Real Madrid membuka El Clasico jilid pertama musim ini dengan manis. Los Blancos menang 3-1 atas seteru abadinya, Barcelona.
Barcelona sempat unggul lewat gol cepat Neymar pada menit keempat. Cristiano Ronaldo menyamakan kedudukan lewat titik putih pada menit ke-35. Kendurnya pertahanan Barca membuat Madrid berbalik unggul lewat sundulan Pepe pada menit ke-50 dan tendangan Karim Benzema pada menit ke-61.
Dengan hasil ini, Madrid menggeser posisi Sevilla yang akan main malam (26/10/2014) nanti, di peringkat kedua. Raihan ini sekaligus memantapkan El Real sebagai tim tersubur di Spanyol musim ini, sekaligus menghapus catatan tak pernah kebobolan Barcelona di delapan laga di liga.
Jarak Lebar Antar Lini
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di menit-menit awal, terlihat betul bagaimana skema ini belum dapat diterapkan dengan sempurna. Luka Modric dan kolega, selalu kehilangan momentum saat membangun pertahanan. Dampaknya, trio penyerang Barcelona yang diisi Luis Suarez, Lionel Messi, dan Neymar, bisa berhadapan langsung dengan bek, tanpa difilter oleh lini tengah.
Hasilnya adalah gol yang dicetak Neymar pada menit keempat. Dari empat gelandang yang mestinya menjadi penahan pertama, nyatanya hanya Luka Modric yang ada di depan barisan bek Madrid. Ini yang membuat Dani Carvajal bergerak ke tengah untuk menutup pos bek tengah yang bergeser karena Marcelo gagal menutup posnya.
Perubahan ini berdampak pada tak terkawalnya Neymar di sisi kanan pertahanan Madrid. Garis pertahanan yang terlampau rendah, membuat Neymar dapat dengan bebas menendang dari tepi garis kotak penalti tanpa gangguan.
Pressing ketat yang diterapkan Madrid sejak menit pertama, bisa dibilang tak berhasil. Aliran bola lancar-lancar saja karena jarak antar pemain di tiap lini yang begitu rapat. Kegagalan ini diperparah percobaan tekel yang terbilang sembrono.
Gol pertama terjadi karena Marcelo yang begitu berambisi merebut bola dengan meninggalkan posnya. Ia lantas melakukan tekel sebelum momentum yang seharusnya. Bola pun dialirkan ke arah Luis Suarez yang ada di sisi kiri atau sisi tempatnya beroperasi. Dari sisi tersebut, Suarez memindahkan bola lewat umpan horizontal ke arah Neymar yang beroperasi di sisi kiri penyerangan Barcelona.
Gerakan Marcelo tersebut membuat Sergio Ramos dan Pepe bergeser ke kiri, dengan tujuan menutup ruang yang ditinggalkan Pepe. Sayangnya, gerakan tersebut malah memudahkan Neymar untuk menyelesaikan peluang. Neymar memiliki ruang kosong yang tak bisa ditutup bek Madrid.
[Grafis umpan Barcelona hingga menit ke-5]Grafis di atas menunjukkan betapa lancarnya umpan Barcelona hingga menit kelimat. Tercatat mereka melakukan total 49 umpan, dan empat di antaranya gagal, sementara satu umpan dikonversi menjadi gol.
Bisa dibilang, sepanjang dua puluh menit babak pertama berjalan, dua tembok yang diharapkan Ancelotti sebagai penyaring tersebut gagal total. Tembok kedua yang dihuni para gelandang seringkali terlambat turun membantu pertahanan.
Perubahan Skema Permainan Trio Gelandang Barca
Menghadapi El Clasico, Luis Enrique menurunkan Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan Sergio Busquets. Dari lima pertandingan terakhir di Liga Spanyol maupun Liga Champions, trio gelandang tersebut tak selalu diturunkan sebagai starter. Ketiganya masing-masing bermain sebanyak tiga pertandingan dari lima pertandingan terakhir.
Dari indikasi tersebut terlihat Enrique menginginkan adanya kesinambungan di lini tengah, seperti yang biasa mereka peragakan di jaman Pep Guardiola. Dengan tiga pemain tersebut, Enrique menginginkan timnya memenangkan penguasaan bola.
Secara visi bermain, keduanya memang terbiasa mengontrol lini tengah. Lain hal jika Enrique menurunkan Rakitic yang lebih sering bergerak di sisi lapangan.
Selepas gol pertama yang dicetak Neymar, praktis Barca lebih tenang dalam membangun serangan. Mereka lebih menunggu Madrid menyerang lini pertahanan mereka, untuk kemudian memaksimalkan serangan balik.
Dalam hal ini, Xavi, Iniesta, dan Busquets memiliki peran yang amat penting, setidaknya agar pemain Madrid tak mampu menendang dari dalam kotak penalti. Mereka memaksa Madrid menendang lewat sudut sempit dengan kaki terlemah, yang pada akhirnya dapat ditangkap mudah oleh kiper Claudio Bravo.
Saat menyerang, tiga gelandang ini tak tergesa-gesa naik. Mereka mempercayakan serangan kepada Neymar, Messi dan Suarez yang unggul dalam hal kecepatan. Sesekali umpan-umpan pendek diperagakan, tapi tak begitu banyak. Trio gelandang Barca disiplin menjaga pertahanan ketimbang ikut membantu serangan.
Sulitnya Madrid menembus lini pertahanan Barca tak lain karena transisi cepat saat bertahan dan menyerang yang diperagakan trio gelandang Barca. Suatu hal yang tidak bisa diterapkan di lini tengah Madrid.
Di pertandingan tersebut, Madrid melakukan 18 attempts, dan delapan di antaranya dilakukan di luar kotak penalti. Dua attempts dari dalam kotak penalti berasal dari bola mati yang kemudian menjadi gol. Dari jumlah tersebut pula tujuh di antaranya bisa diblok oleh bek Barcelona.
[grafis attempts Real Madrid]
Ini berarti ada tujuh peluang yang mentah sebelum mencapai kiper. Membandingkan dengan kondisi sebenarnya yang ada di lapangan, catatan tersebut menunjukkan disiplinnya bek Barcelona dalam menjaga pertahanan dengan garis pertahanan yang tak terlampau rendah, ataupun sebaliknya.
Memaksimalkan Serangan Balik
Di babak pertama, terlihat pasukan Carlo Ancelotti kesulitan menembus pertahanan ketat Barcelona. Beberapa kali peluang kandas di lini pertahanan Barca. Jika melihat lebih detail, sebetulnya ada yang salah dari cara menyerang Madrid pada babak pertama.
James Rodriguez dan kolega terlihat begitu terburu-buru dalam membangun serangan. Aliran bola biasanya diberikan ke kedua sayap, lalu dilanjutkan dengan umpan silang.
Meski skema ini menghasilkan penalti dan merupakan keuntungan bagi Madrid, tapi gol tak akan tercipta lewat skema serangan seperti ini terus menerus. Saat membangun serangan di babak pertama, ada sepuluh pemain Barca, termasuk kiper, yang ada di area pertahanan termasuk di dekat dan di dalam kotak penalti.
Madrid menumpuk pemainnya di sayap. Sayap kiri oleh Marcelo, Isco, dan Ronaldo, sementara sayap kanan Carvajal dan James. Sangat riskan bagi Madrid terus-terusan melakukan skema seperti ini. Beruntung, Barca tidak menambah keunggulah, meski dua sisi pertahanan Madrid menjadi begitu ringkih.
Sulit untuk menjelaskan mengapa para pemain Madrid melakukan umpan silang. Padahal, di dalam kotak penalti, setidaknya ada tiga pemain Barcelona yang menjaga zona, satu orang menjaga pemain, dan tiga gelandang yang menahan lini kedua Madrid. Jadi, umpan silang lewat permainan terbuka terbilang sulit untuk dikonversi menjadi gol.

[Kiri: umpan silang Madrid di babak pertama, Kanan: umpan silang Madrid di babak kedua]
Dari grafis di atas, terlihat di babak pertama, Madrid melakukan 13 umpan silang, termasuk tendangan sudut, dan delapan di antaranya gagal. Tiga umpan mengancam gawang lawan, sementara dua lainnya sampai, tapi tak berbahaya.
Madrid bisa dibilang beruntung karena mereka bisa menyamakan kedudukan pada babak pertama. Ini yang membuat Enrique tidak menginstruksikan pemainnya untuk bermain bertahan. Mereka bermain lebih terbuka di babak ke dua yang nantinya membuahkan keuntungan bagi Madrid.
Di babak kedua, Ancelotti seolah mempersilakan Barca menyerang. Dalam skema ini, dua tembok Madrid sudah berdiri kokoh menghalau serangan Barca yang dari tengah. Saat bola berhasil direbut, pemain Barca dengan cepat mengalirkan bola pada Ronaldo, Marcelo, atau James untuk dikirim menuju lini serang.
[Kiri: tekel Madrid di babak pertama, Kanan: tekel Madrid di babak kedua]
Pola tersebut sebenarnya memperlihatkan efektifitas lini pertahanan Madrid. Di babak pertama, Madrid total melakukan 20 tekel dengan rincian delapan berhasil merebut bola, delapan kali gagal merebut bola, dan empat tekel menjadi pelanggaran.
Di babak kedua, pertahanan Madrid lebih impresif. Mereka melakukan 24 tekel dengan rincian delapan kali bola direbut, 11 kali gagal merebut, dan lima di antaranya berbuah pelanggaran.
Dari statistik ini terlihat saat bertahan, Madrid menumpuk pemainnya di area kotak penalti. Sementara itu kedua sisi seolah terabaikan. Untungnya, Barca tak memanfaatkan celah tersebut untuk membombardir pertahanan Madrid.
Pola seperti ini, sulit diantisipasi lini tengah, maupun lini pertahanan Barca, karena saat melakukan serangan balik, biasanya sudah ada satu pemain Madrid yang menunggu di depan, dan satu lagi di sisi yang berseberangan. Artinya, saat Ronaldo memegan bola, ia memiliki tiga opsi: menggiring sendiri lalu melakukan attemps, memberi umpan terobosan ke Benzema, atau memindahkan serangan ke sisi lain yang tak terkawal.
Dari skema ini, hanya satu gol yang bersarang di gawang Bravo. Sisanya dapat digagalkan karena kesalahan dalam pengambilan keputusan.
Barca Tak Maksimalkan Kecepatan
Di babak pertama, beberapa kali akselerasi dari Neymar dan Messi mampu menembus pertahanan Madrid. Sayangnya, sejumlah peluang tak mampu dikonversi menjadi gol.
Di babak kedua, Enrique mulai mengutak-atik trio penyerang mereka. Awalnya, Suarez ditarik ke tengah, sementara Messi beroperasi di sayap kanan. Pola seperti ini segera berubah saat Suarez menggirin bola, maka Messi kembali bergerak ke tengah, dan Suarez kembali ke posnya.
Di babak kedua, skema tersebut seolah tak terlihat. Barca seperti menggunakan satu gelandang serang dan dua penyerang. Dari ketiganya, tak ada satupun yang terlihat menonjol atau mendominasi. Peran Messi tertutup dengan sempurna oleh Luka Modric dan Toni Kroos di lini tengah Madrid.
Saat Barca menyerang, posisi Messi sudah ada dalam kepungan, sehingga sulit bagi lini tengah Barca untuk memberi umpan pada ketiganya. Bola pun biasanya digulirkan ke kedua sayap. Madrid seolah membiarkan dua sisi tersebut bebas, dengan menempatkan semua pemainnya di area kotak penalti, tanpa mejaga sisi luar kotak penalti.
Beberapa kali, Dani Alves maupun Jeremy Mathieu mencoba melepaskan umpan silang dari sini. Namun, hasilnya sudah bisa diduga. Bola biasanya kandas karena mereka tak memiliki opsi lain seperti melewati bek Madrid, seperti yang dilakukan Neymar atau Messi misalnya.
Enrique pun memasukkan Modric yang diinstruksikan bermain melebar, terutama mengeksploitasi sisi kiri pertahanan Madrid. Selama 31 menit bermain, ia mendapat 40 sentuhan bola, tiga tendangan, 31 umpan dengan kesuksesan umpan 30 persen, dan tiga umpan silang.
Melihat catatan ini, cukup mengherankan sebenarnya mengapa Ivan Rakitic tak sedari awal diturunkan, terutama untuk membantu serangan Barca lewat kecepatan, dan eksploitasi ruang.
Praktis, di babak kedua, wajah Messi hanya terlihat kamera saat akan menendang tendangan bebas.
Kesimpulan
Setelah unggul lewat gol Neymar, Barca mencoba memperlambat tempo. Hal ini jelas menganggu pressing ketat yang coba diperagakan Madrid. Di babak pertama, saat menyerang, Barca lebih tenang dalam membangun serangan. Jarak antar pemain begitu berdekatan sehingga pressing Madrid tak memengaruhi permainan Barca.
Selain itu, pressing ketat Madrid tidak berjalan dengan sempurna karena minimnya dukungan lini tengah. Saat Barca menyerang, posisi Suarez, Messi, dan Neymar seringkali ada di antara bek dan gelandang Madrid. Hal ini membuat, bek Madrid yang dihuni Pepe dan Ramos punya tugas ganda, untuk mengamankan zona, juga menahan agar trio penyerang Barca tak memegang bola.
Trio gelandang Barca pun memainkan peran yang sangat baik. Mereka tidak berambisi mendapatkan penguasaan bola lewat umpan-umpan pendek cepat. Saat menyerang, pergerakan gelandang Barca lebih santai dan menunggu agar lini serang Barca telah berada pada posisinya.
Saat bertahan, mereka fokus menjaga agar lini kedua Madrid tak mampu menembus kotak penalti. Sementara itu, Suarez dan Neymar ikut turun sebagai upaya agar Madrid mengalirkan bola ke sayap, dan memberi umpan silang ke dalam kotak penalti.
===
* Dianalisis oleh Pandit Football Indonesia. Profil lihat di sini.











































