Kemenangan West Ham United yang sudah di depan mata mesti kandas oleh gol Daley Blind di masa injury time. Kebobolan di penghujung waktu itu membuat mereka gagal menang atas Manchester United, terakhir mereka bisa melakukannya pada Desember 2007. Padahal kubu tuan rumah sempat di atas angin berkat gol yang diceploskan Cheikhou Kouyate di menit 49.
Sam Allardyce menggunakan formasi 4-4-2 diamond untuk meladeni The Red Devils di Upton Park, Minggu (9/2/2015). Begitu juga dengan United menggunakan formasi yang sama, dengan tekad bisa menang di kandang West Ham.
Pada susunan pemain, Louis Van Gaal mempercayakan Adnan Januzaj sejak susunan pemain awal dengan Di Maria kembali dipasang di belakang Persie-Falcao. Rooney, seperti beberapa laga terakhir, juga bermain di lini tengah. Sementara Maroune Fellaini, Juan Mata, maupun Ander Herrera disimpan di bangku cadangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya badai cedera dikabarkan tengah menghinggapi The Hammers, julukan West Ham. Selain Carrol dan Reid, James Collins juga absen karena dihinggapi cedera.

Susunan Pemain kedua kesebelasan. Sumber : Fourfour Two
West Ham Paksa United Menuruti Irama Permainannya
Penyerangan dari semua sisi West Ham berjalan dengan lancar sejak awal pertandingan. Kendati banyak mengandalkan umpan-umpan jauh, tapi strategi itu rupanya efektif untuk membongkar pertahanan United.
Untuk melancarkan itu, Kevin Nolan dkk. pintar memainkan irama pertandingan. Ketika bola di kaki lawan, mereka sabar dalam merebut si kulit bundar. Mereka tak tergesa-gesa merebut bola kendati jarak pemain The Hammers dengan para anak asuh Van Gaal yang sedang menguasai bola sangat berdekatan.
Akan tetapi tempo cepat langsung dilakukan ketika bola dikuasai oleh West Ham. Mereka menekan dari segala penjuru dengan Nolan dan Mark Noble di kedua sisi lapangan menjadi jembatan yang baik antara pertahanan dan penyerangan.
Untuk membangun keseimbangan, kedua fullback mereka yakni Aaron Cresswell dan Jenkinson mempermudah serangan. Mereka tampil disiplin karena jarang terlalu maju hingga sepertiga akhir lawan. Keduanya lebih sering maju hanya sampai setengah lapangan sehingga West Ham bisa cukup nyaman bertahan, termasuk saat menghadapi serangan balik. Kemudian dari setengah lapang itu, dua fullback tadi banyak melemparkan umpan jauh ke depan. Hanya Jenkinson yang sesekali lebih berani naik karena memang punya kemampuan cukup baik dalam memberikan umpan silang.
Sejak pertama, pola seperti ini cukup efektif menggempur pertahanan United. Bahkan pada 15 menit babak pertama. Marcos Rojo dan Phil Jones masing-masing sudah dipaksa untuk melakukan kesalahan mengantisipasi bola udara. Kedua momen itu berujung dua percobaan mencetak gol oleh The Hammers.

Berikut grafis umpan jauh ke depan berdasarkan sumber Fourfourtwo :
Total selama 49 menit, tujuh percobaan tendangan dilancarkan ke gawang yang dikawal David de Gea. Beruntung tiga tendangan yang mengarah ke gawang berhasil dihalau oleh kipper asal Spanyol tersebut.
Jarak Antarlini Terlalu Jauh dan Serangan Balik Buruk United
United terlihat menerapkan garis pertahanan rendah dan itu dimanfaatkan lawan untuk memberikan tekanan. Daley Blind terus direpotkan menetralisir area di depan kotak penalti dari gempuran West Ham. Imbasnya, Wayne Rooney terpaksa sering turun membantu Blind. Beberapa kali Di Maria juga terlihat membantu pertahanan.
Dampaknya, jarak antar lini United sangat jauh. Antara unit penyerangan dengan unit bertahan terdapat jarak yang cukup lebar. Rooney yang mestinya menjadi penghubung cukup sibuk membantu Blind di kedalaman lini tengah.
Januzaj juga tak banyak berperan. Ia terlihat sangat sulit membuka pertahanan lawan. Pemain paling muda di kudu United itu sering terisolasi saat menerima bola dalam situasi serangan balik. Ia tampak terlalu berlama-lama memegang bola. Ini kebiasaan buruk Januzaj, tapi hal ini juga disebabkan karena sering telatnya dua fullback United naik untuk memberi sokongan. Dengan cukup mudah beberapa kali Alex Song berhasil memadamkan ancaman dari Januzaj. Begitu juga dengan pergerakan Rooney yang dibatasi oleh penjagaan Nolan.

Serangan United banyak yang tidak sampai di kotak penalti karena sudah lebih dulu digagalkan. Sumber : Fourfour Two.
Maka Radamel Falcao dan Robin Van Persie semakin kesulitan mendapatkan ruang. Di antara duet itu, selama 49 menit, cuma satu kali bola berhasil diarahkan tepat ke gawang oleh Van Persie selama 49 menit. Duet ini pun selama 65 menit merupakan pemain yang paling sedikit menyentuh bola.
Falcao hanya 31 kali memegang bola, sedangkan satunya lagi 30 kali. Hal itu diperparah dengan penyelesaian akhir Falcao yang tidak sesuai dengan reputasinya sebagai penyerang haus gol. Dari empat kali percobaan tendangan, tidak ada yang mengarah ke gawang satu pun.
Keduanya cenderung statis di depan, tidak banyak bergerak membuka ruang, dan itu memudahkan pertahanan West Ham untuk mengatasinya. Di babak pertama, West Ham hanya sedang menghadapi dua striker yang kebetulan punya nama besar, tapi tak berdampak apa-apa di lapangan.
Inilah yang membedakan secara kontrak antara United dan West Ham di babak pertama. Bandingkan dengan Sakho dan Valencia. Keduanya sangat agresif meneror dan menekan Rojo-Jones dengan cara berlari dan berlari. Kapan pun West Ham mengirimkan umpan panjang, keduanya mencoba mengejarnya, berlari, di antara kedua bek tengah United itu.
Bahkan dalam situasi yang tidak menguntungkan pun mereka tetap mengejar bola dan secara konstan memberi tekanan. Setidaknya, jika pun tak dapat mendapatkan bola, keduanya tetap mengusahakan untuk mendapatkan sepak pojok atau lemparan ke dalam. United sangat direpotkan untuk hal yang satu ini.
West Ham Andalkan Bola Mati dan Kegemilangan De Gea
Menyerang dengan umpan-umpan panjang, West Ham ternyata memang bisa merepotkan United. Barisan pertahanan yang digalang Rojo dan Jones terlihat berat dalam menghadapi bola-bola panjang lawannya.
Ini juga terlihat dalam skema bola mati. Dari empat momen tendangan sudut, tiga di antaranya berhasil menemui sasaran dan dapat dimaksimalkan menjadi percobaan mencetak gol.
Dari skema bola mati pula West Ham berhasil mencetak gol. Pada menit 49 gawang David de Gea bobol oleh gol atraktif Kouyate. Gol West Ham itu juga berawal dari bola mati yang dieksekusi Noble.

Grafis umpan silang West Ham yang berhasil, termasuk tiga dari tendangan sudut. Sumber : Squawka
Akan tetapi United lagi-lagi harus berterima kasih kepada de Gea. Kendati kebobolan sekali, lima kali penyelamatan gemilang dilakukan olehnya sepanjang laga. Dua di antaranya dating dari proses bola mati lawan.
Di antara lima total penyelamatannya, satu kali berhasil dilakukan oleh kakinya. Total sudah tujuh kali De Gea melakukan penyelamatan gawang menggunakan kakinya. Merupakan yang terbanyak di Premier League 2014/2015 sejauh ini.
Perubahan Pola Selamatkan United dari Kekalahan
Sebelum kebobolan, United terlihat seperti kesebelasan semenjana saat menyerang. Mereka nyaris tak punya kreativitas dan cenderung tak bertenaga untuk memberikan tekanan ke pertahanan West Ham.
Seperti juga di laga-laga sebelumnya, United juga mencoba peruntungan dengan banyak membuat umpan silang. Hanya saja, sekali lagi, tak Nampak sesuatu yang berbahaya dari taktik ini.
Sebelum Fellaini masuk, hingga menit 70, United berulang kali membuat umpan silang. Tercatat mereka membuat 25 kali mereka melakukannya. Berapa yang membuahkan gol? Tidak ada. Berapa yang bisa menjadi percobaan mencetak gol? Hanya sekali. Dari 25 kali usaha melakukan umpan silang!
Sejak kebobolan, United memang terlihat lebih baik. Mereka lebih aktif menyerang. Garis pertahanan rendah ditinggalkan dan para pemain bermain lebih jauh ke depan. Blind yang semula terus sibuk membantu pertahanan, menjadi sering berada di luar kotak penalti lawan. Dari sektor tersebut, ia sudah mencoba merebut bola dari West Ham.
Keputusan Van Gaal untuk mengganti Januzaj di menit 72 oleh Fellaini dirasa cukup tepat. Mengingat pemain bernomor punggung 11 itu banyak kehilangan bola, juga tidak mampu mendistribusikan bola kepada duet Falcao dan Van Persie.
Sedangkan tuan rumah berubah pola permainan sejak unggul. Mereka lebih cenderung bermain bertahan. Mengandalkan serangan balik melalui kedua sisi sayapnya. Song pun kali ini lebih sering terlihat lebih dalam, mati-matian menetralisir jantung pertahanan dari gempuran lawan.
Hanya mengandalkan serangan balik, kiper West Ham, Adrian, mulai terlihat lebih bekerja keras. Dia pun tampil cukup gemilang. Sebanyak empat penyelamatan mampu diamankan dari bahaya. Walau pada akhirnya jala gawangnya bobol juga oleh sepakan keras Blind pada menit 92.
Dan itu pun berkat umpan silang dan andil Fellaini. Benar, Fellaini tak menyentuh sedikit pun bola. Tapi umpan silang yang menjadi gol itu mengarah pada Fellaini. Alex Song terpaksa melakukan sapuan bersih (clearance) dengan kepalanya. Daripada diambil Fellaini, begitu kira-kira. Tapi bola sapuan Song mengarah pada Blind yang langsung menendangnya ke arah gawang. 1-1.
Kesimpulan
Secara permainan, West Ham lebih baik ketimbang United. Akibat konsentrasi yang menurun di menit-menit akhir, membuyarkan kemenangan pertama mereka atas United dalam 12 pertemuan terakhir. Padahal pertahanan yang digalang Kouyate dan James Tomkins cukup solid, terutama bagi nama pertama. Dirinya berhasil melakukan tiga tekel sukses dan 13 sapuan bersih dari gempuran lawan.
Kecerdikan Nolan dkk mengendalikan tempo permainian, membuat United terkurung di wilayahnya sendiri. Akan tetapi penyelesaian akhir yang kurang baik dan penampilan cemerlang de Gea, hanya mampu mencetak satu gol saja.
Perubahan pola permainan Van Gaal merupakan salah satu faktor The Red Devils mampu menyamakan kedudukan. Karakter United sebagai tim menyerang menjadi lebih terlihat.
Tapi ini hasil seri yang layak disesali oleh van Gaal. Saat Arsenal kalah dan City serta Liverpool seri, United membuang peluang emas untuk mengamankan posisinya di zona Liga Champions. Tapi apa yang bisa diharapkan jika mereka memang bermain buruk, minim kreativitas dan karenanya justru layak merasa bersyukur karena sekadar tidak kalah?
Van Gaal juga perlu untuk mempertimbangkan kembali duet Falcao dan Persie. Dengan dua peluang emas yang semuanya dibuang percuma, Falcao memang berada dalam persoalan besar. Muncul pertanyaan menarik: buat apa membangkucadangkan James Wilson yang sedang produktif dan untuk apa juga menaruh Rooney di lini tengah saat para penyerang yang dipasang terlalu gampang membuang peluang?
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/a2s)











































