Dari dua pertandingan terakhir pekan lalu, Manchester City tengah dilanda penurunan kualitas permainan. Di liga, mereka kalah 1-2 dari West Ham United, sementara di Piala Liga kalah dua gol tanpa balas dari Newcastle United, di depan pendukung sendiri. Padahal, komposisi pemain tak mengalami perubahan berarti.
Sementara itu, Manchester United "sukses" menahan imbang Chelsea 1-1 di Old Trafford. Namun, di balik itu semua, pelatih United, Louis van Gaal bisa bernafas lega, karena Marouane Fellaini sudah menunjukkan penampilan terbaiknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memperkuat Lini Tengah
Pelatih City, Manuel Pellegrini, masih kesulitan meramu komposisi pemain di lini tengah. Dengan Yaya Toure dan Fernandinho yang mengisi pos tersebut, sulit rasanya bagi keduanya untuk secara intensif menyerang sekaligus bertahan.
Toure yang pada musim-musim sebelumnya berperan sebagai pengalur serangan, kini seringkali terlihat berdampingan dengan Fernandinho untuk menahan gempuran serangan lawan.
Dibandingkan dengan musim lalu, tidak ada perubahan signifikan dari skuat City. Pellegrini masih mempertahankan formasi 4-4-2 dengan dua pemain sayap cepat di kedua sisi, dan dua fullback yang kuat secara fisik.
Hal yang terlihat berbeda pada musim ini pos lini tengah yang biasa dihuni Javi Garcia, kini diisi Fernandinho atau Fernando. Saat Toure tak tampil, ada Frank Lampard yang biasa bermain di pos tersebut.
Sebenarnya, kekuatan City saat menjadi juara pada musim 2011/2012 adalah kemampuan mereka melakukan pressing ketat kepada lawan. Beberapa kali, pemain City terlibat kontak fisik saat memberi tekanan. Hal ini yang membuat lawan, secara taktik, seringkali terpancing baik itu karena emosi atau mental yang turun. Sehingga lawan tidak bisa memeragakan taktik yang diperintahkan pelatih.
Fernandinho, misalnya, belum mampu menjalankan peran yang biasa dilakukan Garcia atau Gareth Barry. Ia kesulitan merusak skema permainan lawan. Saat lawan menyerang, kedua sayap City memaksa pemain lawan mengarahkan bola ke tengah. Di pos tersebut, berdiri tembok kokoh yang bukan hanya merebut bola, tapi juga mengacaukan kosentrasi pemain lawan.
Musim ini, hal tersebut seolah tak berlaku. Adanya jarak antara lini belakang dan lini tengah, membuat lawan kerap bergerak bebas di area tersebut. Terlebih bagi lawan yang memang menumpuk pemain di lini tengah.
Hal ini terlihat saat pertandingan menghadapi Arsenal. Mesut Oezil, Jack Wilshere, Aaron Ramsey, dan Alexis Sanchez terlihat begitu bebas dan leluasa mengoper bola di area tengah. Mereka mesti menghentikan pergerakan secara paksa pemain lawan yang untungnya, tidak berhadiah kartu dari wasit.
Jelang laga, Pellegrini mesti membenahi koordinasi di area tersebut. Terutama, jika mereka tak ingin Ander Herrera menerobos masuk dan mencetak gol.
Mempertahankan Ritme
Lini serang Manchester United pada musim ini belum bisa dibilang tajam, tapi tidak bisa juga disebut mandul. Dari 16 gol yang mereka cetak, hanya tujuh gol yang berasal dari trio penyerang. Sisanya dicetak oleh para gelandang.
Jika melihat apa yang terjadi di lapangan, hal ini tak lepas dari instruksi yang diberikan untuk penyerang United, untuk bermain melebar dan membuka ruang.
Louis van Gaal tengah bergembira karena saat ini penampilan Fellaini menunjukkan peningkatan. Gelandang berambut kribo asal Belgia tersebut diharapkan mampu mengulangi permainan agresifnya kala melawan Chelsea pekan lalu.
Di lini tengah Daley Blind dan Ander Herrera pun menciptakan harmoni yang baik terutama saat menyerang dan bertahan. Keduanya cepat saat melakukan transisi dari menyerang ke bertahan, pun sebaliknya.
Dengan formasi tiga bek, keduanya adalah pemain yang terbilang aktif untuk menjemput bola dan mengalirkannya ke lini serang. Perannya menjadi penting karena mereka adalah palang pintu pertama sebelum lawan bisa menembus area kotak penalti.
Dengan Falcao dan Wayne Rooney yang sudah bisa tampil, kemungkinan Juan Mata kembali menghangatkan bangku cadangan. Louis van Gaal sepertinya akan menduetkan Falcao dan Rooney di lini depan.
Keduanya memiliki tipikal yang berbeda dengan Van Persie yang cenderung menunggu di dalam kotak penalti. Falcao bisa menjelajah ke sisi lapangan, sementara Rooney bukanlah tipe penyerang yang pemalas. Di era Ferguson, ia sempat ditempatkan menjadi gelandang serang.
Saat bermain, keduanya bisa membuka ruang ke kedua sisi. Hal ini diharapkan mampu membuka celah di lini tengah lawan, yang membiarkan lini kedua United bebas mengeksploitasi pertahanan lawan.
Dengan menjaga ritme seperti musim lalu, setidaknya, United mampu menguasai lini tengah dan memberi ancaman berarti bagi The Citizens.
Pertarungan Lini Tengah

[Area Serangan Manchester City]

[Area Serangan Manchester United]
Pertandingan nanti malam diprediksi akan terpusat di lini tengah. Dari grafis di atas terlihat adanya kesamaan pola dari kedua tim. Baik City maupun United memiliki presentase serangan dan area permainan yang hampir mirip.
Tidak ada sisi yang menjadi tumpuan utama. Meski United kerap bertumpu pada Angel Di Maria di sisi kiri, tapi malah sisi kanan yang presentase serangannya lebih banyak. Hal ini tak lepas dari sering naiknya Rafael di kanan. Rooney juga kerap bermain melebar ke sisi kanan.
Area tengah United terbilang lebih rendah (27 persen) ketimbang City (29 persen) karena memang pusat serangan United tak bertumpu pada area tersebut.
Saat bola berada di area pertahanan, bola biasanya dilambungkan ke lini serang. Ini terlihat dari jumlah umpan lambung yang mencapai 71 kali, sementara City hanya 49 kali. Umpan lambung biasanya diarahkan ke dua sisi ketimbang langsung mengarah ke tengah.
City rata-rata melakukan 17,4 tendangan per pertandingan. Namun, mereka terbilang rentan saat bertahan karena lawan mampu melakukan 10,9 tendangan per pertandingan. Hal ini akan bertambah buruk terutama jika melihat penampilan Joe Hart yang terkesan angin-anginan.
Manchester City terbilang unggul soal penguasaan bola. Di liga, rata-rata mereka menguasai 58,1 persen penguasaan bola. Hanya saja, City bertemu dengan United yang secara statistik begitu gemar βmencuriβ bola. Catatan intersep United terbilang tinggi dengan 18,2 kali per pertandingan. Jumlah ini masih di bawah Hull dengan intersep terbanyak perp ertandingan di liga Inggris dengan 20 kali dan Arsenal 19,1 kali.
Prediksi
Van Gaal sepertinya harus mengubah taktiknya pada pertandingan Minggu (2/10) malam nanti. Pellegrini kemungkinan akan memperkuat lini tengah dengan hanya menempatkan satu penyerang saja. Artinya, akan ada dua pemain sayap dan satu gelandang serang.
Toure dan Fernandinho difokuskan menjaga pertahanan, sementara David Silva digesert ke tengah menjadi gelandang serang. Melihat strategi ini, Pellegrini kemungkinan akan memanfaatkan kecepatan dan kekuatan para pemainnya untuk mendobrak pertahanan United.
Dengan Nasri, Silva, Milner, dan Aguero yang memiliki keunggulan dalam kecepatan, lini pertahanan United patut waspada. Pasalnya, dalam beberapa pertandingan, United selalu kecolongan lewat gol yang bermula dari serangan cepat lawan.
Jelang derbi, Pellegrini nyatanya khawatir dengan tren negatif timnya. Ia menyebut para pemainnya kehilangan kepercayaan diri dan rasa saling percaya antar pemain.
"Kami terlalu banyak kebobolan lewat proses gol yang mudah, dan kami tidak mencetak gol di mana kami harus mencetak gol. Tentu saja kami khawatir. Kami tidak menang dalam tiga pertandingan terakhir dalam satu pekan terakhir," ujar Pellegrini seperti dilansir BBC.
City pun diserang isu kebugaran yang menimpa David Silva dan Toure. Jika keduanya tak bisa tampil, kemungkinan besar City akan mendapat hasil yang sama seperti tiga pertandingan sebelumnya.
Di kubu Setan Merah, kini kepercayaan diri tengah tinggi-tingginya. Rooney yang absen karena kartu merah sudah bisa tampil.Pun dengan Falcao yang mengalami cedera karena tempurung kakinya tertendang, dalam kondisi yang prima untuk bisa bermain.
Van Gaal akan kehilangan Phil Jones yang cedera saat sesi latihan. Padahal, kehadiran Jones amat penting guna memperkuat lini pertahanan United.
Tidak seperti pekan-pekan sebelumnya, kali ini Van Gaal bukan dipusingkan karena kekurangan pemain, malah sebaliknya. Hampir semua pemain sudah fit dan bisa diturunkan. Jika dilema ini dapat dikelola dengan baik, terutama lewat pengelolaan taktik dan formasi, bukan tidak mungkin United akan mendominasi pertandingan.
Dengan tren negatif yang diperlihatkan Manchester City, sulit untuk menjagokan The Citizens memenangkan derbi ini. Namun, United bukannya tanpa cela. Lini pertahanan mereka sering gusar saat lawan mengirimkan umpan silang. Belum lagi skema pertahanan yang terkesan tidak rapi, saat lawan mendapat penguasaan bola di depan kotak penalti.
Sebanyak 67 persen tendangan yang dilakukan City dilakukan di dalam kotak penalti. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi skuat Setan Merah, setidaknya menjauhkan para pemain City menerobos masuk ke dalam kotak penalti.
Di pertandingan nanti malam, kemenangan lebih condong ada di pihak Setan Merah, terutama jika City tak memeragakan pressing ketat yang biasa mereka lakukan. Bagi City, kans untuk menang tetap ada andai trio penyerang United tak bermain maksimal.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/roz)











































