Villa Paksa MU Menyerang Melulu Lewat Umpan Silang

Liga Inggris: Aston Villa 1-1 MU

Villa Paksa MU Menyerang Melulu Lewat Umpan Silang

- Sepakbola
Minggu, 21 Des 2014 18:39 WIB
Villa Paksa MU Menyerang Melulu Lewat Umpan Silang
Clive Mason/Getty Images
Jakarta -

Enam kemenangan beruntun Manchester United harus terhenti di Villa Park, kandang Aston Villa. Kedua tim berbagi angka setelah bermain seri 1-1 dalam laga yang dihelat pada Sabtu (20/12/2014) malam.

Aston Villa terlebih dahulu mencetak skor lewat tendangan melengkung Christian Benteke pada menit ke-18. Gol balasan The Red Devils dicetak lewat sundulan Radamel Falcao yang memanfaatkan umpan silang Ashley Young pada menit ke-53. Aston Villa harus bermain dengan 10 orang setelah Gabriel Agbonlahor diusir wasit setelah menerima kartu merah dari wasit Lee Mason.

Dengan hasil ini, MU duduk di peringkat tiga klasemen sementara Liga Inggris, sementara Aston Villa berada di peringkat ke-12 dan rentan digeser oleh Stoke City yang bermain pada Senin (22/12/2014) mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Beda Cara Bermain

Pelatih MU, Louis van Gaal kembali menerapkan formasi 3-5-2. Ia memainkan Falcao yang sudah siap diturunkan. Di kedua sisi, Ashley Young dan Antonio Valencia kembali dipasang. Cederanya sejumlah pemain memaksa Van Gaal memasang Wayne Rooney di lini tengah bersama dengan Darren Fletcher.

Sementara pelatih Villa, Paul Lambert, memodifikasi 4-3-2-1 yang biasanya diterapkan menjadi 5-3-2 demi mengurangi ancaman Falcao dan Robin van Persie. Lambert menurunkan Carlos Sanchez, Fabian Delph, dan Andreas Weimann di lini tengah. Sementara itu, dua pemain yang biasa dipasang di sayap, Aly Cissokho dan Matthew Lowton, bermain lebih dalam. Duo penyerang, Christian Benteke dan Gabriel Agbonlahor menjadi ujung tombak saat The Villans melakukan serangan balik. Cissokho dan Lowton bertugas menghalau serangan yang bermula dari Young dan Valencia.

Sejak menit pertama, Rooney dan kolega mengambil inisiatif melakukan penguasaan bola. Sementara Aston Villa lebih sabar menunggu di lini pertahanan sembari sesekali melakukan serangan balik.

Saat bertahan, Benteke dan Agbonlahor menunggu di depan.Para pemain Villa tidak melakukan man marking. Mereka lebih memilih menjaga zona yang menjadi tanggung jawab mereka. Ini yang membuat MU kesulitan mengembangkan permainan.

Villa sengaja membuat The Red Devils mengirimkan bola ke kedua sisi. Cissokho dan Lowton menjalankan tugasnya dengan baik. Keduanya tidak membiarkan Young dan Valencia memotong ke dalam. Young dan Valencia dipaksa memberikan umpan silang yang bisa dimentahkan tiga bek Villa yang diisi Ciaran Clark, Ron Vlaar, dan Jores Okore.

Young dan Valencia yang Tak Istimewa

Kecuali satu umpan silang Young yang menghasilkan gol bagi MU, penampilan kedua pemain tersebut tak bisa dibilang bagus, apalagi istimewa. Anggap saja keduanya memang ditugaskan untuk menyisir sayap, dan memberi umpan silang. Total, United melakukan 33 umpan silang dan hanya tujuh yang menemui sasaran.



[Kiri: Umpan silang Valencia; Kanan: Umpan silang Young;
Merah: Gagal, Hijau: Sampai, Biru: Assist, Kuning: Key Passes]


Dari jumlah tersebut, Valencia mengirim tujuh umpan silang dengan akurasi 0 persen. Sementara Young mengirim 12 umpan silang dengan akurasi 25 persen atau hanya tiga yang mencapai sasaran. Jumlah ini terbilang buruk bagi seorang pemain sayap. Apalagi Young dan Valencia merupakan tumpuan United dalam menyerang lewat sayap.

Sementara saat seharusnya bertahan, Young dan Valencia seringkali terlambat membantu pertahanan. Di awal pertandingan, Young bahkan sempat melakukan blunder yang mengancam gawang MU yang dikawal De Gea. Praktis lini pertahanan MU hanya diisi Phil Jones, Michael Carrick, dan Johny Evans.

Setelah Darren Fletcher ditarik dan Tyler Blackett masuk, tidak terlalu banyak serangan yang dilancarkan ke lini pertahanan MU. Koordinasi lini tengah menjadi lebih padu dengan Carrick yang berduet dengan Rooney di lini tengah. Aliran bola pun terlihat lebih lancar baik ke Young di kiri maupun Valencia di kanan.

Sayangnya, seperti yang sudah diutarakan, buruknya akurasi umpan Young dan Valencia membuat serangan United seringkali sia-sia. Bola tidak tepat sasaran, atau dapat ditangkap oleh kiper Villa, Brad Guzan.

Namun, permainan keduanya sebenarnya jauh lebih baik ketimbang saat Angel di Maria dan James Wilson merumput. Pergantian tersebut membuat Valencia ditarik keluar, sementara Young mengisi sisi kanan bertukar dengan Di Maria yang beroperasi di kiri.

Hal paling menohok dalam pertandingan tersebut adalah lini pertahanan Villa tak memberi waktu bagi Valencia dan Young untuk menusuk ke dalam, dan melakukan tendangan. Saat mencoba menusuk ke dalam, satu gelandang di tiap sisi segera datang menghampiri sehingga mereka tak memiliki pilihan lain kecuali mengirim umpan silang.

Kegagalan Carrick, Kegagalan United

Dengan menurunkan Carrick sebagai bek tengah, dan Rooney sebagai gelandang, menyiratkan bahwa Van Gaal kelimpungan menghadapi badai cedera yang mendera skuatnya. Ini yang kemudian membuatnya menurunkan Jones dan Evans menjaga lini pertahanan. Marcos Rojo, dan Chris Smalling tak bisa main karena cedera.

Carrick sebenarnya diplot untuk menjadi penyalur bola dari lini belakang. Nyatanya, di babak pertama Carrick lebih sering memindahkan bola dari kiri ke kanan, pun sebaliknya.


[Kiri: Umpan Carrick pada babak pertama; Kanan: umpan Carrick pada babak kedua]

Minimnya umpan ke depan dari kaki Carrick menjadi faktor penting yang menyulitkan United dalam membongkar pertahanan Villa. Bahkan tidak ada umpan Carrick yang langsung mengarah ke kotak penalti Villa. Dari grafis di atas terlihat betapa seringnya ia memindahkan bola dari kedua sisi. Ini sebenarnya dilakukan karena United memang kesulitan menembus lini tengah Villa yang dijaga tiga gelandang. United dipaksa terus-terusan mengirimkan bola ke kedua sisi.

Setelah Blackett masuk menggantikan Fletcher, Carrick pun bermain di posisi aslinya sebagai gelandang. Carrick terlihat kesulitan, bahkan walau hanya untuk mengirimkan bola ke area luar kotak penalti. Hanya satu umpannya yang berhasil masuk kotak penalti. Sisanya gagal.


[Kiri: umpan MU babak pertama; Kanan: Umpan MU babak kedua]

Kegagalan Carrick menekan lewat tengah sama dengan kegagalan MU. Dari grafis di atas terlihat bagaimana pada babak pertama dan kedua alur umpan keseluruhan MU secara garis besar sama seperti alur umpan Carrick. Problemnya sama: MU kesulitan mengirimkan bola ke area lima meter di depan kotak penalti.

Area tersebut menjadi penting bagi United. Van Persie maupun Falcao dapat memantulkan bola ke lini tengah yang diteruskan dengan tendangan dari luar kotak penalti, maupun mengonversinya sendiri menjadi peluang.

Hal ini diperparah dengan tidak maksimalnya peran Juan Mata yang bertugas di belakang penyerang. Mata lebih sering bergerak ke sisi kanan mendekat ke arah Valencia. Padahal formula mengirimkan umpan silang ke kotak penalti Villa sudah bisa diantisipasi dengan baik oleh Ron Vlaar dan kolega.


[Kiri: Heat map Mata; Kanan: Heat map Falcao]

Pergerakan Mata berbanding terbalik dengan Falcao. Pemain timnas Kolombia tersebut selalu berlari mencari ruang dan meminta bola ke lini pertahanan. Ia pun aktif memberikan umpan ke rekan-rekannya yang lain.

Penampilan Falcao bisa dibilang paling menonjol di skuat United. Ia melepaskan dua tembakan dengan akurasi 100 persen. Ia pun mengirim empat umpan kunci (key passes) ke lini serang MU. Jumlah ini merupakan yang terbanyak dibanding penggawa MU yang lain.

Rapuhnya Pertahanan United

Van Gaal sebenarnya bisa bernafas lega setelah duet Ander Herrera dan Daley Blind begitu padu di lini tengah. Di kedua sisi, Marcos Rojo dan Rafael aktif membantu serangan dan tak lupa menjaga pertahanan. Namun, pemandangan tersebut hanya terjadi di beberapa pertandingan saja. Pasalnya, mereka yang disebutkan di atasβ€”kecuali Rafaelβ€”tak muncul dalam daftar susunan pemain di Villa Park.

Rooney tak bermain buruk, tapi tak juga bermain istimewa. Ia mampu menjalankan tugasnya sebagai gelandang: menahan serangan dan mengirimkan umpan ke lini serang. Namun ada warna yang berbeda dalam pertandingan semalam. Meski hanya dihuni tiga gelandang, tapi Villa terlihat lebih dominan terutama saat menyerang.

Pada proses gol Villa, terlihat ada koordinasi yang tak beres di lini pertahanan MU. Dalam kondisi tendangan bebas, ada enam pemain MU di dalam kotak penalti menghadapi lima pemain Villa. Tak berselang lama, kondisinya berubah menjadi enam lawan enam. Benteke yang tak terkawal akhirnya melepaskan tendangan melengkung ke pojok kanan gawang MU. De Gea tak memberikan respon karena selain datang dengan cepat, bola juga terhalangi para pemain yang berkumpul di kotak penalti.

Beberapa kali dalam serangan balik, Villa mampu mengancam terutama lewat pergerakan Fabian Delph yang siap mengirim umpan pada Agbonlahor yang bergerak aktif ke sisi, maupun ke Benteke yang bersiap di area kotak penalti.

Serangan balik Villa ini sebenarnya dimudahkan dengan lambatnya Valencia dan Young membantu pertahanan. Beberapa kali Jones dan Evans mendapati dirinya berada dalam kondisi dilematis: menjaga area tengah kotak penalti atau mengejar lawan yang bergerak bebas di sisi.

MU beruntung karena Villa memang kesulitan mengembangkan permainan. Minimnya penguasaan bola membuat Villaβ€”terutama di babak keduaβ€”lebih banyak bertahan dan hanya sesekali melakukan serangan balik. Dalam pertandingan tersebut United mendapata 65 persen penguasaan bola, sedangkan Villa hanya 35 persen.

Sementara itu, gol United tercipta dengan cara yang β€œsudah seharusnya”. Bola kiriman Young disundul Falcao. Ya, sesederhana itu. Sayangnya, seperti yang telah dibahas di awal, kedua pemain ini tidak memiliki akurasi umpan silang yang baik. Bola lebih sering dimentahkan bek ataupun dihalau Guzan.

Pertanyaan sederhananya adalah untuk apa mengirim umpan ke dalam kotak penalti yang penuh dengan pemain lawan? Van Gaal mesti mencari solusi dari monotonnya serangan MU ini.

Simpulan

Pertandingan menghadapi Aston Villa merupakan ujian untuk Louis van Gaal. Ia dihadapkan pada kenyataan bahwa anak asuhnya kesulitan membongkar pertahanan lawan. Serangan yang dilakukan terkesan monoton dan mampu dibaca oleh lawan.

Gelandang kreatif yang seharusnya menjadi peran Mata tak terlihat dominan. Mata lebih sering mendapati dirinya berada pada posisi yang salah. Pergerakannya yang melebar menyulitkan dua penyerang MU untuk mendapatkan suplai bola. Ini yang kemudian mengacaukan strategi dua penyerang yang digunakan untuk mengecoh bek Villa, karena Falcao yang lebih sering turun menjemput bola.

Villa pun sudah tepat dengan menurunkan lima bek dan tiga gelandang. Ini mirip dengan yang dilakukan Miguel Herrera bersama timnas Meksiko pada Piala Dunia 2014. Bedanya, Herrera selalu menugaskan dua gelandang di kedua sisi untuk turut aktif melakukan serangan balik. Ketika bertahan, dua gelandang tersebut akan menempel ketat pemain yang membawa bola yang paling dekat dengan daerahnya.

Sementara itu, Sanchez, Delph, dan Weimann, tidak memberikan tekanan khusus pada pemain United yang memasuki area pertahanan mereka. Tahu para pemain United akan memberi umpan pendek, ketiganya lebih memilih untuk menunggu di tengah menanti pemain MU untuk mendekat. Dalam kondisi tertekan, jumlah tekel Villa hanya sembilan, sementara MU 10.

Ketidakagresifan Villa ini membuat mereka sulit melancarkan serangan balik cepat. Padahal, bukan tidak mungkin The Villans mampu menambah angka dengan memanfaatkan kelemahan di lini pertahanan United.

(din/rin)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads