Masih belum ada tim yang berhasil mengalahkan Chelsea hingga pekan ke-14 Liga Inggris. Tottenham Hotspur yang mencoba memberi perlawanan justru takluk tiga gol tanpa balas di Stamford Bridge.
Tak hanya pulang dengan tangan hampa, Spurs juga kalah dalam segi taktik dan permainan. Sepanjang 90 menit laga berjalan, anak asuh Mauricio Pochettino ini terus didikte oleh skema yang dijalankan Jose Mourinho.
Chelsea sebenarnya bermain tanpa pencetak gol terbanyak mereka, Diego Costa. Ia harus absen karena hukuman akumulasi kartu. Tetapi tak sepenuhnya ini menjadi keuntungan bagi tim tamu karena mereka juga punya sederetan nama yang tidak dalam kondisi fit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan Bertumpu pada Harry Kane
Sejak awal laga Tottenham langsung tancap gas dengan bermain menyerang. Umpan pendek satu-dua diperagakan Erik Lamela dkk. Serangan cepat juga dibangun dari kedua sayap The Lilywhites, dengan dominasi dari sisi kiri.
Bola yang sudah di giring ke depan, tidak lantas ditembakkan ke gawang, tapi lebih sering diberikan kepada Harry Kane. Ben Davies yang berposisi sebagai bek kiri menjadi inisiasi serangan Spurs. Ia membawa bola minimal hingga setengah lapangan baru kemudian disodorkan kepada striker 21 tahun tersebut.
Tottenham yang lebih menonjol di awal-awal babak pertama juga sempat membuat kaget Chelsea. Dua peluang berbahaya tercipta yang juga dilancarkan oleh Kane. Tujuh menit laga berjalan, sepakannya membuat tiang gawang kiri Thibaut Curtois bergetar. Peluang kedua terjadi pada menit 11, namun tendangannya melebar tipis ke sisi kiri gawang.
Meski punya posisi sebagai ujung tombak seorang diri, Kane termasuk pemain paling aktif di sektor serangan Spurs. Ia terus bergerak melebar untuk mencari ruang agar dapat menerima bola. Maklum, lini tengah Chelsea terlalu kuat untuk dilewati tanpa memancing mereka ikut bergerak melebar.
Akan tetapi sepak terjang Kane hanya berhenti sampai di situ saja. Selepas 15 menit laga berjalan peran pilar Inggris U-21 ini tidak terlihat lagi.
Bukan tanpa alasan, pemain bernomor 18 ini kurang mendapatkan suplai bola. Pressing dengan memberikan beberapa tekel oleh para pemain tengah Chelsea, berhasil menghentikan laju bola. Tanpa mendapat suplai bola, Kane tidak mampu banyak beraksi.
Poros gelandang Nemanja Matic dan Cesc Fabregas bekerja sangat baik. Tekel dan intersepsi yang dilancarkan membuat trio Christian Eriksen, Aaron n, dan Lamela yang bertindak sebagai gelandang serang Spurs, mati kutu. Kedisiplinan juga dimiliki oleh dua bek sayap The Blues, terutama Cesar Azpilicueta. Pemain asal Spanyol ini memiliki jumlah tackle terbanyak setelah Fabregas. Ia melancarkan empat tekel dan empat intersep dengan rasio 80 %.
Selain itu, faktor lain yang menyebabkan Spurs gagal konsisten menguasai bola dan justru tertekan adalah seringnya mereka melakukan kesalahan umpan.
Atas kurangnya suplai bola ke depan, maka Kane hanya punya kesempatan menyentuh bola 43 kali. Sebagai motor serangan, dirinya kalah jauh oleh 101 sentuhan Nabil Bentaleb. Bahkan oleh peman belakang Federico Fazio yang sibuk menghalau serangan balik Chelsea.

[Grafik Aksi Harry Kane. Sumber: Squawka]
Drogba Mengubah Cara Menyerang Chelsea
Di kubu Chelsea, kesampingkan dulu Diego Costa yang memang absen karena cedera. Karena the real legend Didier Drogba yang mengambil alih ketajaman timnya sejak awal laga.
Faktor usia membuat permainan striker Pantai Gading itu berbeda dengan empat tahun lalu, saat menjadi top skorer musim 2009/2010. Maka peran berbeda dilakoni oleh Drogba dalam memporak-porandakan jantung pertahanan Hugo Lloris dkk kali ini.
Sejak mendapatkan sentuhan pertama pemain bernomor punggung 11 itu tidak gegabah untuk berusaha mencetak gol. Akan tetapi menjadi pemantul bola yang baik, bagi Eden Hazard, Oscar atau Willian. Terkadang kepada Fabregas yang muncul dari lini kedua.
Dari 24 sentuhan dan 12 passing, Drogba membuahkan dua umpan penting dalam serangan Chelsea. Satu di antaranya merupakan assist untuk Eden Hazard.

[Grafik Aksi Didier Drogba. Sumber: Squawka]
Fungsi Drogba sebagai pemantul bola, sangat vital pada kejadian gol pertama. Assist yang diberikan kepada Hazard, tidak lepas dari pantulan bola dari pemain 36 tahun tersebut.
Saat gol terjadi, ia menjadi fasilitator operan satu dua Hazard. Terlihat jika Drogba di dalam kotak pinalti, tidak melakukan gerakan ke dalam. Justru ia hanya diam tertahan, sehingga Fazio terpancing untuk menjaganya dari belakang.
Rupanya upaya tersebut merupakan perannya sebagai pemantul bola di depan kotak penalti lawan. Operan Hazard kepadanya, dikembalikan lagi. Kemudian pemain bernomor 10 itu bergerak kedalam dengan posisi bebas di dalam kotak 16 karena Lennon mengira Drogba akan menembak langsung. Nyatanya Hazard menjadi orang terakhir, sehingga bola tembakannya masuk ke jala gawang Lloris.
Sedangkan prosesi terjadinya gol kedua, merupakan buah kecerdikan penyerang gaek Pantai Gading itu. Saat itu mungkin Lloris dkk mengira jika Drogba akan kembali menjadi pemantul bola, saat momentum tersebut. Sehingga dirinya hanya dikawal diantara Jan Vertonghen dan Ben Davies. Maka jarak yang cukup untuk menerima terobosan dari Oscar, sangat dimanfaatkan dengan baik.
Pada awalnya Oscar menarik hingga tiga pemain spurs. Memanfaatkan celah, pemain asal Brasil ini memberikan umpan terobosan kepada Drogba. Nyatanya striker kesayangan Mourinho itu langsung berbalik badan. Vertonghen dan Davies yang memberikan jarak, justru terkecoh dan mesti mengejar Drogba merengsek masuk ke depan gawang. Kemudian tendangan datar menjebol Lloris untuk kedua kalinya.
Para gelandang Chelsea melakukan umpan 1-2 dengan sabar sembari mencari kesempatan bek Spurs lengah dalam mengawal Drogba. Kemudian memanfaatkannya sebagai sosok pemantul maupun targetman. Cara ini terus menerus dilakukan oleh Chelsea, setidaknya sepanjang babak pertama.
Kombinasi Serangan Balik dan Pertahanan Rapi Chelsea
Sudah unggul dua gol pada babak pertama serta menguasai penuh pertandingan membuat Mourinho sepertinya mengubah gaya mainnya selepas jeda. Anak asuhnya tak lagi aktif menekan di daerah lawan, meski masih melakukan tekel-tekel keras namun hal tersebut dilakukan di daerah sendiri sembari menunggu.
Walaupun terkesan bermain bertahan Chelsea tetap berusaha menjauhkan para gelandang Spurs dari kotak penalti. Formasi 4-1-4-1 diterapkan oleh Mourinho, dengan begitu poros ganda justru berada di belakang striker. Hal ini membuat pertahanan tuan rumah kuat tetapi dengan garis pertahanan yang tak terlalu dalam.
Caranya adalah dengan meminta Fabregas dan Oscar aktif melakukan aksi pertahanan. Bentaleb, Lamela, dan Mason tidak dibiarkan memegang bola lama-lama. Kedua nama terakhir yang disebutkan bahkan harus diganti oleh Pochettino karena tak bermain maksimal. Jika lolos masih ada Matic di belakang yang siap menyapu bola, uniknya ia banyak membuang bola ke kedua sayap Chelsea dan bukannya ke tengah.
Hal tersebut bukannya tanpa alasan karena di kedua sisi lapangan Chelsea sudah berdiri dua βsprinterβ yakni Willian dan Hazard yang siap melakukan serangan balik. Setelah berlari sembari membawa bola maka di kotak penalti sudah bersiap Remy yang menggantikan Drogba serta Oscar.

[Grafik Umpan Willian dan Hazard. Sumber: Squawka]
Kesimpulan
Chelsea masih terlalu tangguh untuk tim sekelas Tottenham Hotspur. Laga sebenarnya bisa berlangsung ketat atau paling tidak berakhir dengan skor tipis jika Pochettino punya banyak variasi serangan. Ia terlalu mengandalkan Harry Kane seorang diri di lini depan, saat berhasil dilawan Spurs juga hanya sanggup melakukan aksi umpan silang yang mudah dipatahkan.
Sementara itu Mourinho tampil dengan skema yang jempolan sekaligus membuktikan bahwa timnya memang layak bertengger di puncak tanpa terkalahkan. Absennya Costa juga tidak menjadi ganjalan karena kehadiran Drogba justru membuat Chelsea tampil beda.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini
(a2s/krs)











































