sepakbola
Liga Champions: Juventus 2-1 Dortmund

Kebingungan Dortmund Saat Juventus Tanpa Pirlo

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video Infografis
Liga Champions: Juventus 2-1 Dortmund

Kebingungan Dortmund Saat Juventus Tanpa Pirlo


- detikSepakbola

AFP/Olivier Morin
AFP/Olivier Morin
Jakarta -

Juventus sukses menekuk tamunya, Borussia Dortmund, 2-1 pada leg I perdelapanfinal Liga Champions, Rabu (25/2) dinihari WIB. Ini menjadi catatan kekalahan pertama Dortmund setelah berhasil bangkit dengan tiga kemenangan beruntun di Bundesliga.

Carlos Tevez dan Alvaro Morata menjadi pencetak gol kemenangan Juventus. Gol yang dicetak Marco Reus, memanfaatkan kesalahan Chiellini yang terpeleset, gagal menyelamatkan Dortmund dari kekalahan.

4-3-1-2 vs 4-2-3-1

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Kedua tim di pertandingan ini bermain dengan formasi andalannya. Juventus yang menggunakan formasi 4-3-1-2 turun dengan kekuatan penuh. Sama seperti pertandingan yang sudah-sudah, Andrea Pirlo bermain sebagai pengatur tempo bagi Bianconeri dari kedalaman. Sedangkan di barisan penyerang, Massimiliano Allegri lebih memilih Morata sebagai pendamping Tevez.

Terhitung dengan pertandingan ini, Morata selalu mencetak gol di tiga penampilan terakhirnya ketika menjadi starter. Dan wajar saja jika Morata menjadi pilihan dari Allegri. Pilihan Allegri pun terhitung tepat. Kedua penyerang ini selalu tampil dengan jarak yang dekat. Sehingga dengan mudah keduanya bermain umpan-umpan pendek dengan cepat. Hal ini terlihat ketika Juventus mencetak gol pertama melalui Tevez.

Morata dan Tevez sukses melakukan serangan balik dengan memperagakan umpan satu-dua saat Dortmund asik menyerang dan lengah. Dengan cepat kedua pemain ini berlari mendekati kotak penalti dan Morata menyisi sisi kanan pertahanan Dortmund untuk melepaskan tendangan ke gawang. Tevez pun sukses memanfaatkan bola muntahan yang dilepaskan Morata. 1-0 Juve unggul.

Padahal di awal-awal laga Juve sebenarnya mencoba untuk lebih agresif dan menekan dari berbagai sisi. Sedangkan Dortmund lebih cenderung menunggu sambil membaca permainan Si Nyonya Tua. Namun kendali permainan berpindah setelah berjalan sepuluh menit. Dortmund berhasil memaksa Juve untuk bermain lebih bertahan.

Tapi ini justru jadi bumerang. Juventus sangat baik membangun serangan balik guna memanfaatkan celah-celah yang tersedia di barisan pertahanan Dortmund.

Terlihat Dortmund lagi-lagi tidak belajar dari kesalahan mengantisipasi serangan lawan. Musim ini Jurgen Klopp belum mampu membenahi lini belakang. Barisan pertahanan Dortmund yang selalu menerapkan garis pertahanan tinggi, selalu gagal menjalin kesatuan. Hummels dan Sokratis tidak berjahasil saling menutup celah setiap kali salah satu dari mereka naik membantu serangan.

Usaha Dortmund Mematikan Pogba, Vidal, Pirlo, dan Marchisio

Menurunnya intensitas serangan Juve setelah 10 menit pertandingan berjalan, disebabkan oleh keputusan Klopp yang berani menekan Juve sedini mungkin sejak masih berada di area pertahanannya. Keputusan ini pun dapat dikatakan sebuah keputusan yang berani. Sebab lini tengah Juve sudah 3 musim bekerja sebagai sistem, yang terdiri dari Pogba, Vidal, Pirlo dan Marchisio.

Namun ada dua hal yang membuat Klopp gagal memperhitungkan usaha dalam mematikan sistem lini tengah Juve. Hal pertama Klopp kurang menyadari kecenderungan Tevez yang akan turun sejauh mungkin menjemput bola jika lini tengah gagal menghadapi tekanan dari lawan. Dan hal kedua, Juve sejak era Conte sudah terbiasa memainkan bola panjang yang akan langsung menuju area sepertiga lawan.



Umpan Juventus ke final third Dortmund

Hal kedua ini merupakan proses awal terjadinya gol kedua bagi Juventus. Ini juga menjelaskan skema Juventus dalam melakukan serangan jika berada dalam tekanan. Peran pemain belakang menjadi pelepas umpan panjang ke area sepertiga pertahanan Dortmund ketika para pemain tengah mendapat tekanan oleh para pemain lawan.

Cara itu memuluskan penyerangan Juve, terutama karena – seperti yang sudah disebutkan—lini pertahanan Dortmund tidak padu menggalang dirinya sendiri. Satu sama lain kadang terlambat menutup celah yang ditinggalkan rekannya.

Kehilangan Pirlo Membuat Dortmund Kebingungan, Bukan Juventus

Agak aneh memang untuk permainan Dortmund pasca keluarnya Pirlo. Klopp tampak tidak siap mengantisipasi Juventus tanpa Pirlo. Fokus untuk menekan seluruh pemain tengah Juve mengindikasikan jika Dortmund ingin mematikan Pirlo. Skema pressing ketat Dortmund agaknya memang dirancang untuk mematikan semua potensi lini tengah Juve, bukan hanya Pirlo, tapi juga menekan pemain gelandang lain yang membantu Pirlo.



Umpan-umpan Marchisio, sangat dominan

Pirlo harus keluar pada menit 35 karena cedera. Ini memaksa Allegri memutar otak. Ia kemudian memutuskan memasukkan Pereyra. Dan untuk itu, mereka harus membuat pertukaran posisi untuk kembali membentuk kekuatan lini tengah mereka.

Yang paling kentara adalah berubahnya peran pengatur serangan. Peran yang biasanya mutlak menjadi otoritasnya Pirlo itu diampu secara bergantian dan cenderung berubah-ubah. Marchisio dan Pogba saling bergantian menjadi pengatur serangan, dengan Marchisio yang lebih dominan. Sementara masuknya Pereyra, yang memilik kemampuan bermain di berbagai posisi, justru memberi keuntungan tersendiri karena berhasil membuat lini tengah Dortmund kebingungan dalam melakukan pressing.

Ketika Pirlo masih bermain di babak pertama, setidaknya ada empat sampai lima pemain dortmund yang mencoba menjaga seluruh pemain tengah Juve. Hal itu dilakukan guna mematikan seluruh aliran bola dari dan kepada Pirlo. Namun hal tersebut tidak terlihat kembali setelah keluarnya Pirlo dan masuknya Pereyra.

Anehnya, setelah Pirlo keluar, para pemain tengah Dortmund malah cenderung menyibukkan diri dengan menjaga Pogba. Selain siasat itu mentah karena Pogba tentu saja jauh lebih gesit dan bertenaga ketimbang Pirlo, siasat itu juga tak tepat karena bukan Pogba yang banyak memerankan diri sebagai pengatur serangan. Peran mengatur permainan di tengah lebih sering ada pada Marchisio. Pemain ini dengan leluasa mengalirkan bola ke sisi kanan dan kiri, sebab para pemain dortmund lebih terkonsentrasi memutus kegesitan Pogba.

Reus Terkunci

Kegagalan beradaptasi dengan Juventus yang bermain tanpa Pirlo ini juga berdampak pada sisi penyerangan. Dortmund terlihat tidak serapi babak pertama saat menyerang. Imbas yang paling mencolok bisa dilihat dari kinerja Reus.

Pasca masuknya Jakub Błaszczykowski menggantikan Immobile, aliran bola yang mengarah ke Reus menjadi berkurang. Bola kemudian lebih sering diarahkan pada Jakub. Hal ini membuat Lichtsteiner lebih ringan kerjanya dalam mematikan Reus, sebab area yang diisi Jakub yang lebih banyak mendapat sokongan dan bahkan para pemain lain, terutama Mikhitaryan, terlalu fokus melapisi posisi Jakub. Sebaliknya, Reus tak mendapat dukungan yang memadai.

Ini yang menyebabkan Reus yang terlihat begitu menonjol di babak pertama, menjadi mati kutu setelah masuknya Jakub. Di babak kedua, Reus tidak mampu beradu kecepatan dengan Lichtsteiner. Pemain asal Swiss yang bermain sebagai fullback kanan ini relatif berhasil melindungi area yang dijaganya. Jika di babak pertama ia sulit mengendalikan Reus, di babak kedua ia lebih berhasil.



Seluruh upaya tekel Lichtsteiner

Alvaro Morata Tampil Baik

Morata telah menjadi anugerah untuk Juve musim ini. Ia bukan hanya tampil mengensakan dengan dengan kemampuannya mencetak gol, tapi juga keterlibatannya dalam membangun permainan tim. Ia bukan hanya ngendon di lini depan, tapi juga cukup sering terlibat aktif dalam skema serangan dengan cara menjemput bola.

Duet Tevez-Morata, lagi-lagi, terlihat padu di laga ini. Keduanya bisa menjadi kombinasi yang pas dalam skema penyerangan rancangan Allegri. Morata yang juga baik sebagai pemantul, ditunjang kemampuannya dalam menggiring bola, memudahkan Tevez untuk leluasa bergerak. Cara bermain Moratta ini memudahkan Tevez yang memang punya kecenderungan sebagai penjelajah di berbagai area serang.

Di laga ini, Morata dan Tevez juga bermain dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Keduanya bermain di ruang-ruang yang cenderung berdekatan. Pertukaran posisi dan umpan-umpan pendek jadi lebih mungkin untuk dimaksimalkan. Hal ini yang sebelumnya kurang didapatkan Tevez saat berduet dengan Llorente.

Kesimpulan

Juventus di era Allegri kini tidaklah lagi terlalu bergantung pada Andrea Pirlo. Itu terbukti bagaimana justru Dortmund lebih jauh kebingungan mencari kelemahan Juve jika bermain tanpa Pirlo. Tapi, tentu Allegri harus memecahkan pekerjaan rumah matinya lini tengah saat lawan berhasil memutus aliran bola dari atau kepada Pirlo.

Ada baiknya Allegri harus terus berani bereksperimen mencari pemain yang dapat menggantikan Pirlo untuk di pertandingan besar. Biar bagaimana pun, Pirlo sudah memasuki usia senja, yang membuatnya lebih rentan cedera.

Begitu pun Dortmund. Permasalahan lini pertahanan belum juga usai setelah berulang kali mereka menyadari kelemahannya dalam mengantisipasi serangan balik. Klopp mungkin saja harus berani bermain dengan tidak terlalu gegabah di pertandingan kedua nanti. Usaha untuk memerintahkan pemain bertahan agar tidak ikut terlibat membantu serangan terlalu jauh, mungkin akan menjadi solusi agar pertahanan tidak terlalu keropos menghadapi serangan balik.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

*Grafis: StatsZone, Squawka.com, dan Pandit Football.


(roz/a2s)











Hide Ads