Liverpool berhasil melanjutkan tren positifnya dengan kembali meraih kemenangan pada pekan ke-29 Liga Inggris. Menghadapi Swansea di Liberty Stadium, Jordan Henderson menjadi penyelamat Liverpool dengan mencetak satu-satunya gol pada pertandingan ini.
Liverpool datang ke Liberty Stadium dengan masalah cedera yang dialami beberapa pemainnya. Gelandang bertahan mereka, Lucas Leiva, serta pemain muda berbakat, Jordon Ibe, tidak bisa tampil akibat sedang mengalami cedera. Meski mereka juga bisa bernafas lega dengan kembali sembuhnya beberapa pemain seperti Steven Gerrard, Mamadou Sakho, Joe Allen, dan Martin Skrtel.
Di kubu tuan rumah, Swansea tidak banyak kehilangan pemainnya. Hanya bek tengah, Kyle Bartley, yang tengah mengalami cedera dan tidak bisa bermain pada pertandingan kali ini. Namun kehilangan Bartley pun sepertinya tidak akan membuat pusing Garry Monk. Pasalnya, dua bek tengah andalan mereka, Ashley Williams dan jordi Amat, siap bermain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kali ini, Rodgers memainkan trio Raheem Sterling, Daniel Sturridge, dan Phillipe Coutinho sebagai penyerang di depan. Sedangkan Adam Lallana yang biasanya masuk ke dalam trio penyerang, digeser menjadi fullback kanan.
Gelandang sekaligus kapten Liverpool, Steven Gerrard, ternyata tidak dimasukan Rodgers ke dalam susunan starting XI. Rodgers memang sudah mengatakan bahwa dirinya tidak akan memberikan jaminan kepada sang kapten untuk selalu bermain. Rodgers lebih memberikan kepercayaan kepada Allen untuk mendampingi Henderson pada pertandingan kali ini.
Di kubu tuan rumah, Swansea kembali memainkan formasi 4-3-3 dengan menempatkan Jack Cork, Jonjo Shelvey, dan Ki Sung-Yeung di tengah. Sedangkan di depan, mereka memainkan Bafetimbi Gomis sebagai penyerang tengah, serta Gylfi Sigurdsson dan Wayne Routledge sebagai penyerang sayap.

Susunan pemain kedua kesebelasan
Swansea Unggul Jumlah Pemain di Tengah
Swansea memainkan formasi 4-3-3 yang menempatkan dua penyerang sayapnya berdiri sedikit ke tengah dan berada di belakang penyerang tengah. Dengan begitu, secara tidak langsung Swansea terlihat seperti memainkan formasi 4-3-2-1.
Hal ini dilakukan Monk tentu saja untuk mematikan serangan Liverpool. Monk tahu, pusat serangan Liverpool terletak pada kedua gelandangnya yang aktif mengalirkan bola. Liverpool memiliki dua pemain di tengah yang akan mengalirkan bola ke depan. Maka dua pemain inilah yang harus dikunci rapat oleh Swansea.
Bergesernya dua penyerang sayap Swansea ke tengah adalah untuk mengganggu pergerakan dua gelandang Liverpool. Sigurdsson dan Routledge membuat kedua gelandang Liverpool tidak pernah leluasa untuk mengalirkan bola ke dengan.
Selain itu, formasi 4-3-2-1 juga digunakan Monk untuk mengantisipasi pergerakan trio penyerang Liverpool. Sturridge, Coutinho, dan Sterling (pada pertengahan babak pertama bertukas posisi dengan Lallana), ditugaskan untuk banyak bergerak di celah antar lini lawan. Dengan membagi lini permainanan Swansea menjadi 4 lini, otomatis jarak antar lini yang tercipta pada area pertahanan mereka akan semakin sempit.
Lihatlah bagaimana rataan posisi pemain-pemain Swansea di sepanjang pertandingan. Praktis hanya kedua bek sayap mereka yang berada di sisi sayap. 3 gelandang dan 3 penyerang berdiri rapat di lapangan tengah untuk mematikan serangan Liverpool.

Rataan posisi pemain Swansea. Sumber: Whoscored.com
Hal ini tentu saja membuat Liverpool kesulitan untuk menciptakan peluang. Gelandang mereka yang hanya terdiri dari dua orang, tentu saja kesulitan memainkan bola di area yang diisi oleh 3-5 pemain lawan. Trio penyerang mereka pun kesulitan untuk membuka ruang dan memberikan opsi operan bagi para gelandang mengalirkan bola.
Kondisi ini berlangsung selama 25 menit babak pertama. Liverpool yang berambisi untuk memenangkan pertandingan justru sama sekali tidak bisa keluar dari tekanan Swansea. Serangan mereka bahkan langsung digagalkan ketika baru sampai di garis tengah lapangan. Hal ini terlihat dari chalkboard operan Liverpool pada 25 menit pertama babak 1.

Chalkboard operan Liverpool pada 25 menit pertama babak 1. Sumber: fourfourtwo.com
Liverpool Membuka Serangan dari Sayap
Kondisi ini membuat Rodgers mencari cara lain untuk menembus pertahanan Swansea. Dan jika melihat cara bermain Swansea, area yang sangat mudah untuk diincar tentu saja sisi sayap. Swansea hanya menempatkan bek sayap di kedua sisinya. Sedangkan pemain Swansea lain bertumpuk di tengah.
Karena itulah Rodgers menukar posisi Sterling dengan Adam Lallana. Lallana yang sebelumnya menempati posisi fullback kanan, bertukar posisi dengan Sterling yang berada di posisi penyerang sayap kanan. Hal ini ditujukan untuk memberikan ruang bagi Sterling untuk melakukan penetrasi ke area pertahanan Swansea.
Kondisi ini memang membuat Liverpool mulai bisa menciptakan peluang. Namun serangan dari sisi kanan ini juga tidak mampu berbuat banyak. Pasalnya, setelah berhasil menembus sisi kiri pertahanan Swansea, Sterling kesulitan mencari kawannya yang bebas di tengah untuk diberikan umpan. Padatnya area tengah pertahanan Swansea pun membuat Sterling tidak bisa melakukan penetrasi ke tengah dengan skill individunya.
Hal ini membuat Liverpool hanya mampu menciptakan peluang dengan melakukan tendangan jarak jauh. Mereka tercatat melepaskan 5 tendangan dari luar kotak penalti yang hanya dua diantaranya yang mengarah ke gawang Swansea.
Sebaliknya, kubu Swansea justru bisa memanfaatkan kosongnya sisi kanan Liverpool karena Sterling yang sangat rajin maju menyerang. Sisi kanan Liverpool menjadi sasaran empuk untuk dilakukan serangan balik. Wayne routledge menjadi pemain yang ditugaskan untuk memanfaatkan ruang terbuka ini.
Swansea pun beberapa kali berhasil membuat gawang Liverpool teranca. Namun beruntung bagi Liverpool yang memiliki Simon Mignolet di bawah mistar gawang. Kiper asal Belgia ini berhasil menyelamatkan gawang Liverpool dari kebobolan melalui penyelamatan gemilangnya.
Steven Gerrard Mengakhiri Kebuntuan Liverpool
Di babak kedua, jalannya pertandingan masih belum banyak berubah. Liverpool masih kesulitan menembus pertahanan Swansea dan gawang mereka pun beberapa kali terancam oleh serangan balik Swansea. Semua ini baru berubah setelah sang kapten, Steven Gerrard, masuk menggantikan Alberto Moreno.
Steven Gerrard menggantikan Alberto Moreno tentu bukan pergantian pemain yang biasa. Alberto Moreno adalah bek sayap sedangkan Gerrard adalah gelandang. Maka dari sini sudah jelas bahwa tujuan Rodgers adalah menambah jumlah pemain di tengah.
Masuknya Gerrard membuat Liverpool kini memiliki 3 pemain gelandang. Hal ini membuat Jordan Henderson mampu didorong lebih ke depan untuk berkonsentrasi penuh pada serangan Liverpool. Sedangkan Gerrard dan Allen memberikan dukungan dari belakang.
Kondisi ini tentu membuat pertahanan yang dibangun Swansea menjadi kesulitan untuk meredam serangan Liverpool. Gelandang mereka kini tidak kalah jumlah dari pemain yang ditumpuk Swansea di tengah. Bahkan, naiknya Jordan Henderson ke depan, membuat Liverpool berhasil menang jumlah saat memasuki sepertiga akhir pertahanan Swansea. Trio penyerang Liverpool, ditambah henderson, melawan 3 gelandang Swansea.
Hasilnya, Liverpool pun berhasil memecah kebuntuan pada menit ke 67. Dan jika melihat pada kondisi sebelum gol tercipta, bertambahnya jumlah pemain Liverpool di lapangan tengahlah yang membuat gol ini tercipta.

Proses terjadinya gol Henderson
Sebelum gol terjadi, terlihat bahwa ketiga gelandang Swansea harus berkonsentrasi terhadap 3 pemain Liverpool yang melakukan pergerakan di tengah. Sedangkan Daniel Sturridge yang berada di belakang barisan gelandang Swansea, berdiri bebas tanpa pengawalan. Hal ini membuat bek tengah Swansea, Ashley Williams, bergerak maju menjaga Sturridge.
Pergerakan Ashley Williams tentu membuat ruang di area pertahanan Swansea. Jordan henderson yang melihat hal ini langsung berlari ke ruang tersebut. Umpan Martin Skrtel yang diteruskan oleh sontekan Daniel Sturridge pun sampai di ruang kosong dituju Henderson tersebut. Gol pun terciptan setelah Fabianski tidak bisa menyelamatkan bola hasil tendangan Henderson. Liverpool unggul 1-0 dan skor tidak berubah hingga akhir pertandingan.
Kesimpulan
Swansea sebenarnya sudah bermain sangat baik dengan mengunci lini tengah Liverpool sehingga tidak mampu mengkreasikan serangan mereka. 3 gelandang dan 3 penyerang Swansea yang ditumpuk di tengah membuat Liverpool kesulitan untuk menciptakan peluang.
Namun kondisi ini berubah saat Steven Gerrard masuk dan menambah jumlah pemain Liverpool di lapangan tengah. Liverpool tidak lagi kalah jumlah dan mulai bisa menciptakan peluang. Jordan henderson yang mendapatkan keleluasaan untuk menyerang pun akhirnya memecah kebuntuan Liverpool.
Dengan kondisi ini, Liverpool terus menempel ketat Manchester United, Arsenal, dan Manchester City. Mereka hanya terpaut 4 poin dari Manchester City di peringkat kedua, 3 poin dari Arsenal di peringkat ketiga, dan 2 poin dari Manchester United di peringkat keempat.
Dua pertandingan selanjutnya, mereka akan melawan Manchester United di Anfield dan Arsenal di Emirates. Maka, jika Liverpool bisa mempertahankan tren kemenangan ini, bukan tidak mungkin mereka masuk ke posisi ketiga dan mengancam Manchester City.
====
*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(roz/a2s)










































