Konsentrasi yang Buyar di Akhir Setiap Babak

Liga Inggris: Liverpool 2-2 Arsenal

Konsentrasi yang Buyar di Akhir Setiap Babak

- Sepakbola
Senin, 22 Des 2014 18:37 WIB
Konsentrasi yang Buyar di Akhir Setiap Babak
AFP/Paul Ellis
Jakarta -

Martin Skrtel memang meninggalkan darahnya di atas rumput Anfield. Namun, luka yang dideritanya itu tak seberapa dibanding luka yang lebih serius yang ia buat ke gawang Arsenal pada menit ketujuh dari sembilan menit injury time yang ditentukan.

Pertandingan antara Liverpool dan Arsenal semalam harus berlanjut sampai ke menit 99 akibat bek Liverpool asal Slovakia tersebut menerima perawatan setelah kepalanya tidak sengaja terluka saat ia berusaha memblok bola Olivier Giroud.

Arsene Wenger hampir saja membawa pulang kemenangan yang mereka dapatkan secara beruntung. Setelah tertinggal melalui gol Philippe Coutinho, Arsenal langsung berhasil membalas lewat sundulan Mathieu Debuchy dan sepakan Giroud di babak ke dua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal mereka juga sempat mengalami keunggulan jumlah pemain di atas lapangan, setelah Fabio Borini diusir wasit di awal injury time. Tetapi Arsenal tidak berhasil bertahan dengan baik di injury time yang memang panjang ini.

Hasil imbang 2-2 semalam tetap menjaga antusiasme Brendan Rodgers maupun Wenger di Liga Primer Inggris yang akan memasuki Boxing Day di Hari Natal nanti.

Susunan Pemain Liverpool dan Arsenal



Susunan formasi Liverpool dan Arsenal di awal pertandingan (sumber: WhoScored.com)

Liverpool harus tampil tanpa Dejan Lovren dan Glen Johnson yang menderita cedera. Meskipun mereka masih memiliki bek-bek sayap Alberto Moreno, Jose Enrique, dan Manquillo, yang semuanya duduk di bangku cadangan, Rodgers lebih memilih memakai formasi tiga bek. Ditambah, ia juga masih mempercayakan posisi di bawah mistar gawang kepada Brad Jones.

Hal ini menimbulkan peran yang sangat dipertanyakan di posisi wing-back yang harus diisi oleh Lazar Markovic dan Jordan Henderson. Mengkhawatirkan, karena sektor sayap akan mudah terekploitasi melalui kecepatan pemain-pemain Arsenal, terutama Alexis Sanchez di sisi kiri (di sisi Markovic).

Sisi kiri Liverpool ini lah yang menjadi titik lemah mereka saat menghadapi Manchester United pekan lalu, ketika hampir 50% serangan United diawali dari sisi ini (saat itu Moreno yang menjadi wingback).

Sementara di depan, Rodgers juga belum mau menurunkan striker alaminya. Ia memarkir Rickie Lambert dan Fabio Borini di bangku cadangan, sementara Mario Balotelli harus absen akibat akumulasi kartu, meninggalkan Raheem Sterling kembali sebagai ujung tombak.

Di kubu Arsenal sendiri, badai cedera masih menemani mereka menjelang Boxing Day ini. Kali ini Wenger bahkan menurunkan Debuchy, yang berposisi alami sebagai bek kanan, menjadi bek tengah.

Banyak Menembak Belum Tentu Banyak Gol Juga

Sebelum membahas lebih jauh pertandingan semalam, mari kita sama-sama menyimak grafik tembakan di bawah ini.



Grafik tembakan dari Liverpool dan Arsenal (sumber: FourFourTwo Stats Zone)

Dari grafik di atas, ada banyak, positif maupun negatif, hal yang bisa kita petik dari kedua kubu. Untuk Liverpool, positifnya mereka bermain sangat beringas dengan 27 tembakan yang mereka lepaskan sepanjang pertandingan.

Tetapi hal ini menunjukkan satu hal negatif yang sangat ketara, yaitu betapa mereka merindukannya sosok striker klinis di depan gawang. Dari 27 tembakan, hanya sepertiganya saja yang berhasil menemui sasaran. Dengan cederanya Daniel Sturridge, Rodgers dan fans The Reds pasti sedang harap-harap cemas sambil terus menyanyikan β€œYou’ll Never Walk Alone” untuk terus mencoba move on dari Luis Suarez.

Sementara untuk Arsenal, permainan mereka sangatlah terbatas di babak pertama. Mereka bermain buruk. Secara keseluruhan, Arsenal hanya menguasai 35% penguasaan bola, ini adalah rekor terendah sejak Opta mencatat stat pertama mereka pada Agustus 2003.

Positifnya, Giroud telah kembali. Mereka menemukan kembali sosok penyerang klinis. Dari 7 tembakan, 3 berhasil tepat sasaran.
Sekarang, setelah kita melihat tembakan ke gawang, mari kita bahas aspek lainnya pada pertandingan semalam.

Dominasi Liverpool di Babak Pertama

Liverpool telah bermain jauh lebih buruk dari semalam meskipun berhasil memenangkan beberapa di antaranya di musim ini. Bahkan, bisa dibilang mereka tidak pernah bermain dengan baik di kandang sejak Mei lalu.

Sejarah mencatat bahwa tidak ada tim yang mampu finish di atas posisi keenam dengan poin yang dimiliki Liverpool saat ini, yaitu 22 poin, setelah 17 pertandingan di Liga Primer Inggris. Ini akan cukup menggangu bagi para Liverpudlian.

Tidak heran juga, sebelum pertandingan, Liverpool selalu mendapat kritik pada lini belakang mereka. Namun, artikel copy-paste dapat sama-sama kita temukan juga untuk Arsenal.

Untuk Anda pengagum permainan defensif, Anfield adalah tempat yang sebaiknya Anda hindari. Sebaliknya, di sini adalah tempat untuk para tipi-tapa (istilah KW-nya tiki-taka) bermain di lini tengah. Permainan yang indah untuk disimak, tapi malah sekaligus menunjukkan mengapa kedua kubu begitu jauh dari perebutan gelar.

Banyak pertanyaan diberikan kepada The Gunners saat ini. Tiga pemain depan Arsenal, Danny Welbeck, Giroud, dan Sanchez, seperti sedang alfa pada babak pertama.

Arsenal juga tidak jauh lebih baik di lini tengah, Alex Oxlade-Chamberlain tentu bukanlah seorang deep-lying midfielder, tetapi ini bisa sedikit dimaklumi lantaran Jack Wilshere, Aaron Ramsey, dan Mikel Arteta masih cedera.

Tetapi semalam, Liverpool dan Arsenal berhasil menyulam rumput Anfield dengan sepakbola satu-sentuhan dari Coutinho, Santiago Cazorla, Adam Lallana, dan SΓ‘nchez. Buruknya, seperti yang sudah disampaikan juga di atas, mereka tidak memiliki greget dan buruk dalam penyelesaian akhir.



Perbandingan grafik operan Liverpool dan Arsenal di 20 menit awal pertandingan (sumber: Squawka)

Meskipun demikian, Rodgers memulai pertandingan dengan kuat dan memonopoli penguasaan dan operan bola melalui trio Coutinho, Lallana dan Markovic. Seperti yang terlihat pada grafik di atas, Arsenal sama sekali belum bermain operan-operan yang biasa mereka peragakan pada 20 menit awal pertandingan.

Liverpool akhirnya menemukan terobosan ketika plamaker Brasil, Coutinho, melepaskan tembakan rendah ke pojok bawah gawang Wojciech Szczesny pada menit ke-44. Gol ini juga tidak sepenuhnya buah dari kecemerlangan Liverpool, melainkan dari buruknya koordinasi pertahanan Arsenal.



Proses gol pertama dari Philippe Coutinho

Dua kejadian yang disoroti adalah saat Giroud melakukan error pass (gambar A) yang malah memberikan bola kepada Henderson yang selanjutnya bisa mencetak assist (gambar B) untuk gol Coutinho.

Sementara kejadian ke dua yang perlu disoroti adalah bagaimana posisi para pemain bertahan Arsenal saat mengantisipasi tembakan pemain The Kop asal Brasil bernomor punggung 10 tersebut (gambar C). Mereka memberi ruang yang terlalu leluasa bagi Coutinho untuk membidik ke seluruh gawang.
Gol tersebut tampak seolah-olah akan membuat Liverpool ke ruang ganti pada babak pertama dengan keunggulan 1-0. Tetapi semuanya berubah dalam sekejap...

Tiga Gol Buah Pertahanan Buruk, Dua di Antaranya adalah Hasil Turunnya Konsentrasi di Penghujung Laga

Liverpool memang memiliki sekitar dua-pertiga dari penguasaan bola melawan tim dengan rata-rata penguasaan bola tertinggi di liga, mereka benar-benar memperdaya The Gunners. Tetapi setelah gol pertama, mereka tidak bisa menjaga konsentrasi dan justru memberikan gol yang ceroboh.



Proses gol balasan Arsenal dari Mathieu Debuchy

Gol ini berawal dari saat Liverpool menghadapi tendangan bebas dari sektor kiri pertahanan mereka. Bola yang dikirimkan tak berhasil tersundul dengan baik oleh Mertesacker, tapi bola kemudian masih bisa terpental ke jantung pertahanan Liverpool kembali.

Di sini, ketika Flamini menyundul bola kembali, seluruh pemain Liverpool terlalu fokus pada bola, bukan pada pemain Arsenal. Bisa dilihat bagaimana Debuchy tidak terkawal.

Setelah itu, Skrtel yang tinggi besar pasti bertanya-tanya, bagaimana mungkin Debuchy yang kecil bisa mengalahkannya di udara.

Selain dari gol di atas, pada gol ke dua Arsenal, Rodgers juga pasti geram karena Giroud dengan mudahnya mampu menarik bek-bek Liverpool ke luar posisi mereka. Umpan satu-dua-nya dengan Cazorla benar-benar memperdaya pertahanan The Reds.



Proses gol ke dua Arsenal dari Olivier Giroud

Diawali umpan Kieran Gibbs kepada Giroud, tidak ada yang melakukan penjagaan kepada Cazorla (gambar A) sehingga Cazorla mampu berdiri bebas di ujung gawang Jones.

Pada saat ini (gambar B), ketiga bek Liverpool juga terlalu fokus pada Cazorla dan memperlihatkan posisi yang salah.

Di sini seharusnya ada yang menutup jalur operan kepada Giroud (bisa Skrtel ataupun Kolo Toure), dan juga Gerrard yang bisa melakukan penjagaan kepada Giroud. Karena tidak mungkin Cazorla menembak dari sudut sesempit ini, bola pasti harus dioper.

Hal ini meninggalkan Giroud untuk memiliki ruang yang lepas untuk menceploskan bola di anatara sela-sela kaki Jones (gambar C).

Tapi Arsenal menunjukkan bahwa permainan mereka tidak bisa hidup selama-lamanya untuk membendung tekanan Liverpool. Meskipun menghadapi 10 pemain di injury time, The Gunners tentu tahu persis sakitnya kebobolan melalui tendangan sudut di menit akhir.



Proses gol injury time oleh Martin Skrtel

Konsentrasi. Itulah masalah utama pemain sepakbola pada masa-masa mendekati penghujung laga. Tak terkecuali untuk pemain-pemain Arsenal.

Hanya tinggal beberapa menit saja, tetapi dalam bertahan menghadapi tendangan sudut, tidak ada yang menjaga Skrtel. Bahkan, ketika bola ditanduk juga, Mertesacker terlihat seperti orang kebingungan (dan malah membungkuk bukannya melompat) dan Chambers sudah terlalu kalah start jika ingin berduel dengan Skrtel.

Kesimpulan

Hasil ini mungkin bukanlah hasil yang adil. Meskipun Liverpool berhasil mencetak gol di penghujung laga, mereka pasti merasa bahwa mereka berhak mengambil tiga poin di kandang mereka sendiri, apalagi dengan 27 buah tembakan!

Arsenal sangat miskin di babak pertama tetapi justru bisa menyamakan kedudukan di akhir babak, ini sangan menunjukkan buruknya pertahanan Liverpool. Di babak kedua, ada sedikit peningkatan terutama melalui proses gol yang baik dari Giroud.

Liverpool banyak memiliki peluang, tapi perlu diakui mereka tidak membuat banyak peluang yang luar biasa. Pada akhirnya tekanan mereka berhasil mendapat gol di ujung laga.

Patut diakui, Rodgers masih membutuhkan kiper yang kompeten, bek tengah yang handal, dan striker yang mematikan. Ditambah lagi, Liverpool yang baru bisa mencetak 4 clean sheet di 23 pertandingan terakhir di Liga Primer akan terus meyakinkan Rodgers bahwa ia harus melakukan sesuatu, terutama di lini belakang timnya.

Sedangkan Wenger jelas memiliki masalah defensif yang sama untuk ia selesaikan. Jika meyingkirkan alibi badai cedera, memang permainan Arsenal dan juga Liverpool masih lah mengkhawatirkan, apalagi mereka akan menghadapi sibuknya jadwal di Boxing Day.

Pada akhirnya, pertandingan semalam adalah pertandingan yang "nagih", terutama untuk penonton netral: seru untuk ditonton karena baik kelebihan maupuan kekurangan ke dua tim sama-sama banyak. Jika terus seperti ini, jangan heran jika di akhir musim, salah satu atau bahkan keduanya dari mereka akan kehilangan satu tempat di Liga Champions musim depan.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads