Sempat tampil meragukan pascagugur dari piala AFC, Persipura Jayapura akhirnya berhasil melenggang ke babak final Indonesia Super League (ISL) setelah mengalahkan Pelita Bandung Raya di semifinal.
Β
Tim berjuluk "Mutiara Hitam" ini akan menghadapi tim yang sedang lapar untuk menuntaskan puasa gelar selama 19 tahun, Persib Bandung, pada partai puncak Liga Super Indonesia hari ini (7/11).
Menghadapi Persib, tim yang kini dilatih Mettu Duaramuri ini akan bermain dengan kekuatan penuh. Ruben Sanadi yang sempat mendapatkan hukuman larangan bermain sudah boleh diturunkan malam nanti. Pun begitu dengan Titus Bonai yang absen dalam tiga pertandingan terakhir. Kabarnya, pemain yang akrab disapa Tibo ini mendapatkan hukuman dari klub karena kasus indisipliner. Namun menghadapi partai final, hukuman indisipliner ini akan dicabut untuk menambah kekuatan Persipura di laga terakhir LSI ini.
Menurut Mettu pada sesi latihan sore di Stadion Jakabaring, Yohanis Tjoe masih dalam proses pemulihan cedera.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yoo Jae-Hoon, Bio Paulin atau Lim Jun Sik?
Persipura memiliki empat pemain asing yang cukup berkualitas. Namun, sesuai regulasi liga musim ini, hanya tiga pemain yang boleh diturunkan setiap laga. Inilah yang selalu menjadi masalah yang harus dihadapi Persipura sepanjang musim ini.
Robertino Pugliara adalah legiun asing terakhir yang melengkapi skuat Persipura. Pemain asal Argentina ini bergabung pada putaran dua ISL untuk melengkapi tiga pemain asing yang sejak awal musim menjadi andalan: Yoo Jae-Hoon, Lim Jun Sik, dan Bio Paulin.
Untuk memaksimalkan para pemain asingnya ini, sejak putaran dua Persipura selalu merotasi keempatnya. Namun di antara mereka, Jun Sik dan Bio Paulin-lah yang lebih sering βdiputarβ.
Satu keanehan adalah saat menghadapi Pelita Bandung Raya pada babak semifinal. Persipura lebih memilih untuk menepikan Jae-Hoon. Ini terjadi karena kebutuhan strategi Persipura yang tak bisa memainkan bek lokal andalan mereka, Yohanis Tjoe, karena mengalami cedera. Bio Paulin pun dipilih untuk ditandemkan dengan Dominggus Fakdawer.
Jika Tjoe bisa dimainkan, maka pertanyaan siapa pemain asing yang akan ditepikan kembali muncul. Apakah Jae-Hoon harus kembali terpinggirkan karena tiga hari lalu Persipura bermain cukup baik meski tanpa kiper asal Korea Selatan tersebut? Atau salah satu dari Jun Sik dan Bio Paulin yang kembali tak diturunkan?
Namun tampaknya Bio Paulin-lah yang akan terusir ke bangku penonton. Sebabnya, performa Jun Sik tengah menanjak pada empat pertandingan terakhir. Pada empat pertandingan terakhir itu, Persipura selalu mendulang kemenangan dengan Jun Sik selalu menghiasi lini tengah Persipura.
Berbeda dengan tiga pertandingan pertama babak delapan besar, Jun Sik tak sekalipun dimainkan karena Persipura lebih memilih Bio Paulin. Dari tiga pertandingan tersebut, Persipura hanya meraih tiga poin dari Persela Lamongan. Sedangkan kala melawat ke kandang Semen Padang dan Arema Cronus, Persipura dua kali menelan kekalahan.
Kelebihan Persipura memainkan Jun Sik adalah lini tengah Persipura bisa mengungguli lini tengah tim lawan. Pemain asal Korea Selatan ini bisa menjadi perebut, sekaligus cukup baik dalam mengalirkan bola untuk membangun serangan.
Seperti Jun Sik, kemungkinan besar Jae-Hoon pun akan diturunkan menghadapi Persib. Dengan lawan yang memiliki lini penyerangan berbahaya seperti Persib, Jae-Hoon tentunya menjadi pemain yang sangat tepat untuk membendung serangan yang dilancarkan "Maung Bandung" di bawah mistar bawang.
Bagaimana dengan Robertino Pugliara? Pemain Argentina ini memang bisa dipastikan diturunkan tim pelatih Persipura menghadapi Persib. Kemampuan mengatur serangannya masih nomor satu meski Persipura memiliki pemain lokal bertipe playmaker seperti Gerard Pangkali dan Immanuel Wanggai.
Masuknya Robertino yang menggantikan Boakay Edi Foday pada putaran dua memang telah membuat Persipura telah mendapatkan pengganti sepadan playmaker mereka musim lalu, Zah Rahan Krangar. Meskipun kemampuan dribble dan kecepatan yang dimiliki Robertino tak sebaik Zah Rahan, visi bermain Robertino tak kalah baik dibanding pemain asal Liberia tersebut.
4-3-1-2 atau 4-3-3?
Kedalaman skuat Persipura menyajikan suatu dilema tersendiri prihal formasi. Terlebih dengan hadirnya Titus Bonai. Apakah langsung menurunkannya sejak menit awal? Atau menjadi supersub pada babak kedua?
Formasi 4-3-1-2 yang digunakan Persipura ketika bermain tanpa Tibo nyatanya menampilkan hasil positif. Formasi ini mulai digunakan saat Persipura menghadapi Arema Cronus pada pertandingan ketiga babak delapan besar.
Formasi ini juga telah menjadi andalan Persipura dalam lima pertandingan terakhir dengan Persipura hanya kalah sekali, yaitu saat menghadapi Arema Cronus di Kanjuruhan.
Terakhir kali Persipura mengandalkan tiga penyerang dengan memainkan tridente Titus Bonai, Ian Louis Kabes dan sang kapten Boaz Salossa adalah ketika Persipura melawat ke stadion Haji Agus Salim, Semen Padang. Kala itu, Boaz dkk. dipaksa bertekuk lutut oleh tuan rumah dengan skor 1-0.
Namun hal itu bukan berarti Persipura akan menghapuskan opsi penggunaan tiga penyerang kala menghadapi Persib Bandung. Alasannya, titik lemah lini pertahanan Persib terletak pada bek sayap mereka, khususnya sisi kanan, tempat Supardi berada.
Supardi memang seringkali melakukan overlap untuk membantu lini penyerangan. Saat bek berusia 35 tahun ini naik, maka akan ada lubang yang menganga di sisi kanan pertahanan Persib. Penggunaan tiga penyerang akan lebih memudahkan Persipura dalam membombardir sisi tersebut.
Namun hal yang perlu diingat juga oleh tim pelatih Persipura adalah organisasi pertahanan Persib yang semakin membaik dari pertandingan ke pertandingan. Menggunakan garis pertahanan rendah yang dibantu empat pemain tengah di depan kotak penalti, lini pertahanan Persib semakin sulit untuk ditembus.
Formasi 4-3-1-2 pun belum tentu akan efektif menghadapi lini pertahanan seperti ini. Tengok saja saat Persipura menghadapi Pelita Bandung Raya yang bertahan dengan garis pertahanan rendah dibantu banyak pemain tengah, tempo permainan Persipura melambat. Peluang-peluang hanya didapatkan dari tendangan spekulasi luar kotak penalti.
Namun keunggulan formasi 4-3-1-2 adalah kebebasan bek sayap Persipura, Yustinus Pae atau pun Ruben Sanadi (mungkin juga Rony Beroperay) untuk membantu lini penyerangan.
Serangan sayap memang menjadi andalan Persipura dalam upaya mencetak gol. Kecepatan yang dimiliki Boaz dan Kabes, serta duo fullback, Pae dan Ruben, menjadi kekuatan utama lini penyerangan Persipura. Sejumlah gol Persipura pun dihasilkan melalui skema dari sisi sayap.
Kesimpulan
Persipura tak mau melepaskan kesempatan untuk menjadi tim peraih trofi terbanyak pada laga malam nanti. Taktik dan strategi akan dipikirkan dengan matang agar mereka bisa memiliki pertahanan yang baik, dan lini penyerangan yang bisa menghasilkan gol.
Pertanyaannya adalah pada pemain asing yang akan ditepikan. Jika menggunakan 4-3-1-2, maka Jun Sik kemungkinan besar akan diturunkan. Sedangkan jika menggunakan formasi 4-3-3, Jun Sik bisa digantikan Bio Paulin karena Persipura bisa menurunkan Gerard Pangkali dan Immanuel Wanggai untuk menopang Robertino Pugliara.

Terlepas formasi manapun yang akan digunakan Persipura, mereka harus bisa membuat tempo permainan lebih cepat. Apalagi melawan Persib yang memiliki pertahanan yang tak jauh berbeda dengan Pelita Bandung Raya.
Saat melawan PBR, Persipura memang sempat kesulitan menghadapi taktik Dejan Antonic yang menginstruksikan para pemainnya melambatkan tempo permainan. Namun ketika tempo berhasil dinaikkan, pertahanan PBR kocar-kacir. Dua gol pun berhasil disarangkan.
Jika Persipura bisa melakukannya ketika menghadapi Persib pada laga final ini, gelar juara keempat tentu bisa kembali menjadi oleh-oleh terindah bagi para pendukungnya saat kembali pulang ke tanah Papua.
===
* Ditulis oleh @panditfootball . Profi lihat di sini
(a2s/krs)











































