Mengunci Serangan Balik AC Milan dengan Pressing Agresif

Liga Italia: AC Milan 0-1 Juventus

Mengunci Serangan Balik AC Milan dengan Pressing Agresif

- Sepakbola
Minggu, 21 Sep 2014 18:28 WIB
Mengunci Serangan Balik AC Milan dengan Pressing Agresif
Getty Images
Jakarta -

Filippo Inzaghi medapatkan kekalahan pertama bersama AC Milan di Liga Italia dini hari tadi. Menjamu juara bertahan, Juventus, Rossoneri kalah tipis 0-1. Gol Bianconeri iru dilesakkan Carlos Tevez.

Pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, sendiri mampu menyiapkan strategi yang tepat, yaitu dengan menguasai lapangan tengah dan mematikan trio penyerang lini depan Milan: Keisuke Honda, Stephan El Sharaway, dan Jeremy Menez, saat melakoni pertandingan di San Siro, Minggu (21/9/2014) dinihari WIB.

Pressing yang dilakukan oleh lini tengah Juventus pun membuat Milan tak mampu melancarkan umpan-umpan dengan sempurna, atau membangun serangan. Dari sembilan peluang yang tercipta pun, hanya dua di antaranya yang dilakukan dari dalam penalti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mesti dikatakan bahwa Milan sendiri pada laga ini bermain tanpa kekuatan penuh. Selain Riccardo Montolivo yang masih belum sembuh dari cedera panjangnya, Alex dan Daniele Bonera pun harus absen.

Namun sang tamu pun bermain dalam kondisi sama. Selain berlaga tanpa Andrea Pirlo, Andrea Barzagli pun belum fit benar. Karena alasan serupa, Arturo Vidal juga tak diturunkan sejak menit pertama.




Mematikan Serangan Balik Milan

Milan menantang Juve dengan bermodalkan raihan gol impresif. Dari dua pertandingan, I Diavolo Rosso sudah mengemas delapan gol. Hal ini terutama dilakukan dengan mengandalkan Menez sebagai false nine. Namun, serangan ini tak mempan kala menghadapi lini pertahanan Juve.

Allegri tampaknya telah mengantisipasi serangan Milan yang mengandalkan serangan balik cepat. Ia dengan jeli menginstruksikan trio pemain belakangnya, Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci, Martin Caceres, dan Angelo Ogbonna -yang masuk menggantikan Caceres menit 35-, untuk terus memberikan tekanan pada tridente lini penyerangan Milan yang dihuni Honda-Menez-El Sharaawy.


Heat Map Chiellini



Heat Map Caceres



Heat Map Bonnuci



Heat Map Ogbonna

Grafik di atas menunjukkan heatmap trio bek tengah Juve. Ketiganya terlihat lebih sering berada di area tengah lapangan karena terus mengikuti pergerakan trio lini serang Milan.

Ketika mendapat serangan, tridente Milan ini turun hingga berada tak jauh dari area kotak penalti sendiri. Hal ini dilakukan agar mereka langsung mendapatkan bola dan melakukan serangan balik cepat, untuk memanfaatkan lini pertahanan Juve yang tak memiliki pelari cepat.

Namun karena trio bek Juventus ini bermain dengan lugas dan disiplin, serangan Milan Menjadi tak efektif. Ketika bola dikuasai salah satu dari Honda-Menez-El Sharaawy, salah satu dari Chiellini-Bonucci-Caceres menempel ketat pemain yang sedang menguasai bola.

Taktik ini sebenarnya mengandung resiko besar. Karena, jika pemain lawan berhasil meloloskan diri dari penjagaan pemain belakang, maka pemain tersebut akan memiliki kesempatan menggiring bola langsung ke arah kiper.

Ini sempat terjadi pada pertengahan babak pertama. Chiellini gagal merebut bola yang dikuasai Menez. Lalu, Menez pun dengan cepat menggiring bola ke kotak penalti Juventus dari tengah lapangan. Hanya saja tendangannya masih bisa diblok Giianluigi Buffon.

Hanya pada kesempatan itu saja para pemain bertahan Juve, khususnya Chiellini, lengah. Sisanya, serangan yang dibangun Milan selalu bisa dimentahkan. Ketiganya pun tak segan untuk melakukan pelanggaran jika tridente Milan menguasai bola.

Milan sendiri terus berupaya menyerang lewat serangan balik. Mereka mengalirkan bola ke kedua sayap ketika mendapatkan bola. Ini dilakukan karena duo wingback Juve, Kwadwo Asamoah dan Stephan Lichtsteiner, selalu berdiri sejajar dengan trio lini tengah Roberto Pereyra-Claudio Marchisio- Paul Pogba saat Juventus menyerang.




Heat Map Lichsteiner


Heat Map Assamoah

Bola sebenarnya selalu sampai di kaki Menez, El Sharaawy ataupun Honda. Namun karena pressing agresif yang diberikan lini pertahanan Juventus, serangan Milan pun sering berakhir sia-sia.

Serangan Milan selalu bisa dipatahkan sebelum menyentuh area kotak penalti Juve. Terlihat dari grafik tekel di bawah Si Nyonya Tua kerap coba merebut bola di daerah pertahanan Milan sendiri.

Hal ini membuat lini tengah AC Milan tak mampu menguasai bola. Performa buruk ditunjukkan Sulley Muntari yang beberapa kali kehilangan bola.



Menyerang Lewat Tengah

Juve mendominasi jalannya pertandingan ini. Menurut situs Whoscored, mereka berhasil mencatatkan 59 persen ball possession.

Hal ini wajar terjadi mengingat Milan cenderung lebih bersabar ketika bertahan. Memasang garis pertahanan rendah, mereka pun tak melakukan pressing agresif ketika para pemain Juve menguasai bola.

Trio Andrea Poli, Sulley Muntari, dan Nigel de Jong pun hanya menunggu para pemain Juve mengirimkan umpan, lalu berusaha melakukan intersep.

Skema bertahan seperti ini dilakukan untuk meminimalisir celah menuju area kotak penalti Milan. Poli-Muntari-De Jong hanya bergerak mengikuti jalur bola menunggu dan momen yang tepat untuk melakukan intersep.

Strategi pertahanan ini sebenarnya cukup berjalan dengan baik. Serangan Juve beberapa kali mampu dimentahkan. Tercatat pada laga ini Milan melakukan 36 intersep dan 21 clearence. Bandingkan dengan Juve yang hanya mencatatkan delapan intersepsi walaupun unggul dalam jumlah clearance (25).





Intercept Milan



Clearence Milan


Juve mengincar serangan tengah untuk menyerang. Marchisio, yang bertugas sebagai playmaker menggantikan Pirlo, terus mengalirkan bola ke pemain yang berada di depan area kotak penalti.

Namun karena para pemain Milan cukup disiplin, para pemain Juve pun hanya mengancam lewat tembakan-tembakan yang dilepaskan dari luar kotak penalti. Sebenarnya para pemain Juve sulit untuk mendapatkan waktu yang pas untuk menembak.

Pogba-Pereyra-Marchisio harus mengeluarkan kemampuan individunya untuk mendapatkan ruang tembak karena umpan-umpan pendek yang diperagakan selalu mentah di kaki para pemain Milan.

Duo wingback mereka, Lichtsteiner dan Asamoah, pun lebih difokuskan untuk tak terlalu naik hingga area penalti. Bola yang dikirimkan ke sayap pun hanya sebagai upaya untuk memancing pemain tengah Milan.
Β 
Baik Lichtsteiner dan Asamoah difungsikan untuk menahan laju para pemain Milan yang coba menyerang lewat area sayap, tepatnya lewat duo fullback Milan, Ignazio Abate dan Mattia De Sciglio.

Maka dari itu, Lichtsteiner dan Asamoah hanya sesekali naik hingga mendekati area final third. Keduanya lebih sering mengalirkan bola ke tengah ketimbang membawa bola di sisi lapangan lalu mengirimkan umpan silang.



Karena strategi ini, Llorente yang biasanya dimanjakan dengan umpan-umpan silang Lichtsteiner atau Asamoah lebih berperan sebagai pengumpan. Ia hanya menahan bola yang dikirimkan melalui umpan datar dari tengah, lalu mengalirkannya pada pemain yang posisinya lebih bebas.

Hasilnya, Llorente jarang mendapatkan kesempatan untuk berhadapan langsung dengan kiper (hanya melepaskan satu tembakan). Serangan tengah Juventus ini baru berhasil pada menit ke-71.

Tevez, yang bermain rajin turun ke tengah untuk menjemput bola, memberikan umpan satu-dua pada Pogba yang berada tepat di area kotak penalti. Umpan tersebut memancing tiga pemain Milan untuk menjaganya.

Namun dengan cerdik pemain asal Prancis ini memberikan umpan terobosan ke dalam kotak penalti dengan men-chip bola di antara pemain Milan.

Tevez yang kembali menerima bola tersebut langsung berhadapan dengan penjaga gawang Milan, Cristian Abbiati. Tak terlalu mendapat gangguan, Tevez berhasil menaklukkan Abbiati dengan tendangan kaki kanan yang mengarah ke sisi kanan gawang.

Perubahan Strategi Milan

Sadar tertinggal, pada menit ke-71 Inzaghi memasukkan Giacomo Bonaventura untuk menggantikan El Sharaawy yang pergerakannya berhasil dimatikan lini pertahanan Juve. Pilihan ini dilakukan untuk memperkuat lini tengah.

Namun, sepuluh menit kemudian, Fernando Torres dimasukkan untuk menggantikan Andrea Poli. Dengan pergantian pemain ini, Inzaghi mengubah pola permainan. Formasi awal 4-3-3 berubah menjadi 4-3-2-1.

Bonaventura mengisi sisi sebelah kiri, Menez di belakang Torres yang menjadi penyerang tunggal, sedangkan Muntari diduetkan dengan De Jong sebagai double pivot.

Namun lagi-lagi pergantian formasi ini masih belum efektif. Meski berubah formasi, Milan tetap mengalirkan bola pada kedua sayapnya. Dan ketika mengirim ke final third, serangan Milan lagi-lagi kandas. Apalagi Juve memperkokoh pertahanannya dengan memasukan Arturo Vidal dan Romulo menggantikan Pereyra-Lichtsteiner.
Β 
Tujuh menit jelang bubar, Inzaghi pun lantas kembali mengubah formasinya menjadi 4-2-4 dengan memasukkan Giampaolo Pazzini untuk menggantikan Honda. Pazzini diduetkan bersama Torres, sementara Menez digeser ke sisi sebelah kanan.

Namun perubahan ini pun tetap tak mengubah jalannya pertandingan. Pertahanan Juve masih terlalu kokoh bagi Milan. Skor 0-1 bagi Juventus tetap bertahan hingga wasit Nicola Rizzoli meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan.

Kesimpulan

Kejelian Allegri dalam mengantisipasi taktik Milan perlu mendapat pujian khusus. Ia berani mengambil resiko untuk menginstruksikan para pemain bertahan untuk naik mengikuti para penyerang Milan, dan berhasil.

Kemenangan atas Milan pun sedikit menjadi bukti bahwa Allegri bukanlah pelatih sembarangan. Kemenangan 1-0 ini menjadi kemenangan keempat Juve dalam empat laga terakhir, dengan catatan belum sekalipun kebobolan.

Bagi Milan yang bertanding dengan kekuatan pincang, sebenarnya sulit untuk menandingi sang juara bertahan dalam penguasaan permainan. Pilihan untuk menerapkan garis pertahan rendah sambil berharap kecepatan penyerangnya dalam serangan balik adalah taktik tepat.

Setidaknya sampai menit ke-71 strategi tersebut bisa dikatakan berhasil. Sisi positif bagi Milan pada laga ini adalah, mereka telah menunjukkan performa mengesankan kala bertahan. Sebelumnya, lini pertahanan Milan menjadi sorotan publik karena cenderung lebih mudah kebobolan.

Mengingat raihan mengesankan yang diraih Milan pada laga-laga awal, seharusnya tak sulit bagi Inzaghi untuk kembali meningkatkan performa anak-anak asuhnya di laga selanjutnya. Jawaban atas kekalahan ini bisa diberikan Inzaghi pada pertemuan kedua nanti di kota Turin.

(cas/cas)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads