Arsenal Direpotkan Garis Pertahanan Rendah Spurs

Liga Inggris: Arsenal 1-1 Tottenham

Arsenal Direpotkan Garis Pertahanan Rendah Spurs

- Sepakbola
Minggu, 28 Sep 2014 17:21 WIB
Arsenal Direpotkan Garis Pertahanan Rendah Spurs
REUTERS/Suzanne Plunkett
London - Tottenham Hotspur sukses membawa pulang satu angka dari lawatannya ke markas Arsenal. Apa resep dari Mauricio Pochettino sehingga The Lilywhites bisa meredam The Gunners?

Pekan keenam Premier League menyajikan Derby London Utara antara Arsenal melawan Tottenham, Sabtu (27/9) malam WIB. Bermain di kandang sendiri, Arsenal harus rela berbagi angka 1-1 dengan rival sekotanya itu di mana Spurs unggul lewat gol dari Nacer Chadli sebelum disamakan Alex Oxlade-Chamberlain.

Arsenal harus bermain tanpa beberapa pemainnya yang mengalami cedera. Olivier Giroud, Serge Gnabry, Theo Walcott, Mathieu Debuchy, Nacho Monreal, dan Yaya Sanogo masih dalam proses penyembuhan, sementara Spurs hanya Kyle Walker yang tidak bisa tampil akibat cedera.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arsene Wenger kembali membangku cadangkan Alexis Sanchez. Namun dalam formasi 4-1-4-1, Wenger kini lebih memilih menempatkan gelandang serang asal Jerman, Mesut Ozil, di posisi sayap kiri. Wenger sendiri lebih memilih untuk menempatkan Ramsey dan Wilshere sebagai gelandang serang di tengah.

Di kubu Spurs, Pochettino memberikan kepercayaan kepada pemain muda yang bermain cemerlang saat laga Carling Cup melawan Nottingham Forest lalu, Ryan Mason. Gelandang berusia 23 tahun ini bermain di tengah bersama Etienne Capoue.


Β 
Dominasi Arsenal yang Tanpa Peluang

Tidak seperti yang dibayangkan, Derbi London Utara kali ini berlangsung kurang menegangkan. Kedua tim lebih bermain aman untuk dapat meraih angka. Spurs yang masih belum menunjukan performa stabil di awal musim pun memutuskan untuk lebih menunggu dan membiarkan Arsenal menguasai bola.

Terhitung Arsenal mendominasi penguasaan bola dengan 69,8% berbanding 30,2%. Jumlah operan yang dilakukan Arsenal pun jauh lebih banyak dari Spurs dengan 599 operan, sedangkan Spurs hanya mencatatkan 199 operan.

Namun tingginya penguasaan bola memang tak selalu berbanding lurus dengan penciptaan peluang. Pada babak pertama, Arsenal hanya mampu melepaskan tiga tendangan yang dilakukan dari luar kotak penalti dan sangat mudah untuk diantisipasi Hugo Lloris.

Hal ini disebabkan oleh strategi bertahan Spurs yang tidak membiarkan pemain Arsenal leluasa menguasai bola. Dengan formasi dasar 4-4-2, Nacer Chadli dan Adebayor berdiri paling depan untuk mengganggu Arteta mengatur serangan Arsenal. Sedangkan empat pemain gelandang dan empat pemain bertahan berdiri rapat dengan garis pertahanan yang sangat rendah.

Pochettino memerintahkan pemainnya untuk melakukan tekanan saat Arsenal mulai memasuki daerah pertahanan mereka. Dengan garis pertahanan rendah serta empat gelandang yang berdiri rapat, Arsenal sulit mendapatkan ruang di wilayah pertahanan Spurs.

Jumlah tekel yang dilakukan pemain Spurs menunjukan keberhasilan strategi yang dilancarkan Pochettino. Total 23 tekel berhasil dilakukan para pemain Spurs di sepanjang pertandingan.

Pilihan strategi Wenger, yaitu kembali memainkan pola 4-1-4-1, mungkin sebenarnya diharapkan mampu mengantisipasi pola serangan rapat yang diperagakan Spurs ini. Dengan menempatkan dua gelandang serang yang berdiri di depan garis pertahanan Spurs, maka Arsenal mampu mengalirkan bola melalui wilayah ini.

Namun nyatanya, Arsenal tetap kesulitan untuk masuk ke wilayah tengah pertahanan Spurs. Mereka memang sesekali mampu memasukan bola ke celah antara dua gelandang bertahan lawan, namun aliran bola tidak bisa berlanjut ke Welbeck yang berada di depan.

Hal ini terlihat dari chalkboard operan yang dilakukan Arsenal pada babak pertama. Meski sesekali mampu memasukan bola di daerah tengah pertahanan Spurs, aliran bola lebih sering dikirimkan ke wilayah sayap kanan dan kiri.


Β 
Chalkboard operan Arsenal pada babak pertama. Sumber: fourfourtwo.com

Serangan Balik Spurs

Bermain dengan pertahanan rapat di wilayah sendiri bukan berarti Spurs hanya mengincar hasil imbang. Mereka tetap melancarkan serangan dengan cara sendiri. Bahkan, secara garis besar beberapa serangan yang dilancarkan Spurs justru lebih mengancam pertahanan Arsenal.

Dengan garis pertahanan yang sangat rendah, Spurs membiarkan para pemain Arsenal naik dan mengepung pertahanan mereka. Hal inilah yang mereka incar, yairu menunggu para pemain Arsenal naik untuk kemudian melakukan tekanan yang agresif untuk merebut bola.

Sesekali pergerakan agresif ini menyebabkan pelanggaran dan berbuah tendangan bebas bagi Arsenal. Total 16 kali pelanggaran dibuat oleh para pemain Spurs akibat strategi ini. Namun pilihan permainan ini juga yang mampu membuka serangan mereka ke jantung pertahanan Arsenal.

Beberapa kali Spurs berhasil merebut penguasaan bola ketika Arsenal hanya menyisakan Mikel Arteta dan dua bek tengah. Tentu saja kondisi ini menguntungkan Spurs.

Tottenham sendiri telah menyiapkan empat pemainnya yang selalu siap melakukan serangan balik. Nacer Chadli dan Adebayor ditambah Cristian Eriksen dan Erik Lamela yang bergerak cepat dari sisi kiri dan kanan membuat serangan balik Tottenham sangat mematikan.

Terhitung tidak kurang dari 5 kali serangan balik cepat Tottenham hampir sukses membobol gawang Arsenal. Empat pemain Spurs serta sesekali ditambah Capoeu atau Mason, membuat barisan pertahanan Arsenal kalah jumlah. Namun kesalahan mendasar yang dilakukan para pemain Tottenham membuat serangan balik mereka tidak berbuah gol.


Β 
Kondisi saat Tottenham melakukan serangan balik. Arsenal kalah jumlah pemain bertahan.

Usaha serangan balik mereka akhirnya berbuah hasil pada menit ke 56. Mathieu Flamini yang menggantikan peran Mikel Arteta sebagai gelandang bertahan, lengah saat menguasai bola. Christian Eriksen yang melihat hal ini langsung mencuri bola dari Flamini. Bola kemudian dialirkan ke Nacer Chadli yang tanpa pengawalan sehingga berbuah gol bagi Spurs.

Arsenal Lebih Cair

Tidak mau dipermalukan di kandang sendiri oleh rival sekotanya, Wenger langsung merespon dengan memasukan Alexis. Masuknya Sanchez membuat Oezil kembali ke posisi tengah dan dengan Alexis berada di sayap kiri. Selain menggeser Oezil ke tengah, Wenger juga sedikit menurunkan Santi Cazorla untuk membantu Flamini mengalirkan bola dari belakang.

Perubahan strategi yang dilakukan Wenger ini ternyata tepat. Dengan berarea di lapangan tengah, Cazorla mampu menerima bola tanpa mendapat pengawalan ketat dari barisan pertahanan Spurs. Hal ini lebih memudahkan Cazorlan untuk bisa mengalirkan bola ke depan.

Selain itu, Hadirnya Alexis membuat barisan penyerangan Arsenal mampu bergerak lebih cair. Oezil dan Sanchez mampu mengeksploitasi sisi kiri yang seringkali hanya menyisakan Kyle Naughton yang ditinggal pergi Erik Lamela untuk menyerang. Aliran bola Arsenal pun lebih cenderung ke arah kiri untuk mengeksploitasi ruang ini.


Β 
Chalkboard operan Arsenal setelah Sanchez masuk. Sumber: fourfourtwo.com

Selain itu, masuknya Alexis juga memungkinkan Welbeck untuk lebih bergerak bebas keluar dari posisinya.

Hal ini membuat pergerakan serangan Arsenal tidak lagi monoton seperti sebelumnya, sehingga barisan pertahanan rapat yang dibangun Spurs mulai goyah. Barisan pertahanan dan empat gelandang yang sebelumnya berdiri rapat, lalu dipaksa bergerak kesana kemari oleh para penyerang Arsenal.

Hasilnya, lagi-lagi melalui serangan dari sisi kiri, Alexis mengembalikan bola ke Cazorla yang berada di luar kotak penalti. Tendangan Cazorla yang terkena blok pemain Tottenham berhasil dilanjutkan Chamberlain yang tidak terkawal. Arsenal pun berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Kesimpulan

Derby London Utara yang tersajikan pada pekan keenam Liga Inggris musim 2014/2015 tidak sepanas pada musim-musim sebelumnya. Tottenham yang belum menunjukan performa stabil lebih memilih untuk bermain aman dengan menunggu para pemain Arsenal naik. Mereka kemudian mengincar satu serangan balik cepat untuk mencetak gol.

Sedangkan Arsenal sepertinya masih terus mencari komposisi gelandang yang paling tepat. Mereka memang memiliki barisan gelandang yang luar biasa, namun mengkombinasikan mereka agar mampu menghasilkan serangan mematikan menjadi pekerjaan rumah Arsene Wenger yang harus segera diselesaikan.

===
Penulis adalah redaksi Pandit Football Indonesia dengan akun @PanditFootball

(mrp/mrp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads