La Viola Memanfaatkan Celah Bek Sayap I Lupi

Liga Italia: Fiorentina 1-1 AS Roma

La Viola Memanfaatkan Celah Bek Sayap I Lupi

- Sepakbola
Senin, 26 Jan 2015 15:30 WIB
La Viola Memanfaatkan Celah Bek Sayap I Lupi
REUTERS/Giampiero Sposito
Firenze -

Pergantian tahun dan transisi paruh musim masih belum dituntaskan dengan baik oleh AS Roma. I Giallorossi malahan menjauh dari Juventus, setelah bermain imbang 1-1 dengan Fiorentina di Stadion Artemio Franchi, Senin (26/1/2015) dinihari WIB.

Bahkan skuat besutan Rudi Garcia tersebut harus susah payah menyamakan kedudukan. Setelah tertinggal dahulu oleh gol Mario Gomez pada menit ke-19, Roma baru bisa menyamakan skor menit 49 melalui Adem Ljajic.

Kendati gagal menang di kandang sendiri, formasi 3-5-1-1 ramuan Vicenzo Montela sangat menyulitkan Roma. Formula itu memang menjadi andalan Fiorentina dalam dua pertandingan terakhir yang menjadi kemenangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tuan rumah turun dengan skuat penuh, ditambah bangkitnya Gomez setelah dibekap cedera. Penyerang Jerman itu pun menemukan ketajamannya kembali, atas dua gol di partai sebelumnya melawan Atalanta pada Coppa Italia.

Ini berbeda dari Roma yang hingga kini belum menemukan paten dua bek tengah mereka. Kendati tetap berpatron pada formasi 4-3-3, duet jantung pertahanan Giallorossi selalu berubah-ubah. Kali ini Garcia mempercayakan Mapou Yanga-Mbiwa dengan Kostas Manolas.

Sedangkan krisis bek sayap kanan Roma, masih memaksa Alessandro Florenzi untuk mengemban peran ini. Padahal Florenzi merupakan penyerang sayap dan di sisi lain Douglas Maicon dan Michele Somma dicadangkan.



Celah Bek Sayap Roma

Garcia seolah tidak berkaca dari beberapa pertandingan sebelumnya. Pos yang ditempati Florenzi acapkali diandalkan Fiorentina untuk membangun serangan. Tak ayal tuan ruma pun memanfaatkan moment serangan ketika pemain 23 Tahun ini ikut naik ke garis depan.

Memang berkali-kali Florenzi sedikit memberi gempuran kepada tim lawan. Akan tetapi ia sering lupa tugasnya sebagai bek kanan untuk bertahan. Beberapa kali Manuel Pasqual pun berhasil melancarkan sembilan umpan silang di daerah kawasannya. Ditambah beberapa pemain Fiorentina berhasil masuk ke kotak penalti dari arah yang dijaga Florenzi.

Tidak hanya di sisi kanan, bek kiri Roma pun mengalami hal serupa. Kendati Jose Cholevas bermain di posisi aslinya, namun kemampuan bertahannya tidak terlalu baik. Dari area yang dijaga pemain Yunani itu, dua umpan kunci berhasl dilepaskan lawan, masing-masing dilancarkan Borja Valero dan Matias Fernandez. Cholevas juga terlihat sulit mengantisipasi pergerakan Joaquin, sayap kanan Spanyol tersebut sering lepas dari kawalannya.


[Grafis umpan silang Fiorentina di pertahanan AS Roma melalui kedua sayapnya. Sumber : Fourfour Two]

Garis Pertahanan Rendah Roma yang Tidak Jelas

Pasangan Mapou dengan Manolas, terlihat santai sekali mengawal jantung pertahanan Roma. Mereka lebih sering berada di belakang menunggu bola, jarang memberikan tekanan sengit kepada lawan. Selama 90 menit pertandingan, duet ini tidak melakukan tekel satu pun. Pola pertahanan garis rendah mereka tidak jelas karena beberapa kali Mapou keluar dari posisinya. Belum lagi ia acapkali melakukan dribel di garis pertahanan rendah yang tentunya berisiko direbut lawan.

Dampaknya, banyak sekali peluang yang diciptakan oleh Gomez yang leluasa berkeliaran di muka gawang Morgan De Sanctis, sehingga ia sering berada dalam positioning yang tepat menyambut bola, walau sering terbuang. Akan tetapi golnya di menit 16, merupakan buah hasil dari dirinya yang pintar mencari ruang di depan. Tidak hanya Gomez, bahkan Nenad Tomovic sebagai bek tengah berhasil melepaskan dua tendangan mengarah ke gawang di dalam kotak penalti Roma.

Pembiaran kepada lawan itu berbeda dengan Fiorentina. Trio bek Gonzalo Rodriguez, Jose Basanta dan Tomovic, tangguh menahan gempuran Roma dengan garis pertahanan tinggi. Apalagi tugas mereka diperingan Pasquale dan Joaquin yang rajin membantu pertahanan. Kedua sayap yang sering jadi andalan Garcia pun menjadi macet.

Pertahanan mereka apik dalam melakukan sapuan bersih. Gonzolo dan Basanta juga sering memenangi duel udara dan mengantisipasi beberapa kali para pemain Roma melancarkan operan lambung.

Fiorentina Menangi Pertempuran di Tengah

Selain bantuan dari kedua wing-back mereka, jantung pertahanan Fiorentina juga dipermudah David Pizarro. Penguasaan bola yang baik oleh gelandang berpengalaman ini bisa melindungi pertahanan Viola dari lawan.

Selain membantu menetralisir lini tengah dengan empat intersepsi, tempo permainan Fiorentina bergantung kepada Pizarro. Gelandang asal Chile ini tahu kapan kesebelasannya harus mulai melakukan serangan. Bola dialirkan ke berbagai arah oleh Pizarro, terutama ke dua sisi sayap yang menjadi kelemahan pertahanan lawan. Tercatat ia mampu melepaskan 50 passing dengan akurasi rataan 92 %, dua diantaranya menjadi umpan kunci.


[Grafis Pizarro selama pertandingan. Sumber : FourfourTwo]

Beruntung pekerjaan Pizarro tidak sendirian, ia juga dibantu oleh Valero yang juga gemilang. Itu belum dihitung dengan kemampuan Matias Fernandez menjembatani serangan Viola. Trio gelandang Fiorentina itu menjadi lebih dominan, ketimbang trio pemain tengah Roma. Daniele De Rossi, Radja Nainggolan dan Kevin Strootman kalah kreativitas. Pergerakan yang terbatas memaksa mereka hanya melancarkan umpan-umpan jauh yang mampu diintersepsi atau disapu bek Fiorentina.

Ditambah pola Roma yang memanfaatkan lebar lapangan terbaca oleh pemain-pemain Viola. Saat itu jarak jauh antara pemain depan mereka acapkali gagal karena salah memberikan bola.

Akselerasi Iturbe Manfaatkan Kurangnya Konsentrasi Fiorentina

Usai turun minum permainan Fiorentina cenderung menurun. Ketika membangun serangan, operan terakhir mereka di kotak penalti lawan tidak terarah sehingga gampang diintersepsi oleh para pemain Roma.

Penampilan Francesco Totti dkk., di babak kedua ini juga menjadi lebih baik. Intruksi Garcia di ruang ganti seolah membakar semangat mereka. Para β€œSerigala Ibukota” lebih memakai perhitungan dalam menyerang. Mereka melihat celah-celah di pertahanan tinggi Fiorentina yang lalu dimanfaatkan Juan Iturbe.

Pengertian yang baik dengan Totti kali ini membuat Iturbe lebih mendapatkan kesempatan menerobos lawan. Pertahanan tinggi Fiorentina lebih terbuka karena barisan pertahanan Fiorentina menyemut kepada Totti.

Di sisi lain, kali ini Iturbe lebih mengerti karena langsung melakukan terobosan ketimbang melebar sesuka hatinya. Pergerakannya itu pun didukung oleh kelincahan sambil membawa bola. Enam dribelnya berhasil mengecoh para anak asuh Montela.

Dua umpan kunci dilepaskan oleh pemain bernomor tujuh ini, satu di antaranya menjadi assist untuk Ljajic. Gol ini berawal dari dribel Iturbe yang mengecoh Basanta dan memberikan bola kepada Ljajic yang berdiri bebas. Akibat Gonzolo yang terpancing karena Basanta sudah dilewati.

Taktik Garcia Untuk Redam Cuadrado

Montela bisa dikatakan gagal berharap lebih kepada Juan Cuadrado di pertandingan ini. Gelandang serang Fiorentina tersebut itu pun tidak mampu berbuat banyak sejak babak pertama.

Pada awalnya, beberapa percobaan serangan Pasqual dkk bertumpu kepada Cuadrado. Akan tetapi ia sulit bergerak karena selalu mendapatkan pengawalan ketat De Rossi, yang menjadi pemain Roma yang paling sering bersinggungan dengan Cuadrado. Sebanyak empat tekel dilakukan untuk menghentikan pemain Kolombia itu. Dua di antaranya berhasil, akan tetapi sisanya masing-masing berbuah pelanggaran dan gagal.

Memasuki menit 77 Montela sempat mengubah formasi dengan menggeser Cuadrado ke posisi aslinya, yaitu penyerang sayap, ditemani Gomez dan Joaquin. Namun perubahan strategi itu disadari oleh Garcia dan direspons dengan melakukan rotasi pemain. Sadar bahwa Florenzi bakal semakin tak berdaya berhadapan dengan Cuadrado, maka Maicon diturunkan mengganti Ljajic. Florenzi lalu digeser ke depan dan Maicon menempati posisi bek kanan.

Hal itu dimaksudkan untuk mengantisipasi serangan Cuadrado ke sisi kanan pertahanan Roma. Kawalan yang dilakukan sejak babak pertama memang berbuah positif. Gerakan pemain bernomor 11 tersebut menjadi terbatas. Selama pertandingan ia pun cuma menyentuh bola 44 kali, kalah oleh bek tengah Tomovic yang terkadang ikut membangun serangan.


[Grafis Heatmap Pergerakan Cuadrado yang tidak banyak menyentuh bola. Sumber : Squawka]

Kesimpulan

Pertahanan dan penyerangan buruk Giallorossi, membuat kewalahan pemain tengah mereka sehingga mereka acapkali kebingungan membangun serangan dan kehilangan si kulit bundar. Fiorentina memenangi pertarungan di lini tengah karena Pizarro, Borja dan Fernandez bermain dengan baik. Akan tetapi, pengawalan kepada Cuadrado menyulitkan Viola membangun serangan ke arah poros tengah sehingga bola lebih sering dialirkan menuju sisi kanan dan kiri.

Kendati demikian, hal tersebut justru menjadi celah bagi para anak asuh Montella untuk memberikan tekanan. Sebab, kedua bek sayap Roma bermain tidak terlalu istimewa, terutama Florenzi.

Namun, Roma yang terlambat panas mampu memanfaatkan kelengahan Fiorentina di babak kedua sehingga pertandingan pun mencatatkan hasil yang adil untuk keduanya, 1-1.

====

* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads