Mengalahkan Juventus dengan 'Cara Atleti'

Liga Champions: Atletico 1-0 Juventus

Mengalahkan Juventus dengan 'Cara Atleti'

- Sepakbola
Kamis, 02 Okt 2014 18:12 WIB
Mengalahkan Juventus dengan Cara Atleti
Evrim Aydin/Anadolu Agency/Getty Images
Jakarta -

Juventus pulang dari Vicente Calderon, kandang Atletico Madrid, dengan tangan hampa. Menguasai bola hingga 64%, Si Nyonya Tua justru gagal mencetak gol. Lebih parah lagi, tidak ada satupun tembakan tepat sasaran ke gawang Atletico. Apa yang sebenarnya terjadi?

Kedua tim sama-sama tak diperkuat pemain kuncinya. Tuan rumah Atletico terpaksa bermain tanpa sang kapten, Gabi, yang mendapat cedera setelah melawan Sevilla. Sedangkan Juventus tak diperkuat Pirlo yang juga tidak dalam kondisi prima.

Secara taktik absennya dua pemain di atas sebenarnya tak terlalu berpengaruh banyak. Terutama Juve yang punya banyak kesempatan menguasai bola melalui sang pengganti, Claudio Marchisio. Satu hal mungkin yang bisa diharapkan dari Pirlo dan hilang dalam laga kali ini adalah sentuhan ajaibnya, baik melalui bola mati atau umpan di ruang sempit secara tiba-tiba.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Marchisio bisa menjadi konduktor tim untuk menguasai permainan, tapi sayang tak bisa melahirkan momen-momen lewat sentuhan ajaib ala Pirlo.


Susunan pemain kedua tim [whoscored]

Mendikte Permainan Juventus

Seperti yang disebutkan sebelumnya, Juventus memang mendominasi pertandingan dengan penguasaan bola. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah Atleti justru lebih banyak mendapat keuntungan dengan mengendalikan permainan Juve.

Pola pertahanan yang dibangun Simeone berhasil mencegah Juventus tidak masuk ke area sepertiga akhir. Sehingga meskipun bola berada di kaki pemain Juventus, para bek masih tetap tenang karena jarang mendapat serangan. Pressing yang dilakukan pemain depan, yang dikombinasikan dengan garis pertahanan tinggi, plus kordinasi rapi antar lini, membuat Juventus kesulitan mengkonversi penguasaan bola menjadi peluang.

Caranya dengan sesegera mungkin merebut kembali jika sedang kehilangan bola. Tetapi apabila pemain Juventus memulai serangan dari belakang /kiper, maka respons pertahanan berbeda akan diterapkan. Pemain-pemain Atleti segera turun membentuk pertahanan rapat 4-5-1, meninggalkan Mandzukic seorang diri di depan.

Pada babak pertama, Juventus terpancing dengan gaya permainan yang diperagakan Raul Garcia dkk. Mereka ikut bermain cepat dan sayangnya kemudian menjadi tergesa-gesa. Ritme cepat yang mereka ikut mainkan sering memaksa anak asuh Allegri ini lekas-lekas melepas bola jauh ke depan, saat kemungkinan melakukan umpan 1-2 masih tersedia.

Model permainan seperti ini juga tak asing bagi Atleti, terutama saat menghadapi tim yang banyak mengandalkan penguasaan bola. Rataan possession Atleti sebelum pertandingan adalah 46%. Artinya, mereka terbiasa tak mengendalikan penguasaan bola.

Mengandalkan Sayap dan Kekuatan Mandzukic

Formasi 4-3-3, yang dalam praktiknya bisa sangat fleksibel, yang diusung Simeone menekankan menyerang melalui kedua sayap. Allegri sebenarnya juga sudah melakukan antisipasi yang baik terhadap taktik Simeone ini.

Dua wingback Juventus, Lichtsteiner dan Patrice Evra, beroperasi tak terlalu naik ke depan agar tidak mudah ditembus saat serangan balik. Ketika bertahan, keduanya juga aktif dibantu oleh bek dan para gelandang. Secara bergantian, baik Vidal maupun Pogba, akan ikut membantu pertahanan di sisi lapangan tersebut. Ketika lolos pun para bek di belakang sudah siap untuk menghadang pergerakan sayap Atleti.

Sayangnya serangan yang dibangun Atleti berlangsung monoton, setidaknya pada babak pertama. Tidak ada variasi pergerakan dari tengah yang hanya mengandalkan Mandzukic. Meski punya kemampuan menjadi tembok pemantul dan kuat dalam menjaga bola, tapi tidak ada dukungan yang membuatnya dapat terlepas dari kawalan bek Juventus.

Sebenarnya masih ada nama Arda Turan yang berperan aktif bergerak mendampingi Mandzukic. Tetapi daerah operasinya juga selalu ada di sayap, baik kanan maupun kiri. Membuat striker Kroasia tersebut kesulitan lepas dari kawalan Chiellini maupun Bonucci.


Perbandingan grafis umpan Atleti-Juve babak pertama [Squawka]

Macetnya Lini Depan Juventus

Dengan penguasaan bola 64-34 untuk keunggulan Juventus, jumlah peluang justru lebih banyak diperoleh Atleti (8-5). Serangan Tevez dkk terhenti di kaki barisan pertahanan Atletico. Allegri seolah lebih memilih bermain aman dengan tidak menanggung banyak resiko. Ditahannya dua wingback agar tidak terlalu naik ke atas memang membuat Juve punya komposisi pemain lebih banyak di lini tengah, sehingga penguasaan bola jadi relatif gampang mereka kendalikan.

Hanya saja, penguasaan bola ini sulit untuk dialirkan ke jantung pertahanan Atleti. Tevez harus bekerja keras untuk menjemput bola ataupun bermain melebar dan meninggalkan Llorente sendirian di depan. Umpan 1-2 nya dengan Pogba ataupun Vidal sebenarnya juga berpotensi membuat peluang. Hanya saja, lagi-lagi, Llorente kesulitan bertarung sendirian di jantung pertahanan Atleti.

Upaya melambatkan tempo permainan yang dilakukan juga terlihat sia-sia karena dengan sigap pemain bertahan tuan rumah akan segera membentuk tembok kokoh yang melindungi gawang mereka. Langkah selanjutnya dari Juve adalah memainkan bola-bola panjang yang juga gagal mencapai kotak penalti (lihat grafis di bawah).


Umpan panjang Juventus (statszone)

Respons Taktik Simeone

Terus menerus digempur melalui sayap membuat wingback Juve mulai terlihat kepayahan. Beberapa kali keduanya telat menutup pergerakan pemain Atleti yang menyisir lapangan. Kondisi ini dimanfaatkan Simeone dengan memasukan pemain sayap segar berkecepatan tinggi, Antoine Griezmann.

Meski tak terlibat langsung dalam proses gol Arda Turan, namun masuknya Griezmann membuat Arda Turan dapat lebih bebas masuk ke kotak penalti. Karena kini ada pemain yang menggantikan peran sebelumnya dalam hal membongkar sisi sayap Juventus.

Evra yang seharusnya menjadi pemain pertahanan terakhir di sayap kiri justru terlambat untuk turun. Membuat salah satu dari tiga bek di belakang terpaksa menahan aksi Juanfran. Namun aksinya juga terlambat. Bola berhasil diluncurkan pada Arda Turan yang bebas dari kawalan di dalam kotak penalti. Mudah baginya kemudian membobol gawang Buffon. 1-0.



Tertinggal 1-0 membuat Allegri juga melakukan perubahan taktik, uniknya ia justru memasukan banyak penyerang sekaligus. Roberto Pereyra - MartΓ­n Caceres , Morata - Arturo Vidal, dan Giovinco- Stephan Lichtsteiner. Padahal di lapangan juga masih ada nama Tevez serta Llorente, dapat dibayangkan bagaimana riuhnya lini depan Juventus sekarang.

Tetapi pergantian yang dilakukan terlihat terlambat, karena dengan unggul angka membuat Atleti semakin nyaman bertahan dan tak terlalu aktif menyerang. Minimnya gelandang tadi juga berpengaruh dengan cara menyerang Juventus yang tak lagi terorganisir. Bola mudah sekali terlepas baik melalui intersepsi maupun kesalahan-kesalahan umpan.

Kesimpulan

Kedua tim bermain dengan pertahanan yang baik hingga menjelang akhir pertandingan. Namun permainan seperti ini memang seringkali diakhiri dengan kelalaian ataupun gol dari bola mati. Pergantian taktik yang dilakukan oleh Simeone juga patut diapresiasi.

Pola permainan yang dipakai oleh Atletico juga khas, pressing tinggi disertai dengan pertahanan rapi. Sementara bagi Allegri, hasil ini adalah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Pola 3-5-2 yang dipakai sejak era Conte di Liga Eropa tiga musim terakhir lagi-lagi bisa diakali oleh taktik lawan, kali ini Simeone dengan taktik pergantian pemain yang berhasil.






(din/mrp)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads