Untuk Southampton, United, dan Spurs, mereka ingin meraup tiga poin demi memperkecil jarak dengan City di peringkat dua. Sementara Chelsea ingin semakin menjauh dari The Citizens setelah pasukan Manuel Pellegrini itu terpeleset.
Pada akhirnya, pasukan Jose Mourinho memang berhasil menjauh dari City. Hanya saja, mereka hanya berada 1 poin lebih jauh dari sebelumnya setelah bermain imbang 1-1 dengan Soton. Dengan hasil ini, Chelsea kini telah mengumpulkan 6 poin lebih banyak dari City.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun keunggulan ini tak berselang lama, delapan menit kemudian Nemanja Matic menjatuhkan Sadio Mane di dalam kotak penalti. Tendangan penalti berhasil dikonversi dengan baik oleh Dusan Tadic.
Kombinasi Kecepatan dan Kekuatan dari Southampton

Susunan pemain Chelsea dan Southampton β sumber: Who Scored
Setelah disingkirkan oleh Paris Saint-Germain di Liga Champions, kali ini Mourinho bisa berkonsentrasi penuh ke Liga Primer Inggris. Kini Liga Primer Inggris menjadi satu-satunya kompetisi yang masih dijalani Chelsea musim ini. Berhubung mereka juga sudah tersingkir dari Piala FA.
Tidak ada hal mencolok yang Mourinho tunjukkan dalam susuan sebelas pemain utama, hanya saja Matic yang sudah bisa dimainkan kembali setelah absen akibat kartu merah.
Namun, lain hal jika kita melihat susunan pemain Southampton. Ronald Koeman memang harus kehilangan Eljero Elia yang cedera pergelangan kaki, namun ia tetap memiliki pemain-pemain lain yang juga memiliki kecepatan luar biasa.
Β
Koeman menarik Mane ke belakang penyerang, sedangkan Tadic di sayap. Kecepatan Soton semakin dilengkapi dengan bermainnya Shane Long di depan. Victor Wanyama dan Morgan Schneiderlin juga dimainkan di lini tengah sebagai penyedia kekuatan dan kerja keras bagi Soton, yang banyak berpengaruh sepanjang 90 menit. Dari bek sayap kiri, Ryan Bertrand kembali ke Stamford Bridge setelah ia secara permanen pindah dari Chelsea.
Long dan Mane Merepotkan Pertahanan Chelsea
Sangat sulit bagi banyak kesebelasan untuk menang di Stamford Bridge, tapi tidak untuk Soton tadi malam.
Mereka memang kebobolan terlebih dahulu, tapi gol penyama kedudukan telah membuat permainan mereka semakin berkembang di babak pertama. Tak heran, seharusnya mereka bisa saja unggul di akhir babak pertama.


Rata-rata posisi pemain Southampton (sumber: Who Scored); heat map Sadio Mane dan Shane Long (sumber: Squawka)
Mereka bermain lebih baik, menciptakan peluang yang lebih banyak, dan juga lebih menguasai lapangan tengah.
Bisa dilihat dari rata-rata posisi pemain Soton di atas (gambar atas), mereka tak ragu menyerang selama 90 menit. Empat pemain ditempatkan di setengah lapangan lawan dengan dua bek sayap yang siap membantu melalui overlap.
Keputusan Koeman yang lebih memilih memainkan Mane dan Long bersamaan daripada bersama Graziano Pelle dinilai merupakan keputusan yang jenius. Permainan mereka merepotkan pertahanan Chelsea yang ditunjukkan pada gambar heat map (gambar bawah). Mereka berdua tak berhenti bergantian menjemput, meminta bola, dan mencari posisi dengan berlari di belakang pertahanan Chelsea.
Khusus Mane, dari 21 dribel Soton, ia melakukan 4 buah dribel. Tiga di antaranya terjadi di babak pertama yang membuat angka ini sama banyaknya dengan seluruh dribel yang dilakukan oleh semua pemain Chelsea.
Sayang pada babak ke dua, permainan mereka yang terlalu divorsir tidak bisa terus-menerus menekan Chelsea. Andai saja ada Elia dan/atau Jay Rodriguez bisa masuk, mungkin Chelsea akan terus diteror melalui kecepatan selama 90 menit.
Schneiderlin sebagai Nyawa Lini tengah Southampton
Permainan Soton memang berubah di babak ke dua. Hal tersebut terjadi lantaran stamina mereka yang terkuras dan juga berubahnya permainan Chelsea (akan dibahas di sub pembahasan selanjutnya).
Namun, mereka menunjukkan persis mengapa mereka memiliki rekor pertahanan terbaik di liga di musim ini. Mereka membuat Chelsea kesulitan dalam menyerang, dengan Schneiderlin khususnya yang memiliki permainan terbaiknya di depan pertahanan The Saints.


Grafik permainan bertahan dan ball recoveries yang dilakukan oleh Morgan Schneiderlin β sumber: FourFourTwo Stats Zone
Pemain asal Prancis itu melakukan 10 tekel, 9 intersep, 5 sapuan bola, dan 21 ball recoveries sepanjang pertandingan. Kombinasi tekel dan intersep sebanyak 19 kali semalam adalah yang paling banyak di antara semua pemain Liga Primer musim ini dalam satu pertandingan.



Heat map Morgan Scheiderlin; Victor Wanyama; dan kombinasi Nemanja Matic dan Francesc Fabregas β sumber: Squawka
Schneiderlin bersama dengan Wanyama menjadi pemain yang paling aktif di Soton. Dari heat map di atas saja kita bisa membandingkan pergerakan mereka dibandingkan dengan Matic dan Francesc Fabregas yang dikombinasikan.
Inilah yang membuat duet Matic dan Fabregas "mati kutu" di babak pertama, bahkan Matic harus digantikan oleh Willian di babak ke dua akibat permainannya dinilai tidak sebaik biasanya.
Selain Schneiderlin yang bermain apik, pujian juga harus diberikan kepada penjaga gawang Fraser Forster. Ketika bola lolos ke kotak penalti, Forster adalah pemain yang sigap menepis tendangan-tendangan pemain Chelsea.
Forster membuat 8 penyelamatan dari 15 tendangan Chelsea yang tepat sasaran. Pada akhir pertandingan, ia mendapatkan gelar pemain terbaik pertandingan dari Barclays Premier League.
Perubahan Chelsea di Babak Kedua
Berseberangan dengan Southampton, Chelsea sangat kurang dalam kreativitas di babak pertama. Praktis, ancaman mereka hanya datang ketika Costa memenerima umpan silang ke dalam kotak penalti.

Grafik umpan silang Chelsea β sumber: FourFourTwo Stats Zone
Mereka babak belur di babak pertama dan seharusnya merasa lebih beruntung karena tidak ketinggalan ketika jeda turun minum. Buruknya permainan Chelsea ini ditunjukkan dalam angka tendangan ke gawang. Chelsea hanya melakukan 4 tendangan selama babak pertama.
Morinho kemudian melakukan perubaha di babak kedua. Chelsea bermain lebih disiplin dalam menyerang untuk sedikit demi sedikit menembus pertahanan Southampton. Di babak dua ini, Chelsea berhasil mencetak 18 tendangan, dengan 11 di antaranya terjadi setelah menit ke-70.


Grafik umpan sepertiga lapangan akhir Francesc Fabregas dan grafik permainan menyerang Eden Hazard β sumber: FourFourTwo Stats Zone
Eden Hazard dan Fabregas sama-sama menjadi nyawa kebangkitan Chelsea. Mereka berdua masing-masing berhasil menciptakan 4 buah peluang.
Ngotot dan menekannya Chelsea di babak ke dua ini semakin membuat pertandingan lebih menarik. Penguasaan bola mereka juga naik dari 55% menjadi 61% di akhir pertandingan. Namun Southampton beruntung memiliki Forster yang bermain sangat cemerlang. Forster berhasil membuat peluang-peluang yang diciptakan pemain Chelsea di babak kedua tidak berbuah gol.
Kesimpulan
Chelsea mungkin menunjukkan penguasaan bola dan tembakan ke gawang yang lebih baik, tapi Southampton layak meraih hasil ini.
The Saints memang lebih baik di babak pertama dan mungkin seharusnya memimpin pada saat jeda turun minum. Mereka unggul di hampir setiap lini di lapangan dan hanya sial saja ketika Thibaut Courtois mampu menyelamatkan gawang Chelsea.
Chelsea merespon dengan baik di babak kedua. Mereka mulai menempatkan Southampton di bawah tekanan. Apa yang dilakukan Courtois di babak pertama, dilakukan juga dengan lebih baik lagi oleh Forster di babak ke dua melalui penyelamatan-penyelamatan responsifnya.
Tuan rumah terlambat panas tapi mungkin merasa bahwa mereka lebih layak menjadi pemenang. Namun, Southampton berhasil bertahan dengan sangat disiplin.
Hasil imbang memang tidak menghasilkan apa-apa untuk ke dua kesebelasan, tetapi hasil ini jauh lebih baik daripada sebuah kekalahan untuk siapapun di antara mereka.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/krs)











































