Hanya mampu finis pada peringkat empat musim lalu, manajemen Persib melakukan beberapa perubahan. Sering ditembusnya lini belakang dan kurangnya variasi serangan dari tengah, dua kelemahan Persib pada musim lalu, jadi prioritas utama perbaikan.
Untuk mengatasi kedua hal itu, seperti ciri khas tim Indonesia lainnya, Persib melakukan perombakan besar pada skuatnya. Maman Abdurrahman, Abanda Herman, dan Nasser Al Sebai, tiga pemain belakang yang menjadi andalan pada 2013, dilepas. Sang Pangeran biru pun merekrut Vujovic, Ahmad Juprianto, dan Abdul Rahman sebagai gantinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ada sedikit masalah di lini depan, hijrahnya Van Dijk ke Sepahan (Iran) β kini sudah pindah lagi ke Suphanburi (Thailand). Membuat sektor penyerangan ini kehilangan sosok pencipta pundi-pundi gol. Coulibaly Djibril yang diharapkan menggantikan peran Van Dijk ternyata gagal, kritik pedas justru mengalir deras karena ia seringkali membuang-buang peluang di kotak penalti.
Gelandang sebagai Pelayan Sektor Kanan
Pada musim lalu, Persib lebih banyak memakai pola 4-4-2, dengan variasi taktik 4-2-3-1 yang memanfaatkan striker tunggal. Beda paling mencolok dari penggunaan kedua formasi ini adalah pada lini tengahnya.
Ketika menggunakan 4-4-2, maka lini tengah akan dikuasai penuh oleh duet Hariono dan Firman. Sementara itu, dalam 4-2-3-1 keduanya akan dipisah, dengan Firman yang bermain di belakang striker dan Hariono sebagai poros ganda bersama Asri / Mbida Messi. Untuk menggantikan keduanya, pelatih Jajang Nurjaman merekrut Taufiq (Persebaya) dan Makan Konate (Barito).
Patut dicatat bahwa Taufiq dan Konate sendiri memiliki karakteristik berbeda jika dibandingkan dengan Asri-Mbida Messi. Dan perbedaan karakteristik itulah yang membuat lini tengah Persib nampak lebih menggigit musim ini.
Sebelumnya, tugas sebagai pengatur serangan selalu dibebankan kepada Firman Utina. Jika sang kapten berhalangan untuk bermain, maka tugas tersebut berpindah ke Mbida Messi. Namun kombinasi kedua gelandang tengah tersebut bermain terlalu statis. Akibatnya gaya bermain Persib pun menjadi mudah ditebak.
Apalagi Persib terlalu mengandalkan duet Supardi dan Ridwan di kanan. Siapapun gelandang tengah yang dimainkan, perannya hanya bertindak sebagai pelayang Ridwan-Supardi. Misalnya saja Firman Utina. Sebagai seorang pengatur serangan, fokus kerjanya lebih banyak berduet segitiga di kanan.
Sebenarnya agak bisa dimengerti mengapa Persib terlampau mengandalkan serangan dari sektor ini. Kombinasi ketiganya memang sangat padu, karena sudah terbentuk sebelumnya di Sriwijaya FC. Ketiganya juga sukses mengantarkan tim asal Sumatra Selatan tersebut menjadi juara Liga Indonesia.
Namun, setajam-tajamnya Ridwan-Supardi-Firman, hanya mengandalkan kombinasi serangan di kanan juga bukan hal yang bagus. Meski bisa jadi mimpi buruk bagi bek kiri lawan, Persib mengambil resiko besar yaitu alur serangan yang mudah ditebak.
Akibat lainnya dari gerakan yang statis dan pola sama dalam menyerang adalah gelandang bertahan harus ikut maju mendekati kotak penalti, terutama dalam situasi ketinggalan. Otomatis hanya ada dua center back yang tersisa pada lini pertahanan, karena kedua bek sayap juga acap kali ikut menyerang masuk sepertiga akhir.
Hanya menyisakan dua bek di belakang memang amat riskan, terutama jika harus menghadapi serangan balik. Dan Persib kerap menghadapi situasi seperti ini.
Lemah dalam Perebutan Bola di Tengah
Widodo Cahyono Putro, pelatih Gresik United musim lalu, pernah membocorkan strateginya tatkala mengalahkan Persib 2-1. Mematahkan catatan tak terkalahkan Maung Bandung sepanjang 12 pertandingan sebelumnya. Menurut pelatih yang juga mantan bintang timnas Indonesia itu, Persib lemah dalam penguasaan terhadap bola. Tidak ada pemain yang mampu bertarung memenangi perebutan bola.
Maka ketika berhadapan dengan Persib, Widodo akan menginstruksikan Lan Bastian, yang biasa beroperasi sebagai stopper, untuk naik ke tengah. Tujuannya tentu sudah jelas, yaitu untuk memenangi perebutan bola di tengah. βFlank sudah kita matikan, tengah kita juga harus matikanβ ujarnya.
Pada musim lalu, Persib sebenarnya mempunyai dua gelandang bertahan yang seharusnya berfungsi sebagai petarung, Hariono dan Asri Akbar. Namun, Jajang Nurjaman dihadapkan pada dilema besar berupa pemilihan skuat di tengah. Memasang keduanya akan membuat Persib tangguh dalam bertahan, namun menjadi kesulitan untuk menyerang.
Maka, opsi yang sering kali dipilih adalah memainkan salah satu antara Hariono atau Asri Akbar. Dan Hariono yang memang mumpuni untuk merebut bola sering diturunkan jadi pilihan utama.
Alhasil pemain asal Sidoarjo ini menjadi tumpuan utama dalam melindungi empat bek Persib. Biasanya, ia berposisi sejajar dengan Firman Utina dalam 4-4-2, atau berduet dengan Asri Akbar / Mbida Messi sebagai poros ganda jika memakai pola 4-2-3-1.
Namun lagi-lagi strategi ini juga tetap memiliki kelemahan. Satu kesalahan kecil darinya saja dapat menimbulkan malapetaka. Memang, tugas seperti ini tak seharusnya dibebankan pada satu pemain saja. Gelandang lain juga harus ikut memikul tanggung jawab, minimal sebagai pertahanan lapis pertama.
Beda Gaya, Beda Fungsi
Untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di ataslah dua rekrutan anyar musim ini bisa menjadi solusi. Taufiq dan Konate mempunyai karakter sebagai gelandang yang multifungsi. Keduanya, terutama Konate, adalah jawaban atas kegelisahan bobotoh musim lalu, yang kehilangan sosok nomor 10.
Taufiq mampu menggantikan peran Mbida Messi ataupun Asri Akbar, bahkan lebih baik. Hal ini karena Taufiq lebih sering bergerak aktif sebagai seorang gelandang. Menjemput bola, bergerak mencari ruang, dan mengalirkan bola sepenuhnya menjadi tugas Taufiq.
Pemain timnas, yang sebelumnya bermain di Persebaya, itu juga mampu menggantikan fungsi segitiga yang diperankan Firman.
Penting diingat bahwa sayap kanan adalah salah satu kekuatan utama Persib. Akan disayangkan bila fungsinya dihilangkan. Seharusnya yang dilakukan adalah mencari banyak variasi dalam serangan.
Taufiq bersanding dengan Hariono sebagai poros ganda, dengan peran yang lebih aktif bergerak. Dengan begitu, Hariono pun dapat lebih fokus dalam melindungi para bek di belakangnya.
Sementara itu, mesin utama Persib di tengah dapat kembali hidup dengan adanya Konate. Bahkan, perannya bisa lebih fleksibel, yaitu sebagai gelandang serang atau menggantikan peran Taufiq. Ini karena Konate juga fasih dalam melakukan distribusi bola sebagai pengatur serangan, selain juga fasih dalam merebut dan menguasai bola.
Konate memang tangguh dalam melakukan aksi bertahan, baik pada wilayah sendiri maupun lawan. Aksi berupa tekel, intersepsi, dan duel udaranya pun terlihat menonjol musim ini.
Penampilan Konate membuat tempo serangan Persib menjadi lebih terkontrol, karena kemampuannya dalam mendistribusikan bola. Persib juga menjadi lebih solid di area sepertiga akhir, karena penguasaan bola jatuh ke kaki Persib.
Pada musim lalu peran sebagai pengatur tempo justru banyak dilakukan sang ujung tombak, Serginho Van Dijk. Striker berusia 32 tahun tersebut sering turun dan bertindak sebagai pengangkut bola. Praktis lini depan menjadi kosong dan bek lawan tidak punya banyak tekanan.

Tapi, dengan bola berada pada kaki Konate di area sepertiga lapangan akhir, para ujung tombak Persib dapat lebih menekan bek lawan untuk turun lebih dalam. Ini akan memberikan ruang bagi Konate, maupun gelandang lainnya, untuk melakukan tembakan.
Dengan adanya Konate di sepertiga lapangan akhir, kedua sayap juga akan lebih leluasa jika ingin menusuk ke dalam atau melakukan umpan silang. Ini karena akan ada celah di depan kotak penalti lawan jika skema ini berhasil dilakukan.

Prediksi 8 Besar ISL
Jika dengan taktik yang terkesan monoton seperti yang ditunjukan musim lalu Persib mampu finish di peringkat empat, yang artinya akan mencapai minimal semifinal. Lalu bagaimana dengan musim ini?
Persib tergabung bersama Mitra Kukar, Pelita Bandung Raya, dan Persebaya di babak 8 besar kali ini. Ini adalah grup sulit jika melihat performa calon lawan tersebut di fase sebelumnya. Persebaya adalah pemuncak ISL wilayah timur dengan hanya menelan dua kekalahan. Sedangkan PBR gagal mereka kalahkan pada dua pertemuan terakhir (kalah dan imbang).
Sedangkan melawan Mitra Kukar, Persib bermain imbang 1-1 di gelaran Inter Island Cup. Namun kala itu, Firman Utina dkk tak bisa diperkuat beberapa pilarnya karena mengalami cedera. Tanpa bermaksud meremehkan, namun laga kontra Mitra Kukar dan PBR akan menjadi kunci lolosnya Persib ke babak selanjutnya.
Tetapi Persib saat ini juga mengalami sedikit masalah terkait absennya M. Ridwan yang harus menunaikan ibadah haji. Paling tidak hingga tiga pertandingan perdana, bahkan jika pulang lebih cepat ia masih harus melakukan penyesuaian agar kondisinya kembali prima.
Laga perdana melawan PBR, Senin (6/10/2014), menjadi ujian perdana bagi Jajang Nurjaman. Apakah pada 8 besar kali ini Persib sudah melakukan pembenahan terkait performa dan taktik, setelah melakukan persiapan sejauh ini. Jika masih gagal memenangi laga ini, maka pertandingan-pertandingan selanjutnya akan menjadi jauh lebih berat.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/krs)











































