Barcelona nyaris frustrasi menghadapi pertahanan ketat Athletic Bilbao semalam, hingga Neymar melihat celah di garis pertahanan Bilbao yang terlalu tinggi dan berbuah dua gol kemenangan Los Cules.
Barca memberikan kado manis dalam perayaan hari jadi 300 tahun Catalunya. Kemenangan 2-0 atas Bilbao tadi malam mengokohkan posisi mereka sebagai pemuncak klasemen sementara La Liga. Blaugrana mampu mengemas sembilan poin dari tiga laga perdana La Liga.
Namun, kemenangan yang didapat Lionel Messi cs dari Bilbao amatlah tidak mudah. Butuh waktu hampir 80 menit untuk membobol gawang Bilbao yang dijaga ketat Gorka Iraizoz. Kiper berusia 30 tahun ini mampu melakukan lima penyelamatan gemilang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Barca Sedikit Pincang, Bilbao Tampil Komplit
Pelatih Luis Enrique tampaknya masih terlihat kebingungan dalam menentukan komposisi utama skuat Barcelona, khususnya di lini tengah dan belakang. Hal ini terlihat dari tiga pertandingan terakhir mereka.
Memang, beberapa pemain seperti Jordi Alba, Jeremy Mathieu, Ivan Rakitic, Daniel Alves dan Sergio Busquets sudah mampu memikat Garcia untuk memberi jaminan inti kepada mereka.
Namun, untuk posisi centerback, Enrique masih mencoba-coba beberapa pemain untuk berpartner bersama Mathieu. Setelah sempat mencoba menduetkan Mathieu dengan Javier Mascherano dan Pique secara bergantian dalam dua laga terakhir melawan Bilbao, Enrique kembali memasang Mascherano pada starting line up. Uniknya pada menit 46, Mascherano ditarik digantikan oleh Pique.
Pada laga ini Garcia meninggalkan Alves dan memilih Martin Montoya pada posisi fullback kanan. Hal ini bukan tanpa alasan. Montoya adalah fullback yang memiliki kemampuan tekel, merebut bola, dan adu fisik yang cukup bagus. Kehadiran Montoya cukup mematikan permainan gelandang serang Bilbao yang naik daun yakni Iker Muniain
Di lini tengah, posisi yang akan jamak diperebutkan adalah posisi Iniesta, atau gelandang serang. Meski dalam laga tadi malam ia tampil penuh 90 menit, tak menutup kemungkinan pada laga selanjutnya posisinya akan tergeser oleh Munir atau Rafinha, jika Neymar atau Suarez bisa diturunkan.
Di lini depan, Garcia lebih memilih memakai Munir ketimbang Neymar, meskipun pemain Brazil ini sudah pulih dari cederanya. Hal ini berefek buruk karena belum padunya Messi dan Munir membuat Barca kesulitan membobol gawang Bilbao.
Ini berbeda ketika kerja sama itu dilakukan Messi dan Neymar. Dua gol Neymar dan dua assist Messi jadi pembuktiannya.
Perjudian Bilbao Bermain Tinggi
Di kubu tim tamu, Bilbao datang dengan skuat komplit. Mereka datang dengan skema dan formasi terbaik.
Ada satu hal menarik dan berani yang dilakukan oleh pelatih Bilbao, Ernesto Valverde, pada laga ini yakni intruksinya kepada lini belakang untuk bermain tinggi. Secara logika, taktik ini akan mengundang Bilbao jadi bulan-bulanan Barca yang memiliki Messi, Pedro dan Munir yang identik dengan kemampuan lari cepat.
Dengan perjudian ini, Valverde berharap Barca akan sering terkena jebakan offside.
Terbukti, di laga ini enam kali Lionel Messi cs memang terjebak offside. Meski Barca beberapa kali lolos jebakan dan mampu membuat attempts, Valverde pun tampaknya sudah mengantisipasi kebococoran ini. Barca pun mengalami kebuntuan membobol gawang Bilbao hingga menit ke-80.

Β
Lantas apa saja yang dilakukan Valverde hingga dia berani bermain tinggi dan menggagalkan Barca mencetak gol? Jawabnya terletak pada pergerakan dan kesolidan backfour mereka.
Absennya Neymar di menit-menit awal membuat tak ada penyerang yang bermain melebar. Ketiga penyerang Barca βJordi Alba, Messi dan Munirβpun saat menyerang cenderung berlari ke tengah.
Hal inilah yang membuat garis lebar pertahanan Bilbao dipersempit hanya selebar kotak penalti. Dua fullback yakni Marcos dan Balenziaga akan bergeser ke tengah merapat pada dua center back Gurpergi dan Aymeric.

Β
Karena Barcelona mensejajarkan Messi, Pedro dan Munir secara bersamaan, maka terjadi pertarungan 4 lawan 3 pemain. Untuk membongkar pertahanan lawan, Enrique beberapa kali merotasi posisi Messi, Pedro dan Munir. Pada Messi, misalnya, kadang pemain Argentina ini dinaikkan jauh di depan sebagai target man. Namun kadang pula ia memerankan false nine.
Fungsinya jelas yakni untuk memancing bek-bek Bilbao melakukan kesalahan dan membuka ruang yang bisa dieksploitasi lewat umpan terobosan. Rotasi ini memang sesekali membuahkan hasil. Dari lima trough ball yang dilakukan Barca, tiga di antaranya mampu berbuah peluang.
Namun terkadang rotasi ini pun tak berjalan efektif. Hal ini tak lain karena kedisiplinan backfour Bilbao memainkan zonal marking. Saat Messi mundur, Aymeric atau Gupergi jarang mengikutinya sehingga tak tercipta celah. Tak ayal Enrique pun menarik Munir dan memasukan Neymar.
Cara Bilbao Menahan Fullback dan Supply Tengah Barca
Dengan terpusatnya bek-bek Bilbao ke sisi tengah, maka akan tercipta ruang kosong di area sayap Bilbao. Bolong ini beberapa kali dimanfaatkan oleh dua fullback Barca yakni Alba dan Montoya yang sering overlapp ke depan, apalagi karena Rakitic dan Iniesta lebih sering bergerak ke tengah.
Area yang sering dieksploitasi Barca adalah sayap kiri. Caranya adalah dengan Iniesta lebih sering memberikan bola melebar ke sayap ke arah Jordi Alba. Kombinasi umpan antara dua pemain ini merupakan yang tertinggi, yaitu dengan 39 umpan.
Namun, untuk mengantisipasi kondisi ini, pelatih Bilbao dengan cerdik mendorong Susaeta dan Muniain setinggi mungkin, hingga meredam pergerakan Montoya dan Alba untuk maju ke depan.

Β
Selain itu mengandalkan kesolidan lini pertahanan, satu hal yang dilakukan Bilbao hingga bisa menahan Barcelona hingga menit ke-79 adalah berkat upaya tiga gelandang yakni Ituraspe, Rico dan Benat yang tak henti-henti menekan Iniesta dan Rakitic.
Filosofi yang diterapkan Bilbao mungkin seperti ini: Pedro, Messi dan Munir boleh berlari bebas di lini depan, namun suplai bola dari Iniesta dan Rakitic wajib dihentikan.
Untuk menyempurnakan skemanya, Valverde bahkan memberi keleluasaan kepada dua poros ganda, Ituraspe dan Rico, untuk berada agak jauh dari backfour demi menganggu Iniesta dan Rakitic di tengah. Hal inilah yang membuat percobaan umpan Rakitic yang diarahkan ke tengah depan kotak penalti selalu gagal dan mudah dipotong [lihat grafis di bawah]

Β
Memanfaatkan Neymar untuk Membongkar Pertahanan Bilbao
Masuknya Neymar pada menit ke-63 memang mengubah sedikit permainan Barca. Untuk mengantisipasi Neymar, selang semenit kemudian Ernesto Valverde memasukan Unai Lopez menggantikan Benat.
Pemain muda berusia 18 tahun ini adalah pemain serba bisa. Perannya sebagai gelandang bertahan sama baiknya saat dia diplot sebagai gelandang serang.
Di laga ini Unai diplot lebih ke gelandang bertahan. Karena itu, masuknya Unai membuat Bilbao memakai tiga gelandang bertahan sejajar. Unai diplot untuk menjaga Neymar sehingga ketika Bilbao bertahan ia akan berlari ke sayap kiri, tempat Neymar berada.
Kehadiran Unai sebenarnya bukan untuk head to head dengan Neymar, tapi untuk menutup aliran bola terobosan atau umpan pendek kepada pemain Brasil ini. Tugas man to man kepada Neymar sebenarnya sudah diberikan kepada fullback kiri, yakni Marcos.
Namun, kemampuan Neymar untuk melakukan transisi dari menyerang dengan cara melebar menjadi cutting inside itulah yang selalu gagal ditutup Marcos.

Proses gol pertama terjadi berkat tak padunya lini belakang Bibao mengantisipasi Neymar. Upaya yang dilakukan Unai dengan menutup Neymar sudah benar. Hanya saja Marcos terpancing melebar hingga menyisakan ruang yang dengan mudah dieksploitasi Messi untuk jadi umpan terobosan bagi Neymar.
Gol kedua pun terjadi akibat kesalahan Marcos dan Unai yang bebas di depan kotak penalti.
Dua gol yang dicetak Neymar tak akan terjadi tanpa kecerdasan Messi yang sadar akan celah di lini belakang Bilbao. Sayangnya kecerdasan ini seolah tak terlihat saat Neymar belum masuk ke lapangan.
Kesimpulan
Mencermati permainan Bilbao di laga tadi malam, khususnya di lini belakang, skuat ini akan jadi sorotan di Liga Champions musim ini. Keberanian mereka yang memainkan garis pertahanan tinggi patut diapresiasi. Kecepatan bek-bek mereka, yang nyatanya tak kalah dengan Messi, Pedro atau Munir sekalipun, cukup mencengangkan.
Taktik yang diperagakan Ernesto Valverde untuk mematikan lini depan Barca selama 79 menit boleh dikata cukup jenius. Hanya saja, konsentrasi dan fleksibilitas taktik selama 90 menit di lapangan mesti kembali diasah oleh Bilbao.
Tentu saja, variasi menyerang yang bertumpu pada Iker Muniain harus bisa sedikit dikurangi. Karena itu tak menutup kemungkinan Bilbao akan jadi salah satu tim kejutan di ajang Liga Champions musim ini.
Sementara itu, bagi Barcelona, meski belum menemukan pilihan utama di setiap lini, nyatanya kombinasi Neymar-Messi memiliki cukup kreativitas untuk membongkar pertahanan lawan.
Kemampuan keduanya untuk menjalankan beberapa peran (Messi sebagai ujung tombak sekaligus false nine, sementara Neymar bermain melebar atau melakukan cutting inside) juga cukup ampuh untuk membingungkan lawan.
Kehadiran Luis Suarez pada 25 Oktober nanti tentu akan membuat Enrique semakin kebingungan untuk memilih pemain serang inti, apakah Neymar, Messi, Pedro, Munir, Iniesta atau Rafinha. Namun, benar-benar kebingungan yang menyenangkan!
https://akcdn.detik.net.id/albums/football/barbil1.jpg (mrp/mrp)











































