Lazio gagal meraih poin di giornata 19 Serie A musim ini. Minggu (19/1) malam WIB, Biancoleste ditumbangkan Napoli 0-1. Gonzalo Higuain mencetak gol semata wayang di pertandingan yang berlangsung di Stadio Olimpico itu. Gol Higuain bisa dikatakan indah, setelah sukses menyelesaikan umpan yang membelah pertahanan dari Dries Mertens dan melepaskan tembakan ke gawang melalui sudut yang sempit.
Hanya satu poin yang memisahkan kedua kesebelasan dalam perebutan peringkat ketiga demi mengamankan tiket ke Liga Champions. Lazio memiliki banyak masalah cedera, hilangnya Stefano Mauri, Felipe Anderson, Stefan de Vrij, Michael Ciani, Ederson, Alvaro Gonzalez, Santiago Gentiletti, Edson Braafheid dan dihukumnya Federico Marchetti.
Napoli yang masih membawa amarah saat kalah 1-3 dari Juventus, dengan mengejutkan turun tanpa Marek Hamsik di awal pertandingan dan malah memberikan debut Ivan Strinic untuk menggantikan Miguel Angel Britos yang sedang menjalani hukuman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Percobaan Lazio Menembus Melalui Kedua Sisi
Pertandingan dimulai dengan inisiatif menyerang dari Lazio. Kesebelasan dari Kota Roma ini mendominasi permainan berkat kecerobohan di lini tengah Napoli yang terlalu banyak membuat kesalahan dalam mengendalikan bola. Beruntunglah bagi Napoli, setelah itu dua gelandang mereka mampu bermain baik di sepertiga lapangan.
Setelah gagal melakukan berbagai upaya untuk menembus sisi tengah pertahanan Napoli, Lazio membuat opsi lain dengan mencoba masuk melalui sisi kiri Napoli. Candreva menjadi pelaku tunggal yang rajin menembus sisi kiri Napoli dengan Basta sebagai rantai penghubung dengan 17 umpan yang dialirkan ke Candreva.
Insiatif menyerang melalui sisi tersebut masih juga belum dapat berjalan dengan baik. Upaya Candreva untuk menusuk langsung ke kotak penalti pun gagal. Ivan Strinic melakukan debutnya di Serie A dengan baik. Pemain asal Kroasia yang baru didatangkan Napoli pada bursa transfer musim dingin ini mampu menjaga areanya dengan disiplin.
Strinic yang dibantu Koulibaly dan Mertens mampu menahan serangan di posisi tersebut yang dominan dilakukan oleh Ledesma-Basta-Candreva. Mertens menjadi orang pertama yang berduel dalam perebutan bola di area tersebut. Kesulitan ini pun membuat Biancoceleste mengubah arah serang melalui sisi kanan Napoli. Namun, di sisi tersebut justru terlihat lebih menyulitkan.
Dan kesialan pun datang. Setelah beberapa kali gagal masuk melalui sisi kanan Napoli, justru mereka harus menerima hukuman setelah Gargano mampu merebut penguasaan bola dan dengan cepat meneruskan ke Mertens. Dengan sedikit memutar Mertens dengan cepat memberikan umpan mendatar yang membelah pertahanan Lazio ke Higuain untuk kemudian menyarangkan gol.
Tuan rumah terus mencoba bangkit. Biglia mendapat peluang untuk mencetak gol balasan di menit ke-28. Sayangnya tendangan kerasnya masih melebar tipis di kiri gawang Rafael. Bahkan di menit ke-31, gawang Napoli kembali selamat dari kebobolan setelah sundulan Marco Parolo membentur mistar gawang.
Grafis umpan Lazio di bawah ini memperlihatkan bagaimana sulitnya mereka membongkar pertahanan Napoli melalui area tengah pertahanan. Hampir semua serangan Lazio akhirnya dilakukan melalui kedua sisi sayap.

Gambar: attacking third Lazio di babak 1 (FourFourTwo)
Gargano dan Lopez Memberi Kemudahan Pemain Belakang
Pertahanan zona (zonal marking) yang diterapkan Benitez terlihat sangat efektif selama pertandingan. Gargano sebagi penahan alur serangan di sisi tengah bermain dengan baik mematikan peran Ledesma. Hal ini yang memaksa Lazio bermain di kedua sisi.
Gargano yang menahan agak lebih dalam dan dibantu oleh David Lopez yang sering memotong umpan lawan, memberi kenyamanan untuk barisan belakang yang membuat Albiol dan Koulbaliy dapat berkonsentrasi bermain di area pertahanan untuk menyapu umpan silang yang dilepaskan melalui kedua sisi.
Duet Albiol dan Koulibaly tercatat berhasil menyapu 30 umpan, 4 kali memotong umpan, dan 6 kali memenangkan perebutan bola dari kaki lawan yang dilancarkan pemain-pemain Lazio. Sedangkan Gargano berhasil menyapu umpan 4 umpan (O berwarna hijau), 2 kali menghalang tembakan (berwarna abu-abu), dan sukses 2 kali menghilangkan penguasaan bola dari kaki lawan (X berwarna hijau).

Gambar: Defensive Dashboard Gargano FT (FourFourTwo)
Terlihat jelas dari gambar bagaimana peran Gargano membantu menutup sisi tengah pertahanan Napoli di area sepertiga akhir pertahanan. Sebagaimana yang telah disinggung di awal. Hal ini yang menyebabkan Lazio harus bermain di sisi lapangan.
Semakin Solidnya Albiol dan Koulibaly.

Grafis serangan Lazio yang didominasi umpan silang (FourFourTwo)
Sadar dengan tidak berkembangnya permainan Ledesma dan pentingnya mengejar ketertinggalan demi menjaga posisi di klasemen, Stefano Pioli memasukan Klose dengan menarik keluar Ledesma. Namun hanya sedikit perubahan yang terjadi. Di antaranya perubahan formasi dari 4-3-3 menjadi 4-4-2. Di formasi ini Parolo bermain sebagai gelandang serang dan Biglia mengambil peran yang ditinggalkan Ledesma.
Ledesma memang bermain buruk di laga ini. Kredit pantas diberikan pada David Lopez, gelandang asap Spanyol, yang sukses menahan kinerja Ledesma. Hasil kerja Lopez inilah yang membuat Ledesma sangat kesulitan mengembangkan permainan. Setengah umpan yang dibuatnya dilakukan di daerah sendiri. Tiap Ledesma mencoba mengirim umpan panjang ke pertahanan Napoli, hasilnya lebih sering gagal.

Grafis umpan Ledesma (Squawka)
Dari segi permainan Lazio pun tidak ada perubahan. Dengan minimnya opsi pemilihan pemain yang dihadapi Pioli, Lazio masih terus mencoba mengempur dengan umpan-umpan menyilang yang langsung menuju kotak penalti lawan. Tentu harapan menyamakan kedudukan melalui umpan silang lebih besar setelah masuknya Klose yang memang punya keunggulan dalam bola-bola atas.
Namun sayangnya anak asuh Benitez justru semakin solid di dalam kotak penalti untuk menghalau semua umpan-umpan silang Lazio. Klose pun hanya mampu menghasilkan satu percobaan ke gawang. Albiol dan Koulibaly tidak begitu kesulitan dengan adanya Klose. Sejak babak pertama pun mereka berdua memang sudah disibukan untuk menyapu dan memutus semua umpan silang Lazio.
Lazio semakin meningkatkan intensitas serangan mereka guna mengejar skor. Basta mendapat dua kesempatan untuk mencetak gol, masing-masing di menit ke-65 dan 67. Tapi tidak satu pun yang berbuah manis.

Gambar: Sapuan Albiol dan Koulibaly FT (Squawka)
Dari chalkboard tersebut kita bisa melihat bagaimana ekstra kerasnya dua pemain belakang Napoli dalam mengantisipasi umpan silang. Mereka berdua lebih banyak melakukannya di area kotak 16 pas. Candreva dan Keita yang banyak bergerak di masing-masing sisi seperti kehilangan kreativitas. Mereka hanya sibuk mengirim umpan ke kotak penalti tanpa bisa melakukan usaha yang lain.
Lazio benar-benar mendominasi penguasaan bola, tapi begitu banyak serangan yang hanya bisa dilakukan melalui ke kedua sisi, terutama di babak kedua, yang semuanya tanpa hasil.
Kesimpulan
Dengan minimnya pilihan pemain yang dimiliki Pioli berakibat fatal bagi kreativitas permainan Lazio. Matinya permainan Ledesma menjadikan beban Lazio semakin berat. Dan menjadi lebih berat setelah ditarik keluarnya Ledesma. Klose yang diharapkan dapat memberi gebrakan, justru hanya membuat satu percobaan.
Napoli pun tidak terlalu baik saat menyerang. Hanya saja mereka sukses mencuri gol melalui serangan balik yang cepat dan kesalahan Berisha menghalau tembakan keras Higuain telah menghukum tim ibu kota di depan penontonnya.
Meskipun berhasil meraih kemenangan, Benitez masih harus memperbaiki permainannya. Jika tidak dengan cepat melakukan perbaikan, sulit rasanya untuk Napoli terus memperlebar jarak dari tim yang berada di bawah mereka.
Pasalnya, dipertandingan ini Napoli kehilangan pemain yang dapat menyambungkan aliran bola ke Higuain. Pemain berdarah Argentina ini terlalu sering menjemput bola ke tengah karena peran De Guzman yang tidak optimal. Dan perjudian mencadangkan Hamsik di pertandingan ini bisalah dikatakan hanyalah sebuah keberuntungan.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/a2s)











































