungan sayap kanan Chelsea terhadap Willian.
Dalam sistem backfour Mourinho, Ivanovic lah yang digeser ke tengah merapat pada center back saat diserang. Wajar memang mengingat pemain ini aslinya adalah bek tengah. Masalah muncul saat Willian selalu telat menutup posisi yang ditinggalkan Ivanovic ini. Akibatnya dengan leluasa, Naismith melakukan tusukan cut inside.
Kesimpulan
Banjir gol memang terjadi di Goodison Park tadi malam. Gol-gol yang dicetak Chelsea didominasi oleh kesalahan poros ganda dan backfour Everton yang terlalu keasyikan menyerang dan lupa lini pertahanan.
Hal serupa pun terjadi pada Chelsea, hanya saja kesolidan empat benteng Chelsea mesti dinodai tiga gelandang mereka yakni Fabregas, Matic dan Ramires yang gagal menutup lini kedua Everton karena terlalu keasyikan maju ke depan. Namun dosa-dosa itu tentu saja bisa ditambal lewat skema kerjasama di antara mereka yang mampu membobol gawang Tim Howard sebanyak enam gol.
Dengan komposisi yang berbeda saat melawan-melawan tim yang kelasnya jauh di bawah mereka, seperti Burnley dan Leicester City, Chelsea dini hari tadi bermain tak cantik seperti biasanya. Fabregas yang biasa melakukan 90 passes/pertandingan, tadi malam hanya melakukan 40 passes. Penguasaan bola yang kini identik dengan Chelsea kembali sirna.
Tapi tak apa, toh meski gagal menguasai bola mereka mampu menang dan membantai Everton dengan skor cukup telak di depan pendukung mereks sendiri. Karena itu patut ditunggu,mungkinkah skema melawan Everton ini dipakai pula saat bertandang ke kandang Manchester City, 21 September nanti? Kita tunggu saja.
(krs/krs)











































