Gol semata wayang yang dilesatkan German Denis pada menit 33 bukan hanya mempermalukan Milan, tapi sekaligus memberikan kemenangan pertama Atalanta di tahun 2015.
Formasi 4-4-2 digunakan kesebelasan tamu untuk mengalahkan anak asuh Filippo Inzaghi. Kesebelasan berjuluk La Dea tersebut mengandalkan duet Denis dan rekrutan anyarnya, Mauricio Pinilla. Sedangkan di sisi sayap, pelatih Stefano Colantuono masih belum bisa menurunkan Marcelo Estigarribia yang cederanya tidak kunjung membaik. Maka pos sayap kanan pun diserahkan pada Davide Zappacosta yang sejatinya seorang seorang bek sayap. Sementara pos Zappacosta di belakang diisi Del Grosso.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kali ini Alessio Cerci diturunkan sejak kick-off. Dua pertandingan sebelumnya dia hanya turun sebagai pengganti. Pulihnya Ignazio Abate membuatnya dipercaya kembali menjadi pilihan utama di bek kanan sejak awal. Tapi Inzaghi kehilangan Keisukse Honda yang harus memperkuat negaranya di ajang Piala Asia 2015.

Trisula Milan Bermain Terlalu Melebar
Tiga pemain depan Milan, El Shaarawy-Menez-Cerci, langsung tancap gas menyerang begitu peluit dibunyikan. Terutama melalui sisi kanan, serangan Milan mengalir begitu deras. Abate menjadi motor utama serangan. Dia bukan hanya rajin mengirimkan umpan, tapi juga sangat aktif naik membantu menyerang.
Tidak heran jika di babak I saja, Milan membuat 13 umpan silang yang 10 di antaranya datang dari sisi kanan dan Abate sendiri membuat lima umpan silang. Agak timpang dengan sisi kiri yang hanya membuat tiga umpan silang yang dua di antaranya dibuat oleh El Shaarawy. Bonera yang mengisi pos fullback kiri tidak seagresif Abate sehingga sisi kiri Milan tidak terlalu menekan Atalanta.
Agresivitas Abate di sektor kanan banyak dimudahkan oleh pergerakan Cerci. Akan tetapi, rekrutan anyar Milan ini seolah tidak menyadari peran kedua rekannya di lini depan Milan. El Shaarawy ikut bermain melebar, begitu juga Jeremy Menez sebagai tipe pemain penjelajah yang rajin mencari bola.
Dengan trio lini depan yang serba bermain melebar, sedikit sekali pergerakan menusuk ke muka gawang lawan yang dikawal Marco Sportiello. Dampak dari situasi ini adalah menumpuknya pergerakan pemain di sektor sayap.

Grafis umpan silang Milan di babak I (squawka)
Tidak heran jika agresivitas Milan dari sisi sayap, khususnya sayap kanan, tidak banyak menghasilkan peluang-peluang yang berarti. Umpan-umpan silang yang dihasilkan pun lebih banyak gagal menemui sasaran (hanya satu dari sepuluh umpan silang dari sisi kanan yang berhasil).
Pilihan Colantuono untuk memasang Del Grosso di sisi kiri pertahanan terbukti tepat. Dialah yang paling bertanggungjawab atas kegagalan Milan memaksimalkan agresivitas serangan dari sisi kanan. Dibantu oleh bek tengah, Giuseppe Biava, yang kerap melebar untuk menyokong, Grosso sangat dominan dalam meredam baik Cerci maupun Abate hingga Menez yang memang kerap melebar.
Grosso melakukan semua aksi bertahan: tekel (3), sapuan bersih (3), intersep (6), duel udara (2) hingga bloking (3). Ada dua momen penting ketika Grosso berhasil menghentikan giringan bola dari Cerci.
Transisi Menyerang-Bertahan Milan Terlalu Lambat
Kubu tuan rumah terus-terusan menggempur Atalanta yang bermain bertahan dan dan hanya menyisakan Denis dan Pinilla di sektor depan. Akan tetapi upaya Milan tidak berimbang ketika menggalang pertahanan. Ricardo Montolivo dkk kurang baik ketika melakukan transisi dari serangan menjadi bertahan.
Transisi yang dilakukan Milan untuk bertahan sangat lambat. Ini berkali-kali dimanfaatkan oleh Atalanta. Mereka gencar mengandalkan serangan balik yang diawali dari sisi kiri, lalu dialirkan ke tengah.
Milan hanya mengandalkan Nige de Jong seorang untuk melindungi lini pertahanan saat menghadapi serangan balik. Gelandang bertahan Milan itu kerepotan mengantisipasi serangan balik seorang diri. Ditambah Abate dan Daniele Bonera yang sering terlambat menutup area, serangan balik Atalanta sejak awal sudah terlihat cukup menjanjikan.
Faktor tersebutlah yang menjadi malapetaka Milan di menit ke-33. Sebuah serangan balik cepat yang begitu melewati garis tengah bisa langsung berhadapan dengan garis pertahanan Milan. Moralez dengan sangat mudah membawa bola memasuki sepertiga akhir lapangan. Sementara German Denis dengan leluasa menyusup ke dalam kotak penalti memanfaatkan celah yang sangat lebar antara Bonera dan Mexes.
Β

Milan Kehabisan Akal Membongkar Rapatnya Bek Atalanta
Sejak tertinggal 1-0, Milan lebih gencar menyerang. Giampaolo Pazzini pun dimasukan mengganti Cerci di awal babak kedua. Inzaghi agaknya membaca bagaimana lini serang Milan terlalu asyik bergerak ke lebar lapangan sehingga berharap Pazzini bisa lebih konstan berada di dalam kotak penalti.
Akan tetapi tujuan itu tidak berjalan dengan lancar karena para anak asuh Colantuono bermain sangat rapat. Atalanta tidak membiarkan bola masuk ke dalam jantung pertahanan mereka. Siapapun penggawa Milan yang memegang bola, maka dua sampai tiga pemain mendekat untuk mencurinya.
Empat bek Atalanta bertahan sejajar, diikuti pula para gelandang. Terutama Luca Cigarini, gelandang bertahan, amat disiplin menjaga area luar kotak penalti. Pemain nomor 21 itu berhasil melakukan tekel bersih empat kali di area tengah wilayahnya. Tak kunjung mampu menerobos ke jantung pertahanan, para anak asuh Inzaghi terlihat frustasi. Umpan-umpan silang menuju kotak penalti sering dicoba untuk membongkar jantung pertahanan Atalanta.
Tetapi hal itu juga percuma. Dari 48 umpan silang yang dibuar Rossoneri sepanjang laga, hanya 10 (sekitar 20%) saja yang tepat menemui sasaran. Salah satu penyebabnya adalah karena hanya Pazzini yang selalu ada di kotak penalti, sedangkan pemain lainnya sering terlambat masuk.

Duet bek tengah Atalanta yang cukup berpengalaman, Giuseppe Biava (37 tahun) dan Guglielmo Standardo (33 tahun) bermain amat baik dalam menjaga pertahanan. Kombinasi keduanya menghasilkan 11 intersep, 20 sapuan (clearance), dan enam blok.
Strategi Pergantian Pemain yang Kurang Efektif
Salah satu kesalahan pergantian pemain Milan yaitu telat memasukan Pablo Armero sejak awal. Bek kiri itu baru dimasukan pada menit 36, mengganti Bonera yang cedera. Padahal setelah masuk ke lapangan, Armero memperlihatkan kinerja yang sangat baik dalam menyerang juga bertahan -- jauh lebih baik ketimbang Bonera.
Ketika maju ke depan, ia mampu membuat serangan sisi kiri Milan lebih hidup sekaligus mengimbangi agresivitas sisi kanan. Ia juga melepaskan enam umpan silang, dua di antaranya menjadi umpan kunci yang membuahkan percobaan mencetak gol. βBeruntungβ Bonera cedera, sehingga Armero bisa masuk ke dalam lapangan.
Tapi Inzaghi relatif terlambat mengganti Montolivo. Kapten Milan itu bermain kurang baik dalam memimpin lini tengah. Ia khususnya sering terlambat turun ke bawah sehingga meninggalkan De Jong sendirian tiap kali mendapatkan serangan balik.
Akhirnya Montolivo diganti MβBiaye Niang pada menit 77, dengan maksud mempertajam serangan di kotak penalti. Namun sayang, Niang tidak mampu menerima porsi yang diberikan Inzaghi kepadanya. Niang lebih sering turun ke bawah untuk mencari bola dan kemudian lebih sering bergerak (lagi-lagi) melebar untuk melakukan (apalagi kalau bukan) umpan silang yang semuanya gagal (dari lima kali percobaan). Satu-satunya umpan Niang yang menjadi umpan kunci hanya dari sepakan pojok.
Memasukkan Pazzini agaknya menjelaskan semua itu. Ia diharapkan bisa mengeksekusi bola-bola yang dikirimkan dari lebar lapangan melalui umpan silang. Dan itulah yang memang banyak dilakukan Milan, bahkan sejak sebelum Pazzini masuk apalagi setelah dia masuk. Dan terbukti ini menjadi strategi yang tak membuahkan apa-apa.
Kesimpulan
Permainan melebar trisula Milan justru berbuah kemandulan karena membingungkan serangan Rossoneri itu sendiri. Permainan seperti itu justru mempermudah para bek sayap dan gelandang Atalanta untuk mencuri bola.
Upaya para anak asuh Colantuono mempertahankan keunggulan pun tidak main-main. Pola disiplin mereka menempatkan hingga 11 pemain di wilayanya sendiri. Sehingga Milan yang bermain dengan garis bertahan cukup tinggi, kerap kerepotan menahan serangan balik Denis dkk. Pergantian pemain yang dilakukan Inzaghi bisa dibilang kurang sesuai. Apalagi pergantian pemain yang dilakukannya tidak menghasilkan kreativitas serangan yang sebenarnya lebih dibutuhkan ketimbang monoton mengandalkan serangan dari sayap.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/a2s)











































