Ambisi Paris Saint-Germain untuk mengalahkan Chelsea di leg I 16 besar Liga Champions telah sirna. Kesebelasan berjuluk Les Parisiens tersebut hanya bermain imbang 1-1 di Stadion Parc des Princes.
Tidak hanya gagal menang, akan tetapi PSG juga tidak mampu menjaga keperawanan gawangnya. Mereka gagal cleansheet karena gol Branislav Ivanovic pada menit 35. Sebelum pada akhirnya di menit 53, Edinson Cavani menyelamatkan kesebelasannya dari kekalahan.
Untuk meredam agresivitas lini depan The Blues yang sangat tajam dan merepotkan, Blanc memasang formasi 4-3-3 dengan mengubah peran beberapa pemain ketimbang yang biasanya. David Luiz dipasang bukan menjadi bek, melainkan seorang gelandang bertahan. Di jantung pertahanan, Blanc memilih Marquinhos untuk mendampingi Thiago Silva. Ini pilihan taktikal yang dipilih Blanc untuk meredam kreativitas Cesc Fabregas, Eden Hazard, juga Diego Costa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan Chelsea memainkan Fabregas lebih agak ke depan. Sementara Ramires dipilih untuk menemani Nemenja Matic di poros ganda. Kekuatan di lini depan pun bertambah oleh kehadiran Diego Costa yang merumput kembali, setelah harus absen di beberapa laga di kompetisi domestik karena hukuman.
Pilihan taktikal yang diambil Mourinho akhirnya berhasil merawat rekor Chelsea yang belum terkalahkan di UCL 2014/2015.
Permainan Sabar Chelsea
Cara bermain agak berbeda digunakan oleh kedua kubu, khususnya di awal laga. Kubu tuan rumah bermain cukup agresif menyerang dan menekan sepertiga akhir di pertahanan Chelsea. Di sisi lain, John Terry dkk, juga meladeni hal itu dengan baik. Ketika mendapatkan bola, mereka banyak bermain di wilayah sendiri, tak buru-buru melepas bola ke depan. Kemudian pelan-pelan masuk ke wilayah pertahanan Thiago Silva dkk.
Dengan cara itulah Chelsea mencoba memperlambat tempo. Mereka tidak ingin terpancing bermain cepat dan terbuka. PSG akhirnya cukup kesulitan membongkar pertahanan Chelsea. Seiring berjalannya waktu di babak pertama, PSG malah terlihat terbawa irama permainan Chelsea. Mereka juga menurunkan tempo.
PSG kemudian juga banyak memasang garis pertahanan yang rendah. Dampaknya, Marco Veratti juga harus rajin turun menjemput bola. Sebagai orang pertama yang membangun serangan, gelandang Italia itu lebih sering berada di wilayahnya sendiri. Dari situlah ia terus mendapatkan tekanan ketika mendapatkan bola.
Cara main seperti ini di satu sisi memang juga berhasil meredam kreativitas dan agresivitas lini serang Chelsea. Tapi akibatnya, PSG sendiri jadi kesulitan membangun serangan. Jarak antara Veratti dengan trio Cavani, Zlatan Ibrahimovic, maupun Ezequel Lavezzi terhitung renggang.
Inilah yang membuat Chelsea berani tidak bermain agresif di lini pertahanan. Mereka memang tidak merenggangkan pertahanan dan terus menekan trio Cavani-Ibra-Lavezzi, tapi Terry, dkk., tidak gampangan mengambil bola. Mereka tidak tergesa-gesa melakukan duel untuk merebut bola dari Cavani-Ibra-Lavezzi. Lini pertahanan Chelsea hanya mencoba memastikan trio lini serang PSG itu tidak leluasa mendekati kotak penalti.
Pilihan itu diambil karena Chelsea tahu ada jarak yang renggang antara lini serang dengan lini tengah, khususnya Veratti. Karena sering tertahan di kedalaman, gelandang dengan nomor punggung 24 tersebut kesulitan mengkreasi lini tengah. Alih-alih mengalirkan bola ke depan, ia lebih sering mengalirkan bola ke samping, terutama sisi kiri, yang ditempati Maxwell dan Blaise Matuidi yang bahu membahu melakukan serangan.
Sedangkan di sisi kanan, PSG agak kesulitan karena Cesar Azpilicueta tampil konsisten menjaga pertahanan Chelsea. Tiap kali Van der Wiel naik membantu serangan, Azpilicueta selalu siap dan sigap mencoba menetralisir serangan.
Tapi, tidak ada pilihan lain selain menyerang dari sayap. Veratti, seperti sudah dikemukakan sebelumnya, amat sulit mengembangkan permainan PSG dari tengah. Mereka terpaksa banyak melakukan umpan silang. Itu pun hasilnya kurang maksimal. Dari 26 umpan silang yang dilakukan PSG, hanya 10 yang tepat sasaran.

Grafis umpan silang PSG. Sumber : Fourfourtwo.
Kejelian Mourinho Membuat Celah
Jose Mourinho sadar betul apa yang dilihat dari pertahanan lawan. Silva dkk bermain rapi, juga disiplin dalam bertahan, dan tak sungkan memasang garis pertahanan yang rendah. Baik Silva maupun Marquinhos telaten menjaga Diego Costa. Begitu juga penempatan David Luiz yang sengaja dimaksudkan meredam Fabregas.
Begitu juga Van der Wiel yang disiplin dan berhati-hati untuk tidak gampang terpancing naik melebihi setengah lapangan. Pergerakan Eden Hazard juga jadi ikut-ikutan kesulitan memasuki sepertiga akhir. Hingga beberapa kali Hazard melakukan pertukaran posisi dengan Willian.
Di sinilah Mourinho melakukan sedikit perjudian. Ia mulai sedikit memberikan kebebasan bagi para pemain belakang untuk naik ke depan, khususnya dalam situasi bola mati. Tentu saja dengan catatan dua poros ganda Ramires dan Matic tetap berada di kedalaman guna melindungi pertahanan.
Dalam sebuah skema bola mati, Chelsea berhasil unggul terlebih dahulu. Jantung pertahanan PSG terlalu fokus kepada para pemain depan The Blues. Tidak menyadari kedatangan pemain lain dari lini kedua, bahkan lini ketiga.

Sebelum proses gol Ivanovic di menit ke-35, dua bek Chelsea (kuning) berada di dalam kotak penalti PSG.
Terry secara tidak terduga melepaskan umpan silang ke kotak penalti. Lalu backheel pass Azpilicueta mampu disundul Ivanovic dan menjebol gawang PSG yang dijaga Salvatore Sirigu. Tiga pemain bertahan Chelsea justru yang melakukan semua sentuhan penting dalam lahirnya gol tersebut.
Perubahan Skema PSG
Tidak hanya Mourinho yang memaksa PSG membukakan celah untuk mencetak gol. Akan tetapi Blanc juga mengubah skema permainan Silva dkk., guna membuka pertahanan Chelsea. Di babak kedua, anak asuh Blanc memperlihatkan intensitas permainan yang berbeda. Fokus Verratti di garis pertahanan rendah ditinggalkan. Pilar timnas Italia itu diinstruksikan naik lebih ke depan.

Gambar perubahan skema PSG. Verrati, David Luiz dan Van der Wiel bermain lebih ke depan.
Tidak hanya Verratti, Van der Wiel juga lebih sering naik ke depan. Sehingga kedua sisi sayap Les Parisians lebih seimbang. Sebelumnya PSG lebih mengandalkan serangan sayap dari sisi kiri yang ditempati Matuidi.
Tapi pada kenyataanya, memang dari sektor yang diisi Matuidi itulah PSG selamat dari kekalahan. Umpan silang Matuidi berhasil disambar oleh Cavani dan membuat Thibaut Courtois tidak berkutik.
PSG memang layak berterimakasih kepada Matuidi. Bukan hanya karena asist yang dibuatnya, tapi karena ia sepanjang laga juga tak pernah kenal lelah menyerang pertahanan Chelsea. Memang tempo permainan banyak ditentukan oleh Verratti, namun setiap bola yang dialirkan kepada Matuidi selalu mampu merepotkan pertahanan Terry dkk.
Skema itu juga yang akhirnya melahirkan gol penyama. Tiap kali David Luiz berhasil merebut bola, ia lalu menyodorkannya kepada Verratti dan kemudian diserahkan kepada Matuidi. Dari skema itulah, Matuidi melancarkan tiga kali umpan silang, satu di antaranya menjadi assist untuk Cavani.
Akurasi operan Matuidi mencapai rataan 86,4 %. Namun sayang pada babak pertama, pemain Prancis itu kurang mendapatkan dukungan dari rekan-rekannya. Matuidi lebih sering kerja keras sendiri karena sektor tengah dan sisi kanan sering terlambat naik.
Tidak hanya kontribusinya dalam serangan, pemain benomor 14 itu juga rajin membantu pertahanan. Dirinya melakukan tekel dan intersepsi terbanyak di antara rekan-rekannya yang lain. Tercatat lima tekel sukses dan tiga intersepsi yang ia lakukan berhasil menahan serangan Chelsea. Itu semua ia lakukan baik jauh di depan, di lini tengah maupun di pertahanan.

Grafis aktivitas Matuidi selama 90 menit. Sumber : Fourfourtwo
Kesimpulan
Permainan sabar Chelsea membuat PSG terbawa dalam irama permainan yang dirancang Mourinho. Terry dkk juga tidak memberikan ruang tembak bagi tiga penyereang PSG. Maka dari itu trisula Les Parisiens sangat kesulitan mengembangkan permainan.
PSG akhirnya lebih banyak memanfaatkan duel-duel udara, menyusul dominannya cara menyerang PSG melalui umpan-umpan silang. Tidak ada peluang yang diberikan Chelsea kepada PSG dari tengah, itu yang membuat PSG terus-terusan menyerang lewat sayap. Kendati kredit layak diberikan pada PSG yang berhasil menahan Costa, Hazard dan Fabregas dengan baik.
Perubahan pola permainan PSG di babak kedua, akhirnya cukup berhasil membuat Terry dkk terkurung di wilayah sendiri. Akan tetapi penampilan cemerlang Thibaut Courtois sangat berpengaruh menggagalkan peluang Les Parisiens. Mantan kiper Atletico Madrid tersebut, melakukan lima penyelamatan gemilang sepanjang pertandingan. Ditambah penyelesain yang kurang baik oleh Cavani, Ibrahimovic, maupun Lavezzi saat itu.
Hasil imbang merupakan sebuah kerugian bagi PSG, belum lagi mereka kebobolan di kandang sendiri. Maka, mereka harus tampil mati-matian mengejar kemenangan di Stamford Bridge mendatang. Mengalahkan The Blues di Stamford Bridge, dengan sebisa mungkin tidak kebobolan, jelas bukan pekerjaan mudah.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/krs)











































