Serangan Balik Berbahaya ala Persebaya

Preview Taktik 8 Besar ISL: Persebaya

Serangan Balik Berbahaya ala Persebaya

- Sepakbola
Senin, 06 Okt 2014 11:58 WIB
Serangan Balik Berbahaya ala Persebaya
ANTARA/M. Risyal Hidayat
Jakarta - Persebaya Surabaya berhasil menjadi kuda hitam di kompetisi Liga Super Indonesia musim ini. Bagaimana tidak, pada babak wilayah grup timur mereka bisa menjadi pemuncak klasemen mengeser juara bertahan Persipura Jayapura yang berada di peringkat dua.

Persebaya mengumpulkan 43 poin hasil dari memenangi 14 laga dan empat seri. Tak hanya itu, tim berjuluk Bajul Ijo pun menjadi tim terbaik dengan menjadi tim paling produktif (47 gol) dan tim paling sedikit kebobolan (13 gol).

Sepanjang liga berjalan, Persebaya memang terlihat sangat superior bagi tim-tim wilayah timur lainnya. Kemenangan-kemenangan telak pun tak ayal sering mereka raih. Hanya Persela Lamongan dan Persipura Jayapura yang berhasil mengalahkan mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski berstatus tim promosi, Persebaya memang terbilang memiliki skuat terbaik di Liga Indonesia kali ini. Tak aneh memang, karena tim yang bermarkas di stadion Gelora Bung Tomo ini langsung diperkuat beberapa pemain bintang berlabel tim nasional Indonesia untuk mengarungi liga.

Pada posisi penjaga gawang, dihuni oleh duo kiper yang rajin membela timnas, Jendry Pitoy dan Ferry Rotinsulu. Sementara Hashim Kipauw dan Alfin Tuasalamony mengisi posisi fullback. Di tengah ada mantan pemain Persib dan Persija, M. Ilham. Lalu di lini depan terdapat penyerang naturalisasi, Greg Nwokolo.

Persebaya pun memiliki pemain muda yang kemampuannya berada dalam level terbaik liga Indonesia. Selain Alfin, Persebaya memiliki Manahati Lestusen, Fandi Eko dan Dedi Kusnandar di mana mereka telah menjadi andalan tim nasional U-23. Ketiganya pun sudah menjadi andalan coach RD dan sering menempati susunan pemain inti.

Belum lagi tambahan kekuatan dari pemain asing yang mereka miliki. Di lini belakang, terdapat legiun asing asal Nigeria yang telah hampir 10 musim di liga Indonesia, Onorionde Kughebe John. Sedangkan di lini depan, bomber haus gol asal Kamerun, Emmanuel 'Pacho' Kenmogne, menjadi tandem serasi bersama Greg Nwokolo.

Dengan skuat inilah Persebaya mampu menjadi tim terkuat pada babak penyisihan grup wilayah timur dan tergabung dalam grup L babak delapan besar Liga Super Indonesia. Persebaya tergabung bersama Mitra Kukar, Persib Bandung, dan Pelita Bandung Raya.

Lantas bagaimana kans mereka pada babak delapan besar ini? Mari kita bedah bagaimana peta kekuataan Greg Nwokolo cs pada babak delapan besar ISL ini.

Transformasi Formasi

Perjalanan untuk menemukan formula yang pas bagi skuatnya yang memiliki banyak pemain bintang bukanlah hal yang mudah bagi coach Rahmad Darmawan. Bahkan di awal liga, Persebaya sempat diragukan bisa berbuat banyak di liga setelah kalah telak 3-0 oleh Persela Lamongan pada pertandingan ketiga ISL.

Persebaya memang tak langsung nyetel ketika awal musim. Kualitas beberapa pemain utama Persebaya coach RD tak sesuai ekspektasinya, khususnya kemampuan playmaker asing mereka Patrice Nzekou dan bek senior Leo Saputra. Pada formasi 4-4-2, Nzekou diplot sebagai gelandang menemani Manahati Lestusen. Dan Leo Saputra menempati pos bek kiri.

Memang, dari empat pertandingan awal, Persebaya berhasil meraup dua kemenangan, satu hasil imbang dan satu kekalahan. Namun performa buruk mereka kala ditumbangkan Persela membuat coach RD merasa perlunya ada evaluasi pada skuatnya. Akhirnya Nzekou dan Leo Saputra dipecat dari tim.
Β 
Dicoretnya Leo Saputra membuat posisi bek kiri dihuni oleh Alfin Tuasalamony yang sebelumnya mengisi posisi sayap kanan. Lantas posisi fullback kanan yang ditinggalkan Alfin ditempati oleh Hasyim Kipauw yang diturunkan posisinya dari pos gelandang sayap kiri. Mundurnya Kipauw otomatis membuat posisi gelandang kiri diberikan pada Fandi Eko yang jadi pemain inti.

Lalu di lini tengah, tak adanya Nzekou membuat mantan pemain terbaik ISL U-21, Dedi Kusnandar, mulai mendapatkan tempat di skuat inti. Dedi dan Lestusen yang mengisi lini tengah nyatanya tak bisa menjadi metronom Persebaya yang efektif. Untuk mengakalinya, RD menurunkan Greg untuk bermain lebih dalam di belakang Kenmogne.



Formasi Persebaya sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) Nzekou dan Leo Saputra dicoret

Ketika masih mengandalkan Nzekou. Persebaya sering kerepotan menghadapi serangan balik yang menyerang lewat sayapnya. Pasalnya, hanya Lestusen sendirian yang meng-cover lini pertahanan dari tengah. Alhasil, gol-gol yang diciptakan Persela dan Persipura (tim yang mengalahkan Persebaya) bersumber dari keroposnya pertahanan sisi sayap.

Berbeda ketika Dedi dan Lestusen yang lebih defensif diduetkan di lini tengah. Dengan memiliki dua gelandang yang selalu konstan berada di tengah membuat duo fullback Persebaya, Alfin dan Kipuw, cukup leluasa untuk melakukan overlap. Dua gelandang ini akan ditugaskan meng-cover pos yang ditinggalkan kedua fullback sayap tersebut.

Perubahan ini cukup berdampak positif. Dari pertama kali penggunaannya, Persebaya langsung menang besar 4-1 atas Persiba Bantul. Sempat ditahan imbang Persiba Balikpapan, 'Bajul Ijo' kembali menang telak 4-1 kala bertandang ke kandang Persepam Madura.

Setelah menang melawan Persepam, Persebaya kembali menelan kekalahan 2-1 atas sang juara bertahan, Persipura Jayapura. Pada pertandingan itu, Rahmad Darmawan memang melakukan suatu kesalahan di mana ia mengganti penghuni starter.

Pada laga itu, RD menduetkan Ambrizal dan O.K. John di lini belakang, sementara Ricardo Salampessy dan Alfin sebagai fullback. Itu artinya, Kipauw kembali dinaikkan menjadi pemain sayap yang otomatis menggeser Fandi Eko sebagai pemain cadangan.

Kala itu, Ambrizal tak mampu menahan gempuran pemain Persipura yang mengandalkan kecepatan para pemainnya. Gol pertama yang diciptakan Persipura pun tercipta setelah Ambrizal gagal menghambat Titus Bonai untuk melepaskan umpan silang pada Ferry Pahabol.

Kekalahan ini, menjadi pelajaran berharga bagi Rahmad Darmawan. Karena setelah laga ini, RD jarang sekali mengotak-atik starting XI. Hasilnya, setelah pertandingan ke-9, Persebaya tak terkalahkan hingga mereka menjalani pertandingan ke-20 nya.

Skema Counter Attack

Persebaya sendiri mengandalkan skema serangan balik cepat kala melakukan serangan. Memiliki pemain sayap seperti M. Ilham dan Fandi Eko serta Greg Nwokolo yang dibebaskan bergerak kemana pun untuk menjemput bola, membuat serangan balik Persebaya cukup terorganisir dengan baik.

Kenmogne difungsikan sebagai target man di lini depan. Biasanya, ketika bertahan, Dedi mundur mendekati duo centre-back. Kemudian Nwokolo akan berada di sekitar tepi lingkar lapangan tengah area milik sendiri, atau terkadang cenderung sejajar dengan Lestusen. Sementara Kenmogne akan menjadi satu-satunya pemain yang berada di area pertahanan lawan.

Dengan begitu, ketika mendapatkan serangan balik, umpan-umpan pendek cepat pun bisa dilakukan. Lantaran, jarak antara pemain Persebaya lebih merapat. Dan formasi berubah menjadi 4-1-4-1



Skema bertahan Persebaya

Keberhasilan serangan balik Persebaya pun tak lepas dari kemampuan Kenmogne sebagai pemantul. Ketika berada di area tengah lapangan, ia dengan jeli memantulkan bola yang dioper padanya ke area sayap yang dihuni Fandi Eko dan Greg. Tapi biasanya Kenmogne lebih sering mengirimkan umpan ke sisi kanan di mana M. Ilham berada.

Kecepatan yang dimiliki Kenmogne dan Greg pun membuat lini depan Persebaya lebih membahayakan. Mereka bisa dengan cepat berada di area kotak penalti lawan padahal sebelumnya mereka berada di area tengah untuk mengkreasikan serangan. Maka tak heran keduanya memiliki jumlah gol yang fantastis [Kenmogne 22 gol, Greg 14].

Skema serangan balik ini menjadi lebih mematikan dalam enam pertandingan terakhir. Kehadiran legiun asing baru pada putaran dua membuat lini serang Persebaya lebih produktif.

Adalah Isaac Tuku Pupo yang menjadi andalan baru Persebaya. Pemain tim nasional Liberia ini memberikan dimensi berbeda pada lini penyerangan. Masuknya Pupo membuat Persebaya tak lagi hanya mengandalkan Kenmogne-Greg ketika berada di area penalti.

Pupo diplot sebagai gelandang serang. Namun Pupo memiliki kelebihan yaitu transisi menyerang ke bertahannya sangat baik. Kemampuan mencetak gol mantan pemain klub Yunani, Panionios, ini pun menjadi daya serang baru dari lini kedua Persebaya. Dari enam penampilan, Pupo telah mengemas tiga gol.

Sebelm Pupo, Persebaya pernah mencoba beberapa pemain asing. Setelah Nzekou, nama-nama seperti J. Larrea, M. Mokake, dan Agu Casmir sempat menghiasi skuat Bajul Ijo ini. Namun hanya Pupo-lah yang lebih nyetel dengan skema bermain Persebaya.



Formasi setelah hadirnya Isaac Pupo

Kesimpulan

Secara kualitas, Persebaya memiliki segalanya untuk menjadi kandidat kuat juara Liga Super Indonesia 2014. Tak hanya kualitas individu, kolektivitas pemain pun mereka berada di atas rata-rata. Lolos ke babak final tampaknya tak mustahil bisa mereka wujudkan.

Untuk memuluskan langkah Persebaya ke babak final itu, pada babak delapan besar ini mereka perlu menjaga skuat mereka tetap dalam kondisi terbaik untuk diturunkan. Namun saat ini, Ricardo Salampessy dan M. Ilham masih berkutat dengan cedera. Untungnya Greg dan Kenmogne sudah kembali menjalani latihan meski sebelumnya mendapat gangguan cedera.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, adanya faktor lain yang bisa membuat konsentrasi dan motivasi para pemain Persebaya terganggu. Menurut beberapa media lokal, dua bulan gaji Persebaya masih belum dibayarkan.

Tentunya ini menjadi PR besar bagi coach Rahmad Darmawan untuk menjaga kondisi mental para pemainnya. Ia harus tetap bisa membuat para pemainnya tetap bermain dengan motivasi penuh dengan masalah yang melanda klub. Tapi jika klub tak segera menyelsaikan masalah ini atau pun RD tak mampu menjaga semangat bermain anak asuhnya, rasanya bermain di laga final hanya akan menjadi mimpi belaka.

=====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.



(roz/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads