Rapuhnya Lini Belakang Arsenal dan City Berujung Hasil Imbang

Liga Inggris: Arsenal 2-2 Manchester City

Rapuhnya Lini Belakang Arsenal dan City Berujung Hasil Imbang

- Sepakbola
Minggu, 14 Sep 2014 13:16 WIB
Rapuhnya Lini Belakang Arsenal dan City Berujung Hasil Imbang
Getty Images/Shaun Botterill
Jakarta -

Tak ada pemenang dari laga di Emirates Stadium, Sabtu (13/9) malam WIB tadi. Lemahnya lini belakang Arsenal dan Manchester City menggagalkan misi untuk meraih poin penuh di pekan keempat ini.

Manajer Arsenal, Arsene Wenger, masih harus berpikir keras untuk memperbaiki kebocoran lini belakang mereka. Pasalnya, The Gunners kembali meraih hasil imbang,kali ini melawan Manchester City. Skor 2-2 ini merupakan hasil imbang ketiga secara beruntun, dari empat pertandingan pembuka Arsenal di Liga Primer.

Namun, laga semalam pun memperlihatkan betapa rapuhnya lini tengah City tanpa kehadiran Yaya Toure. Frank Lampard maupun James Milner belum bisa menggantikan pemain timnas Pantai Gading tersebut. Akibatnya, Arsenal dapat dengan mudah menembus lini tengah City.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ramsey-Wilshere-Sanchez

Sempat dikabarkan kurang fit, Aaron Ramsey akhirnya ditempatkan di lini tengah. Ia berpasangan dengan Jack Wilshere, sementara Alexis Sanchez dan Mesut Oezil bergerak di kedua sisi lapangan.

Arsene Wenger pun menerapkan formasi favoritnya 4-1-4-1 dengan menempatkan Mathieu Flamini sebagai gelandang bertahan.


Β 
Di sisi lain, manajer City, Manuel Pellegrini, lebih memilih Frank Lampard untuk berduet dengan Fernandinho di lini tengah. Ia mengemban tugas berat karena mesti menggantikan peran Yaya Toure yang tak bisa tampil karena belum sembuh benar.

Pellegrini tak menurunkan dua striker seperti yang biasa ia lakukan dalam tiga pertandingan terakhir. Ia menempatkan David Silva di belakang Sergio Aguero, dan memasang James Milner di sayap kiri.

City Kesulitan Tanpa Yaya Toure

Menempatkan Danny Welbeck sebagai penyerang tunggal, Wenger sendiri memasang empat gelandang serang untuk menggedor lini pertahanan City.

Kombinasi Alexis Sanchez, Aaron Ramsey, Jack Wilshere, dan Mesut Oezil ini memperlihatkan betapa rapuhnya lini tengah tanpa Yaya Toure. Beberapa kali keempatnya memulai serangan lewat tengThe Citizensah, bukan lewat sayap seperti biasa dilakukan.

Terlihat Lampard masih belum terbiasa dengan peran barunya di City. Ia bermain seperti di Chelsea: menunggu di tengah sembari memberi pasokan bola pada rekannya yang lain. Pergerakannya cenderung statis karena ia hanya menunggu bola. Hal tersebut kontras dengan Toure yang aktif dalam menyerang dan bertahan.



Β [Heat Map Fernandinho (kiri), Lampard (kanan)]

Karena kurangnya suplai bola ke lini depan, Fernandinho kerap mengambil inisiatif melakukan serangan, seperti apa yang ia lakukan di timnas Brasil. Sayangnya, rekan duetnya bukan pemain dengan tipe Luiz Gustavo atau Fernando yang kuat dalam bertahan.

Ini yang membuat pergerakan Fernandinho tidak maksimal. Ia tidak begitu leluasa saat membantu serangan karena dibebani kewajiban untuk bertahan.

Jika dibandingkan, aksi bertahan Lampard tak sedominan Fernandinho. Misalnya saja dalam hal tekel. Fernandinho melakukan enam kali, dan Lampard hanya tiga kali.

Kehadiran Lampard malah memudahkan empat gelandang Arsenal tersebut menusuk langsung lewat tengah. Sebanyak 41 persen serangan Arsenal dimulai dari tengah, dan 32 persen dari sisi kanan. Arsenal sendiri jarang menyisir sayap kiri yang ditempati Sanchez, karena ia sering menjemput bola ke bawah, dan memulai serangan lewat tengah.

Fullback Lambat Menutup

Pada menit ke-12, kombinasi Aguero-Navas sudah membahayakan lini pertahanan Arsenal. Lewat serangan balik cepat, keduanya mengeksploitasi dua sisi pertahanan The Gunners, khususnya sisi kiri. Beruntung, bola masih bisa dibuang.

Hal ini terjadi karena dua fullback Arsenal aktif dalam membantu serangan, untuk
membantu empat gelandang Arsenal yang lebih sering bergerak ke tengah.

Sayangnya, Arsenal kurang beruntung karena bertemu dengan City yang dihuni para penggiring bola yang memiliki kecepatan.



Β [Dua fullback Arsenal, Monreal dan Debuchy yang terlambat menutup pos mereka]

Gol pertama Manchester City karena keterlambatan kedua fullback untuk turun. Monreal dan Debuchy tengah membantu serangan, dan City melakukan serangan balik secara tiba-tiba. Ini diperburik dengan Flamini yang gagal memberi perlindungan pada Mertesacker dan Konscielny.

Bola hasil tekel Flamini kepada Aguero, jatuh di hadapan Navas yang tengah berakselerasi. Dengan cepat, pemain sayap kanan ini menggiring bola ke kotak penalti dan mengirim umpan pada Aguero yang tidak terkawal.

Gol yang dicetak Aguero sebenarnya tidak perlu terjadi andai Flamini menjaga ketat Aguero. Nyatanya, ia terlambat satu langkah dari kaki Aguero yang menyosor bola sehingga masuk ke gawang yang dikawal Szczesny.


Β 
[proses gol pertama Manchester City. Terlihat bagaimana fullback Arsenal terlambat turun membantu pertahanan ]

Kelemahan tersebut pun dimaksimalkan oleh City, khususnya Navas dan Milner yang bergerak di kedua sisi. Sepanjang 90 menit pertandingan, 70 persen umpan di attacking third City mengarah ke kedua sisi. Sisi yang paling banyak disasar adalah sisi kiri pertahanan Arsenal dengan 41 persen, dan sisi kanan 35 persen.



[umpan Manchester City di sepertiga akhir lapangan]

Bermain Menekan

Salah satu alasan mengapa City bisa meraih juara pada musim lalu adalah permainan menekan yang mereka terapkan. Bisa dibilang, para pemain City menggunakan kekuatan fisiknya sembari melakukan pressing. Hal ini membuat Arsenal, yang mengandalkan umpan-umpan pendek, sulit mengembangkan permainan.

Begitu pemain Arsenal memegang bola, pemain City dengan sengaja mendekat sembari menabrakkan tubuhnya. Hasilnya, bola selalu terhenti lebih dari tiga meter di depan kotak penalti. Bahkan, di pertandingan semalam, terlihat keganasan Frank Lampard saat melakukan tekel dari belakang.

Permainan menekan ini sejalan dengan kokohnya lini pertahanan City di dalam kotak. Dari 16 percobaan umpan silang, tidak ada satupun yang menemui sasaran. Sebagian besar bola udara berhasil dimentahkan Vincent Kompany dkk.

Permainan menekan yang cenderung keras ini "didukung" oleh keputusan wasit yang terkesan lunak. Sejumlah pelanggaran keras hanya diberi peringatan, tanpa kartu kuning.

Akibatnya, Arsenal pun mulai β€œmeniru” permainan menekan ala City. Terlihat dari agresivitas tekel Arsenal yang bertambah pada babak kedua. Pada babak pertama, Arsenal melakukan 17 tekel, dan di babak kedua naik menjadi 25 tekel.

Sementara itu, City tidak menurunkan tekanannya sepanjang pertandingan. Pada babak pertama, mereka melakukan 28 tekel, dan pada babak kedua 29 tekel.

Bisa dibilang cara bermain City amat mengandalkan kekuatan fisik. Namun, mereka bisa mengelolanya sehingga membuat para pemain Arsenal frustrasi. Ini lain dari tekanan yang dilakukan Arsenal, yang terkesan dilakukan atas dasar frustrasi.

Faktor Lini Tengah Arsenal

Keputusan Wenger untuk menempatkan empat gelandang serang bisa dibilang cukup sukses. Peran Oezil, Ramsey, Wilshere, dan Sanchez begitu menonjol. Bisa dilihat dari kombinasi umpan di antara keempatnya. Ramsey 67 umpan, Wilshere 65 umpan, Oezil 48 umpan, dan Sanchez 46 umpan.

Empat gelandang ini yang membuat Aguero bermain lebih dalam dari biasanya untuk turun membantu pertahanan. Begitu pula dengan Navas dan Milner yang area operasinya begitu dekat dengan dua fullback City.

Gol pertama Arsenal pun tak lepas dari kombinasi empat gelandang ini. Tanpa mengecilkan peran Welbeck yang menarik perhatian dua bek City, jelas trio Ramsey-Wilshere-Sanchez adalah pelaku utama terciptanya gol yang tercipta pada menit ke-63 tersebut.



[proses gol pertama Arsenal]

Dari grafis di atas, terlihat bahwa meski Oezil tak membawa bola tapi ia mampu mengacaukan penjagaan Milner (gambar 2). Ini yang membuat Wilshere bisa langsung berakselerasi menuju kotak penalti City.

Kesalahan fatal lalu dilakukan Kompany saat Wilshere memegang bola. Meski ada Fernandinho yang berusaha menahan, ia malah melakukan pressing. Dengan cepat bola pun berpindah ke Ramsey yang tinggal berhadapan dengan Clichy dan Demichelis.

Kombinasi ini berakhir di kaki Wilshere yang mendapat umpan terobosan dari Ramsey. Di sini terlihat peran Ramsey yang membuat Clichy terkecoh (gambar 4). Fokus Clichy menjadi terbagi apakah harus menutup area tengah atau mengikuti lari Wilshere.

Meski keempatnya mampu berperan dalam dua gol Arsenal, mereka masih memiliki satu masalah yaitu sering salah dalam mengumpan.

Akurasi umpan terburuk dicatatkan Sanchez. Dari 46 umpan, hanya 28 yang tepat mengenai sasaran, atau akurasinya hanya 61 persen. Dari tujuh umpan yang menuju kotak penalti, hanya dua yang berhasil.

Secara statistik, dari keempat gelandang tersebut, Wilshere adalah yang paling menonjol. Dibandingkan dengan Sanchez yang gemar menggiring bola sembari menerobos pertahanan lawan, jumlah dribbling Wilshere jauh lebih banyak.

Sanchez dan Ramsey masing-masing empat dribbling sementara Wilshere 10 kali. Jumlah yang terbilang banyak dalam satu pertandingan.

Buruknya Marking Arsenal

Wenger sedikit berjudi dengan memasangkan Flamini sebagai gelandang bertahan, ketimbang Mikel Arteta. Perjudian tersebut tak berbuah manis karena Flamini menjadi titik lemah Arsenal.

Wenger sepertinya ingin Flamini berperan seperti Xabi Alonso di Bayern Munich, yang melapis tiga bek Bayern. Sehingga, saat pemain lain fokus menyerang, Flamini tetap berjaga di depan, atau sejajar dengan Koscileny dan Mertesacker.

Kenyataannya, Flamini berada di area yang bukan menjadi daerah operasi para pemain City.

Bola lebih sering lewat di kepalanya, atau meluncur dari sisi lapangan. Flamini jarang berduel dengan Lampard ataupun Fernandinho. Ia pun seringkali melepas Aguero untuk langsung berhadapan dengan bek Arsenal.

Semalam, Arsenal seolah membiarkan para pemain City bergerak bebas membawa bola, tanpa ada pengawalan yang teramat ketat.

Pada menit ke-13 misalnya, (lihat grafis di bawah). Meski unggul jumlah pemain, tapi tak ada satupun pemain yang mengawal ketat dua pemain City yang masuk ke kotak penalti.

Petaka pun muncul pada menit ke-84. Dengan semua pemain hadir di dalam kotak penalti, tapi tak ada satupun yang mempu menahan sundulan Martin Demichelis. Hasilnya pun fatal: City berhasil menyamakan kedudukan.

Setelah gol ini, praktis Arsenal mulai kehilangan orientasi serangan. City lebih mendominasi penguasaan bola hingga akhir pertandingan dengan 53 persen berbanding 47 persen.


Β 
[Lima pemain Arsenal tertekan oleh kehadiran dua pemain City (Atas); 10 peman Arsenal yang ada di kotak penalti gagal menahan bola yang tertuju pada Demichelis (Bawah)]

Kesimpulan

Kelemahan Arsenal ada pada penempatan Flamini sebagai gelandang bertahan. Gol pertama City terjadi karena kesalahannya dalam mengantisipasi bola. Selain itu, ia melepaskan penjagaan pada Aguero yang berhasil mencetak gol.

Para pemain pun Arsenal tidak disiplin dalam menjaga lawan. Gol kedua City dari Demichelis bisa menjadi contoh.

Arsenal sebenarnya tidak bermain buruk. Mereka bahkan memberikan asa bagi fans karena padunya trio Sanchez, Ramsey, dan Wilshere di lini tengah. Penampilan Oezil memang tidak akan mencapai puncak, jika Wenger terus memaksanya bermain sebagai pemain sayap.

Di kubu City, kehilangan Toure berpengaruh banyak pada suplai bola ke lini depan. Beruntung, Navas dan Milner menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka menjadi pusat serangan City di kedua sisi.

Permainan menekan ala City membuat alur bola Arsenal lebih sering terhenti sebelum masuk kotak penalti.

Hasil seri merupakan hasil yang adil bagi kedua tim. Meski Arsenal lebih mendominasi lini tengah, tapi usaha yang dilakukan City dalam mementahkan peluang Arsenal tak bisa dikesampingkan.

(mrp/mrp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads