Taktik Bertahan Garcia yang Bobol Menit-menit Akhir

Liga Italia: Juventus 3-2 Roma

Taktik Bertahan Garcia yang Bobol Menit-menit Akhir

- Sepakbola
Selasa, 07 Okt 2014 07:20 WIB
Taktik Bertahan Garcia yang Bobol Menit-menit Akhir
Maurizio Lagana/Getty Images
Jakarta -

Bagi AS Roma tak hanya butuh konsistensi semata untuk bisa menjadi kampiun Serie A. Seperti musim lalu, menaklukan sang juara bertahan, Juventus pun akan jadi kunci melihat langkah Roma pada tabel klasemen liga.

Dan lagi-lagi, 'Si Nyonya Besar' adalah momok yang tak mengenakan bagi tim berjuluk 'Serigala Roma' ini. Bertandang ke Juventus Stadium, Senin (5/10/2014) dinihari WIB, Il Lupi terpaksa mendapat kekalahan menyakitkan 3-2. Penentu kemenangan tipis Juve dicetak oleh Leonardo Bonucci pada menit 86.

Kekalahan ini mau tak mau membuat Roma gagal meraih prestasi seperti di musim lalu, saat mereka meraih 10 kemenangan beruntun. Hasil ini membuat Roma tertinggal 3 poin dari Juventus yang mendapat hasil sempurna selama menjalani 6 giornata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Jika melihat susunan pemain inti kedua tim di laga ini, jelas ada perbedaan jauh dibandingkan dengan musim lalu. Tak banyak keluar masuk pemain pada bursa transfer membuat pada laga ini, Juve tampil komplet dengan memainkan Andrea Pirlo yang hadir kembali usai mengalami cedera.
Β 
Sama seperti pertandingan musim lalu, dengan formasi 3-5-2, Juve hanya minus Andrea Barzagli dan Arturo Vidal saja. Peran dua pemain ini digantikan oleh Martin Caceres dan Claudio Marchisio.

Di kubu tim tamu, Roma yang datang ke kota Turin adalah Roma yang berbeda. Hijrahnya pemain-pemain penting khususnya di lini belakang membuat Roma harus beradaptasi kembali membangun lini ini. Banyaknya pemain yang mengalami cedera seperti Federico Balzaretti, Davide Astori, Kevin Strootman dan Morgan De Sanctis memperparah kondisi itu.

Tapi, Nyatanya tak butuh waktu lama bagi Rudi Garcia untuk membenahi kelemahan ini, sebelum kalah 2-3 dari Juventus. AS Roma adalah tim terkuat lini belakang seteleh Juve. Dari lima pertandingan awal mereka baru kebobolan satu gol.

Melawat ke Juventus Arena, Roma tak melakukan banyak rotasi pemain seperti laga-laga biasanya. Hanya saja kecenderungan Juve yang bermain sayap, membuat Garcia memilih Jose Holebas ketimbang Asley Cole pada posisi fullback kiri. Pada lini serang, kembalinya Juan Iturbe pasca cedera membuatnya tampil dari menit-menit awal.

Cara Kedua Tim saling Menutup Kelebihan Lawan

Sebelum terjadi gol pertama pada menit 27, kedua tim bermain berhati-hati sejak menit-menit awal. Juve dan Roma memainkan garis pertahanan yang dalam saat mereka diserang.

Allegri dan Garcia seperti mengintruksikan para gelandang untuk menjaga kerapatan dengan bek. Jika di Juve, Pogba dan Marchisio lebih bermain dalam ketimbang Pirlo. Maka di Roma, trio Nainggolan, Pjanic dan Keita kompak menutup benteng lini belakang Roma. Kondisi ini yang membuat bola lebih banyak bergulir di tengah karena membuat lawan kesulitan bermain-main di sepertiga lapangan akhir.



Namun dibandingkan Roma, Juventus lebih berani melakukan tekanan saat Roma menguasai bola di area pertahanan mereka. Dan tekanan ini biasanya dilakukan oleh dua wingback yakni Asamoah dan Lichsteiner. Atau Pogba yang merangsek jauh ke depan. Secara bergantian Tevez/Llorente bermain ke tengah mempersulit barisan pertahanan Roma mengalirkan bola ke Pjanic/Nainggolan.

Tekanan ini yang membuat Roma melakukan beberapa kesalahan. Tercatat hingga menit 25, Juve mampu membuat 5 attempt, dimana semua itu terjadi di kotak penalti Roma dan diawali dari kesalahan pemain Roma itu sendiri.

Hanya saja setelah terjadi gol pertama yang dicetak Tevez pada menit 27, Juve seolah tak terlihat melakukan tekanan ini lagi. Mereka lebih cenderung menunggu dan melakukan serangan balik. Efek inilah yang membuat Roma bisa berlama-lama menguasai bola, hingga pada akhirnya Nainggolan dan Pjanic mulai berani ikut serta untuk membantu serangan.

Memanfaatkan Pjanic dan Nainggolan Memancing Sayap Juventus

Berbicara tentang dua pemain ini, taktik Garcia yang menyimpan Nainggolan dan Pjanic untuk lebih bertahan cukup diacungi jempol. Kondisi ini membuat Juventus tak bisa berlama-lama dengan bola, saat mendapatkan bola serangan lebih cenderung dengan cepat melalui satu dua sentuhan langsung dialirkan ke depan. Dan skema ini terus dilakukan hingga pertandingan usai.
Β 
Menumpuknya banyak pemain Roma di kotak penalti tentu memudahkan mereka mematahkan serangan ini, tercatat sepanjang laga, Roma mampu membuat 19 kali intersepsi.



Dengan memainkan 5 orang gelandang sekaligus, ketika menyerang Juve memainkan pola bermain melebar. Kelima gelandang ini akan membentuk garis vertikal sejajar, hingga mendorong backfour plus tiga gelandang Roma bermain merapat.

Posisi tiga gelandang Roma yang menumpuk di tengah, otomatis menyisakan ruang cukup besar di area sayap. Ruang inilah yang biasanya dieksploitasi oleh Lichsteiner dan Asamoah. Posisi penyerang sayap Iturbe – Gervinho pada babak pertama yang tak bermain melebar, cenderung flank dan menusuk ke depan gawang membuat Lich serta Asamoah leluasa maju ke depan.

Namun untuk menghidari serangan sayap ini, bukannya mendorong posisi dua fullback Roma Maicon dan Howebes untuk sejajar dengan bek tengah, Garcia malah mendorong dua fullback ini untuk maju head to head dengan Lich serta Asamoah dan sejajar dengan Nainggolan-Pjanic.



Beruntunglah pada laga ini serangan Juventus lebih banyak bertumpu ke tengah bukan posisi sayap. Permainan melebar hanya diperagakan oleh Asamoah dan Lich saja. Posisi Marchisio lebih ke tengah untuk melindung Pirlo. Sedangkan Pogba lebih condong memerankan sebagai lini kedua di belakang Tevez dan Llorente. Karena itulah serangan sayap Juve tak begitu terlalu efektif di laga ini.

Hanya saja disposisi Pogba yang bergerak mendekat ke Asamoah beberapa kali mengancam pertahanan Roma. Penalti Juventus yang didapat pada akhir babak kedua berdasarkan pergerakan Pogba ke sayap kiri yang mengeksplotasi kelengahan Maicon.

Faktor Gervinho dan Iturbe yang jadi Pengecoh

Ada tipikal yang sama antara Juve dan Roma pada laga ini. Ketika bertahan kedua tim akan cenderung memperkuat posisi mereka di depan gawang. Kecenderungan Juve yang gemar memainkan troughball serta Roma yang mengandalkan flank membuat kondisi itu terjadi.

Untuk menghadapi serangan Roma, posisi tiga bek Juve cenderung merapat satu sama lain. Totti yang memerankan falsenine tak membuat bek-bek Juve untuk tertarik maju ke depan. Otomatis peran lini serang hanya mengandalkan Gervinho dan Iturbe.

Pada laga ini, Garcia menempatkan dua pemain ini jauh di depan. Berbeda dengan Tevez dan Llorente yang sering diintruksikan mundur, Garcia tak melakukan itu pada Iturbe dan Gervinho. Taktik ini otomatis membuat backthree Juve untuk segan naik maju ke depan.
Β 
Saat Juve menyerang ada jarak yang cukup jauh antara gelandang dan backthree. Kondisi inilah yang biasanya dimanfaatkan oleh Totti untuk melancarkan serangan balik. Sering terlihat tanpa penjagaan Totti dengan bebas membagi bola ke arah sayap.

Taktik ini sebenarnya sama seperti apa yang dilakukan saat menghadapi Manchester City, hanya saja pada laga ini pasokan lini kedua lewat Pjanic, Nainggolan dan Keita selalu telat datang membantu. Malah sering kita lihat untuk membantu Totti, Maicon bergerak ke tengah.

Beruntunglah kreatifitas dan kejelian Gervinho di lini depan yang membuat serangan-serangan Roma kadang membahayakan gawang Buffon. Disposisi yang dilakukan Gervinho-Iturbe inilah yang jadi kunci serangan Roma.

Dalam proses gol kedua misalnya, persilangan antar kedua pemain ini membuat bingung lini belakang Juve. Posisi Lichsteiner yang selalu overlapp memudahkan Gervinho untuk melakukan cut inside.



Kesimpulan

Enam kartu kuning plus dua kartu merah keluar dari kantong wasit di laga ini menandakan laga ini berlangsung sengit. Untuk menjaga gengsi kedua tim bermain berhati-hati, sekali mendapat bola serangan pun langsung di arahkan ke depan gawang.
Β 
Minimnya bantuan dari lini kedua membuat kedua tim selalu kesulitan membobol gawang lawan. Posisi gelandang yang cenderung berhati-hati dan cenderung dan bertahanlah jadi penyebabnya. Kehati-hatian ini yang kadang membuat bola dialirkan secara terburu-buru.

Sekadar catatan, jumlah passing yang dilakukan kedua tim pada pertandingan ini adalah jumlah tersedikit sepanjang 6 pertandingan serie A yang mereka jalani. Meskipun secara rataan penguasaan bola kalah dari AS Roma, Juventus nyatanya berhasil memenangkan laga ini.

(din/raw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads