Bumerang Taktik Louis van Gaal

Liga Inggris: Swansea 2-1 MU

Bumerang Taktik Louis van Gaal

- Sepakbola
Minggu, 22 Feb 2015 17:05 WIB
Bumerang Taktik Louis van Gaal
Reuters / Rebecca Naden Livepic
Jakarta - Manchester United gagal menuntaskan dendam melawan Swansea setelah mereka kembali kalah dengan skor yang sama saat pertemuan pertama musim ini, yaitu 1-2.

Gol pembuka Ander Herrera pada menit ke-28, Sabtu (21/2/2015) malam WIB, langsung dibalas Ki Sung-yeung dua menit setelahnya. Tuan rumah akhirnya memastikan keunggulan mereka di babak kedua, tendangan Jonjo Shelvey dibelokkan oleh Bafentimi Gomis sehingga gagal dijangkau David De Gea.

Anak asuh Louis van Gaal sebenarnya tampil dominan di kedua babak. Sebagaimana dikatakan van Gaal dalam konfresi pers seusai pertandingan, mereka memiliki penguasaan bola dan peluang lebih banyak. Buruknya penyelesaian akhir menyebabkan Wayne Rooney dkk harus pulang dengan tangan hampa. Dari 18 tembakan hanya 3 yang tepat sasaran, sementara Swansea mempunyai 6 tepat sasaran meski hanya 11 kali melakukan tembakan.

Susunan pemain kedua kesebelasan

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pressing untuk Menyerang dari Menit Pertama

Kedua kesebelasan menunjukan permainan atraktif, saling menyerang, bahkan sejak awal laga. Keduanya juga memiliki cara tersendiri untuk melakukan pressing.

Man United tidak membiarkan Swansea untuk memegang bola terlalu lama bahkan di area sendiri. Kedua penyerang, Rooney dan Robin Van Persie, yang kadang dibantu Marouane Fellaini atau Angel Di Maria, terus mengejar bola tanpa henti. Hal ini juga yang membuat Swansea tidak terlalu dominan dalam penguasaan permainan.

Apalagi formasi yang diperagakan oleh Van Gaal memang cocok untuk menyerang habis-habisan. Pada sektor gelandang, hanya Daley Blind yang punya peran khusus untuk bertahan. Bahkan Fellaini sendiri tidak turut andil membantu pertahanan. Ia lebih sering berposisi di belakang penyerang dan beroperasi di sekitar area penalti lawan.

Sang kapten Wayne Rooney yang kembali ditempatkan sebagai penyerang menambah kekuatan di sektor depan. Tapi Gary Monk, manajer Swansea, juga tak mau kalah dan melakukan tekanan. Bedanya Swansea tidak seagresif MU. Garis pertahanan memang cenderung tinggi, tetapi para pemainnya lebih memilih menunggu di tengah ketimbang mengejar bola saat diserang. Dengan begitu, mereka bisa cepat melakukan serangan balik tetapi pertahanan tidak terlalu rapuh.

Permainan Dinamis Swansea City

Salah satu kunci kemenangan Swansea pada laga kali ini adalah lini tengahnya, terutama Ki Sung-yeung dan Jonjo Shelvey. Selain terlibat langsung pada dua gol yang diciptakan Si Angsa, pergerakan keduanya mampu membuat permainan Swansea menjadi dinamis.

Di trio lini tengah hanya Jack Clork yang punya posisi tetap sebagai gelandang bertahan. Sementara Ki dan Shelvey lebih sering berada di sisi lapangan. Ketika diserang, ketiganya menjadi pemain yang bertugas khusus memotong jalur umpan Man United.

Jika Man United masih mampu lolos, baik Ki maupun Shelvey tak segan turun hingga mendekati kotak penalti.

Meski punya pergerakan yang luas tetapi Swansea tetap tak perlu khawatir meninggalkan ruang kosong. Karena pemain lainnya siap untuk mengisi ruang tersebut. Saat bergerak ke sayap, misalnya, maka pemain yang berada di pos tersebut akan bergerak ke tengah. Ini membuat opsi umpan tetap terjaga dan bola tidak mudah direbut oleh lawan.

Lewat cara ini juga Swansea mampu menciptakan peluang tepat sasaran lebih banyak dari sang tamu. Garry Monk memang menempatkan Gomis sendirian di depan, namun ketika sudah mendekati sepertiga akhir akan ada minimal dua gelandang yang turut masuk ke kotak penalti. Gol penyama kedudukan Ki Sung-yeung menjadi bukti. Bahkan setelahnya ia juga punya peluang yang hampir sama.


Grafis umpan Shelvey dan Ki [Squawka]

Taktik Berani Van Gaal

Pada babak pertama, Man United lebih banyak membangun serangan dari sisi kiri dengan duet dari Luke Shaw dan Di Maria terus menerus menekan Swansea. Meski bisa menciptakan gol dari sisi ini, secara umum taktik ini tak berjalan jika membandingkan jumlah serangan.

Luke Shaw terus menerus ditutup pergerakannya, hanya mampu melakukan satu percobaan umpan silang dan berhasil diblok. Sedangkan Di Maria juga tak mampu mengeluarkan kemampuan membawa bola menyisir sayap lalu masuk ke dekat kotak penalti karena gelandang Swansea menutupi pergerakannya.

Area sayap memang menjadi andalan Van Gaal dengan kedua fullback aktif ke depan. Tetapi sayangnya tidak diimbangi dengan kemampuan umpan silang yang baik. Bola lebih banyak dekat diarahkan dekat Lukas Fabianski kiper Swansea sehingga mudah dipatahkan.

Faktor ini juga yang membuat Van Gaal kemudian mengganti Paddy McNair dengan Antonio Valencia selepas turun minum. Luke Shaw juga ditarik dan diganti dengan Ashley Young. Keduanya memiliki naluri menyerang lebih baik ketimbang McNair dan Shaw.

Kualitas umpan silang memang membaik, tetapi Swansea tidak dengan mudah begitu saja dibobol melalui cara yang cenderung monoton ini.


Jika diperhatikan setelah dua pergantian tadi, MU hanya punya tiga pemain non kiper yang memang berfungsi bertahan yaitu dua bek tengah dan Daley Blind. Sisa pemain difokuskan untuk menyerang.

Sejak awal pertandingan, hanya ketiga pemain ini yang menjadi tembok pertahanan terakhir sebelum Swansea bertemu dengan De Gea. Hal ini menjadi masalah ketika semua pemain Man United turut naik menyerang pada babak kedua.

Posisi Fellaini sejajar dengan striker saat menyerang dengan gelandang lain bersiaga di sepertiga akhir. Bahkan, seorang Daley Blind juga turut berada di dekat kotak penalti. Seolah tidak memiliki antisipasi untuk menggagalkan serangan balik Swansea.

Akhirnya tercipta gol kedua Si Angsa. Daley Blind seorang diri harus menjaga dua pemain sekaligus sehingga Shelvey yang tak terkawal dan melepaskan tembakan yang dibelokkan Gomis. Apalagi menjelang akhir pertandingan saat dituntut harus mengejar ketertinggalan Man United seolah bermain 10 orang. Van Persie menderita cedera dan terpincang-pincang namun jatah pergantian sudah dihabiskan.

Kesimpulan

Van Gaal cukup berani dalam meracik taktiknya di pertandingan kali ini. Padahal ia masih mengeluhkan keseimbangan di timnya terutama dalam transisi menyerang ke bertahan. Tak hanya di pemilihan awal tetapi juga saat pertandingan berjalan.

Manajer berpengalaman asal Belanda ini mengatakan timnya hanya kurang beruntung karena mendominasi permainan. Tetapi kalah dua kali dengan kesebelasan papan tengah yang sama dalam satu musim sepertinya bukan karena faktor itu.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(krs/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads