Spurs ala Mauricio Pochettino--yang terlihat menjanjikan di dua laga sebelumnya--tak tampak dalam pertandingan kali ini. Aliran bola antar lini tidak berjalan dengan baik, meski lini belakang sebenarnya bermain tak buruk-buruk amat. Hanya saja karena kesulitan mengembangkan permainan membuat minimnya peluang yang didapat Younes Kaboul cs.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak ada perubahan pada formasi dan susunan pemain Spurs kali ini, dibandingkan dengan saat mengalahkan QPR 4-0 pada pekan sebelumnya. Pochettino masih tetap setia dengan formasi 4-2-3-1 yang mengandalkan Emmanuel Adebayor di lini depan serta dibantu pergerakan Erik Lamela. Sayangnya nama yang disebutkan terakhir bermain tak maksimal, aksi individunya tidak terlihat pada laga ini.
Hal yang berbeda ditunjukan oleh Brendan Rodgers, kedatangan Mario Balotelli membuat ia harus melakukan perubahan taktik. Pemain kontroversial asal Italia tersebut langsung ditempatkan di depan berduet dengan Daniel Sturridge.
Kondisi tersebut memaksa Rodgers untuk memarkir Philippe Coutinho di bangku cadangan. Formasi 4-4-2 diamond yang dalam praktiknya lebih fleksibel tersebut berjalan mulus, dengan Raheem Sterling yang menjadi motor serangan menggantikan peran milik Coutinho.
Bermain Lewat Sayap dengan Umpan Panjang
Monoton, banyak mengandalkan umpan panjang, dan minim pergerakan tanpa bola. Bentuk permainan Spurs kali ini mirip dengan apa yang diperagakan saat melawan West Ham pada pekan pertama lalu. Meski menang tipis 1-0, tetapi butuh waktu hingga menit 90 bagi Dier untuk membobol gawang The Hammers.
Kondisi tersebut menjadi penyebab minimnya peluang yang didapat lini depan Tottenham. Sebenarnya ada kesempatan bagi tuan rumah untuk mencetak gol pada babak pertama, yakni peluang Emanuel Adebayor dan Nacer Chadli yang tinggal berhadapan dengan Simon Mignolet. Tetapi pada prosesnya, hal tersebut terjadi karena masih buruknya kordinasi kuartet lini belakang baru Liverpool ketika menghadapi umpan terobosan. Garis pertahanan yang diterapkan masih belum lurus sempurna, sehingga menyisakan penyerang lawan yang tanpa kawalan namun tidak terjebak offside.
Salah satu alasan dipakainya taktik umpan panjang, selain mungkin memang instruksi dari Pochettino, adalah pressing yang dilakukan Liverpool. Dengan terus menekan para pemain Spurs ketika membawa bola bahkan hingga ke daerah pertahanan, membuat umpan-umpan pendek sulit dilakukan. Hasilnya adalah umpan panjang yang "dibuang" ke area sayap.

Grafis Umpan Panjang Tottenham Hotspur [statszone]
Praktik ini membuat Spurs membuang potensi serangan melalui aksi Eric Dier dan Lamela. Sebagai fullback kanan, pergerakan Eric Dier seringkali merepotkan lawan. Nah masalahnya adalah, pencetak dua gol pada dua laga awal Liga tersebut tak bisa melakukan overlap jika bola tidak sedang dikuasai pemain Tottehnam.
Begitu juga dengan Lamela yang tak mendapat banyak asupan bola. Serangan yang dilakukan Spurs harus melalui perebutan duel daripada membangun dari lini belakang. Kondisi ini diperparah dengan jarak antar pemain yang terlampau jauh akibat minimnya pergerakan tanpa bola.
Adebayor sebagai ujung tombak di depan terkesan bekerja sendirian karena minimnya dukungan dari lini kedua. Bahkan pemain asal Togo ini harus ikut menjemput bola di tengah, sehingga praktis tidak ada pemain Spurs yang siaga di kotak penalti.
Dua pergantian pemain sekaligus yang dilakukan Pochettino pada menit 59 juga tak berarti banyak. Pasalnya tidak ada perubahan taktik yang dilakukan, pemain yang digantikan pun akhirnya tetap dengan formasi yang sama dan hanya pindah posisi.
Andros Townsend yang masuk menggantikan Christian Eriksen kemudian menempati sisi kanan dan membuat Lamela pindah ke tengah, posisi yang ditinggalkan Eriksen tadi. Begitu juga dengan keluarnya Nabil Bentaleb maupun Danny Rose, dua pemain penggantinya (Moussa Dembele dan Ben Davies) menempati posisi serupa.
Liverpool Menang Segalanya
Gerrard dkk. layak memperoleh kemenangan dalam pertandingan kali ini. Terlepas dari gol kedua yang masih dapat diperdebatkan pelanggaran penaltinya, kendali penuh permainan berada di kubu tim tamu.
Brendan Rodgers cukup apik dalam membagi peran pemainnya dalam mengisi lini tengah. Duet antara Balotelli dan Sturridge di lini depan juga berjalan sama baiknya. Jika Balotelli lebih banyak berada di kotak penalti, tidak demikian dengan Sturridge yang terkadang melebar atau masuk kotak penalti dari lini kedua.
Seperti halnya gol pertama, dimana Sturridge yang melebar memberi umpan ke Henderson sebelum mengirimkannya menjadi assist ke Sterling. Dari sini setidaknya ada beberapa peran yang dapat terlihat. Yaitu Balotelli sebagai decoy (pancingan) sekaligus targetman, Sterling masuk dari lini kedua dan Sturridge pembuka ruang.

Proses Gol Pertama Sterling
Permainan dinamis yang diperagakan Liverpool kali ini membuat mereka mudah meladeni permainan Spurs yang statis dan gampang ditebak. Dinamisme serangan Liverpool ini bahkan bisa tetap enak diperagakan saat mereka memasuki sepertiga akhir lapangan di pertahanan lawannya. Spurs sangat kesulitan mengantisipasi serangan Liverpool yang rapi, terukur, dan memaksimalkan setiap ruang yang tersedia.
Moreno vs Dier
Sisi kiri Liverpool menjadi pertarungan yang menarik dalam pertandingan kali ini. Pada pos inilah terjadi duel antara Alberto Moreno, bek kiri Liverpool, dan Eric Dier dari Spurs. Ini duel dua pemain yang sama-sama baru bermain di Liga Inggris musim ini. Moreno dibeli dari Sevilla, Dier dari Sporting Lisbon.

Grafis Heatmap Eric Dier (Spurs) β Moreno (Liverpool) [squawka]
Jika melihat hasil akhir, Moreno unggul dalam pertarungan kali ini. Selain mencetak satu gol penutup yang indah melalui aksi solo run, dia juga mampu menjaga daerahnya dengan baik. Kondisi bertolak belakang terjadi pada Dier, pos yang dijaganya malah tembus dan menyebabkan terjadinya gol ketiga Liverpool. Selain itu, bek muda Inggris tersebut juga menjadi biang keladi terjadinya penalti pada gol kedua tim tamu.
Namun ketika memperhatikan grafis heatmap di atas, Moreno sebenarnya memiliki kecenderungan lebih disiplin dalam menjaga daerah tanggung jawabnya. Hanya sedikit aksinya yang dilakukan hingga daerah sepertiga akhir lawan. Berbeda dengan Eric Dier yang lebih aktif untuk membantu serangan.
Begitu juga dengan catatan umpan silang yang dilakukan sepanjang 90 menit, Moreno hanya melakukannya satu kali. Bandingkan dengan Eric Dier yang mencapai empat kali umpan silang. Tak lupa, aksi apik dari Moreno juga tidak bisa lepas dari bantuan Joe Allen menjadi pelindung bagi sang bek kiri asal Spanyol tersebut.
Hanya saja, Moreno jelas lebih mematikan dan berperan penting dalam menentukan hasil akhir. Dia memperlihatkan cara main yang solid, cermat dalam membagi peran antara tugas utama bertahan dan kapan saat naik menyerang. Performa Moreno di laga ini membuka kemungkinan yang menyenangkan bagi Rodgers: Glen Johnson, yang belakangan kerap dikritik, kini punya pesaing yang menjanjikan.
Super Mario yang Menghibur
Tak lengkap rasanya membahas Spurs vs Liverpool tanpa memberi porsi khusus kepada rekrutan anyar The Reds ini. Selain menjadi sorotan, kontribusinya terhadap pertandingan juga tak bisa dianggap sebelah mata.
Tak butuh waktu lama bagi pemain asal Italia tersebut untuk menjadi bagian utama skema Brendan Rodgers. Diturunkan sebagai starter, permainannya cukup sentral dan terutama kokoh dalam membantu pertahanan.
Sebagai pemain yang cenderung pasif saat menyerang dibandingkan dengan rekannya Daniel Sturridge, Balotelli justru bertindak aktif saat bertahan. Bahkan jika dibandingkan, area jelajahnya lebih tinggi dari milik Sturridge.
Peran ini membuat Balo ikut terlibat banyak dalam proses membangun serangan Liverpool. Kekuatannya dalam menahan bola dapat dimanfaatkan untuk mengatur tempo serangan. Sehingga ada kesempatan bagi pemain Liverpool lainnya untuk mencari ruang dalam serangan balik cepat atau sebaliknya, memperlambat jika ingin bermain possesion.
Perhatikan grafis Sturridge (atas) dan Balotelli (bawah) berikut:


Namun sebagai seorang penyerang, hal yang paling ditunggu tentu saja gol-golnya di Liverpool. Apa daya, dari lima tendangannya ke gawang hanya satu yang tepat sasaran. Bahkan terdapat satu kesempatan emas yang gagal dikonversi menjadi gol ketika Hugo Lloris sudah keluar dari sarangnya.
Balotelli tetaplah Balotelli, menyianyiakan satu peluang emas dan dua lainnya yang berpotensi menjadi gol tapi tetap saja menghibur.
Masih menjadi tantangan yang tidak mudah bagi Balo untuk menjawab ekspektasi banyak orang, terutama peran yang diharapkan untuk menggantikan Suarez. Mungkin tidak mudah bisa mencatatkan nama di papan skor sebanyak yang sudah dilakukan Suarez, tapi laga ini menjelaskan Balo bisa menghadirkan sesuatu yang baru dan segar dalam cara menyerang Liverpool.
Dia bukan hanya sanggup memperlihatkan agresifitas seorang penyerang yang mau bertungkus lumus melakukan aksi bertahan, tapi juga menunjukkan dirinya tak sekaku dan semonoton yang dikira. Caranya bermain di laga ini memperlihatkan tersedianya kemungkinan pembagian peran yang cair dan dinamis di lini serang Liverpool antara dirinya dan Sturridge.
Kesimpulan
Mampu mendominasi permainan, Liverpool bermain dengan level yang memang lebih bagus dari Spurs. Bahkan ada kesempatan bagi The Reds mengulangi hasil serupa musim lalu, jika lini depan mereka bermain lebih tenang dan tak terburu-buru.
Sementara itu Brendan Rodgers juga masih menyisakan satu pekerjaan rumah di sektor belakang. Kompoisi baru di lini pertahanan ini terlihat belum padu saat membentuk skema bertahan. Pembentukan jebakan offside tidak membentuk garis sempurna sehingga dapat menyebabkan striker lawan bebas tanpa kawalan.
Bagi Pochettino, hasil pertandingan ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi bagaimana taktiknya mampu terbaca melawan tim-tim besar. Perlu ada opsi lain bentuk permainan Spurs, jika ingin bicara lebih di Liga Inggris nanti.
(krs/mfi)











































