Dua Momen yang Membuat Atletico Berpesta di San Mames

Liga Spanyol: Bilbao 1-4 Atletico

Dua Momen yang Membuat Atletico Berpesta di San Mames

- Sepakbola
Senin, 22 Des 2014 18:07 WIB
Dua Momen yang Membuat Atletico Berpesta di San Mames
Getty Images/Juan Manuel Serrano Arce
Jakarta -

Athletic Bilbao harus rela dipermalukan di kandangnya sendiri setelah takluk 1-4 oleh tamunya, Atletico Madrid. Bilbao yang sempat unggul 1-0 hingga jeda babak pertama, harus pulang dengan kepala tertunduk setelah pasukan Diego Simeone berhasil membalikan angka menjadi 1-4 di babak kedua. Bintang muda asal Prancis, Antoine Griezmann, menjadi pahlawan Atletico dengan tiga golnya ke gawang Gorka Iraizoz.

Athletic Bilbao yang masih terseok-seok di papan tengah masih memainkan formasi 4-5-1 dengan menempatkan Aritz Aduriz di depan. Harus absennya Aymeric Laporte dan Ander Iturraspe akibat terkena kartu merah, membuat sang pelatih, Ernesto Valverde, harus melakukan sedikit perubahan. Pada posisi poros ganda, Carlos Gurpergi dipasang untuk mendampingi Mikel Rico. Sedangkan pada barisan pertahanan, Xabier Etxeita dipasang untuk menggantikan Aymeric Laporte.

Sementara itu, di pihak tim tamu juga harus kehilangan beberapa pemain andalannya. Striker Kroasia, Mario Mandzukic harus absen karena hukuman akumulasi kartu kuning. Selain Mandzukic, gelandang muda asal Spanyol, Koke, tidak bisa dimainkan karena masalah yang sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini membuat Diego Simeone harus mencari alternatif lain untuk mengisi posisi penyerang. Beruntung Simeone berhasil melakukan keputusan tepat. Penyerang muda asal Prancis, Antoine Griezzman dipasang untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Mandzukic ini. Pemain inilah yang kemudian berhasil membawa Atletico meraih kemenangan dengan 3 gol yang dicetaknya.

Sedangkan pada posisi gelandang, Simeone memberikan kesempatan kepada pemain muda, Saul Niguez, untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Koke. Bersama sang kapten, Gabi, Saul mengisi lapangan tengah pada formasi 4-1-4-1 yang dimainkan Simeone pada pertandingan kali ini.



Starting XI Athletic Bilbao (kiri) dan Atletico Madrid (kanan)

Permainan Tempo Tinggi

Permainan keras dengan pressing yang sangat ketat langsung diperagakan para pemain Atletico Madrid sejak awal laga. Pemain Athletic Bilbao sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk memegang bola terlalu lama. Siapapun pemain Athletic Bilbao yang sedang menguasai bola, satu atau dua pemain Atletico langsung menyergap untuk memaksa pemain tersebut melepaskan bola.

Kondisi ini membuat Atletic Bilbao sama sekali tidak bisa mengatur tempo permainan. Susaeta dan Iker Muniain yang biasanya sering melakukan pergerakan berbahaya untuk menembus pertahanan lawan sama sekali tidak mendapatkan celah untuk beraksi. Begitu pula dengan kedua gelandang Bilbao, Gurpegi dan Mikel Rico. Kedua pemain ini sangat kesulitan untuk mengalirkan bola dan mengatur tempo permainan. Karena mereka sama sekali tidak diberikan waktu oleh para pemain Atletico untuk menguasai bola.

Kemampuan pressing para pemain Atletico memang tidak perlu diragukan lagi. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor kunci saat mereka berhasil menjadi juara musim lalu. Dan hal ini kembali dibuktikan pada pertandingan melawan Bilbao kali ini.

Ada 29 kali tekel berhasil dan 18 kali intersep adalah buah dari pressing ketat para pemain Atletico di sepanjang pertandingan. Tidak adanya ruang di area tengah juga membuat Bilbao berkali-kali dipaksa untuk melepaskan bola-bola panjang langsung ke depan. Serangan Bilbao pun akhirnya harus kandas di kaki para pemain bertahan Atletico.

Chalkboard operan para pemain bilbao di babak pertama memperlihatkan bagaimana mereka tidak bisa mengatur tempo permainan. Persentase keberhasilan operan mereka hanya 62%. Bahkan jika kita lihat lebih dalam, dari 137 operan yang diarahkan ke depan oleh para pemain Athletic Bilbao, hanya 60 diantaranya yang berhasil. Hal ini semakin menegaskan bahwa para pemain Athletic Bilbao kesulitan untuk membuka ruang di area pertahanan Atletico.



Chalkboard operan para pemain Athletic Bilbao pada babak pertama. (Sumber: fourfourtwo.com)

Usaha Ernesto Valverde dengan mengubah formasi bermain menjadi 4-3-3 pun tetap tidak membuahkan hasil. Muniain dan Unai Lopez didorong naik ke depan mendampingi Aduriz untuk mengejar bola lepas hasil duel udara Aduriz dengan barisan pertahanan Atletico. Namun cara ini pun belum membuahkan hasil mengingat Atletico sangat kompak menjaga garis pertahanannya.

Namun permainan cemerlang Atletico saat bertahan tidak dibarengi dengan permainan cemerlang ketika menyerang. Serangan balik yang dilakukan Atletico setelah berhasil merebut bola dilakukan dengan sangat terburu-buru.

Pressing ketat yang dilakukan para pemain Atletico saat bertahan ternyata juga mampu diladeni para pemain Bilbao. Mereka tentu tahu bahwa Simeone akan mengincar serangan balik cepat. Hadirnya Griezman pada barisan penyerang akan membuat serangan balik Atletico akan semakin berbahaya.

Karena itulah para pemain Bilbao akan langsung menempel ketat setiap pemain Atletico yang mungkin dijadikan opsi melakukan serangan balik. Arda Turan, Raul Garcia, dan Saul Niguez yang akan langsung berlari mencari ruang kosong ketika Atletico berhasil merebut bola tidak sekalipun lepas dari pengawasan para pemain Bilbao. Hal ini membuat jalur operan serangan balik Atletico terhambat. Mereka tidak memiliki jalur penghubung yang bisa mengantarkan bola dari tengah ke depan.

Hasilnya, Atletico pun melakukan hal yang serupa dengan Bilbao, Bola-bola panjang. Tidak adanya opsi untuk memberikan bola kepada para gelandang, membuat Gabi atau Tiago sebagai pemain yang memulai serangan balik Atletico harus langsung melepaskan bola jauh ke depan.

Tentu saja sulit bagi Griezmann yang tidak memiliki kemampuan duel udara cukup baik untuk bisa menerima bola ditengah kerumunan para pemain bertahan Athletic Bilbao. Chalboard operan Atletico Madrid di babak pertama juga memperlihatkan bagaimana mereka lebih banyak melepaskan bola-bola panjang ke area pertahanan Bilbao.



Chalkboad operan para pemain Atletico Madrid pada babak pertama. (Sumber: fourfourtwo.com)

Kondisi ini membuat pertandingan babak pertama berjalan sedikit membosankan. Bilbao sedikit lebih beruntung ketika skema tendangan bebasnya berhasil mencuri gol ke gawang Atletico. Umpan Susaeta dari tendangan bebas berhasil sampai ke Mikel Rico yang tanpa pengawalan di kotak penalti. Sundulan pemain berusia 30 ini pun berhasil mengecoh kiper Atletico dan membuat Bilbao unggul 1-0 saat jeda.

Serangan Balik Atletico di babak Kedua

Keunggulan Bilbao ternyata tidak berlangsung lama. Para pemain Bilbao tidak memulai pertandingan di babak kedua dengan baik. Mereka lupa bahwa mereka harus melakukan pressing ketat kepada para pemain Atletico. Hal ini membuat para pemain Atletico berhasil mendapatkan ruang di area pertahanan Bilbao.

Pada proses terjadinya gol balasan Atletico ini terlihat bagaimana Atletico Madrid justru unggul jumlah pemain di area tengah pertahanan Bilbao. 4 gelandang Atletico yang sudah naik hanya dihadang oleh 3 gelandang Bilbao. Hal inilah yang kemudian serangan cepat Atletico berhasil masuk ke area pertahanan Bilbao.



Kondisi sebelum terjadinya gol balasan Atletico. Terlihat bagaimana 4 gelandang Atletico hanya berhadapan dengan 3 pemain Bilbao.
Namun Simeone tidak membiarkan kondisi ini terus berlanjut. Melihat serangan baliknya terus gagal, Simeone menambahkan satu personilnya untuk ikut membantu serangan. Tiago menjadi pemain yang ditunjuk untuk melakukan tugas ini.

Sebelumnya, Tiago hanya ditugaskan sebagai pemain di lini tengah untuk mengalirkan bola serta sebagai pengawal barisan pertahanan Atletico. Namun kini, Tiago juga diberikan tugas untuk ikut naik meninggalkan posnya dan mencari ruang saat Atletico melakukan serangan balik.

Dan ternyata perubahan ini menciptakan kelengahan sesaat para pemain Bilbao yang berhasil dimanfaatkan Atletico. Tiago yang berlari dari belakang masuk ke kotak penalti Bilbao tanpa pengawalan. Mikel San Jose yang datang menutup pergerakan pun sedikit terlambat. Hal ini membuat Tiago mendapatkan kesempatan melakukan penetrasi yang berujung pada pelanggaran di kotak penalti. Meskipun pelanggaran ini sedikit berbau
diving, namun wasit dengan tegas menunjuk titik putih. Raul Garcia yang menjadi eksekutor sama sekali tidak melakukan kesalahan dan membawa Atletico unggul 2-1.

Setelah tertinggal 1 gol, Bilbao mau tidak mau harus semakin gencar menyerang. Sebaliknya, Simeone langsung memerintahkan para pemainnya untuk menurunkan pressing. Seluruh pemain Atletico termasuk Griezmann sebagai penyerang, turun ke area pertahanan sendiri. Atletico kini memberikan kesempatan bagi Bilbao untuk menguasai bola dan baru mulai melakukan tekanan ketika Bilbao mulai memasuki area pertahanan mereka.

Bilbao yang tidak mau dipermalukan di kandangnya sendiri pun mau tidak mau maju untuk menyerang. Melihat kondisi ini, tentu saja membuat Diego Simeone tersenyum. Anak asuhnya sudah sangat fasih untuk melakukan pressing saat lawan mulai keluar dari area pertahanan dan kemudian melakukan serangan balik cepat untuk mencetak gol.

Dan cara inilah yang kemudian melahirkan gol ketiga dan keempat. Gol ketiga Atletico hanya membutuhkan 7 kali sentuhan pemain Atletico dengan bola dari mulai Arda Turan merebut bola sampai Griezmann melakukan tembakan ke gawang Bilbao. Sedangkan pada gol keempat hanya dibutuhkan 8 kali sentuhan hingga Griezmann berhadapan satu lawan satu dengan Iraizoz.

Tentu saja hal ini tidak akan bisa terjadi jika barisan pertahanan Bilbao tidak naik untuk ikut menyerang. Pada kedua gol tersebut hanya tersisa 3 bek Bilbao yang masih berada area pertahanan sehingga memudahkan Arda Turan untuk mengirimkan bola ke depan. Dalam kondisi tertinggal memang tidak ada pilihan lain bagi Valverde selain membuat para pemainnya maju menyerang. Namun sayang, perjudiannya kali ini justrus membuat timnya semakin dipermalukan di kandang sendiri.

Kesimpulan

Ketidaksiapan para pemain Bilbao saat memulai babak kedua membuat para pemain Atletico tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Pressing yang tidak seperti saat babak pertama membuat gelandang Atletico berhasil menguasai area tengah pertahanan Bilbao dan membuka jalan untuk mencetak gol pertama. Padahal modal keunggulan 1 gol di babak pertama seharusnya bisa dimanfaatkan Bilbao untuk meraih 3 poin di San Mames.

Ditambah lagi, kecerdikan Simeone dengan melakukan sedikit perubahan dalam serangan baliknya membuat pertahanan Bilbao lengah menciptakan ruang bagi Tiago yang datang dari belakang. Terlepas dari apakah Tiago melakukan diving atau tidak, pelanggaran ini bermula dari pergerakan gelandang bertahan Atletico yang tanpa pengawalan di kotak penalti Bilbao.

Kalah 1-4 di kandang sendiri hanya karena 2 kali kelengahan sesaat memang sepertinya terlalu berat bagi Bilbao. Namun mungkin ini bisa menjadi pelajaran bagi Valverde untuk membuat anak asuhnya fokus di sepanjang pertandingan agar tidak membuka peluang bagi lawan untuk mencetak gol.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads