Rotasi Pemain Muda Thailand dan Blunder Taktik Dollah Saleh

Piala AFF: Malaysia 2-3 Thailand

Rotasi Pemain Muda Thailand dan Blunder Taktik Dollah Saleh

- Sepakbola
Kamis, 27 Nov 2014 09:18 WIB
Rotasi Pemain Muda Thailand dan Blunder Taktik Dollah Saleh
AFP/Roslan Rahman
Singapura -

Pertarungan sengit terjadi pada lanjutan Piala AFF 2014 di Grup B ketika Malaysia berhadapan dengan Thailand di Stadion Jalan Besar Singapura. Aksi saling membalikkan kedudukan mewarnai pertandingan yang berakhir 3-2 untuk Thailand.

β€œHarimau Malaya” yang turun dengan formasi 4-4-2 , bermain dengan tempo tinggi dan memberikan tekanan pada tim β€œGajah Putih” sejak laga dimulai. Delapan pemain yang mencicipi gelar juara Piala AFF 2010 pun menjadi starter, termasuk Khairul Fahmi, Safiq Rahim dan Safee Sali.

Sementara itu Kiatisuk Senamuang melakukan perombakan besar-besaran. Hanya Kawin Thammasatchanan, Adisorn Promrak, Sarach Yooyen, Charyl Chappuis, Kroekrit Thaweekarn, dan Kirati Keawsombut yang kembali diberi kesempatan untuk bermain sejak menit pertama. Selebihnya diminta untuk duduk di bangku cadangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Posisi Artit Daosawang sebagai fullback kanan diisi oleh Narubodin Weerawatnodom. Di sisi lapangan yang lain, Chayapat Kitpongsritada memainkan peran fullback kiri yang sebelumnya dipercayakan kepada Peerapat Notchaiya. Adison Promrak yang sebelumnya berpasangan dengan Pravinwat Boonyong di jantung pertahanan kini bermain di samping Tanaboon Kesarat.

Satu tempat di depan barisan pertahanan, yang sebelumnya dimainkan oleh Prakit Deeporm, menjadi hak Sarawut Masuk. Chanathip Songkrasin, sementara itu, mengisi pos penyerang sayap kanan yang sebelumnya dipercayakan kepada Mongkol Tossakra.

Pekerjaan Thailand Dipermudah oleh Lawan

Walaupun tidak turun dalam formasi yang sama dengan pertandingan melawan Singapura, perubahan besar-besaran ini membuat Thailand bermain dengan gaya yang berbeda, terutama di babak pertama. Melawan Malaysia, Thailand lebih banyak memainkan bola pendek. Jarak antarlini dan jarak antarpemain juga tampak lebih dekat jika dibandingkan dengan kala bertanding melawan Singapura.

Pendekatan goal kick, bagaimanapun, tetap sama. Kawin Thammasatchanan tetap mengalirkan bola ke titik dekat, kepada Narubodin Weerawatnodom atau Chayapat Kitpongsritada. Sama dengan pendekatan tendangan gawang, penempatan banyak pemain di daerah pertahanan lawan juga masih diterapkan walaupun prosesnya berbeda.



Lewat grafis average position, terlihat jelas bagaimana Thailand menekan Malaysia. Praktis, hanya duet bek tengah yang benar-benar menghabiskan mayoritas waktu mereka di daerah permainan sendiri. Selebihnya berada di daerah permainan Malaysia atau berada dekat dengan garis tengah.

Namun permainan seperti itu ternyata tidak lantas membuat Thailand mudah mencetak gol. Walaupun sepanjang babak pertama mereka 13 kali berhasil melepaskan tembakan, hanya empat saja yang tepat sasaran. Dan pada akhirnya, hanya satu yang berbuah gol. Itu pun pada menit ke-43. Sebagai catatan, di pertandingan melawan Singapura Thailand sudah berhasil membobol gawang lawan pada menit kesembilan.

Adalah tekanan dari Malaysia yang membuat Thailand tidak mampu bermain dengan leluasa. Tak hanya menekan ketika tidak sedang menguasai bola, Malaysia tidak ragu untuk melakukan pelanggaran di titik-titik yang jauh dari gawang untuk menghilangkan momentum Thailand. Cara tersebut bukannya tanpa risiko. Pada babak pertama saja, Malaysia sudah melakukan sepuluh pelanggaran.

Selepas turun minum, Malaysia yang membutuhkan gol tambahan mulai berani keluar menyerang. Karenanya, pertahanan rapat dan berlapis serta tekanan terhadap lawan tidak lagi terlihat di babak kedua. Hal ini membuat pekerjaan Thailand menjadi relatif lebih mudah. Malaysia memang berhasil menemukan gol tambahan yang mereka cari. Namun ternyata satu gol tambahan untuk Malaysia berarti dua gol balasan dari Thailand.

Bermain menekan di babak pertama untuk kemudian keluar menyerang di babak kedua membuat para pemain Malaysia kehabisan tenaga lebih cepat ketimbang lawan mereka. Hal tersebut terlihat paling jelas dalam proses gol terakhir di pertandingan ini, gol kemenangan Thailand.



Sebelum pada akhirnya bersarang di gawang Khairul Fahmi, bola melewati sebuah perjalanan panjang yang bermula dari gawang Thailand. Namun tidak satupun pemain Malaysia berhasil menghentikannya.

Bek Melebar dan Tanpa Gelandang Bertahan Menjadi Bumerang Malaysia

Serangan para anak asuh Dollah Saleh bertumpu di kaki Safiq yang beroperasi di lini tengah. Pemain bernomor punggung 8 itu disokong oleh Shukor Adnan, gelandang senior yang membantu Safiq membangun serangan. Oleh keduanya, bola dialirkan kepada dua sayap yang kerap merengsek ke tengah.

Hal itu terlihat jika menilik peran Safiq yang menyentuh bola terbanyak yakni 55 kali, ditambah 44 passing dengan akurasi 81%. Adnan, sang tandem di lini tengah, berada tepat di belakangnya dengan dengan 41 kali sentuhan dan 36 passing. Akurasi passing Adnan pun cukup tinggi dengan rasio 80%.

Kedua sisi sayap Malaysia memiliki gerakan tanpa bola yang sangat baik. Pola serangan seperti itulah yang membuat mereka unggul terlebih dahulu di menit 28. Di tengah Safiq menyodorkan bola kepada Amri Yahyah, kemudian bola digiring hingga ke depan kotak penalti. Tembakan dari pemain yang juga sempat mencicipi juara AFF 2010 itu merobek gawang yang dijaga Kawin Thammasatchanan.

Kedua pemain sayap tim berkostum kuning-hitam ini memang bermain cukup apik. Namun rupanya hal itu ternoda oleh pertahanan Malaysia yang agak melebar. Ketenggrinasan Mahali Jasuli yang kerap naik kedepan berdampak buah simalakama.

Melalui serangan balik cepat, kawasannya ditembus oleh Charyl Chappuis. Bek tengah Afif Amiruddin yang terpancing menutupi kekosongan. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan memberikan umpan datar yang disontek dengan baik oleh Adisak Kraisorn. Gol itulah yang membuat Malaysia lebih gencar membangun serangan pada babak kedua.

Pola serangan mereka masih sama seperti babak kedua. Namun gol pembalik keunggulan kali ini berbeda dengan seperti yang terjadi kepada Yahya. Pasalnya bukan hanya pemain sayap saja yang baik dengan gerakan tanpa bolanya. Akan tetapi peran dua strikernya, Safee dan Norshahrul Idlan, juga sanggup menerapkan gerakan tanpa bola lebih baik. Kedua penyerang ini jarang berada di dalam kotak penalti. Justru bermain lebih ke luar, untuk membuka ruang. Tendangan dari kotak 16 yang dipakai oleh Malaysia pun hanya terjadi tiga kali saja.

Gol kedua Malaysia yang dicetak pada menit 61 berkat pergerakan Norshahrul yang bermain melebar mencari ruang. Setelah mendapatkan passing dari Zubir Azmi di sisi kiri, pemain nomor punggung 9 itu menarik pemain bertahan Thailand ke ujung kiri. Dari situ dirinya melepaskan passing kepada Safiq yang digiringnya dan melepaskan tendangan keras.

Usaha Adison Promrakht untuk menutup ruang tembak tidak berhasil sehingga bola tetap masuk ke gawang dan mengubah skor kembali unggul untuk Malaysia. Thailand pun kembali berusaha keras untuk membalikan keadaan.

Kelemahan Malaysia bukan hanya di pertahanan yang melebar. Akan tetapi tidak adanya gelandang bertahan murni, membuat Thailand dengan leluasa beroperasi di depan kotak penalti ketika melancarkan serangan.

Adnan yang saat itu berada di lini tengah lebih sering membantu Safiq dalam membagi bola, sehingga terlambat untuk menutupi gerak gelandang serang yang dioperasikan oleh Chappuis. Sepanjang pertandingan pun kapten tim Malaysia itu hanya melakukan satu kali tekel.

Tanpa gelandang bertahan murni inilah yang akhirnya melahirkan perbedaan. Sebuah keputusan taktikal Dollah Saleh yang bisa dibuktikan keliru oleh anak asuh Senamuang.

Pemain Inti Atau Bukan, Pemain Thailand Bermain Baik

Sebagai salah satu pemain yang tetap diberi kepercayaan untuk tampil sebagai starter di pertandingan kedua, Sarach Yooyen berhasil membayar kepercayaan Kiatisuk Senamuang dengan baik. Memainkan peran sebagai jembatan antara lini pertahanan dan barisan penyerang, Yooyen kembali bermain gemilang. Akurasi passing-nya terhitung sangat baik: 91%. Tak hanya itu, ia juga berhasil melepaskan tiga tembakan dan menciptakan dua peluang.

Charyl Chapuis, sementara itu, lagi-lagi sukses menempatkan dirinya sendiri di daftar nama pencetak gol. Ia pula yang membantu Adisak Kraisorn mencetak gol pertama Thailand lewat sebuah umpan silang mendatar yang sangat manis, menjelang berakhirnya babak pertama.

Selain kepada para pemain utama yang terus menerus diberi kepercayaan, pujian juga layak dialamatkan kepada para pemain yang baru dipercaya menjadi starter di laga ini dan mereka yang masuk sebagai pemain pengganti.

Chanathip Songkrasin yang menggantikan peran Mongkol Tossakrai tidak tampil mengecewakan. Malah, Songkrasin boleh dibilang lebih baik ketimbang seniornya yang berusia enam tahun lebih tua. Tidak terlihat rasa tegang dalam diri Songkrasin walaupun ia baru berusia 21 tahun.

Sepanjang laga, Songkrasin merepotkan pertahanan Malaysia dengan kemampuan olah bolanya yang terhitung bagus. Delapan tembakan, yang salah satunya tepat sasaran, ditambah dengan empat peluang yang ia ciptakan jelas merupakan sebuah catatan yang baik. Apalagi, ialah aktor utama dibalik gol kedua Thailand. Sebelum menyodorkan bola kepada Chapuis, Songkrasin mengacak-acak kotak penalti Malaysia.

Adisak Kraisorn, sementara itu, berhasil menjadi pembeda walaupun baru masuk ke lapangan pada menit ke-42. Satu menit sejak menginjakkan kaki di lapangan, Kraisorn berhasil mencetak gol penyeimbang. Pada menit ke-90, ia mencetak gol penentu kemenangan. Hebatnya, Kraisorn hanya membutuhkan dua tembakan untuk mencetak dua gol tersebut.

Menyenangkan melihat bagaimana Senamuang membangun tim. Tidak hanya β€œmeninggalkan” Teeratep Winothai atau Teerasil Dangda yang mematikan, dia bahkan berani merotasi pemain-pemain yang dibawanya dalam dua laga pertama Piala AFF 2014 ini. Lebih hebat lagi, pemain-pemain muda itulah yang dia maksimalkan. Dan mereka, para pemain muda Thailand ini, sama sekali tak terlihat canggung.


===

* Ditulis oleh @panditfootball . Profi lihat di sini

(a2s/mfi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads