Dalam lintasan sejarah Liga Primer Inggris, derby Merseyside dikenal sebagai derby yang menarik karena menghasilkan rataan tiga gol per pertandingan dan juga derby dengan total kartu merah paling tinggi. Namun, pertemuan jilid kedua antara Liverpool dan Everton pada musim 2014/2015 ini menyajikan narasi berbeda.
Meski kedua tim bermain terbuka dan saling bertukar serangan, tidak ada satupun gol yang bersarang sepanjang 90 menit pertandingan. Wasit juga tak perlu mengeluarkan kartu merah karena satu-satunya pertikaian yang terjadi di lapangan hanyalah antara Jordan Henderson dan Steven Naismith yang dengan cepat didamaikan.
Kejutan yang terjadi di derby terakhir untuk Steven Gerrard hanyalah soal susunan pemain. Brendan Rodgers secara tidak terduga memainkan pemain muda yang baru ditarik dari peminjaman ke Derby County, Jordon Ibe, sementara Leighton Baines secara misterius menghilang baik dari daftar susunan pemain inti maupun cadangan Everton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pressing Tinggi Everton
Salah satu alasan mengapa pertandingan ini menjadi minim peluang dan dengan bola yang lebih sering berputar di lini tengah adalah karena pressing Everton yang mampu membuat Liverpool tidak bisa membangun serangan dengan nyaman.
Pemilihan formasi 4-3-3 oleh Martinez memang diplot agar ketiga penyerang The Toffees bisa merusak irama permainan Liverpool saat membangun serangan dari ketiga pemain belakang.

Pressing yang dilaikan oleh ketiga penyerang Everton
Terlihat pada gambar, ketika Skrtel memegang bola, Naismith langsung melakukan pressing kemudian diikuti Mirallas yang menekan Sakho dan Lukaku yang menekan Can (tidak terlihat pada gambar).
Tidak hanya ketiga penyerang, gelandang dan kedua fullback Everton pun ikut menekan. Dua dari tiga gelandang mereka akan naik untuk menekan dua gelandang Liverpool di tengah, sedangkan Seamus Coleman dan Bryant Oviedo akan menekan dua fullback Liverpool untuk menutup jalan mereka ke sisi lapangan.
Tekanan ini tidak sepenuhnya efektif. Pasalnya, dua gelandang Everton yang menekan dua gelandang Liverpool juga tidak bisa mengambil risiko terlalu besar dengan bergerak terlalu jauh ke depan. Mereka harus mengantisipasi bahaya dari ketiga pemain Liverpool yang berada di depan jika sampai mendapatkan bola.
Maka, kedua gelandang Everton akan mengurangi tekanan jika Joe Allen (yang menggantikan Lucas Leiva pada menit 16) dan Jordan Henderson turun terlalu jauh.
Mengincar Kesalahan
Dengan menginstruksikan trisula di depan untuk melakukan pressing, Martinez sedang mengincar kesalahan dari ketiga bek Liverpool saat menguasai bola di daerahnya sendiri.
Bagaimana pun juga, filosofi permainan yang diusung Liverpool adalah permainan bola pendek dari kaki ke kaki dengan umpan panjang menjadi opsi terakhir. Namun filosofi ini akan sangat rentan mengundang kesalahan yang kemudian bisa menghasilkan peluang emas bagi Everton.
Pressing tinggi yang dilakukan Everton ini terlihat dari defensive action yang mereka lakukan di sepanjang pertandingan. Terlihat 18 kali mereka melakukan usaha merebut bola di area pertahanan Liverpool.

Defensive Action Everton. (Sumber: fourfourtwo.com)
Martinez sendiri sempat beberapa kali mendapatkan incarannya. Baik Mahmadou Sakho, Emre Can, dan Martin Skrtel sempat sesekali melakukan kesalahan saat menguasai bola di area sendiri. Namun sayang Everton sering gagal memanfaatkan peluang.
Menutup Ruang antar Lini
Pressing tinggi yang dilakukan Everton memang tidak selalu berhasil mematahkan serangan Liverpool karena toh bola masih berhasil sampai ke kaki salah satu dari dua gelandang Liverpool.
Namun pressing bukanlah inti dari pertahanan yang ingin dibangun Everton. Pressing adalah usaha Everton untuk mencuri angka dengan memanfaatkan kesalahan pemain Liverpool.
Jika bola sampai di kaki gelandang Liverpool, ketiga penyerang everton akan langsung mengendurkan tekanan dan kembali ke area pertahanan sendiri. Ketiga penyerang ini kemudian akan menjadi lapisan pertama pada tembok pertahanan Everton yang berdiri di garis tengah lapangan. Mereka berfungsi untuk mengganggu aliran bola dari gelandang Liverpool sementara ketiga gelandang Everton berdiri rapat di depan empat bek Everton.
Martinez tahu bahwa yang diincar Liverpool dengan tiga penyerangnya adala ruang antara lini tengah dengan lini bertahan lawan. Disitulah posisi ketiga penyerang Liverpool biasanya berada untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan.
Everton kemudian mengantisipasi hal ini dengan tidak membuat ruang antara barisan gelandang dan pertahanan.
Pada gambar berikut terlihat bagaimana rapatnya jarak antara barisan pertahanan dan gelandang Everton. Hal ini membuat penyerang Liverpool yang menguasai bola di area ini tidak mendapatkan keleluasaan untuk berkreasi dalam membongkar pertahanan.

Jarak antara lini tengah dan bertahan Everton yang sangat rapat
Dua Fullback Liverpool sebagai Pancingan
Kesulitan mendobrak langsung dari tengah tidak membuat Liverpool kehabisan ide. Mereka masih memiliki satu cara lain untuk memaksa Everton membuka ruang di area pertahanan yaitu dengan menggunakan kedua fullback sebagai decoy (tipuan).
Kedua fullback Liverpool akan naik hingga mendekati pertahanan Everton saat Liverpool menyerang, Mereka menjadi opsi bagi gelandang Liverpool untuk mengalirkan bola melalui sisi kanan maupun kiri.
Hal ini membuat kedua fullback Everton mau tidak mau harus waspada dengan pergerakan kedua fullback Liverpool ini. Otomatis, kedua fullback Everton akan bergeser beberapa langkah mendekati kedua fullback Liverpool di kanan dan kiri pertahanan.
Artinya, ada ruang terbuka yang tercipta antara fullback dengan bek tengah Everton. Dan inilah yang diincar Liverpool untuk masuk ke kotak penalti. Dengan memancing fullback Everton berdiri lebih melebar, gelandang Liverpool mengincar waktu yang tepat untuk mengirimkan umpan terobosan melalui celah yang tercipta. Penyerang mereka, Raheem Sterling, yang mampu berlari sangat cepat, tentu saja sangat mahir memanfaatkan celah ini.

Pada gambar terlihat bagaimana fullback kanan Everton, Seamus Coleman, terpancing dengan keberadaan Moreno. Coleman bergeser beberapa langkah dan tercipta ruang antara Coleman dengan bek tengah Everton. Ruang inilah yang dimanfaatkan Coutinho dan Sterling untuk masuk ke kotak penalti Everton.
Namun dalam hal ini Everton harus berterima kasih dengan kiper mereka yang bermain sangat cemerlang. Kiper berusia 24 tahun, Joel Robles, selalu berhasil keluar di saat yang tepat sehingga bisa segera menutup pergerakan Sterling. Hal inilah yang menyebabkan siasat Liverpool tidak berhasil membuahkan gol.
Kesimpulan
Meski sempat diwarnai dengan bentrokan antara Jordan Henderson dan Steven Naismith di tengah pertandingan, derby Merseyside kali ini bisa dibilang tidak sepanas derby Merseyside di masa lalu.
Derby Merseyside kali ini lebih diwarnai oleh perang strategi antara kedua pelatih ketimbang perang fisik antara sebelas pemain di lapangan. Kedua pelatih saling mencoba untuk mengincar kelemahan lawan dan membongkar pertahanan lawan dengan caranya masing-masing.
Hasilnya, kedua pelatih sama-sama tidak berhasil membuat timnya mencetak satupun gol. Pertarungan dua tim sekota yang sedang dalam performa kurang maksimal di liga inipun harus berakhir dengan hasil imbang tanpa gol.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/roz)










































