sepakbola
Liga Champions: Liverpool 0-3 Real Madrid

Antisipasi Ancelotti dan Variatifnya Cara Menyerang Madrid

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video
Liga Champions: Liverpool 0-3 Real Madrid

Antisipasi Ancelotti dan Variatifnya Cara Menyerang Madrid


- detikSepakbola

John Powell/Liverpool FC via Getty Images
John Powell/Liverpool FC via Getty Images
Jakarta - Kalah dengan tiga gol tanpa balas di kandang sendiri membuktikan Liverpool memang kalah segalanya dari Real Madrid.

Tak usah repot-repot membantah, karena ini pun diakui oleh Brendan Rodgers seusai laga. Rodgers merasa anak asuhnya bermain dengan sangat baik pada 20 menit pertama, tetapi perbedaan kualitas akhirnya tak bisa lagi disembunyikan setelah mereka tertinggal lewat gol Ronaldo.
 
Tetapi hal tersebut tentu tak bisa dipakai untuk beralasan. Karena jika memang benar demikian, Liverpool seharusnya dapat bermain lebih bertahan dan tidak ngotot memenangi laga. Atau, jika ingin mencuri poin kemenangan, Rodgers juga layaknya punya rencana taktik untuk menutupi perbedaan kelas yang menurutnya memang ada.


Susunan Pemain Kedua Liverpool – Real Madrid

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pressing yang Tidak Konsisten dari Liverpool

Apa yang dibilang oleh Rodgers di atas ada benarnya, Liverpool bermain apik dengan mendominasi permainan pada 20 menit pertama. Penguasaan bola 52% milik tuan rumah dengan jumlah tembakan 2 berbading 1.

Liverpool mampu mencegah para pemain Real Madrid membangun serangan dari belakang. Trio Gerrard, Allen, dan Henderson terus menempel ketat Luca Modric serta Toni Kroos. Bahkan pada laga kali ini sang kapten Gerrard terlihat seumuran dengan Sterling karena terus naik-turun mengikuti arah gerak bola.

Seperti halnya tim yang sedang mendapat tekanan, pada skema ini pula El Real beberapa kali melakukan kesalahan. Tercatat dua tembakan Liverpool terjadi setelah Benzema dan Kroos melakukan kesalahan yang berakibat berpindahnya penguasaan bola.

Real Madrid kemudian bermain dengan umpan-umpan langsung ke sayap, tanpa melalui lini tengah.


Grafis Umpan Kedua Tim 20 Menit Pertama, Kosong di Tengah - Squawka

Melakukan pressing dan terus menempel ketat para pemain Real Madrid adalah cara yang dipakai oleh Atletico. Tim yang belum bisa dikalahkan oleh Ancelotti musim ini. Tetapi Atletico memang ahlinya untuk urusan pressing sepanjang pertandingan, kemampuan yang tak dipunyai oleh Liverpool.

Benar saja, setelah gol pembuka oleh Ronaldo, sistem pertahanan Liverpool mulai tampak kacau. Melakukan pengawalan ketat terhadap Modric dan Kroos saja trebukti tidak cukup bagi Liverpool. Karena masih ada opsi lain: James Rodriguez dan Isco di kedua sisi sayap. Absennya Gareth Bale karena cedera juga berpengaruh terhadap pilihan taktik Ancelotti.

Real Madrid dapat bermain dengan tempo yang tidak terlalu cepat, melalui operan-operan pendek di depan. Bermain dengan umpan jauh dari belakang langsung ke sayap bukan kendala bagi Madrid. Improvisasi permainan inilah yang membuat Ronaldo dkk dapat langsung unggul tiga gol pada babak pertama. Baik Isco maupun Rodriguez mampu bertugas menjadi pengatur serangan lewat sayap.

Jika memang ruang untuk mengumpan tertutup, bukan masalah juga bagi kedua pemain tersebut. Karena dapat dengan mudah melewati dua fullback Liverpool sambil menggiring bola. Keuntungan bertambah bagi Madrid, karena dengan begitu Marcelo dan Arbeloa tak perlu sering-sering naik ke sepertiga akhir untuk membantu serangan.

Liverpool: Gagal di Depan, Buruk di Belakang

Ancelotti bermain lebih simpel dari taktik yang dijalankan oleh Rodgers. Real Madrid seakan sedang membagi timnya ke dalam tiga unit berbeda: 4 bek, 2 gelandang tengah, dan 2 striker yang dibantu 2 sayap. Tugasnya tentu berbeda, bertahan, keseimbangan di tengah, dan sektor penyerangan.

Taktik tersebut membuat Madrid tak pernah kekurangan pemain baik saat menyerang atau bertahan. Sehingga membuat Liverpool yang memang punya masalah lini depan menjadi semakin kesulitan. Meski terus bergerak dan tak lagi statis, akselerasi Balotelli masih terlalu lambat. Apalagi Sturridge masih belum dapat dimainkan karena cedera.

Umpan-umpan terobosan Coutinho menjadi tak terlalu berdampak karena hanya fokus menuju Sterling. Cara ini dengan mudah dibaca lini belakang Madrid dengan terus melakukan intersepsi dan penjagaan 1 per 1.

Apa yang bisa diharapkan dari sebuah tim yang lini depan gagal menciptakan gol dan lini belakang bermain buruk? Itulah yang terjadi pada Liverpool di laga kali ini.

Bermain dengan garis pertahanan rendah melawan Real Madrid adalah bencana jika tim tersebut tak punya sistem pertahanan yang baik dan sanggup bermain konsisten selama 90 menit. Seperti yang terlihat saat terjadinya gol kedua oleh Benzema yang mampu memenangi duel udara hasil umpan silang Toni Kroos. Gol ini tentu saja bukan kebetulan karena jika melihat situasi tersebut, Madrid sebenarnya punya lima pemain di kotak penalti yang siap menyambar bola kapan saja.

Lalu bagaimana jika memakai pertahanan tinggi agar meminimalisir penumpukan pemain di kotak penalti? Jawabannya adalah Liverpool harus memberi pengawalan khusus terhadap Ronaldo yang bisa dengan bebas melakukan akselerasi. Itulah yang terjadi ketika gol pembuka laga sekaligus pertama di Anfiled oleh sang pemain terbaik dunia ini.

Tak cukup dua contoh di atas, gol ketiga yang dicetak oleh Benzema juga menggambarkan bagaimana buruknya pertahanan Liverpool. Sebelum gol tersebut terjadi sudah ada tiga sentuhan oleh pemain Real Madrid di dalam kotak penalti. Dua oleh Pepe lewat sundulan dan assist terakhir tentu saja tembakan Benzema yang gagal dihalau Mignolet. Padahal situasinya saat itu adalah sepak pojok dimana tentu saja ada banyak pemain Liverpool di 16 pas.


Grafis tekel bek Liverpool, hanya 25% yang berhasil. Tak ada satu pun tekel sukses – Squawka

Pergantian Liverpool dan Antisipasi Ancelotti

Brendan Rodgers berusaha untuk memperbaiki lini depannya setelah turun minum. Balotelli yang bermain buruk digantikan oleh Lallana. Sepanjang babak pertama, pemain yang sedang “disingkarkan” dari timnas Italia ini bergerak terlalu lambat.

Akibatnya tidak ada opsi lain dari Coutinho untuk mengalirkan bola ke depan. Pilihannya banyak tertuju pada Sterling yang memang rajin membuka ruang di sisi kiri. Tetapi jelas ada yang salah dari tim ini ketika pemuda 19 tahun harus menjadi tumpuan utama sembari terus berlari, berlari dan berlari – terus menerus.

Balotelli yang didatangkan dengan banderol 16 juta pounds ini masih belum sanggup memenuhi ekspektasi Kopites untuk menggantikan sosok Suarez. Maka tidak ada pilihan lain bagi Rodgers selain menariknya keluar jika ingin mengejar ketertinggalan.

Tetapi masalahnya, cara menyerang Liverpool ini sudah terlanjur jadi template. Coutinho masih terus menerus fokus terhadap Sterling. Padahal beberapa kali Lallana mampu membuka ruang di sisi kanan. Kredit khusus juga patut diberikan ke Marcelo yang mampu memaksa Lallana menjauhinya karena terus ditempel.

Bukannya melakukan pergantian tempat antara dua penyerang tersebut, kini Lalllana justru berkumpul di sisi kanan El Real yang tentu saja posisinya bertabrakan dengan Sterling.


Grafis Umpan Babak Kedua Liverpool, Sebelum Masuk Markovic

Sepertinya alasan tersebut yang membuat Rodgers akhirnya menarik keluar Coutinho dan memasukan Lazar Markovic. Bergerak menyisir sayap kanan, membuat aliran serangan Liverpool kini lebih variatif. Untuk menyeimbangkan lini tengah karena Coutinho ditarik, Rodgers juga memasukan Emre Can yang menggantikan Henderson.

Marcelo mulai tampak kepayahan karena terus menerus mendapat tekanan dari Markovic. Ia akhirnya diistirahatkan oleh Ancelotti sepuluh menit menjelang bubaran.


Grafis Umpan Babak Kedua Liverpool, Setelah Masuk Markovic

Merasa aman dan harus menghemat tenaga menjelang El Clasico, Ancelotti kemudian menarik keluar Ronaldo dan memasukan Sami Khedira. Ia juga memasukan Illaramendi dengan mengistirahatkan Toni Kroos. Kini pertahanan Real Madrid semakin aman dari ancaman lini depan Liverpool, apalagi punya modal keunggulan tiga gol.

Maka tak ada lagi gol tercipta pada babak kedua, Liverpool harus mengakui keunggulan Real Madrid di kandang sendiri.

Kesimpulan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Liverpool memang kalah kelas dari segi kualitas pemain dibandingkan Real Madrid. Tetapi hal ini tak boleh dijadikan alasan Rodgers atas kekalahan timnya di kandang dengan skor yang telak. Kelemahan-kelamahan tersebut sebenarnya juga sudah terlihat sejak awal musim, dimana ia mulai melakukan banyak perombakan pemain.

Ancelotti lebih siap dari segi rencana cadangan atau skema kedua saat pertandingan berjalan. Entah itu berasal dari instruksi atau memang kemampuan adaptasi taktik yang baik anak asuhnya. Yang jelas, tak butuh waktu lama bagi timnya untuk segera unggul cepat dan menyimpan tenaga pada babak kedua. Sebagai persiapan laga selanjutnya bertajuk El Clasico, dengan menarik Ronaldo, Kroos, dan Marcelo.

Taktik dengan melakukan pressing pada awal laga sepertinya memang tak disiapkan secara matang oleh Rodgers. Cara ini seketika buyar tatkala Madrid bermain mengandalkan sayap namun dengan kombinasi umpan pendek. Pergantian Balotelli dengan Lallana juga sia-sia karena skema penyerangan yang dipakai tidak berubah, yakni bola melaui kombinasi umpan Coutinho serta Sterling.

Liverpool sudah terlihat kalah segalanya pada babak pertama. Rencana yang tentu saja tidak diinginkan oleh Rodgers, ketika ia berusaha unggul cepat pada awal pertandingan.



John Powell/Liverpool FC via Getty Images


(din/roz)











Hide Ads