Belum selesai permasalahan pertahanan ,Liverpool mendapatkan masalah baru dengan serangan yang kurang mematikan. Padahal musim lalu Liverpool menjadi salah satu tim yang paling banyak mencetak gol di Liga Inggris. Kini mencetak gol ke gawang Basel pun Liverpool seolah tidak mampu. Bermain di Swiss, anak asuh Brendan Rodgers ini harus takluk dari tuan rumah 1-0.
Dengan menggunakan formasi 4-2-3-1 Liverpool kembali memainkan sang kapten Steven Gerrard dan wakil kapten Jordan Henderson sebagai poros ganda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di pihak Basel, mereka memainkan formasi 3-4-3 dengan menempatkan dua gelandang sebagai poros di tengah. Gelandang asal Pantai Gading, Serey Die dan pemain asal Swiss, Fabian Frei, didapuk mengatur serangan Basel dari tengah.
Cederanya pemain bertahan Behrang Safari pada menit-menit awal pertandingan, membuat Derlis Gonzalez harus masuk menggantikannya. Kehadiran Derlis otomatis membuatnya menempati posisi sayap kanan dan menggeser Taulant Xhaka ke trio barisan pertahanan.

Starting XI kedua kesebelasan. Sumber: whoscored.com
Menghadapi Basel, Liverpool memilih untuk bermain menunggu dan berhati-hati pada awal-awal pertandingan. Mereka tidak memilih untuk memainkan garis pertahanan yang tinggi. Liverpool bahkan cenderung bermain bertahan dan membiarkan Basel menguasai pertandingan.
Dengan menggunakan formasi 4-2-3-1, Liverpool memiliki lima pemain yang berada di lapangan tengah. Kelima pemain ini kemudian membentuk formasi berlian ketika bertahan dengan tujuan menutup aliran bola Basel dari tengah lapang.

Formasi berlian lima gelandang Liverpool
Serangan Sayap Basel yang Mengeksploitasi Liverpool
Basel yang hanya memiliki dua pemain di tengah jelas kalah jumlah dari Liverpool. Maka tidak aneh jika Basel sama sekali tidak bisa mengalirkan bola melalui daerah ini.
Mereka sama sekali tidak berniat untuk merebut wilayah tengah lapangan dari Liverpool. Kedua pemain Basel yang berada di tengah, Serey Die dan Frei, ditarik lebih mundur untuk menghindari kelima pemain Liverpool tersebut. Mereka memilih untuk mengatur serangan sedikit lebih ke dalam agar mampu keluar dari kepungan lima gelandang Liverpool.
Agar bola bisa mengalir ke depan, mereka menghindari kelima gelandang Liverpool yang berada di tengah dengan langsung mengalirkan bola ke sisi sayap. Hal ini terlihat dari chalkboard operan yang dilepaskan Basel pada babak pertama di bawah ini.

Chalkboard operang FC Basel pada babak pertama. Sumber: fourfourtwo.com
Satu kekurangan dari formasi berlian Liverpool adalah jarak antara kelima pemain ini dengan barisan pertahanan yang terlalu jauh. Jika kita lihat pada gambar formasi berlian Liverpool di atas, kita dapat melihat ada ruang kosong di antara kelima gelandang dengan barisan pertahanan itu.
Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan Basel. Alasan utama Basel mengalirkan bola ke sisi sayap karena mereka memang unggul jumlah pemain di lini itu. Masuknya Derlis Gonzalez pada menit-menit awal membuat Basel memiliki dua pemain di sisi kanan. Bersama Breel Embolo yang berposisi sebagai penyerang kanan, Gonzalez mengobrak abrik pertahanan Liverpool sebelah kiri.
Liverpool yang tinggal menyisakan Jose Enrique seorang diri di wilayah itu tentu kesulitan menghadapi serangan dari dua pemain Basel ini. Sedangkan Raheem Sterling yang berada di depan Enrique selalu telat datang membantu.
Hasilnya, sisi kiri menjadi pertahanan Liverpool yang sangat sering ditembus oleh Basel. Derlis Gonzalez berkali-kali dalam posisi bebas tanpa pengalawan.
Pada potongan gambar di bawah ini terlihat dalam satu serangan Enrique harus mengejar dua pemain Basel.

Karena hal inilah pertahanan Liverpool berkali-kali berhasil ditembus Basel pada babak pertama. Bahkan hal ini terus berlanjut sampai pertandingan memasuki awal babak kedua. Hingga akhirnya Basel berhasil mencuri gol yang dimulai dari skema ini.
Permainan Hati-hati dan Pergantian Taktik Liverpool
Jika melihat permainan sabar Liverpool, kita akan beranggapan bahwa Liverpool mengincar satu serangan balik cepat ke pertahanan Basel. Banyaknya pemain Basel yang ikut maju menyerang membuat Basel rentan untuk dieksploitasi lewat serangan balik.
Namun pada kenyataannnya, kita sama sekali tidak melihat serangan balik Liverpool pada pertandingan tersebut. Padahal musim lalu Liverpool dikenal sebagai tim yang memiliki serangan balik sangat mematikan di Liga Inggris. Serangan balik yang dilakukan Liverpool pada pertandingan ini terlihat tidak berbahaya dan sangat mudah dipatahkan para pemain Basel.
Salah satu penyebab dari hal ini adalah lambatnya kedua fullback Liverpool dalam membantu serangan. Liverpool terlihat terlalu berhati-hati pada pertandingan ini. Sampai-sampai, kedua fullback mereka terkesan dibatasi menyerang hanya naik sampai tengah.
Hal ini berimbas pada Raheem Sterling dan Lazar Markovic yang kesulitan mengeksploitasi pertahanan Basel. Kedisiplinan lini belakang Basel mempersulit kondisi ini.
Meski kedua pemain wingback mereka rajin membantu serangan, nyatanya dua wingback ini tak pernah terlambat saat kembali ke posis bertahan. Sehingga terbentuk benteng dengan lima pemain sejajar di lini belakang Basel.
Tak hanya itu saja, di lini tengah duet Frei dan Serey Die sering dibantu oleh kedua penyerang sayap Basel Elneni dan Embolo yang juga ikut mundur. Menumpuknya pemain di tengah membuat Liverpool kesulitan untuk mendapat ruang tembak di depan kotak penalti.
Hasilnya, Liverpool sama sekali tidak bisa menyerang pada babak pertama. Serangan mereka selalu terhenti akibat minimnya dukungan dari belakang. Mereka hanya mampu melepaskan dua kali tendangan ke gawang yang keduanya sangat mudah diantisipasi kiper Basel.
Kondisi ini tidak berubah hingga memasuki babak kedua. Liverpool hanya sedikit melakukan perubahan dengan mendorong Jordan Henderson lebih ke depan. Sebelumnya Henderson selalu berada di sebelah Steven Gerrard untuk menjaga wilayah tengah. Setelah tertinggal satu gol dan serangan Liverpool tidak kunjung berkembang, Rodgers akhirnya memberikan izin bagi Henderson utnuk maju menyerang.
Rodgers kemudian memasukan Adam Lallana menggantikan Coutinho. Dengan begitu Liverpool mengubah formasi permainan menjadi 4-3-3. Dengan formasi ini, serangan Liverpool mulai berjalan lancar. Operan pendek dari kaki ke kaki diperagakan untuk sedikit demi sedikit masuk ke wilayah pertahanan Basel.
Sepuluh tendangan berhasil dilepaskan Liverpool setalah melakukan pergantian taktik ini. Namun sayang rapatnya pertahanan Basel akhirnya hanya membuat empat tendangan pemain Liverpool mampu di block bek-bek Basel. Faktor lainnya adalahkurang tenangnya para pemain Liverpool dalam melakukan penyelesaian akhir yang membuat peluang mencetak gol terbuang sia-sia.
Kesimpulan
Rodger masih memiliki segudang pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya. Belum selesai permasalahan pertahanan yang ada sejak musim lalu. Kini rodgers juga harus menyelesaikan menurunnya kualitas serangan Liverpool sepeninggal Luis Suarez.
Mario Balotelli yang diharapkan mampu menggantikan peran Suarez sama sekali belum menunjukan kualitas yang mendekati hal tersebut. Beberapa pemain baru yang didatangkan seperti Lazar Markovic dan Adam Lallana pun masih jauh dari predikat memuaskan. Mau tidak mau Rodgers harus bisa menyelesaikan permasalahan ini secepat mungkin.
FABRICE COFFRINI/AFP/Getty Images
(din/mrp)











































