Real Madrid tersingkir dari ajang Copa Del Rey usai bermain imbang 2-2 melawan Atletico. El Real kalah secara agregat 2-4 karena pada pertemuan pertama mereka sudah terjungkal dengan skor 0-2.
Dukungan puluhan ribu penggemar yang memadati Santiago Bernabeu tak mampu mengangkat performa tuan rumah. Begitu juga ajang pamer trofi dari gelaran Ballon dβOr yang dilakukan Ramos & Kroos (Best XI), James (gol terbaik), serta Ronaldo (pemain terbaik) di awal laga β itu semua tak berarti di atas lapangan.
Atletico tak bermodalkan Ballon dβOr. Mereka hanya bermodalkan keunggulan di leg pertama. Dan itu modal yang sangat berharga, dan terbukti menentukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Susunan pemain kedua kesebelasan [Whoscored]
Petaka Menit Pertama
Sudah sewajarnya sebagai kesebelasan yang tertinggal secara agregat untuk mencetak gol secepat mungkin. Hal ini juga yang dilakukan oleh Real Madrid dengan berusaha sebisa mungkin menempatkan banyak pemain di lini depan. Sedangkan bagi Atletico, mereka tentu juga berusaha untuk tidak kebobolan sembari mencuri kesempatan melalui serangan balik.
Karena menumpuk pemain di depan maka Real Madrid juga harus sebisa mungkin tetap menjaga bola selalu ada di barisan terdepan. Sialnya lewat cara ini juga Madrid kemudian harus kebobolan bahkan dua kali pada setiap awal babak. Bola lambung yang keduanya dilancarkan oleh Sergio Ramos berhasil dimentahkan pertahanan Atleti, situasi yang kemudian dimanfaatkan Griezmann dan Torres.
Pola di atas terlihat sebagai skema yang memang sudah disiapkan kedua manajer, karena pelaku kesalahan, assist, pencetak gol, waktu dan cara yang nyaris sama persis. Simeone mungkin saja di ruang ganti saat jeda hanya menginstruksikan satu hal ke anak asuhnya: βLakukan seperti saat babak pertama tadi!β.
Sepanjang laga, Atletico sebenarnya memang tak banyak menyerang dan lebih fokus bertahan dengan sesekali melakukan serangan balik. Menggantung Torres seorang diri di depan dengan dibantu oleh Griezmann.

Rataan perbandingan posisi kedua kesebelasan. Real Madrid (kiri) menumpuk pemain di depan
Diego Simeone seolah sedang melakukan efisiensi kerja para gelandang. Formasi 4-2-3-1 yang dipasangnya tidak bersifat baku. Pada tiga gelandang di belakang striker, hanya Garcia yang punya pos tetap sebagai sayap kanan. Sedangkan Griezmann dan Koke secara bergantian bergerak mengisi area tengah dan kiri Atletico.
Skema yang membuat Atletico sebenarnya hanya mengandalkan secara penuh tiga pemain saat menyerang (lihat gambar di atas)
Tekel-tekel Atleti Menggagalkan Serangan Madrid
Laga cenderung berjalan keras, selain karena tensi panas derby hal ini juga dipengaruhi oleh permainan Atleti yang banyak melakukan tekel keras. Raul Garcia dkk tidak bertahan dengan cara merapatkan barisan melulu di area pertahanan tetapi melalui pressing ketat β sebagaimana biasanya. Cara ini terbukti lebih efektif untuk menghentikan pergerakan Ronaldo ataupun Gareth Bale.
Real Madrid sendiri bukannya tanpa peluang sehingga kesulitan memenangkan pertandingan. Pada 30 menit awal saja mereka sudah membuat 14 tembakan ke gawang, atau jika diratakan sekitar 1 tembakan tiap 2 menit. Hanya saja apiknya barisan pertahanan Atleti yang dipimpin Godin membuat El Real masih kesulitan mencetak gol. Sang tuan rumah selalu dihadapkan dengan situasi sulit dalam menembak karena pressing ketat tadi.
Trio BBC (Benzema, Bale, dan Ronaldo) terlihat mati kutu karena meski terus menerus mendapat bola tetapi ruang terbuka belum juga muncul. Tiga gelandang Real Madrid, Kroos, Isco, dan James Rodriguez juga tak mampu menjadi opsi yang lain dalam mencetak gol. Karena dalam praktiknya, James lebih banyak berada di depan sebagai penyerang sayap ketimbang gelandang. Ini membuat Marcelo punya pekerjaan ganda sebagai bek kiri sekaligus gelandang tengah saat menyerang.
Praktis hanya tinggal Kroos dan Isco yang tetap berada di lini tengah Madrid. Keduanya juga masih harus berkonsentrasi mencegah serangan balik Atletico. Kondisi diperparah dengan absennya Modric, gelandang yang memang ahli untuk urusan duel satu lawan satu. Situasi yang tidak menguntungkan bagi Real Madrid, karena memang sulit menembus pemain bertahan yang menumpuk di kotak penalti. Ikut menambah penuh kotak 16 dengan mendorong pemain ke depan hanya akan membuat gawang semakin tertutup.
Menahan Madrid dengan Taktik Gelandang dan Garis Pertahanan
Sang pemain terbaik dunia, Ronaldo, tak bermain maksimal dalam laga kali ini. Karena rapatnya pertahanan Atleti membuat ia juga harus memikirkan setidaknya dua hal, menembus benteng kokoh dan mencetak gol. CR7, panggilan akrabnya, tak mendapat banyak asupan bola jika tetap berada di kotak penalti. Tetapi jika ia ikut mengatur serangan, ia juga akan kesulitan mencetak gol.
Kondisi ini sepertinya dipahami dengan baik oleh Ancelotti dengan memasukan Jese menggantikan James. Pemain yang ditempatkan di sayap tersebut membuat Ronaldo bisa fokus untuk mencetak gol, suplai bola ke kotak penalti bertambah melalui umpan-umpan lambung yang dilepaskannya.
Sebelumnya Simeone juga melakukan perubahan dengan menarik striker tunggal Fernando Torres. Sesuatu yang tak berpengaruh banyak sebenarnya karena Griezmann kemudian menempati posisi yang ditinggalkan tersebut dengan didorong ke depan. Apalagi pasca babak kedua, Atleti tak melakukan banyak serangan bahkan untuk sekadar serangan balik.
Jika menguasai bola para gelandang justru lebih fokus untuk melakukan possession ketimbang menyerang. Tujuannya tentu agar bola tidak mudah lepas dan lawan tak punya kesempatan menyerang. Tetapi saat bertahan, semua kompak turun untuk membentuk tembok kokoh.
Salah satu yang menarik dari cara bertahan Atleti adalah cenderung menaikan garis pertahanan saat babak kedua. Hal ini dilakukan jika sedang dalam posisi standby atau ketika pemain Madrid sedang menguasai bola di belakang pertahanan. Kondisi yang berbeda saat babak pertama ketika Atletico banyak menumpuk pemain di kotak penalti.
Naiknya pertahanan dan menumpuknya gelandang di tengah memaksa Real Madrid lagi-lagi memainkan bola-bola panjang. Bisa ditebak kemudian, lagi-lagi juga El Real gagal menambah gol. Dalam situasi demikian, tuan rumah seharusnya membuat banyak opsi untuk menyerang.
Harapan ada pada diri Isco karena menjadi satu-satunya gelandang Madrid yang berada di lapangan dan punya kemampuan tersebut. Tetapi penuhnya gelandang Atletico membuat pemain muda Spanyol tersebut kesulitan untuk sekadar mendekati kotak penalti.
Kesimpulan
Beban Real Madrid dalam laga kali ini sebenarnya sudah ada sejak sebelum kickoff. Defisit agregat dua gol tanpa mampu memasukan bola membuat posisi mereka terlihat sulit. Apalagi ditambah dengan gol cepat yang dibuat Torres pada menit pertama.
Ancelotti punya PR besar yang harus ia selesaikan secepatnya terkait variasi menyerang agar dapat mencetak banyak gol. Karena pasca pergantian tahun, Real Madrid sepertinya sedang tertimpa persoalan besar. Selain rekor kemenangan terhenti, performa El Real juga sedang menurun drastis.
Tentu saja Ancelotti tak bisa mengandalkan trofi yang didapat anak-anak asuhnya di ajang Ballon dβOr. Sebab piala di lemari itu soal masa lalu, dan laga-laga di hari-hari berikutnya sudah siap menjegal mereka jika tak kunjung memperbaiki diri.
(din/mrp)











































