Di bawah guyuran hujan, pertandingan berlangsung keras. Wasit Hadi Yanaharus mengeluarkan delapan kartu kuning dan satu kartu merah untuk kedua kesebelasan.Gol tunggal Ahmad Jufriyanto mengunci kemenangan Maung Bandung atas The Boys are Back.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelatih Persib, Djadjang Nurdjaman, menginstruksikan Makan Konate dan Firman Utina untuk bermain melebar.Di babak pertama, absennya M. Ridwan yang tengah menunaikan ibadah haji, membuat Konate dan Firman bergantian mengisi pos di sayap kanan. Sementara di sayap kiri, Djanur memasang Atep sebagai starter.
Praktis, hampir sepanjang babak pertama, dan ini sudah menjadi ciri khas Persib selama kepemimpinan Djajang, serangan Persib selalu diarahkan ke sayap. Beberapa kali Atep dan Firman mengancam gawang PBR yang dikawal Deniss Romanovs lewat umpan silang.
Djanur sepertinya menginstruksikan Taufiq dan Hariono lebih fokus menjaga kedalaman. Permainan Persib di awal babak pertama didominasi oleh umpan lambung yang secara langsung ditujukan ke lini serang.
Saat membangun serangan, bola biasanya dialirkan ke Taufiq yang menjadi penyalur untuk Konate dan Firman. Namun, hingga menit ke-12 belum ada kontribusi Taufiq yang mengancam gawang PBR. Instruksi untuk memberikan bola langsung ini sepertinya dilakukan untuk meminimalisasi kesalahan saat Taufiq atau Hariono berduel dengan tiga gelandang PBR yang dihuni Rizky Pellu, Kim Kurniawan, dan Iman Faturohman.
Djanur tak ingin ambil resiko dengan membangun serangan dari tengah. Jika Taufiq atau Hariono salah mengirimkan bola, tiga penyerang PBR telah siap menanti di area pertahanan Persib. Hal tersebut akan diperparah jika kedua fullback Persib meninggalkan posnya.
Hal ini terjadi pada menit ke-22 saat Rizky Pellu mengirimkan umpan ke Bambang Pamungkas yang menanti di depan. Seperti biasa, sisi kanan pertahanan Persib kosong karena ditinggal Supardi yang membantu serangan. Beruntung pergerakan David Laly masih mampu diperlambat oleh Taufiq yang dengan sigap melakukan pressing zonal yang membuat ruang bisa ditutup sedemikian rupa dan memaksa Laly men-delay serangan.
Ada pola yang berbeda saat Persib menyerang dari kiri dan kanan. Di sisi kiri, Atep biasanya bergerak aktif menjemput bola hingga lini tengah. Pergerakan Tony sebagai fullback kanan lebih terbatas. Perhatiannya terfokus pada TA Musafri karena saat melakukan serangan balik, PBR sering mengarahkan bola ke sisi yang dihuni penyerang asal Ternate tersebut. Djajang agaknya tak ingin Musafri mengeksploitasi sisi kiri pertahanan lewat kecepatannya.
Di sisi kanan, Firman Utina lebih sering menunggu di sisi lapangan untuk mendapatkan umpan lambung langsung dari lini belakang. Pergerakannya ditopang oleh Supardi yang kerap melakukan overlap hingga lini serang.
Pergerakan dua sayap Persib tersebut mendapat hadangan dari dua fullback PBR yang bermain disiplin: Wildansyah di kanan dan Dias Angga di kiri. Terutama Dias yang berduel langsung dengan Firman.Pergerakannya membuat Firman kesulitan untuk melepaskan diri dari penjagaan pemain yang pernah memperkuat Persib di era Daniel Roekito tersebut.
Tidak Bisa Memanfaatkan Celah
Dengan memfokuskan diri bermain di sayap, Persib memiliki celah di lini tengah mereka. Hariono dan Taufiq bermain lebih dalam sehingga tidak ada dukungan dari lini kedua saat Persib melakukan serangan.
Sayangnya, celah ini tidak mampu dimaksimalkan PBR untuk melakukan penguasaan bola di lini tengah. Padahal, di sinilah peluang PBR untuk dapat mengendalikan permainan. Trio gelandang PBR terlihat lebih sibuk menjegal pemain Persib.Mereka pun berupaya menutup jarak antara fullback dan penyerang sayap.
Pada menit ke-35 Hariono mulai merasakan ada sesuatu yang tak beres di kakinya. Ini buah dua kali ganjalan keras yang dilakukan Kim dan Iman pada gelandang bernomor punggung 24 tersebut. Tak mau ambil resiko, Djadjang menarik Hariono dan menggantinya dengan Tantan.
Β
Pergantian ini sebenarnya menimbulkan resiko yang cukup besar. Ketiadaan Hariono membuat gelandang bertahan Persib hanya dihuni oleh Taufiq, karena Tantan akan beroperasi di kanan, atau bertukar dengan Atep di kiri. Firman sendiri ditarik ke tengah bersama dengan Taufiq.

[posisi Firman Utina yang ditarik ke tengah mendampingi Taufiq]
Dalam pertandingan kali ini, Persib menerapkan pressing ketat sejak dari area pertahanan PBR. Ini yang membuat lini tengah PBR tak leluasa mengirimkan bola ke lini serang.
Petaka pun terjadi pada menit ke-42 saat Hermawan mendapatkan kartu kuning kedua. Peran Hermawan amatlah penting karena posisinya sebagai bek tengah yang berduet dengan Nova Arianto.
Dejan tak ingin mengambil resiko dengan membiarkan lini pertahanan mereka terbuka. Ditariknya Rizky Pellu sebenarnya bukan jawaban yang tepat jika PBR ingin terus meladeni Persib dengan permainan terbuka. Pellu digantikan M. Chairul Rifan yang memiliki posisi asli sebagai bek tengah.Praktis, lini tengah PBR hanya dihuni dua pemain.
Selepas pergantian tersebut PBR kesulitan membangun serangan dari tengah. Mereka lebih memilih menyerang sporadis dengan mengirimkan umpan lambung langsung ke lini depan. Sebuah pola yang mudah dimentahkan pertahanan Persib.
Di babak kedua Persib mulai main umpan-umpan pendek. Hal ini tentu saja menambah berat beban PBR karena jika melakukan pressing mereka akan kehilangan posisi dan membiarkan pemain Persib mengeksploitasi celah yang ada.
PBR lebih memilih untuk menunggu saat pemain Persib melakukan kesalahan. Masalahnya adalah Persib hanya sesekali melakukan kesalahan ketika menguasai bola. Masalah lainnya adalah pemain PBR terlalu tergesa-gesa kala melakukan serangan balik.
Ini terjadi pada menit ke-62. Kim berhasil merebut bola dari kaki Taufiq. Rifan lantas mengejar bola tersebut dan mencoba membangun serangan. Kondisinya saat itu adalah David Laly unggul beberapa langkah dari Supardi yang mengawalnya. Situasi tersebut mestinya mampu dimaksimalkan menjadi peluang, sayangnya umpan Rifan malah tertuju tepat ke arah Vujovic.
Di babak kedua, PBR memiliki kesempatan jauh lebih banyak untuk melakukan penetrasi ke area pertahanan Persib. Namun, buruknya umpan serta penyelesaian akhir, membuat peluang tersebut tersia-siakan.
Sulitnya Membongkar Pertahanan PBR
Dengan mengandalkan umpan silang dan umpan lambung langsung ke lini serang, membuat Persib tak memiliki alternatif serangan. Pola tersebut begitu monoton karena bola akan dilambungkan ke sisi kiri ataupun kanan. Lambat laun, pola ini mulai terbaca dengan sering turunnya David Laly untuk mendukung tiga gelandang PBR. Pun halnya dengan Musafri yang di awal pertandingan menunggu bersama Bambang di lini depan, ikut turun bahu membahu dengan Wildanysah.
Dalam pertandingan tersebut peran Rizky Pellu terlihat tidak begitu menonjol. Perannya sebagai gelandang jangkar seolah tak menemui hambatan berarti karena serangan Persib lebih dominan ke sayap.
Meski gagal mengonversi peluang menjadi gol, sebenarnya pola ini terbilang berhasil untuk menjauhkan trio gelandang PBR untuk membawa bola.

[Hariono dan Taufiq yang tidak terkawal, tapi bola selalu ditujukan langsung ke lini serang]
Dari grafis di atas, terlihat pada 10 menit pertama lini pertahanan Persib lebih memilih memberikan umpan lambung ke lini depan. Padahal, Taufiq dan Hariono berada dalam posisi bebas dan tak terkawal.
Meski mampu membuat trio gelandang PBR tak berkesempatan memegang bola, tapi pola ini memiliki kelemahan. Saat bek PBR menghalau umpan silang, praktis tidak ada dukungan dari lini kedua, karena baik Taufiq maupun Hariono lebih menjaga kedalaman.

[posisi Firman dan Konate di babak pertama yang beroperasi di kedua sayap]
Dari grafis di atas dapat terlihat pada babak pertama hanya Atep, Konate, Firman, dan Ferdinand, yang fokus membongkar lini pertahanan PBR. Ketiadaan pemain di lini kedua membuat tidak ada pemain Persib yang menyambut bola pantulan atau sapuan dari lini pertahanan PBR. Ini yang membuat serangan Persib hanya bersifat sekali serang. Maung Bandung mesti membangun kembali serangan dari bawah untuk menggempur pertahanan PBR.
Tuah Kelengahan Pertahanan PBR
Terlepas dari penempatan posisi Jufriyanto, tapi gol pertama Persib bermula dari kesalahan antisipasi bek PBR. Bagaimana mungkin rapatnya pertahanan anak asuh Dejan Antonic tersebut, dapat ditembus lewat sebuah tendangan sudut mendatar yang tidak bisa diantisipasi tiga pemain sekaligus!
Jufriyanto yang berdiri bebas, tinggal memanjangkan kakinya untuk menggetarkan gawang Dennis Romanovs.
Ada dua hal yang terlihat dari proses gol tersebut. Pertama, buruknya antisipasi tendangan sudut pemain belakang PBR. Kedua, tidak adanya pemain yang menjaga Jufriyantoβsebuah hal yang teramat fatal.
Selepas gol tersebut, Persib terus menekan. Namun, rapatnya barisan pertahanan serta disiplinnya Nova Arianto dan kolega membuat Persib menurunkan tempo dan cukup puas dengan hasil 1-0 menghadapi 10 pemain yang mayoritas berusia muda.
Ini menjadi pekerjaan rumah bagi Djadjang untuk mengasah kemampuan para pemainnya untuk mencetak gol. Sebenarnya, sejumlah peluang tersaji dengan begitu bebas. Sayang, pergerakan Tantan di kedua sisitak mampu bicara banyak. Minimnya visi bermain dari pria asal Lembang tersebut membuat peluang yang ia miliki terbuang dengan percuma.
Kesimpulan
Di awal pertandingan Persib bermain melebar dengan menempatkan Konate dan Firman di kedua sisi. Minimnya bantuan dari lini kedua membuat sejumlah peluang yang dimentahkan menjadi sia-sia.
Celah di lini tengah Persib tak mampu dimanfaatkan secara maksimal oleh gelandang PBR. Salah satu faktornya adalah pressing ketat para pemain Persib sejak di area PBR. Trio gelandang PBR menjadi tak begitu bebas dalam mengelola bola.
Serangan PBR menjadi tidak maksimal karena suplai bagi Musafri dan David Laly di kedua sisi tak selalu sempurna. Bola umpan lambung tersebut umumnya mampu dipatahkan lini pertahanan Persib.
Keunggulan jumlah pemain setelah Hermawan diusir wasit, nyatanya tak dimanfaatkan secara maksimal oleh Persib. Di babak kedua, setelah mencetak gol,Maung Bandung menurunkan tempo dan seringkali memainkan bola di daerah sendiri.
Kemenangan ini menjadi modal awal yang berharga bagi Djadjang Nurdjaman untuk memoles lini serang mereka. Sementara bagi Dejan, meskipun kalah tapi sistem pertahanan yang digalang PBR telah menunjukkan hasil signifikan, tinggal bagaimana sejumlah improvisasi dilakukan, terutama dalam mematangkan skema serangan balik.
(krs/cas)











































