Tanpa Gegenpressing, Dortmund Ditumbangkan Bremen

Liga Jerman: Bremen 2-1 Dortmund

Tanpa Gegenpressing, Dortmund Ditumbangkan Bremen

- Sepakbola
Minggu, 21 Des 2014 17:56 WIB
Tanpa Gegenpressing, Dortmund Ditumbangkan Bremen
Getty Images/Stuart Franklin
Jakarta -

Di pertandingan terakhir Hinrunde (putaran pertama) Bundesliga musim ini, Ballspielverein Borussia Dortmund berpeluang mengangkat diri mereka dari tempat yang kurang terhormat. Namun mereka gagal memanfaatkan kesempatan tersebut.

Sebagai hasilnya, kekalahan 1-2 membuat Dortmund harus rela menghabiskan masa jeda kompetisi di zona degradasi untuk kali pertama sepanjang sejarah.

Bertandang ke Weserstadion, Dortmund tidak nampak seperti tim tamu. Pasukan Juergen Klopp menguasai pertandingan; melakukan segala hal lebih banyak ketimbang tuan rumah, Sportverein Werder Bremen. Segalanya, kecuali mencetak gol.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Semua ini dapat terjadi karena Dortmund nampak bermain sangat hati-hati dan seolah kurang inspirasi. Ketika bola berada dalam penguasaan mereka, Dortmund seperti tak tahu harus melakukan apa. Kondisi tersebut diperparah dengan pendekatan tanpa bola. Gegenpressing (counter-pressing), yang selama ini jadi ciri dari Dortmund, sudah tidak ada.
Β 
Bremen, sementara itu, meraih keberhasilan mereka dari kemauan untuk menekan lawan. Pasukan Viktor Skrypnyk juga tidak takut mengambil risiko setiap kali keluar menyerang. Lewat penerapan dasar-dasar permainan sepakbola, Bremen bermain efektif dan berhasil meraih tiga angka tambahan.

Walaupun kemenangan ini hanya mampu membawa Bremen naik ke peringkat 16, mereka boleh berbangga diri karena telah menuai hasil dari usaha.

Teknik Dasar dan Permainan Kolektif vs Semangat Minim dan Inspirasi dari Kapten

Gol pertama Bremen adalah sebuah paragraf pembuka yang dengan sempurna merangkum semua cerita mengenai pertahanan Dortmund di sepanjang laga. Gol Davie Selke di menit kedua tercipta dari apa yang di Indonesia dikenal sebagai passing-gerak. Sederhana. Pemain yang memberikan umpan kepada rekan satu tim tidak diam menyaksikan bola kirimannya bergulir. Setelah memberikan umpan, siapapun bergerak mencari ruang. Entah untuk menerima kembali bola via umpan satu-dua, atau semata menarik perhatian lawan saja.

Sepanjang laga, cara tersebut berhasil dipraktikkan dengan baik oleh Bremen. Semuanya nampak begitu mudah untuk Bremen karena para pemain Dortmund terlihat malas memberi tekanan.

Jika gol pertama adalah sebuah rangkuman cerita mengenai pertahanan Dortmund, gol kedua Bremen adalah penekanan terhadap pernyataan yang menyebutkan bahwa pertahanan Dortmund memang kacau; sekaligus pembuktian bahwa Selke dapat diandalkan.

Marcel Schmelzer terlambat pulang ke posnya di sisi kiri pertahanan Dortmund sehingga Mats Hummels harus bergerak menjauh dari kotak penalti demi menutup lubang yang diciptakan oleh Schmelzer. Dengan mudah Selke melewati Hummels sebelum mengirimkan umpan silang datar ke kotak penalti Dortmund. Sial bagi Dortmund, Sebastian Kehl dan Oliver Kirch (dua gelandang tengah Dortmund) datang terlambat untuk menutup posisi bek tengah yang ditinggalkan Hummels. Di saat yang bersamaan, Sebastian Ginter, pasangan Hummels di jantung pertahanan, tidak memberi cukup banyak gangguan kepada penyerang lubang Bremen, Fin Bartels.

Kekacauan semakin nyata terasa karena Mitchell Langerak, penjaga gawang Dortmund, juga gagal memotong umpan silang yang dikirimkan oleh Selke. Tak hanya itu, Langerak pun tak berhasil menepis bola hasil tendangan Bartels. Bremen unggul dua gol setelah satu jam pertandingan berjalan.

Tujuh menit setelah Bremen menggandakan keunggulan, Hummels menunjukkan bahwa dirinya pantas menjadi kapten. Mengandalkan pengalaman yang ia miliki, Hummels berhasil melepaskan diri dari kawalan Theodor Gebre Selassie. Berdiri bebas untuk menyambut kiriman bola dari sepak pojok, Hummels berhasil memperkecil keunggulan Bremen.

Gol Hummels pada akhirnya tidak berhasil menyelamatkan Dortmund. Bola sundulannya hanya mampu menginspirasi Dortmund untuk melakukan perlawanan. Namun itu saja ternyata tidak cukup.

Tanpa Gegenpressing Dortmund, Bremen Leluasa Kembangkan Keterbatasan

Dibandingkan Dortmund, Bremen memang lebih sedikit menghabiskan waktu dengan bola.Namun Bremen tetap berhasil menemukan cara untuk mencetak lebih banyak gol dari lawan. Tidak ada rahasia ataupun misteri di balik semua ini. Hanya ada kerja keras dan efektivitas.

Untuk urusan jumlah umpan di dan/atau ke area final third lewat open play, Bremen tidak lebih baik ketimbang Dortmund. Walau demikian Bremen tetap mampu menciptakan enam peluang dari umpan-umpan yang mereka buat di dan/atau ke area final third lewat open play. Jumlah peluang yang dibuat Bremen memang sama banyak dengan jumlah peluang yang diciptakan oleh Dortmund. Bedanya, tidak ada peluang Dortmund yang berbuah gol. Bremen, sementara itu, berhasil mencuri dua gol.

Tak hanya efektif, Bremen juga kreatif. Mereka memaksimalkan apapun yang mereka miliki untuk menebar ancaman bagi Dortmund; termasuk kesalahan yang dibuat lawan.

Bremen menekan Dortmund bukan untuk membuat Dortmund gagal mengembangkan permainan. Bremen melakukan hal tersebut untuk membuat Dortmund melakukan kesalahan. Ketika Bremen mampu memotong umpan atau merebut bola, mereka langsung melancarkan serangan balik cepat.



Karena alasan ini, Bremen tidak bertahan di kedalaman. Karena semakin dalam mereka bertahan, semakin jauh jarak yang harus ditempuh untuk mencetak gol melalui serangan balik. Bremen terlihat tinggi menekan, dan mereka terbukti melakukan pendekatan yang tepat.

Tidak seperti Bremen, Dortmund tidak bermain cepat dan efektif. Karenanya tak mengherankan jika Dortmund hanya mampu mencetak gol dari sepak pojok.

Lebih buruk dari itu, Dortmund tidak terlihat bersemangat. Ketika tidak menguasai bola, Dortmund tidak nampak menunjukkan tekanan yang pada dua musim lalu berhasil membawa mereka ke final Champions League. Jika ada yang tertinggal dari Gegenpressing yang termahsyur itu, hal tersebut adalah kebersamaan ketika bertahan maupun menyerang. Tapi tanpa intentitas dalam menekan, semua itu nampak tidak berarti.

Selain tidak cepat, tidak efektif, dan tidak intens dalam menekan, Dortmund juga tidak kreatif. Melihat para pemain Dortmund mengumpan bola ke arah samping atau ke belakang bukanlah pemandangan langka di pertandingan semalam.

Ilkay Guendogan yang kreativitasnya begitu diharapkan nampak seperti miskin ide. Ia juga berkali-kali terlihat menempatkan diri di posisi yang tidak ideal. Selepas menit ke-75, barulah ia nampak hidup dan karenanya berhasil membuat serangan Dortmund begitu mengancam.

Wolf dan Langerak: Keluar Area untuk Dua Alasan Berbeda

Grafis heatmap kedua penjaga gawang menunjukkan bahwa baik Raphael Wolf maupun Mitchell Langerak sama-sama cukup banyak beraksi di luar kotak penalti. Hal ini tidak serta merta terjadi karena keduanya pengikut tren sweeper-keeper. Wolf dan Langerak terlihat cukup sering meninggalkan gawang mereka untuk dua alasan yang berbeda.



Wolf dapat leluasa menerima umpan dari para outfield player karena ia memiliki apa yang dibutuhkan untuk nyaman mengontrol bola sebelum melepasnya kembali. Bahkan di luar kotak penalti, Wolf terlihat santai melakukannya karena Bremen memang tidak menerima tekanan dari Dortmund. Tidak ada Gegenpressing.

Langerak berkali-kali meninggalkan gawang untuk menyapu ancaman yang datang. Di pertandingan ini, lini belakang Dortmund nampak begitu mudah dieksploitasi lewat umpan-umpan terobosan. Kondisi ini memaksa Langerak meninggalkan gawangnya.
Β 
Sepanjang pertandingan, Langerak memang hanya terhitung satu kali berhasil mementahkan tembakan. Namun ia tidak serta merta dapat dikatakan bermain buruk. Wolf mengamankan gawangnya dengan menepis, menangkap, dan meninju bola. Langerak berbeda. Ia melindungi gawang Dortmund dengan cara berlari keluar area, menyapu ancaman-ancaman yang datang. Jika Langerak tidak melakukan hal ini, Dortmund pasti sudah kebobolan lebih banyak. Atau setidaknya, Bremen pasti sudah memiliki lebih banyak tembakan.

Kesimpulan
Hampir kehabisan kata untuk menjelaskan kekalahan Dortmund ini. Absennya intensitas dalam menekan lawan, yang dulu pernah berhasil dipraktikkan dan begitu mematikan, sudah dikeluhkan oleh banyak orang sejak berbulan-bulan lalu. Gegenpressing sudah mati. Anehnya, ini masih saja berlanjut, dan terus berlanjut. Dari satu laga ke laga berikutnya.

Bremen, sebagaimana tim-tim lain yang berhasil mempecundangi Dortmund sebelumnya, dengan baik mengeksploitasi kendornya intensitas Dortmund dalam menekan lawan yang sedang menguasai bola. Mereka dengan cukup baik memaksimalkan hal itu tiap kali menguasai bola untuk mendobrak pertahanan Dortmund.

Hampir tak terbayangkan oleh pengamat yang paling jeli sekali pun jika Dortmund bisa terbenam di zona degradasi setelah musim berjalan separuh. Tapi ini bukan mimpi buruk, ini merupakan kenyataan buruk. Buruknya itu benar-benar nyata, dan bukan mimpi.

Jeda kompetisi sepanjang enam pekan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Klopp. Tidak ada jaminan bahwa mereka dengan serta merta akan membaik di putaran dua. Mereka harus melakukan segala daya upaya untuk memperbaiki penampilan jika ingin bertahan di Bundesliga. Segalanya. Termasuk, jika diperlukan, membeli pemain-pemain baru yang dianggap bisa menambal kebocoran.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(roz/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads