Penampilan gemilang Mohammed Salah bersama Fiorentina berlanjut di Juventus Stadium. Pada leg pertama Coppa Italia 2014/2015 ini, Salah memborong dua gol guna memberi kemenangan Fiorentina atas Juventus dengan skor 2-1.
Terlepas dari penampilan cemerlangnya Salah, Juventus sendiri memang bermain buruk pada laga ini. Formasi 4-3-3 yang diterapkan sang pelatih, Massimiliano Allegri, tak berjalan sesuai rencana dan menyebabkan permainan Juve tak berkembang.
Allegri sempat mengubah skemanya pada pertengahan babak kedua. Namun Fiorentina mampu meredam serangan Juve lewat skema pertahanan yang mengunci lini tengah lawannya agar kesulitan menguasai dan mendistribusikan bola.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gagalnya Formasi 4-3-3 Juventus
Sejak menangani Juventus pada awal musim 2014-2015, Massimiliano Allegri memang menyebutkan bahwa selama menangani Juventus ia akan menggunakan tiga formasi berbeda: 3-5-2, 4-3-1-2, dan 4-3-3. Namun pada praktiknya hanya formasi 3-5-2 dan 4-3-1-2 yang sering digunakan Allegri dalam mengarungi musim 2014-2015, sejauh ini.
Meghadapi Fiorentina dini hari tadi (6 Maret 2015), Allegri pun kemudian mencoba formasi 4-3-3, di mana pada dua laga sebelumnya, Juve pun menggunakan formasi yang berbeda: 4-3-1-2 saat menghadapi Dortmund dan 3-5-2 saat menghadapi AS Roma.
Pada pola 4-3-3 ini, Allegri memasang Kingsley Coman dan Simone Pepe sebagai orang yang menyisir sisi lapangan, serta Fernando Llorente sebagai penyerang tengah. Tak ada perubahan dengan trio gelandang yang dipasang pada laga ini dengan trio gelandang yang dipasang Allegri saat menghadapi Roma beberapa hari lalu.
Namun nyatanya penampilan kedua sayapnya ini tak sesuai yang diharapkan Allegri. Khususnya Coman, pemain berusia 18 tahun, tak mampu menghadapi bek kanan Fiorentina, Micah Richards.
Pada pola 4-3-3 yang diterapkan Allegri ini, kedua pemain sayap bertugas sebagai pelayan Llorente, berperan mengirimkan umpan-umpan silang pada striker jangkung asal Spanyol tersebut. Tapi pada praktiknya, hanya Pepe yang bermain sesuai harapan Allegri.
Coman, pada laga ini, hanya mencatatkan tiga umpan silang dalam 35 menit ia bermain. Dari ketiga umpan silang tersebut, tak ada satupun yang mengenai sasaran. Ia pun hanya mencatatkan satu dribel berhasil. Akurasi umpan yang hanya 72%, terendah pada babak pertama, membuat Allegri menariknya keluar untuk digantikan Carlos Tevez.
Penampilan berbeda ditunjukkan Pepe di sisi kanan. Bermain selama 72 menit, pemain bernomor punggung tujuh ini mengirimkan total 13 umpan silang. Satu umpan silangnya pun berbuah asist cantik bagi gol penyama kedudukan yang diciptakan Llorente.
Masuknya Tevez membuat formasi Juve tak lagi 4-3-3 simetris. Tevez bermain lebih ke dalam di sekitaran area kotak penalti, menemani Llorente, bukan sebagai pemain sayap layaknya Coman.

Perbandingan heatmap Tevez dan Coman
Karena Tevez kerap bermain di area depan kotak penalti, Pogba pun seringkali harus menjadi pemain yang mengisi kekosongan di sisi kiri, Juve pun seolah menggunakan formasi 4-2-3-1 sejak masuknya Tevez. Dampaknya tentu saja cukup fatal. Jika bola berhasil direbut, maka lini tengah hanya akan menyisakan Marchisio dan Vidal.

Salah satu situasi di mana Pogba di sisi kiri memunculkan lubang di lini tengah
Pada grafis di atas, Pogba terlihat mengisi area sebelah kiri. Ketika Vidal yang hendak membangun serangan dengan mengoper pada Tevez (gambar 1), bola berhasil diintersep oleh gelandang Fiorentina, Jasmin Kurtic. Kurtic lantas mengopernya pada Fernandez.
Meski pada situasi ini tak berbuah gol, tapi situasi ini menunjukkan bahwa lini tengah Juve menyediakan celah di lini tengah yang bisa dimanfaatkan Fiorentina. Lini tengah Juve membutuhkan Pogba yang biasanya bermain sejajar bersama Marchisio dan Vidal.
Pada rentang waktu menit ke-35 hingga ke-72, Fiorentina berhasil mencetak delapan tembakan, lebih dari setengah total tembakan Fiorentina pada laga ini (total 13 tembakan). Pada menit ke-72, Pepe ditarik keluar untuk digantikan Roberto Pereyra. Masuknya Pereyra membuat Juve kembali menggunakan formasi 4-3-1-2, di mana Pogba tak perlu lagi menyisir sepertiga akhir pertahanan Fiorentina di sisi kiri.
Fiorentina pun tak mampu melepaskan satupun tembakan pasca Juve menggunakan formasi ini pada lima belas menit terakhir. Skema terakhir yang coba diterapkan Allegri ini terbukti lebih menghadirkan keseimbangan bagi Juventus.

Perbedaan skema Juventus sebelum dan setelah Tevez masuk lapangan
Satu gol lain yang diciptkan oleh Salah bermula dari blunder yang dilakukan Claudio Marchisio. Marchisio yang mengusai bola di depan kotak penalti Juve hendak men-chip bola untuk mengoper pada Pogba. Namun bola berhasil diintersep Joaquin Sanchez. Joaquin pun lantas memberikan bola pada Salah yang berada di kotak penalti. Salah tanpa kesulitan mengecoh Angelo Ogbonna dan melepaskan tembakan ke sudut kiri gawang.
Mengunci Lini Tengah Juventus
Sejak babak pertama, Juventus memang cukup kesulitan menembus lini pertahanan Fiorentina. Selain karena kedua sayap Juve, Pepe dan Coman, tak bermain sesuai yang diharapkan, Fiorentina pun mengunci lini tengah Juve yang merupakan poros utama serangan.
Penjagaan wilayah (zonal marking) yang dilakukan para pemain Fiorentina ketika mendapatkan serangan, dibarengi dengan jarak pemain rapat. Pemain sayap seperti Joaquin Sanchez dan Salah, harus bermain ke tengah mendekat trio gelandang Fiorentina untuk merapatkan jarak.
Ini membuat pemain bertahan Juve, atau pun Marchisio yang menjadi deep lying playmaker, kesulitan mendistribusikan bola ke pemain tengah, Pogba atau Vidal. Pada akhirnya, bola lebih sering bergulir ke sayap, Pepe dan Coman yang bermain tak special pada laga ini.
Kerapatan jarak antar pemain Fiorentina pun dilakukan bahkan ketika Juve berhasil menembus ke sepertiga akhir pertahanan. Para pemain tengah merapatkan jarak di kotak penalti sehingga Juve kesulitan mendapatkan peluang terbuka.

Salah satu situasi di mana pertahanan Fiorentina bermain rapat
Pada laga ini, total tembakan yang dilepaskan Juve mencapai 18, namun hanya empat yang mengenai sasaran. Lima di antaranya berhasil diblok para pemain Fiorentina. Meski jumlah tembakan yang diblok sedikit, tapi tercatat beberapa blok penting yang mana bila tembakan tersebut tak terbendung, gol bagi Juve pun akan tercipta. Misalnya tendangan Tevez ataupun Morata pada babak kedua.
Dampak Juve Tak Menurunkan Skuat Terbaik
Seperti pelatih Juventus sebelumnya, Antonio Conte, Allegri pun tak menjadikan Coppa Italia sebagai turnamen yang wajib dimenangi. Maka dari itu, beberapa nama yang menghuni susunan pemain pun merupakan pemain yang jarang mendapatkan kesempatan bermain baik di Serie A maupun Liga Champions.
Dimulai dari kiper, Allegri tak memasang penjaga gawang terbaik mereka, Gianluigi Buffon, karena lebih memilih Marco Storari. Pada posisi bek, hanya Leonardo Bonucci yang merupakan pemain berstatus inti. Sisanya, Angelo Ogbonna, Martin Caceres dan Simone Padoin, jarang bermain dengan skuat utama.
Pun begitu dengan trio di lini depan. Coman dan Pepe jarang mendapatkan kesempatan bermain banyak pada musim ini. Coman baru bermain 10 kali, dengan catatan delapan kali sebagai pemain cadangan. Sementara Pepe, baru empat kali dimainkan di Serie A, itu pun datang dari bangku cadangan. Satu lagi, Llorente, posisinya mulai tergantikan oleh Alvaro Morata.
Penurunan kualitas tentu saja terjadi pada laga ini. Paling kentara terlihat di area sebelah kiri, area milik Coman dan Padoin. Dua gol yang diciptakan Fiorentina pun berasal dari area ini, Salah diposisikan sebagai penghuni sayap kanan di Fiorentina.
Pada gol pertama, meski bermula keberhasilan Fiorentina menggagalkan sepak pojok Juventus, sebenarnya Juve bisa menghindari gol ini andaikan Padoin tak kalah cepat dari Salah. Sebelum mendekati area kotak penalti, Padoin sebenarnya berada di depan Salah. Ketika ia gagal menghentikan Salah, ia pun kalah cepat ketika berduel lari dengan Salah. Salah pun dengan bebas bisa melepaskan tembakan terarah.

Proses sebelum terjadinya gol pertama
Jika saja Allegri menurunkan skuat terbaiknya, misalnya saja Patrice Evra yang menghuni bek kiri, bukan Padoin, mungkin saja Evra tak akan terlalu kerepotan menghadapi kecepatan Salah. Secara kualitas pun Evra lebih baik dari Padoin. Namun Allegri lebih memilih membangku cadangkan Evra dan memberikan kesempatan bermain bagi Padoin.
Kesimpulan
Kekalahan 1-2 Juve atas Fiorentina ini terjadi karena beberapa kesalahan yang dilakukan Allegri. Pertama, 4-3-3 dengan memasang Padoin dan Coman di sebelah kiri tak efektif. Kedua, pergantian yang dilakukannya ketika memasukkan Tevez pun tak mengubah permainan Juve menjadi lebih baik.
Allegri tampaknya memang menganggap Coppa Italia tak lebih penting dari Serie A dan Liga Champions. Ini terlihat dari pemain-pemian yang duduk di bangku cadangan, di mana terdapat Buffon, Evra, Giorgio Chiellini, Stephan Lichtsteiner, serta tiga pemain yang baru masuk pada babak kedua: Tevez-Coman-Pereyra.
Berbeda dengan Fiorentina. Sang arsitek, Vincenzo Montella, hanya membanguk cadangkan satu pemain andalannya, Borja Valero. Penghuni susunan pemain Fiorentina adalah pemain-pemain yang cukup bermain sejak menit pertama, kecuali Micah Richards.
Karena itu, kekalahan ini menjadi wajar diterima oleh Allegri. Belum berakhir memang, karena masih ada leg kedua bagi Juventus untuk membalaskan kekalahan ini. Meskipun begitu, kekalahan ini menjadi noda bagi Juventus karena membuat rekor tak terkalahkan Juve di kandang terhenti setelah bertahan dalam 47 pertandingan.
(din/mrp)











































