Liverpool berhasil mempertahankan rekor tak terkalahkannya di liga sepanjang 2015 dengan mengalahkan juara bertahan, Manchester City. Pemain asal Brasil, Phillipe Coutinho, menjadi penyelamat Liverpool dengan tendangannya dari luar kotak penalti yang membuat tuan rumah unggul 2-1 di menit ke-74.
Liverpool sebenarnya harus memulai pertandingan dengan beberapa masalah. Pertandingan ini dilangsungkan kurang dari 3 hari sejak kekalahan mereka di Istanbul atas Besiktas. Pada pertandingan tersebut, mereka harus bertanding hingga babak adu penalti. Hal ini tentu saja membuat beberapa pemain tidak dalam kondisi fit.
Ditambah lagi mereka pun kehilangan beberapa pemain yang masih mengalami cedera. Mamadhou Sakho, Lucas Leiva, dan Steven Gerrard adalah 3 pemain andalan Brendan Rodgers yang harus absen pada pertandingan kali ini akibat cedera. Beruntung, Jordan Henderson yang sempat cedera pekan lalu bisa segera pulih dan tampil sejak awal pertandingan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan di kubu City, Pellegrini sama sekali tidak mendapatkan masalah cedera pada pertandingan kali ini. Setiap pemain City dalam kondisi prima sehingga siap untuk bermain. Ditambah lagi mereka tidak memiliki pertandingan pada tengah pekan sehingga mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk menghadapi pertandingan kali ini. Pellegrini memilih untuk memainkan formasi 4-4-2 dengan duet Edin Dzeko dan Sergio Aguero di depan.

Pertarungan di Lini Tengah
Liverpool langsung memeragakan permainan dengan pressing ketat kepada lawan. Minimal satu pemain Liverpool akan langsung menekan pemain City yang sedang menguasai bola.
City memainkan formasi 4-4-2 dengan hanya menempatkan Yaya Toure dan Fernandinho di area tengah. Kedua gelandang ini memiliki beban yang cukup berat. Mereka bertugas untuk mengalirkan bola saat menyerang, namun juga bertugas untuk melapisi area pertahanan saat bertahan. Pellegrini memang membagi beban pekerjaan diantara keduanya. Fernandinho dibuat untuk lebih fokus ke pertahanan, sedangkanToure lebih bertanggung jawab untuk mengalirkan namun.
Namun hal inilah yang justru dimanfaatkan oleh para penyerang Liverpool. Minimnya pemain di wilayah ini membuat ketiga penyerang Liverpool mampu mengeksploitasi area ini. Ditambah lagi, Yaya Toure yang sering maju untuk membantu serangan membuat semakin luas wilayah di area tengah yang bisa dimanfaatkan trio penyerang Liverpool.
Sterling akan memulai dengan sedikit mundur ke belakang untuk membuka opsi operan. Pergerakan Sterling ini membuat bek tengah City, Vincent Kompany, mau tidak mau harus sedikit lebih maju agar Sterling tidak berdiri bebas. Hal ini membuat Kompany harus keluar dari posisi yang seharusnya dan sedikit membuka ruang di area pertahanan City.
Dari situ Rodgers ternyata hanya memerintahkan Sterling untuk mengacak-acak pertahanan City. Aliran bola Liverpool ternyata tidak ditujukan kepada Sterling. Sterling kemudian akan berlari ke sisi kanan atau kiri untuk menarik Kompany semakin jauh dari posisinya. Dari sini, Lallana dan Coutinho akan masuk ke ruang di area yang pertahanan City yang terbuka akibat keluarnya Kompany dari posisinya.
Pada babak pertama, setidaknya 2 kali Lallana berhasil berhadapan satu lawan satu dengan Joe Hart. Chalkboard operan Liverpool pada babak pertama ini memperlihatkan bagaimana Liverpool justru bisa menciptakan peluang dengan operan ke wilayah tengah pertahanan City.

[Operan Liverpool di babak pertama]
Di sisi lain, City pun tidak mau membiarkan Liverpool terus menciptakan peluang. City juga berkali-kali memberikan ancaman ke gawang Liverpool. Dan apa yang dilakukan City untuk menciptakan peluang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Liverpool.
Aliran bola City terpusat pada Yaya Toure yang berada di tengah. Rodgers kemudian menempatkan Joe Allen untuk menjaga ketat pemain asal Pantai Gading itu. Sedangkan Henderson ditugaskan untuk mengawasi pergerakan Fernandinho ketika mulai ikut naik ke depan.
Pengawalan ketat Allen ini memang berhasil membuat permainan Yaya Toure berantakan. Di sepanjang pertandingan, persentase keberhasilan operan Toure hanya mencapai 75%.
Namun, hal ini ternyata juga memiliki dampak bagi pertahanan Liverpool. Akibat kedua gelandang Liverpool yang aktif melakukan tekanan, membuat mereka harus berdiri agak jauh dari barisan pertahanan. Padahal, dua gelandang ini merupakan satu-satunya lapisan bagi barisan pertahanan mereka.
Pellegrini kemudian memerintahkan David Silva untuk memanfaatkan hal ini. Silva yang awalnya bermain sebagai pemain di sisi kiri, banyak melakukan pergerakan ke area tengah. Pemain tim nasional Spanyol ini masuk ke ruang yang tercipta di depan akibat pressing yang dilakukan kedua gelandang Liverpool.
Hal inilah yang terjadi saat Liverpool kemasukan satu gol. Allen dan Henderson sama-sama harus melakukan pressing kepada Toure dan Fernandinho di tengah lapangan. Silva masuk ke ruang yang tercipta di belakang kedua gelandang Liverpool ini.
Toure berhasil memberikan umpan kepada Silva yang berdiri sangat bebas tersebut. Hal ini kemudian membuat pertahanan Liverpool berantakan yang berujung pada Dzeko yang lolos untuk menceploskan bola ke gawang Mignolet.
Perbanyak Gelandang di Babak Kedua
Melihat gawangnya sering terancam pada babak pertama, Pellegrini langsung menutup lubang yang terdapat di lini tengah. Dzeko digantikan oleh James Milner yang membuat City memainkan formasi 4-2-3-1. Milner menempati posisi sayap kanan dan menggeser Silva ke tengah. Toure dan Fernandinho kemudian menjadi poros ganda yang lebih fokus untuk melapisi area pertahanan.
Kondisi ini memang membuat pertahanan City menjadi lebih rapat. Namun, berkurangnya satu penyerang City membuat kualitas serangan mereka harus berkurang.
Pada babak pertama Aguero akan dibebaskan untuk bergerak ke kanan dan kiri mencari ruang di area pertahanan Liverpool. Sedangkan Dzeko berdiri di tengah dan bertarung dengan ketiga bek tengah Liverpool. Ditariknya Dzeko membuat Aguero harus tetap berada di tengah. Hal ini tentu saja lebih memudahkan Martin Skrtel dan kawan-kawan untuk menjaga pemain asal Argentina ini.
Ditambah lagi, akibat posisi Toure dan Fernandinho yang lebih di belakang, membuat Silva harus berjuang seorang diri menembus pertahanan Liverpool. Kondisi ini tentu lebih memdudahkan Allen dan Henderson untuk menetralisir ancaman yang diberikan oleh Silva.
Tidak seperti di babak pertama, City tidak banyak mengancam gawang Liverpool pada babak kedua. Tercatat hanya 3 tendangan yang dilakukan City di babak kedua dan ketiganya tidak mengarah ke gawang Mignolet. Ketiga tendangan inipun terjadi pada 10 menit terakhir pertandingan saat Liverpool sudah mulai bertahan setelah unggul.
Dengan kondisi ini Liverpool pun lebih mudah untuk menguasai pertandingan. Mereka bisa mengepung City di area pertahanannya sendiri. Meski rapatnya pertahanan City pun membuat Liverpool kesulitan untuk menembusnya.
Liverpool menguasai penguasaan bola di babak kedua, namun tidak banyak bola yang berhasil dimasukkan ke kotak penalti City. Tidak adanya pemain yang memiliki posisi natural striker pemain Liverpool kesulitan saat harus berduel dengan pemain bertahan City.
Hingga memasuki menit ke-70, meski memegang penguasaan bola, sulit bagi Liverpool untuk menciptakan peluang. Hal ini terlihat dari chalkboard operan mereka pada babak kedua hingga menit ke 70 yang sangat jarang bisa memasuki daerah pertahanan City.
Meskipun pada rentang waktu ini mereka justru bisa menciptakan gol melalui satu-satunya tendangan yang dilepaskan. Kesulitan menembus ke dalam kotak penalti, Coutinho akhirnya berinisiatif untuk melepaskan tendangan langsung dari luar kotak penalti. Dan ternyata hasilnya luar biasa dan tidak berhasil dijangkau oleh Joe Hart.

[Operan Liverpool dari menit 45-74]
Kondisi ini berbeda dengan setelah Rodgers memasukan Sturridge. Memang kondisi saat itu juga City sudah mulai keluar menyerang untuk mencetak gol. Namun, terlihat bahwa meski harus berduel dengan bek-bek City, Sturridge lebih mampu membuka peluang bagi Liverpool.
Pada 15 menit terakhir ketika Liverpool sudah unggul, Rodgers menurunkan garis pertahanannya dan hanya meninggalkan Sturridge seorang diri di depan. Hadirnya Coutinho dan Sterling untuk membantu Sturridge pun tidak secepat saat pertandingan masih dalam kondisi imbang. Namun dalam kondisi seperti ini, Liverpool justru mampu menciptakan dua peluang ke gawang City.
Kesimpulan
Pada pertandingan kali ini Rodgers menunjukan keberaniannya dengan bermain terbuka. Ia bahkan berani untuk memainkan pressing tinggi pada babak pertama dan mengurung City di babak kedua.
Hal ini tentu saja tidak lepas dari kinerja dua gelandang Liverpool, Henderson dan Allen. Meski berada di posisi yang sangat rawan dengan jumlah pemain yang sedikit, kedua pemain ini berhasil membuat pemain City tidak mudah menembus pertahanan Liverpool.
Dengan ini Rodgers semakin membuktikan perkembangan yang telah dilakukannya musim ini. Meski sempat meragukan di awal musim, Liverpool kini sudah kembali ke jalurnya, dan masuk ke peringkat 5 Liga Inggris. Kemenangan melawan City pun dapat membuktikan bahwa mereka sudah mulai kembali sejajar dengan klub-klub papan atas Liga Inggris.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(a2s/krs)










































