Blunder Aji Santoso yang Berbuah 6 Gol Bagi Thailand

Asian Games: Indonesia 0-6 Thailand

Blunder Aji Santoso yang Berbuah 6 Gol Bagi Thailand

- Sepakbola
Selasa, 23 Sep 2014 18:04 WIB
Blunder Aji Santoso yang Berbuah 6 Gol Bagi Thailand
ANTARA/Saptono
Jakarta -

Indonesia harus menerima kekalahan telak dari Thailand pada laga terakhir fase grup Asian Games 2014. Enam gol bersarang ke gawang Indonesia tanpada ada satupun balasan yang bisa dilakukan oleh Indonesia. Meski Indonesia tetap lolos ke babak selanjutnya, namun kekalahan telak ini dikhawatirkan menjatuhkan mental para pemain yang mayoritas masih berusia muda.

Salah satu kritik yang paling kencang kepada Aji Santoso pada pertandingan ini ditujukan pada pemilihan pemain yang dilakukan. Pada pertandingan melawan Thailand, Aji Santoso justru menurunkan pemain lapis dua. Pemain-pemain utama yang bermain cemerlang pada laga awal, justru hanya masuk ke daftar pemain cadangan.

Terdapat delapan perubahan nama pemain pada starting XI yang diturunkan Aji Santoso pada pertandingan melawan Thailand ini jika dibandingkan dengan dua pertandingan sebelumnya. Hanya ada Victor Igbonefo, Dany Saputra, dan Bayu Gatra pada starting XI kali ini yang merupakan pemain inti Aji Santoso.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaliknya, di kubu Thailand mereka justru menurunkan pemain utama mereka. Meski sama-sama sudah dipastikan lolos, Thailand memilih untuk tetap bermain dengan kekuatan maksimal yang mereka miliki. Gelandang andalan mereka yang sempat bermain di tim muda Swiss, Charyl Chappuis, bermain sebagai poros ganda bersama Yooyen Sarach di tengah.



Susunan pemain yang diturunkan kedua tim

Koordinasi Buruk Pemain Indonesia

Keputusan Aji Santoso untuk menurunkan para pemain cadangan benar-benar berakibat buruk. Koordinasi permainan yang dilakukan para pemain Indonesia saat bertahan maupun menyerang tidak berjalan baik.

Indonesia memainkan formasi 4-1-4-1, dengan menempatkan Rizki Pellu di antara barisan pertahanan dan pemain tengah. Dengan berada di posisi ini, mungkin Aji Santoso berharap Pellu dapat mengganggu kinerja gelandang serang Thailand, S. Chanatip, dalam mengalirkan bola ke depan.

Namun, menjadi masalah ketika koordinasi antara barisan pertahanan, Rizki Pellu sendiri, dan pemain tengah berlangsung sangat buruk. Tiga lini permainan Indonesia ini tidak berada pada posisi yang saling membantu kinerja sistem lainnya.

Barisan pertahanan berada terlalu jauh ke belakang sedangkan barisan tengah terlalu naik ke depan. Rizki Pellu pun berada pada posisi yang dekat dengan barisan pertahanan maupun pemain tengah. Hal ini menyebabkan terciptanya ruang yang sangat lebar di sekitar Rizki Pellu. Pada gambar di bawah terlihat bagaimana jauhnya jarak antara tiga lini permainan yang dimiliki Indonesia ini.



Posisi para pemain Indonesia saat bertahan

Pemain Thailand yang melihat kondisi ini sangat mudah untuk memanfaatkannya. Operan ke area final third yang dilakukan Thailand mengalir sangat lancar. Mereka sedikit memainkan bola di area mereka sendiri untuk memancing barisan pemain tengah naik, sebelum kemudian memasukan bola ke area sekitar Rizki Pellu yang sangat lowong.

Skema permainan yang berbuah gol pertama dan kedua pun berawal dari buruknya koordinasi Indonesia ini. Thailand memanfaatkan ruang kosong di depan barisan pertahanan Indonesia untuk melakuka umpan silang. Lihatlah bagaimana terbukanya area di depan barisan pertahanan Indonesia padahal terdapat dua pemain Thailand pada proses terjadinya gol kedua Thailand.

Penyerang Thailand, Adisak Kraison masuk ke ruang yang terbuka lebar tersebut pada proses terjadinya gol kedua. Bahkan terdapat satu pemain Thailand lain yang juga masuk ke ruang tersebut tanpa ada satu pun pemain Indonesia yang menjaga. Dengan kondisi ini tentu saja sangat mudah bagi Adisak untuk melepaskan tendangan ke gawang Indonesia.



Ruang terbuka di depan barisan pertahanan saat proses terjadinya gol kedua

Pressing Buruk dan Peralihan Lambat

Tidak hanya saat sudah mendekati gawang Indonesia. Koordinasi buruk yang dilakukan Indonesia sudah terlihat sejak bola masih berada di wilayah Thailand.

Sesekali Indonesia melakukan pressing ketika Thailand sedang melakukan ball possession di daerahnya sendiri. Pressing ini semakin sering dilakukan saat Indonesia sudah tertinggal dua gol. Namun lagi-lagi, koordinasi antar pemain saat melakukan pressing sangat buruk. Hal ini membuat pressing yang dilakukan para pemain Indonesia tidak berarti apa-apa bagi Thailand. Bahkan justru membuat pemain Thailand semakin mudah menembus pertahanan Indonesia.

Pemain Indonesia melakukan kesalahan paling dasar dalam melakukan pressing ke wilayah lawan. Yaitu pressing yang dilakukan antara satu pemain tidak bersamaan dengan pemain lainnya. Dengan begitu akan terdapat satu atau dua pemain Thailand yang berdiri bebas sehingga bisa menerima operan dan keluar dari tekanan.

Salah satunya terjadi saat Novri Setiawan terpancing untuk melakukan pressing ke wilayah pertahanan Thailand. Pemain sayap kanan Indonesia ini melakukan pressing seorang diri ke arah bek Thailand yang sedang menguasai bola.

Tidak ada pemain Indonesia lain yang mendukung pressing yang dilakukan oleh Novri. Bahkan sisi kanan pertahanan Indonesia yang ditinggalkan Novri pun tidak ada yang melakukan cover. Hal ini membuat bek kiri Thailand, N. Perapat, sangat bebas untuk memulai serangan Thailand.

Dia akan sangat leluasa membawa bola ke depan. Hilangnya Novri pun akan semakin membuat pertahanan Indonesia berantakan karena kehilangan satu personilnya. Rizki Pellu akan dibuat bingung untuk tetap berada di wilayah tengah atau membantu bek kanan Indonesia, Syaiful Indra, yang sedang diserang oleh dua pemain Thailand.

Pada gambar terlihat bagaimana Novri Setiawan melakukan pressing seorang diri tanpa bantuan rekan lainnya. Dan terlihat bek kiri Thailand yang tidak dikawal siap untuk menerima bola dan memulai serangan.



Pressing dari Novri Setiawan yang tidak mendapatkan dukungan dari pemain Indonesia lain

Selain itu, pemain Indonesia juga sangat lambat dalam menutup lubang di pertahanan. Pada kejadian Novri Setiawan tadi, dibutuhkan waktu hingga 20 detik untuk Novri Setiawan kembali ke posisinya. Dengan rentang waktu tersebut, bola sudah berhasil dimasukan ke kotak penalti Indonesia oleh pemain Thailand.

Tidak hanya saat kejadian tersebut, pada pertandingan ini juga terdapat banyak kejadian di mana pemain bertahan Indonesia kalah jumlah oleh para penyerang Thailand. Kondisi ini terjadi setelah pemain Indonesia yang sangat lambat kembali ke posisinya setelah menyerang. Serangan cepat Thailand kemudian membuat barisan pertahanan Indonesia harus menghadapi barisan penyerang Thailand dengan jumlah lebih banyak.



Empat pemain bertahan Indonesia yang harus berhadapan dengan lima penyerang Thailand

Tidak hanya dari menyerang ke bertahan, para pemain Indonesia juga sangat lambat dalam peralihan dari bertahan ke menyerang. Yandi Sofyan yang berada seorang diri di depan, seringkali tidak mempunyai pilihan untuk melakukan operan. Bantuan yang datang dari pemain tengah Indonesia hadir sangat terlambat. Hal ini membuat pemain Thailand sangat mudah untuk menghalau serangan yang dilakukan Indonesia.

Blunder Aji Santoso

Menang atau kalah dari Thailand memang tetap akan membuat Indonesia lolos ke babak selanjutnya. China ataupun Korea Utara yang merupakan calon lawan Indonesia dan Thailand di 16 besar pun memiliki kekuatan yang tidak jauh berbeda. Maka memang hasil dari pertandingan ini tidak berpengaruh banyak bagi Indonesia.

Namun lain ceritanya jika pertandingan berakhir dengan skor yang terlalu mencolok seperti ini. Mental tim Indonesia tentu akan terpengaruh dan bukan tidak mungkin dapat mengganggu pertandingan selanjutnya. Apalagi kekalahan dialami dari Thailand yang merupakan pesaing dekat Indonesia di Asia Tenggara.

Membangku cadangkan beberapa pemain yang sudah terkena kartu kuning (Manahati Lestussen dan Alfin Tuasalamony) dengan alasan agar tidak terkena skors mungkin masih masuk akal. Namun, membangku cadangkan Ahmad Jufriyanto dan Ferdinand Sinaga (yang sedang on-fire) yang masih terbebas dari kartu kuning menjadi pertanyaan besar dari keputusan Aji Santoso.

Jika kita perhatikan laga-laga terakhir babak grup yang tidak menentukan lagi di turnamen internasional, misal Piala Dunia atau Piala Eropa, jarang sekali ada pelatih yang nekat sampai mengganti 75% pemain. Kecuali jika tim sudah pasti tidak lolos ke babak berikutnya, atau perebutan tempat ketiga, barulah kadang kala ada tim yang berani mengganti lebih dari 70% susunan pemain.

Inilah yang diperlihatkan oleh Roy Hogdson di laga terakhir babak grup Piala Dunia 2014 lalu. Pada laga melawan Kosta Rika yang sudah tidak menentukan, karena Inggris sudah tersingkir, Hodgson mengganti sampai sembilan pemain.

Bandingkan juga dengan Kosta Rika sebagai perbandingan agar bisa dilihat konteksnya. Saat menghadapi Inggris itu, mereka sudah pasti lolos ke perdelapanfinal dan sudah pasti menjadi juara grup. Berapa perubahan yang dilakukan di laga vs Inggris? Hanya dua pemain.

Alasannya jelas: agar mental tim tidak terlalu jika kalah kelewat mencolok. Kalah mencolok itu tidak enak, bahkan walau itu laga tidak menentukan. Yang sudah pasti: menjaga kondusivitas tim agar tidak terkena berita dan komentar pedas yang tidak penting. Juga alasan-alasan lain: menjaga performance (laga berikutnya, toh, baru hari Jumat, masih ada 4 hari untuk recovery) dari pemain-pemain yang sedang menikmati ritme yang enak seperti Ferdinand Sinaga.

Memang juga belum tentu masuknya pemain-pemain utama akan membuat Indonesia menang. Melihat permainan Thailand yang begitu apik tentu tim utama Indonesia U23 akan kerepotan. Namun setidaknya, Indonesia pasti lebih bisa memberikan perlawanan. Pertandingan tidak akan berakhir dengan skor mencolok dan tanpa satupun tendangan ke gawang yang dilakukan oleh pemain Indonesia.

Kondisi tim Indonesia pun akan lebih terpacu untuk bisa bermain lebih baik di 16 besar. Tidak dengan perasaan bersalah akibat dibantai pada pertandingan sebelumnya.

Yah, pertandingan memang sudah berakhir, Indonesia sudah kalah telak, namun Korea Utara sudah menanti. Tidak ada gunanya jika kita terus memperdebatkan keputusan Aji Santoso kemarin. Akan lebih berguna jika kita segera melihat ke depan, dan memikirkan bagaimana cara mengalahkan Kores Utara di babak 16 besar.

Semoga para pemain juga tidak terlalu memikirkan kekalahan besar ini. Meski kalah besar, sebenarnya tidak banyak yang berpengaruh pada nasib Indonesia. Mereka tetap harus menghadapi lawan yang di atas kertas lebih kuat dari Indonesia. Maka akan lebih bijak jika para pemain segera melupakan pertandingan ini dan fokus terhadap pertandingan selanjutnya.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(roz/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads