Walaupun begitu permainan Garuda belum bisa dibilang cemerlang. Bermain bertahan tim asuhan Alfred Riedl ini mudah sekali ditembus barisan penyerang lawan. Sepakbola pragmatis Riedl di laga ini belum memperlihatkan pragmatisme yang solid, melainkan masih bocor di sana-sini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim nasional Indonesia lebih banyak menghabiskan 90 menit pertama mereka di Piala AFF 2014 tanpa bola. Statistik pertandingan menunjukkan bahwa 58,4% ball possesion menjadi milik tim nasional Vietnam, yang bersama Singapura didapuk sebagai tuan rumah kejuaraan tahun ini. Tak hanya itu, Indonesia juga lebih banyak menghabiskan waktu di daerah permainan sendiri, menahan gempuran demi gempuran yang dihadirkan oleh Vietnam. Kondisi tersebut tergambar nyata dalam grafis average position kedua tim.

Grafis di atas menunjukkan bahwa hanya ada dua pemain Indonesia di daerah permainan Vietnam: Sergio van Dijk dan Boaz Solossa. Sebaliknya, Vietnam memiliki empat pemain di daerah permainan lawan. Tak hanya itu, Nguyen Huy Hung dan Ngo Hoang Thinh sekalu duo gelandang tengah Vietnam juga terlihat berada di titik yang lebih jauh dari gawang mereka ketimbang Raphael Maitimo dan Manahati Lestusen dari gawang Indonesia.
Jarak antara lini pertahanan dan penyerangan yang terlalu jauh tersebut membuat lini depan Indonesia minim asupan bola. Boaz sendiri juga banyak berada sejajar dengan Van Dijk di depan sehingga tidak ada pemain yang bertugas menjadi penghubung antar lini. Jika Boaz turun menjemput bola, situasinya jadi lebih payah untuk penyerangan karena van Dijk sendirian terisolir di depan.
Tidak ada pilihan lain bagi Indonesia selain memainkan bola-bola lambung. Zulham Zamrun yang pada dua uji coba terakhir menjadi tumpuan sayap Garuda juga bekerja tak maksimal menopang lini depan. Ia punya beban tambahan membantu Rizki Pora yang terus mendapat gempuran di belakang.
Rizky Pora, pemain Barito Putera ini, memulai laga dengan sedikit gugup. Debut pertamanya bersama timnas di laga resmi berlangsung dengan tidak mudah. Vietnam terus memilih menggempur area yang dijaganya. Gol pertama Vietnam yang bermula dari sepak pojok, juga berasal dari sisi yang dijaga Rizki ini.

Tuan rumah sendiri membangun serangan selalu melalui dua gelandang tengah mereka yang rajin menjemput bola. Sayangnya Van Dijk dan Boaz justru lebih sering berada di area pertahanan Indonesia ketimbang mengganggu pergerakan lawan tersebut. Akibatnya sulit bagi Zulkifli dkk untuk dapat mengambil alih penguasaan bola.
Vietnam Menyerang Melalui Sisi Kanan
Vietnam mampu menekan Indonesia sepanjang babak pertama dengan cara mengkombinasikan umpan-umpan panjang dan pendek dengan baik. Para pemain Vietnam seolah tak pernah kehabisan pilihan. Siapapun yang menguasai bola selalu saja memiliki, setidaknya, dua rekan untuk dikirimi umpan. Tak hanya itu, Vietnam juga menekan Indonesia di titik lemahnya.
Sadar bahwa sisi kiri pertahanan Indonesia dapat dieksploitasi, Vietnam seringkali mengirimkan umpan panjang ke daerah tersebut. Cepat dan tepat. Ketika bola sudah berada di wilayah yang diinginkan, para pemain Vietnam membongkar pertahanan Indonesia dengan mengandalkan umpan-umpan pendek cepat.

Heatmap Rizky Pora menunjukkan bahwa ia tak mendapatkan banyak kesempatan untuk membantu serangan, karena terus menerus direpotkan oleh Vu Minh Tuan, Que Ngoc Hai, dan Nguyen Hai Anh. Ketiga pemain ini secara rutin membentuk segitiga yang merepotkan, mengacak-acak pertahanan Indonesia.
Bukti lain eksploitasi sisi kiri pertahanan Indonesia terlihat pada perbandingan jumlah sepak pojok Vietnam di babak pertama (tiga di sebelah kanan gawang Indonesia, enam di kiri). Gol pertama Vietnam sendiri terlahir sebagai buah dari masalah yang ditimbulkan oleh Vietnam di sisi kiri pertahanan lawan mereka.

Benar memang Que Ngoc Hai berhasil membuka keunggulan Vietnam lewat "kebaikan hati" Sergio van Dijk, yang menyundul bola sepak pojok Vietnam tepat ke hadapan Hai (plus kecerobohan Kurnia Meiga yang naik untuk mengambil bola). Namun, tendangan sudut itu sendiri terlahir dari sebuah serangan yang dibangun di sisi kanan permainan Vietnam. Sebuah serangan yang bermula dari daerah permainan Vietnam. Sebuah serangan yang tak dapat dipatahkan sedini mungkin oleh para pemain Indonesia.
Kondisi ini juga sebenarnya tidak membuat Rizky Pora pantas dijadikan kambing hitam dalam laga kali ini. Selain Rizky pelan-pelan berhasil memperbaiki penampilannya, lagi pula sayap kanan memang merupakan salah satu keunggulan Vietnam. Sektor tersebut juga diandalkan pelatih Toshiya Miura saat mengalahkan Malaysia 3-1 pada laga sebelumnya.
Imbas dari serbuan ke sisi ini adalah Zulham terpaksa sering turun ke bawah. Kali ini dia memperlihatkan kedisiplinan taktikal dan sadar ada peran bertahan yang juga mesti dia emban. Bahwa kemudian dengan itu dia tak cukup banyak membantu penyerangan, ini pilihan yang memang mutlak diambil.
Selepas turun minum Rizky Pora tidak lagi sendirian menyandang status bulan-bulanan. Di babak kedua, Vietnam lebih banyak mengeksploitasi lubang besar yang dihadirkan oleh duet Maitimo dan Manahati. Kedua pemain tersebut nampak berkali-kali tidak menunjukkan penempatan posisi yang baik untuk melakukan interception. Tidak pula mereka banyak merebut bola dari kaki lawan. Sepanjang pertandingan, hanya ada satu tackle dari Maitimo. Manahati tidak memiliki catatan tersebut. Indonesia terus menerus kalah di lini tengah.
Problem mendasar yang dihadapi oleh duet lini tengah Indonesia ini adalah padatnya lini tengah oleh para pemain Vietnam. Mereka bermain rapat, jarak juga diatur tidak terlalu berjauhan, sehingga mereka selalu punya lebih dari satu opsi untuk mengirimkan umpan saat mendapatkan tekanan dari Maitimo atau Manahati.
Sialnya bagi Indonesia, tak hanya Maitimo dan Manahati saja yang tidak tidak menunjukkan penampilan yang cukup baik untuk urusan patah-mematahkan serangan lawan. Nyaris semua pemain seperti itu. Jumlah interception Indonesia, 17 buah, memang lebih banyak dari Vietnam (10). Namun hal tersebut wajar mengingat Indonesia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bertahan.
Bukti paling jelas dari ketidakmampuan para pemain Indonesia untuk mematahkan serangan Vietnam secepat mungkin dan sedekat mungkin dari gawang Vietnam nampak pada menit ke-90. Sebelum melayang di atas gawang Kurnia Meiga, bola tendangan Nguyen van Quyet melewati sebuah perjalanan panjang.

Satu hal lain yang membuat derita Indonesia terlihat semakin nyata saja adalah kualitas eksekusi bola-bola mati Vietnam yang sangat baik. Hal tersebut, bersama dengan buruknya komunikasi antara Kurnia Meiga dan para pemain lainnya saat berusaha meraih bola-bola udara, membuat kualitas pertahanan Indonesia terlihat lebih buruk saja. Kiper Arema tersebut berusaha memotong umpan silang Vietnam justru saat para bek Indonesia sedang terlibat duel udara.
Di babak II, Meiga memperbaiki kecerobohan-kecerobohan kecil yang dilakukannya di babak I (yang salah satunya berimbas pada gol pertama Vietnam). Tapi apa yang diperlihatkan Meiga di babak I itu menceritakan beberapa hal yang perlu diperbaiki: komunikasi dan saling percaya di lini belakang.
Mendobrak Melalui Samsul Arif
Bermain cair di daerah lawan dengan tempo cepat dan lihai mengalirkan bola di lini depan adalah keunggulan Vietnam. Namun tim berjuluk Si Jersey Merah ini punya kelemahan menonjol pada lini belakang. Empat bek mereka kerap kerepotan jika harus menerima serangan balik cepat atau umpan-umpan terobosan. Gaya high-pressing yang diterapkan membuat 4 bek tersebut tidak bisa terlalu jauh berdiri dengan para gelandang mereka sehingga harus menerapkan garis pertahanan tinggi.
Pada laga-laga uji coba sebelumnya Vietnam sendiri juga kerap menerima serangan melalui umpan lambung. Tetapi pada serangan-serangan yang dilakukan lawan Vietnam itu, sang lawan kerap berhasil menembus pertahanan Vietnam karena selalu ada pemain kedua yang menerima bola liar hasil duel udara.
Saat dikalahkan oleh Palestina kekurangan pertahanan Vietnam ini masih dapat ditoleransi karena terkait kalah postur saat duel udara dan kemampuan bertahan udara yang memang lemah. Tetapi saat melawan Malaysia duel sebenarnya relatif seimbang. Bahkan pemain Malaysia juga tak selalu menang dalam adu duel tersebut. Tetapi para gelandang Negeri Jiran rajin untuk minimal menunggu bola muntah dan tidak turun terlalu dalam. Inilah yang sayangnya tak dimiliki oleh Indonesia pada laga ini.
Gol pertama Indonesia juga lahir berkat kesalahan barisan pertahanan Vietnam. Umpan silang yang dilakukan oleh Maitimo sebenarnya tidak terlalu berbahaya. Ada dua pemain Vietnam yang berdiri sebelum bola berada di kaki Zulham Zamrun. Intersepsi melalui sundulan pertama gagal dilakukan dan pemain kedua yang dibelakangnya juga tak mampu menjangkau. Zulham seakan mendapat jackpot dengan menguasai secara penuh bola di kotak penalti.
Pada babak kedua pelatih Alfred Riedl memasukan Samsul Arif dan mengganti Boaz Solossa yang bermain kurang maksimal. Meski memiliki gaya bermain yang tak jauh berbeda dengan mengandalkan kecepatan dan aksi menggiring bola, tetapi perbedaan ada pada Samsul yang rajin turun untuk menjemput bola. Samsul juga lebih dinamis bergerak dan tidak sestatis seperti yang diperlihatkan Boaz.
Penyerang Arema tersebut juga seringkali bermain melebar untuk memberi opsi serangan Indonesia. Termasuk gol penyama kedudukannya yang memanfaatkan lebar lapangan. Sebuah peran yang sebenarnya juga dapat dilakukan Boaz jika ia jeli melihat kesempatan tersebut pada babak pertama.
Gol yang juga dapat menjelaskan skema yang baik antara pembagian peran Samsul dan Van Dijk. Menerima umpan jauh dari belakang Van Dijk melakukan duel udara untuk memberi umpan pada Ridwan yang berada di sisi kanan. Bola memang gagal dikuasai penuh oleh Ridwan begitu juga bek Vietnam.
Tetapi Samsul yang berada di belakangnya dengan cepat mengambil alih. Ridwan kemudian melakukan akselerasi ke dalam untuk membuka ruang bagi Samsul, bola ditendang dan gagal ditangkap dengan baik oleh kiper.
Bahwa gol itu “terbantu” oleh blunder kiper Vietnam, setidaknya gol itu memperlihatkan tidak sia-sianya Riedl memberi menit bermain pada Samsul.
Kesimpulan
Jika hasil akhir yang dipakai sebagai patokan maka Alfred Riedl telah berhasil dalam laga kali ini. Satu poin penting sebagai modal pada laga selanjutnya. Namun pelatih asal Austria tersebut mempunyai beberapa PR yang harus diselesaikan. Kelemahan pertama adalah pada sistem pertahanan yang dibangun, walaupun melakukan “parkir bis” (terutama sepanjang 30 menit pertama) tetapi gawang Kurnia Meiga nyatanya dengan mudah digempur oleh lawan.
Para gelandang gagal menjadi pelindung yang baik untuk empat bek di belakangnya. Duet Maitimo dan Manahati selalu dalam dilema ketika bertahan. Merebut bola membuat mereka harus meninggalkan lubang di tengah jika gagal dilakukan. Sedangkan saat menunggu, rapat dengan bek malah memberi kesempatan penyerang lawan melakukan percobaan tendangan ke gawang.
Masalah lain adalah aliran bola yang tersendat dan membuat lini depan tak mendapatkan suplai. Duet penyerang Boaz dan Van Dijk masih memiliki kendala terkait pembagian peran. Van Dijk yang seharusnya menjadi targetman sekaligus tembok pemantul malah sering melebar karena posisinya bentrok.
Khusus untuk pertahanan susunan pemain pada sektor ini sebenarnya masih layak dipertahankan. Hanya saja kordinasi harus dapat ditingkatkan oleh Riedl. Komunikasi antara bek dan kiper juga penting terkait kepercayaan antar rekan satu tim agar tidak menciptakan suasana panik di dalam kotak penalti – juga agar Meiga tak kelewat gampang (dan akhirnya ceroboh) untuk buru-buru naik mengambil bola.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/roz)










































