Terhitung sejak 21 Desember 2014 Liverpool masih belum terkalahkan di Premier League musim ini. Kali ini The Reds masih mempertahankan raihan positif tersebut pada pekan 26.
Pasukan Brendan Rogers berhasil menaklukan Southampton di Stadion St. Mary's, Minggu (22/2/2015), dengan dua gol tanpa balas.
Rodgers masih tetap menggunakan formasi 3-4-3 untuk mengalahkan Southampton yang dikenal kuat dalam bertahan. Dan pilihan itu terbukti berhasil. Di tengah, Joe Allen diplot menggantikan Steven Gerrard yang cedera. Kendati Daniel Sturridge sudah sembuh cedera, namun penyerang Inggris itu masih disimpan di bench. Maka pos tiga pemain di depan diisi oleh Adam Lallana, Rahem Sterling dan Philipe Coutinho.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poros terpenting yang selama ini menjadi salah satu kekuatan Soton, yaitu lini tengah yang ditempati Schneiderlin dan Tadic, kali ini diberikan kepada James Ward-Porse dan Filip Djuricic. Dan mau tak mau itu memang berimbas pada keseimbangan dan kekuatan tim.

Liverpool yang Memanfaatkan Kesalahan Southampton
Tuan rumah sebetulnya bermain sangat baik malam itu dengan memberi tekanan tinggi sejak menit-menit awal, bahkan sejak di wilayah pertahanan tim lawan. Pola permainan seperti itu dilayani oleh Jordan Henderson dkk. Mereka juga bermain terbuka, cepat dan mencoba memasuki sepertiga akhir lawan dengan agresif.
Berkat cara pergerakan seperti itulah lahir gol cepat Liverpool di babak pertama. Laga baru berjalan tiga menit, Coutinho melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti. Tidak mampu digapai oleh Fraser Forster dan Liverpool unggul 1-0.
Hal itu murni karena gelandang Southampton terlambat menutup ruang tembak Coutinho. Keseimbangan lini tengah Soton, menyusul absennya Tadic dan terutama Schneiderlin, amat terlihat di laga ini, termasuk dalam proses gol Coutinho itu.
Liverpool membuka keunggulan itu dengan bermain umpan-umpan pendek dengan para pemain Southampton mencoba menjaga ruang-ruang kosong. Tapi mereka gagal mengantisipasi pergerakan Coutinho. Sebuah lubang yang mahal harganya, padahal mereka menerapkan pressing tinggi, tapi Coutinho justru bisa lepas memasuki daerah pertahanan Soton.

[Gambar proses gol Coutinho yang mana ia diberikan ruang tembak cukup besar, akibat para pemain Southampton terlambat menutup celah.]
Pressing tinggi yang diladeni juga dengan agresivitas yang sama terbukti membuat Soton kesulitan sendiri. Liverpool tak sudi ditekan begitu saja, mereka pun getol memberikan tekanan di pertahanan lawan.
Gol kedua Liverpool juga lahir setelah Liverpool berani menekan pertahanan Soton yang sedang menguasai bola. Matt Target dipaksa membuat blunder di kotak penalti sendiri. Percobaan sapuan bersihnya gagal, melenceng dan disambar Sterling. Kedudukan pun berubah menjadi 2-0 berkat gol Sterling.
Southampton Terlalu Terburu-buru Selesaikan Peluang
Atas gol cepat Coutinho di menit ketiga, Brendan semakin paham bagaimana caranya merawat keunggulan dan memenangkan laga ini. Setelah unggul Liverpool fokus bertahan, mengantisipasi serangan Southampton yang menggebu-gebu mengejar ketertinggalan.
Berkali-kali masuk ke final third lawan, Soton tidak bisa memecahkan kebuntuan. Banyak peluang terbuang sia-sia karena terlalu terburu-buru. Sepanjang pertandingan, anak asuh Ronald Koeman melepaskan 13 percobaan tendangan, 5 di antaranya mengarah ke gawang yang mampu diselamatkan Simon Mignolet.
Sedangkan Liverpool hanya mengandalkan serangan balik. Akan tetapi serangan yang dibangun sangat efektif, menuju sepertiga akhir lawan. Liverpool cuma memiliki kesempatan menendang 6 kali, namun 4 tepat sasaran. Sedangkan dua sisanya menjadi gol yang tidak mampu dibalas Southampton.
The Saint juga lebih unggul dalam penguasaan bola. Sepanjang laga mereka memiliki 60% penguasaan bola, sementara sisanya untuk Henderson, dkk.
Kokohnya Pertahanan Liverpool
Para pemain belakang Liverpool sungguh disiplin dalam meladeni permainan terbuka Southampton, yang juga sangat tergesa-gesa. Total sebanyak 36 sapuan bersih dilakukan tim tamu.

[Grafis Sapuan Bersih Liverpool sepanjang pertandingan. Sumber : Squawka]
Liverpool memang turun dengan pakem utama 3-4-3 dengan tiga bek di jantung pertahanan. Namun tiga bek itu selalu mendapatkan dukungan yang dibutuhkan dari para gelandang. Seringkali Liverpool bermain dengan skema lima bek saat diserang membentuk 5-4-1.
Hanya terkadang Ibe sering telat turun ke bawah membantu pertahanan, sehingga Liverpool lebih sering berjuang dengan empat bek. Keterlambatan Ibe ini yang kadang memberikan ruang dan peluang bagi Soton. Dari situlah Eljero Elia lumayan kerap berhasil leluasa bergerak di area kanan, lalu masuk ke sepertiga akhir.
Soton juga sebenarnya bisa berpeluang membongkar pertahanan Liverpool dari sisi sebaliknya. Ini dimungkinkan karena Lazar yang berperan sebagai gelandang kiri sangat aktif menyerang. Ini coba dimanfaatkan oleh fullback kiri Soton, Nathan Clyne, untuk aktif naik membangun serangan guna memanfaatkan ruang yang ditinggalkan Markovic.
Sayangnya Djuricic yang beroperasi di flank kanan gagal memperlihatkan perfoma yang meyakinkan. Pemain berpaspor Serbia ini hanya sanggup membuat satu percobaan mencetak gol. Ditempatkan di lebar lapangan sebelah kanan, ia juga hanya membuat satu umpan silang. Jumlah umpannya pun hanya 20, itu pun akurasinya relatif rendah hanya 65%.
Southampton Terlalu Andalkan Sayap
Terutama setelah tertinggal, Southampton sangat gencar melakukan serangan lewat kedua sayapnya. Dari sisi kiri Eljero Elia menjadi andalan mereka untuk memasuki sepertiga akhir Liverpool.
Namun strategi tersebut sanggup dibaca oleh Henderson dkk., yang selalu bisa mematahkannya. Baik Emre Can maupun Dejan Lovren, mampu meredam sisi kanan dan kiri cukup baik. Sedangkan Martin Skrtel menjadi ahlinya melakukan sapuan bersih ketika bola liar datang. Sepanjang pertandingan, 13 sapuan bersih berhasil dilakukan Skrtel.
Serangan sayap Southampton tidak ditunjang oleh kreasi di lini tengah. Tidak ada pemain tengah yang berbuat banyak di luar area kotak penalti lawan. Maka tidak ada pemain yang memanfaatkan bola muntah dari pertahanan Liverpool, termasuk pantulan-pantulan bola dari Graziano Pelle.
Biang dari kegagalan Soton memanfaatkan bola muntah adalah Henderson dan Joe Allen. Merea sangat disiplin menjaga kedalaman pertahanan timnya. Dua pemain inilah yang memaksa Soton lebih sering mengalirkan bola ke dua sisi sayap mereka. Hanya satu tembakan dari luar area kotak penalti yang mengarah ke gawang. Dilakukan oleh Ward-Porse, itu pun ketika laga baru berjalan delapan menit.

[Grafis tekel Liverpool sepanjang pertandingan. Banyak mematahkan sisi kiri (area serang Clyne dan Djuricic). Sumber : Fourfourtwo.]
Bangunan Serangan Balik Efektif oleh Henderson
Kredit tersendiri layak diberikan kepada Henderson. Dia sangat rajin membantu pertahanan β dengan melakukan dua tekel bersih, satu intersepsi, tiga bloking dan empat sapuan bersih. Empat pelanggaran penting pun dilakukan untuk menghentikan serangan Southampton.
Di sisi lain Henderson pun bisa melancarkan serangan ke depan. Pemain bernomor 14 ini menyentuh bola 64 kali, paling banyak di timnya. Dari 64 sentuhan, ia melepaskan satu tendangan ke gawang. Juga satu umpan kunci, satu umpan silang dan akurasi operannya mencapai 82%. Tanpa bola yang dialirankannya, mungkin baik Ibe dan Sterling bakal kesulitan mendapatkan celah.

[Grafis Henderson selama pertandingan. Sumber : Fourfourtwo.]
Kesimpulan
Dalam komposisi pemain, perjudian Koeman mengistirahatkan Tadic dan Schneiderlin rupanya sebuah kesalahan. Tadic merupakan motor serangan Southampton, sedangkan Schneiderlin setidaknya bisa menjaga ruang serangan balik Liverpool. Masuknya kedua nama ini di babak kedua bisa dikatakan terlalu terlambat.
Gol cepat yang dilesatkan oleh Coutiho merupakan jawaban Brendan Rodgers saat itu untuk menyelesaikan pertandingan dengan secepat-cepatnya. Setelah itu mereka bertahan dan melancarkan serangan balik yang efektif β itulah kunci kemenangan Liverpool.
Setelah tertinggal, Southampton tampil terlalu terburu-buru dalam memanfaatkan peluang, sehingga tidak ada kesempatan yang dikonversi menjadi sebuah gol. Di sisi lain, terlepas dari insiden handsball pemain Liverpool di kotak penalti yang tidak dianggap wasit, Simon Mignolet tampil baik. Selain menjaga dari kebobolan, ia berhasil melakukan delapan penyelamatan.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(a2s/krs)











































