Schalke 04 tampil sebagai pemenang di edisi pertama Ruhrderby musim ini. Strategi "satu orang jaga satu orang" jadi kunci Schalke mengalahkan rivalnya Borussia Dortmund dengan skor tipis 2-1.
Gol-gol kemenangan Schalke pada laga yang dihelat di Veltins Arena, Sabtu (27/9) malam WIB itu, Joel Matip dan Choupu-Moting. Dortmund hanya bisa membalas lewat sebuah gol dari kaki Pierre Emerick Aubameyang.
Tekanan ketat yang dibarengi dengan man-to-man marking oleh Schalke sejak menit pertama berhasil membuat Dortmund tak berkutik. Di saat Dortmund belum menemukan cara untuk mengatasi strategi tersebut, Schalke berhasil unggul 2-0 terlebih dahulu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mematikan Serangan Dortmund
Schalke tampil dengan skuat pincang. Cederanya beberapa pemain andalan seperti Leon Goretzka, Julian Draxler, Benedikt Hoewedes, dan Sead Kolasinac memaksa manajer Schalke, Jens Keller mengotak-atik komposisi pemain.
Sang pencetak gol Joel Matip pun sebenarnya belum pulih benar. Ia bahkan dipaksakan tampil hingga 90 menit. Matip yang menjadi tembok di lini pertahanan diduetkan dengan Roman Neustadter yang sejatinya berposisi sebagai gelandang bertahan.
Dengan komposisi seadanya ini, Keller menggunakan strategi pressing tinggi dengan man-to-man marking untuk mengatasi serangan Dortmund. Setiap kali Shinji Kagawa dkk melakukan serangan, setiap pemain Schalke masing-masing bertanggung jawab untuk menjaga pemain Dortmund.

Semua pemain Schalke melakukan man-man-marking pada pemain Dortmund
Ini dilakukan agar lini pertahanan Schalke tak kalah jumlah pemain dengan pemain Dortmund. Pasalnya, Dortmund kerap unggul jumlah pemain ketika mencapai area kotak penalti lawan karena mereka mampu menyerang dengan cepat.
Selain itu, para pemain Schalke pun diinstruksikan untuk menekan para pemain Dortmund hingga area pertahanan lawan. Bahkan ketika kiper Dortmund, Roman Wiedenfeller, menguasai bola untuk tendangan gawang, pemain lini penyerangan Schalke langsung menjaga ketat para pemain Dortmund yang berada di area pertahanan sendiri.
Strategi ini berhasil membuat Dortmund,yang semalam menggunakan pola 4-4-2, tak bisa membangun serangan dengan baik. Tekanan yang diberikan para pemain Schalke memaksa Dortmund sering mengirimkan umpan panjang ke lini depan. Alhasil, umpan-umpan yang dilepaskan Dortmund pun pun selalu bisa digagalkan.

Grafik passing tingkat keberhasilan umpan Dortmund yang hanya sekitar 66% Dortmund pada babak pertama yang menunjukkan kegagalan mereka membangun serangan.
Ketika permainan Dortmund tak berkembang, Schalke berhasil memanfaatkan momen ini dengan baik dengan menciptakan dua gol dalam kurun waktu 23 menit (menit 10 dan 23).
Cara Schalke Membongkar Pertahanan Dortmund
Pada pertandingan ini, terlihat Schalke lebih terorganisir dalam menyerang. Mereka tak buru-buru melakukan serangan, dan lebih bersabar sambil mencari celah di ini pertahanan Dortmund.
Keller menginstruksikan para pemainnya untuk terus menyerang sisi kanan pertahanan Dortmund. Hal ini dipilih untuk mengincar bek kanan Dortmund, Lukasz Piszczek, yang sebelumnya mengalami cedera ringan. Selain itu, Keller pun ingin memaksimalkan peran Choupo-Moting yang memiliki kecepatan dan kemampuan dribel mumpuni.

Grafik umpan Schalke di sepertiga akhir pertahanan Dortmund yang cenderung mengandalkan sisi Choupo-Moting dan Dennis Aogo (kiri)
Benar saja, dua gol Schalke pun bermula dari sisi ini. Gol pertama Schalke oleh Joel Matip pun tercipta karena sepak pojok yang dihasilkan dari sisi kanan pertahanan Dortmund.
Kala itu, bola panjang dikirimkan pada Choupo-Moting yang berada di sisi kiri. Lalu Choupo-Moting mampu melepaskan diri dari penjagaan Piszczek dan melakukan sepakan keras yang masih mampu diblok Weidenfeller.
Bola muntah mengarah pada Boateng. Namun, tendangan Boateng berhasil mengenai kaki salah satu pemain Dortmund. Dari proses inilah sepak pojok yang menghasilkan gol pertama Schalke terjadi.
Gol kedua terjadi hampir dengan skema serupa. Berasal dari tendangan sudut, bola kemudian kembali jatuh kembali di kaki para pemain Schalke. Bola tersebut kemudian kembali diarahkan ke kiri. Aogo lalu mengirimkan umpan silang ke area kotak penalti. Choupo-Moting yang sudah berada di sana pun kemudian menghajar bola dengan tendangan keras kaki kirinya tanpa ampun.
Selang tiga menit dari gol tersebut, Dortmund berhasil memperkecil kekalahan. Gol yang diciptakan Dortmund sendiri terjadi berkat kesalahan Neustadter yang gagal mengantisipasi bola udara yang diarahkan pada Adrian Ramos.
Kesalahan ini membuat organisasi pertahanan Schalke menjadi berantakan. Atsuto Uchida yang seharusnya menjaga Aubameyang, terpaksa harus mengisi kekosongan diarea tengah kotak penalti.
Sementara Aogo yang harusnya berada di sisi kiri, terlanjur naik untuk menjaga Grosskreutz yang bertukar posisi dengan Aubameyang. Ramos pun kemudian mengoper pada Aubameyang yang tak terkawal siapa pun.

Proses terjadinya gol Aubameyang yang berawal dari kesalahan Neustadter
Ketangguhan Lini Pertahanan Dortmund
Kembali hadirnya Mats Hummels membuat bola-bola atas yang mengarah langsung ke tengah selalu bisa dimentahkan Hummels dan tandemnya, Neven Subotic. Sepanjang babak pertama, Dortmund mencatatkan 6 intersep dan 16 clearance.
Dortmund menerapkan garis pertahanan tinggi dalam skema bertahannya. Ini dilakukan untuk membatasi pergerakan dan jalur umpan yang dilancarkan para pemain Schalke. Khususnya membatasi pergerakan playmaker Schalke, yaitu Max Meyer.
Namun, nyatanya hal tersebut tak cukup mempan mengatasi pergerakan Meyer. Pada babak pertama, Meyer mencatatkan 100% keberhasilan umpan. Maka dari itu, gelombang serangan yang dilancarkan Schalke pada babak pertama tak terbendung.
Perubahan Strategi Babak Kedua
Sadar tertinggal, manajer Dortmund, Juergen Klopp, tak tinggal diam. Pada babak kedua, tepatnya menit ke-57, Shinji Kagawa masuk menggantikan Ciro Immobile.
Masuknya Kagawa mengubah pola permainan yang dipakai Dortmund. Kagawa ditempatkan sebagai pemain no. 10 sehingga pola permainan yang digunakan Dortmund berubah dari 4-4-2 menjadi 4-2-3-1.
Strategi ini cukup berhasil dan membuat Dortmund lebih mendominasi pertandingan. Serangan yang dibangun dari lini pertahanan mampu terorganisir dengan baik. Umpan-umpan pendek mulai diperagakan setelah Dortmund menggunakan pola 4-2-3-1.

Grafik umpan Dortmund babak pertama (kiri) dan babak kedua (kanan)
Hadirnya Kagawa membuat Dortmund memiliki tiga pemain yang beredar di lini tengah. Posisi kagawa yang berada diantara bek dan pemain tengah Schalke memberikan alternatif umpan jika Sven Bender atau Matthias Ginter sedang menguasai bola. Kagawa sendiri mencatatkan 88% keberhasilan umpan dengan satu umpan yang nyaris berbuah gol.
Dengan pola ini pun serangan Dortmund menjadi lebih hidup. Hal ini dikarenakan Aubameyang dan Grosskreutz yang sebelumnya bermain sebagai pemain sayap pada formasi 4-4-2 flat, pada 4-2-3-1 posisinya lebih mendekati area kotak penalti.
Menyerang lewat sayap menggunakan pola 4-2-3-1 memang mutlak menjadi kekuatan Aubameyang dan Grosskreutz. Ini berbeda ketika masih menggunakan 4-4-2, di mana Immobile dan Ramos-lah yang bergerak melebar untuk membuka ruang di area tengah.
Jens Keller merespona perubahan strategi yang dilakukan oleh Dortmund dengan memasukkan Christian Fuchs yang berposisi asli sebagai bek kiri, menggantikan Boateng, pemain tengah yang lebih ofensif.
Banyaknya pemain yang cedera memaksa Keller menempatkan Fuchs sebagai gelandang bertahan. Pergantian inimengindikasikan bahwa Keller lebih ingin fokus pada lini pertahanan dan mengamankan skor 2-1 hingga akhir pertandingan.
Pergantian pada menit ke-80 pun semakin membuktikan bahwa Keller tak lagi bernafsu mengincar gol tambahan. Kaan Ayhan yang berposisi sebagai bek tengah, masuk menggantikan Marco Hoger. Ayhan kemudian diproyeksikan untuk berduet dengan Joel Matip, sementara Neustadter kembali menempati posisi aslinya yaitu sebagai gelandang bertahan.

Heatmap pemain Schalke yang mununjukkan lebih memfokuskan pertahanan pada babak kedua
Setelah Dortmund mendominasi pertandingan, Schalke pun lebih bersabar dan tak terlalu berambisi merebut bola. Meyer cs hanya menunggu momen tepat untuk melakukan intersep lalu melakukan serangan balik. Dan strategi ini berhasil sesuai harapan Keller karena hingga wasit meniupkan peluit tanda berakhir pertandingan skor tetap tak berubah.
Kesimpulan
Kemenangan yang diraih oleh Schalke pada Ruhrderby kali ini tak lepas dari keberhasilan Jens Keller membuat Dortmund tak bisa mengembangkan permainannya. Keller dengan jeli menerapkan strategi man-to-man marking dan anak asuhnya mampu menjalan instruksinya dengan baik (kecuali satu kesalahan Neustadter).
Tak terlalu berambisi menambah gol ketika Dortmund mulai mendominasi pertandingan pada babak kedua pun menjadi pilihan bijak yang dilakukan Keller.
Bagi Dortmund, laga ini kembali membuktikan bahwa Immobile dan Ramos masih belum menunjukkan tajinya sebagai pengganti sepadan untuk Robert Lewandowski yang musim lalu menjadi goal getter Dortmund. Keduanya beberapa kali mendapat peluang, tapi tak mampu mengonversikan peluang tersebut menjadi gol.
Perburuan titel juara Bundesliga masih panjang. Baik Schalke maupun Dortmund masih memiliki peluang untuk mengejar Bayern Munich yang mantap di puncak klasemen. Bagi Schalke, kemenangan ini membuat selisih poin dengan Munich tetap enam poin.
Sedangkan bagi Dortmund, tujuh poin adalah defisit yang harus dikejar untuk mencapai puncak. Tugas berat bagi kedua tim untuk memangkas selisih tersebut.
===
Penulis adalah redaksi Pandit Football Indonesia dengan akun @PanditFootball
(mrp/mrp)










































