Pertahanan Buruk 'Si Merah' Memuluskan Langkah Basel

Liga Champions: Liverpool 1-1 Basel

Pertahanan Buruk 'Si Merah' Memuluskan Langkah Basel

- Sepakbola
Rabu, 10 Des 2014 15:48 WIB
Pertahanan Buruk Si Merah Memuluskan Langkah Basel
REUTERS/Phil Noble
Jakarta -

Kerinduan Liverpool akan Liga Champions akhirnya terkikis sedikit demi sedikit. Dari awal mereka sudah kesulitan menghadapi lawan “mudah” seperti Ludogorets, apalagi tim bertabur bintang, Real Madrid.

Tadi malam mereka pun harus turun tahta ke “Liga Malam Jumat”, Liga Europa, setelah hanya bermain imbang 1-1 dengan juara Swiss, Basel.

Liverpool memang membutuhkan kemenangan untuk lolos ke babak 16 besar. Tetapi sepakan Fabian Frei pada menit ke-25 justru mengawali mimpi buruk mereka. Jalan Liverpool semakin terjal saat pertandingan sudah berjalan satu jam. Lazar Markovic, yang baru masuk di babak ke dua menggantikan Rickie Lambert, harus diusir oleh wasit Bjorn Kuipers.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah gol tendangan bebas dari Steven Gerrard di menit ke-81 sempat menghidupkan asa Liverpool, tetapi hal tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan The Reds ke babak perdelapanfinal.

Wajib Menang


[Susunan pemain Liverpool dan Basel. Sumber: WhoScored.com]

Gerrard, yang diistirahatkan akhir pekan lalu, kembali dipasang menjadi starter oleh Brendan Rodgers. Mengingat kebutuhan untuk menang, sang kapten diberi peran yang lebih menyerang dan ditempatkan di belakang striker, Lambert.

Berarti ini meninggalkan Joe Allen dan Lucas pada posisi di depan empat bek, dengan Jordan Henderson dan Raheem Sterling di sisi kanan dan kiri. Dengan susunan pemain seperti ini, permainan melebar juga tampak akan menjadi kunci bagi dua fullback mereka.

Sedangkan kubu tim tamu, mereka hanya membutuhkan hasil imbang untuk lolos (dengan asumsi Ludogorets tidak akan menang besar melawan Madrid – yang rasanya tidak perlu berbesar harapan).

Bek berpengalaman asal Argentina, Walter Samuel, disimpan di bangku cadangan dan baru bermain pada babak kedua. Gelandang Chile, Marcelo Diaz, dan striker muda, Bréel Embolo, juga bernasib sama dengan Samuel.

Pelatih Paulo Sousa memang seperti menginstruksikan timnya untuk agak bertahan di babak pertama ini. Dengan mengandalkan banyak pemain muda, mereka pasti berencana untuk memainkan permainan klise dalam sepakbola ketika tim sedang berkunjung ke kandang lawan: serangan balik. Meskipun yang terjadi justru sebaliknya, ia dianggap telah berhasil meladeni permainan Liverpool yang seperti tanpa arah.

The Kop Terlambat Panas

Di babak pertama Liverpool berjuang untuk menciptakan peluang, tetapi beberapa kali mereka selalu terlihat terburu-buru. Meskipun di babak ini mereka lebih menguasai bola (sebanyak 56%), mereka tidak sering mengunjungi pertahanan Basel.

Lambert sebagai striker tunggal tampak terdampar sendirian dan hampir tidak mendapatkan dukungan. Di babak pertama ini Liverpool benar-benar bermain buruk dan sama sekali tidak memiliki peluang emas.

Ini ditunjukkan dengan jumlah operan ke daerah pertahanan lawan. Meskipun angka yang dicetak cukup banyak, yaitu 80 operan, tetapi hanya 45 operan yang berhasil tepat sasaran. Jika dilihat lebih rinci juga, operan mereka yang menuju arah tengah (menuju Lambert) dan ke dalam kotak penalti hampir selalu gagal.

Begitupun dengan jumlah tembakan ke gawang. Liverpool hanya mampu menciptakan 3 tembakan dengan dua di antaranya tepat sasaran, itupun keduanya jatuh tepat di tengah-tengah pelukan kiper. Bandingkan dengan Basel yang pada babak pertama berhasil menciptakan 7 tembakan.


[Perbandingan grafik operan ke attacking third Liverpool pada babak pertama dan babak ke dua. Sumber: FourFourTwo Stats Zone]

Penampilan mereka memang membaik setelah turun minum. Alberto Moreno dan Markovic dimasukkan untuk menambah kecepatan. Jumlah operan ke pertahan Basel pun bertambah, dengan 90 operan (64 di antaranya tepat sasaran). Tapi setelah Markovic diusir, comeback tampak semakin menjadi fatamorgana bagi “Si Merah”.

Liverpool memang berhasil membobol gawang kiper Tomas Vaclik melalui gol sang kapten. Gol Gerrard tersebut sempat memberi inspirasi dan setelah itu permainan The Reds semakin membaik, terutama lewat upaya yang gagal dimanfaatkan oleh Martin Skrtel dan Henderson di injury time. Namun, itu semua sudah terlambat dan gol kedua pun tidak kunjung datang. Sekarang mereka hanya bisa menanti bulan Februari ketika kompetisi akan berlanjut ke Liga Europa.

Pertahanan “Gaji Buta” dari Liverpool

Satu hal yang membuat kita semua kebingungan mungkin adalah betapa sulitnya Liverpool menjaga kesucian gawang mereka. Musim ini saja bisa dihitung dengan jari berapa kali Liverpool memperoleh clean sheet.

Penampilan Simon Mignolet yang sangat menjanjikan di Sunderland, tidak tercermin di Liverpool. Bek pun beberapa kali Rodgers kutak-kutik untuk dipasangkan. Malam ini, Martin Skrtel dan Dejan Lovren masih saja belum padu.


[Perbandingan grafik tekel dan intersep dari kombinasi Skrtel-Lovren. Sumber: Squawka]

Pada babak pertama bahkan Skrtel dan Lovren tidak melakukan satu pun tekel. Di babak kedua juga sebenarnya tekel mereka tidak terlalu banyak untuk ukuran bek tengah, yaitu 6 tekel (3 berhasil) yang seluruhnya dilakukan oleh Lovren. Mereka berdua seperti hanya terfokus pada clearance dengan 12 sapuan bola yang berhasil mereka lakukan sepanjang pertandingan.

Pada proses gol di bawah ini juga kita bisa melihat bagaimana pertahanan Liverpool tidak memberikan tekanan kepada Basel. Mereka cenderung membiarkan lawan memiliki ruang yang cukup luas untuk mengolah bola.


[Opsi jalur operan Frei yang dibiarkan bebas]

Gambar pertama menunjukkan bahwa minimnya tekanan kepada Frei, dan tidak adanya pemain Liverpool yang menjaga Shkelzen Gashi dan Luka Zuffi.




[Fokus pertahanan Liverpool dan ruang leluasa untuk Frei]

Sorotan juga diberikan ketika pertahanan The Kop tidak cepat tanggap kepada bahaya yang datang dari lini ke dua, terutama pada gol pertama. Seperti terlihat di atas, setelah mengoper kepada Zuffi, Frei dibiarkan tak terkawal. Bahkan ia memiliki ruang yang sangat leluasa (tanpa tekanan) ketika ingin menerima bola dan saat akan menembak ke gawang Mignolet.

Basel yang Percaya Diri

Untuk Basel, mereka bisa senang dengan kinerja mereka semalam. Mereka memang hanya membutuhkan hasil imbang untuk lolos, tapi mereka jelas percaya diri untuk mendapatkan tiga poin.


[Grafik ball recovery dan take-on dari Basel. Sumber: FourFourTwo Stats Zone]

Sousa memberikan ancaman nyata di lini depan dan kenyataan menunjukkan bahwa permainan klise mereka tampak sangat berbahaya pada serangan balik. Tidak mengejutkan untuk melihat mereka memimpin, kita semua seperti sedang menunggu “kapan” saja, bukan “bagaimana”.

Kepercayaan diri mereka sangat ditunjukkan pada seringnya mereka melakukan perebutan bola dan juga take-on seperti pada gambar di atas.


[Grafik chances created dan tembakan ke gawang dari Basel. Sumber: Squawka]

Mereka memiliki peluang lebih banyak untuk mencetak gol kedua, tapi jodoh tidak mempertemukan bola dengan jaring gawang. Basel juga hampir membuat Liverpool membayar mahal akibat mereka menumpuk pemain di depan pada injury time.

Namun, mereka berhasil bertahan (kendati agak terlihat gugup) selama empat menit waktu tambahan untuk mencapai babak 16 besar. Setelah membuktikan diri malam ini, tidak banyak tim yang ingin menghadapi mereka pada perdelapan final nanti.


[Grafik pertahanan Fabian Schar. Sumber: FourFourTwo Stats Zone]

Ada banyak pemain Basel yang tampil baik semalam, tapi kehadiran Fabian Schar sangat diandalkan di tengah pertahanan. Dia terus membuat Lambert jinak serta mengusir ancaman bertubi-tubi yang terlambat dari Liverpool di injury time.

Kinerja Wasit

Bjorn Kuipers akan mendapatkan banyak cibiran dari fans Liverpool akibat keputusannya mengusir Markovic. Namun, memang pemain Serbia itu tidak memberinya pilihan lain. Reaksi Behrang Safari (pemain yang terpukul oleh Markovic) mungkin berlebihan, tetapi jika kita simak baik-baik pada tayangan ulang, memang sebenarnya ada unsur kesengajaan dari Markovic.

Ia juga sebenarnya tidak harus melakukan pukulan (atau tamparan, atau cakaran, tergantung bagaimana kita melihatnya) kepada Safari. Jelas-jelas ia sendiri yang sedang menguasai bola. Di luar keputusan kontroversial itu, Kuipers telah memimpin pertandingan dengan baik.

Kesimpulan

Meskipun Liverpool sudah bermain dengan sangat baik di akhir pertandingan, mereka tetap tidak dapat berpaling dari hasil akhir. Basel membuat ancaman yang lebih banyak memiliki beberapa peluang yang layak untuk menghasilkan gol.

Pertandingan memang terus dalam tempo yang sama setelah turun minum. Basel juga tetap memiliki peluang yang lebih banyak untuk mencetak gol terutama setelah Markovic diusir.

Liverpool tetap harus banyak belajar tentang bertahan yang baik. Gol tendangan bebas yang indah dari Gerrard memberikan harapan ketika pertandingan memasuki 10 menit terakhir, tapi gol kedua tak kunjung datang dan Basel memang menunjukkan diri bahwa mereka pantas berada di babak 16 besar.


====

* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini

(cas/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads