Memaksa AS Roma Melakukan Umpan Silang Sia-Sia

Liga Italia: Roma 0-2 Sampdoria

Memaksa AS Roma Melakukan Umpan Silang Sia-Sia

- Sepakbola
Selasa, 17 Mar 2015 16:50 WIB
Memaksa AS Roma Melakukan Umpan Silang Sia-Sia
AFP/Filippo Monteforte
Jakarta -

AS Roma menelan kekalahan di giornata ke-27 Serie A. Bermain di kandang sendiri, Roma takluk 0-2 dari tamunya, Sampdoria, dan kini terpaut 14 angka dari pemuncak klasemen sementara, Juventus. Apesnya lagi, sebagai runner up, sekarang I Lupi tinggal berjarak satu poin saja dengan Lazio yang bertengger di tempat ketiga.

Blaucherchiati sukses memecah kebuntuan di menit 60, melalui gol bek Lorenzo De Silvestri. Sampdoria lalu menggandakan keunggulan di menit 78. Giliran pemain Luis Muriel yang mencatatkan namanya di papan skor. Dia memanfaatkan umpan Eder untuk memperdayai kiper Morgan de Santics.

Derita Roma semakin bertambah di menit 81. Mereka harus bermain dengan 10 pemain setelah Seydou Keita diganjar kartu kuning kedua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak ada yang bisa disalahkan dari rentetan hasil buruk ini kecuali Rudi Garcia. Menghadapi Sampdoria yang performanya sedang menanjak, ia kembali menunjukkan taktik yang itu-itu saja, yang terbukti tidak berhasil di laga-laga sebelumnya.

Tak ayal pelatih Sampdoria, Sinisa Mihajlovic, pun dengan mudah membaca permainan dan menghentikan laju srigala kota Roma tersebut.

Miskinnya Kreasi Garcia dan Tertibnya Pertahanan Sampdoria



Dalam skema 4-3-3, Rudi Garcia masih menurunkan nama-nama lama di barisan depan starting line-up, seperti Juan Iturbe, Francesco Totti, dan Gervinho.

Dua pemain yang didatangkan pada bursa transfer januari, Seydou Doumbia dan Daniele Verde, tidak dimasukan Garcia ke dalam susunan line-up. Kedua pemain ini memang belum berhasil membuktikan kualitasnya untuk berada di dalam skuat AS Roma.

Di lini belakang, Garcia tidak bisa memainkan Douglas Maicon, Kostas Manolas, Leandro Castan, dan Federico Balzaretti, yang semuanya mengalami cedera.

Cara permainan Roma pun cenderung sama dengan pertandingan-pertandingan sebelumnya. Secara garis besar, aliran bola akan berpusat pada Totti, kemudian Totti bertugas untuk mengalirkan bola ke sisi kiri atau kanan.

Dari sana, kedua pemain sayap Roma, Gervinho dan Iturbe, tinggal menyisir sisi lapangan dan melepaskan umpan silang, atau melakukan cutting inside.

Sampdoria sebenarnya tidak bermain cukup baik. Di sepanjang babak pertama, Roma berhasil menciptakan banyak peluang. Bahkan seharusnya Roma bisa unggul 3-0 jika saja para penyerangnya lebih tenang dalam melakukan penyelesaian akhir. Contohnya adalah ketika Gervinho berhadapan satu lawan satu dengan kiper Sampdoria, Emiliano Viviano.

Di babak pertama, anak asuh Sinisa Mihajlovic ini memang lebih memilih untuk membiarkan Roma menguasai pertandingan. Mereka cenderung untuk menumpuk para pemainnya di kotak penalti untuk menghadang serangan AS Roma. Karena itulah pemain-pemain AS Roma bisa dengan leluasa berkreasi dan menciptakan peluang.

Lihatlah bagaimana posisi para pemain Sampdoria yang banyak berdiri di kotak penalti ketimbang melakukan tekanan kepada pemain AS Roma yang sedang menguasai bola. Bahkan, saat diserang balik, mereka justru berlari ke belakang untuk membentuk garis pertahanan yang tidak jauh dari gawang dan membiarkan pemain AS Roma maju menggiring bola.



Memaksa Roma Bermain dengan Umpan Silang

Rapatnya barisan pertahanan Sampdoria membuat para pemain AS Roma kesulitan untuk masuk ke jantung pertahanan Sampdoria. Gervinho dan Iturbe kesulitan untuk melakukan kebiasaan cutting inside karena akan langsung dihadang banyak pemain Sampdoria. Hal ini kemudian menyebabkan pemain AS Roma hanya bisa melepaskan umpan silang langsung ke jantung pertahanan Sampdoria.

Namun upaya-upaya Roma dalam melakukan umpan silang cenderung sangat buruk. Tercatat hanya ada 6 umpan silang yang akurat dari total 44 umpan silang (13 persen). Rata-rata seluruh umpan silang Roma sukses disapu dengan baik oleh pemain belakang Il Samp.

Bahkan, dengan menumpuknya sisi tengah pertahanan Sampdoria, Totti terlihat tidak begitu berdaya di babak kedua. Kapten Roma ini terus dijaga oleh Angelo Palombo dan Pedro Obiang. Totti pun hanya mampu melakukan satu kali percobaan mencetak gol setelah menerima bola hasil tendangan bebas.

Grafis clearance Sampdoria berikut menunjukan bagaimana menumpuknya para pemain Sampdoria di dalam kotak penalti. Hal ini membuat umpan-umpan silang AS Roma selalu berhasil dimentahkan pemain bertahan Sampdoria.



Pergantian Pemain yang Tidak Membuahkan Hasil

Di babak kedua, serangan Sampdoria mulai berbahaya. Samuel Eto’o mulai memberikan ancaman ke gawang AS Roma. Gol pertama Sampdoria pun terjadi saat tendangan sudut dari Roberto Soriano diberikan pendek kepada Samuel Eto’o. Mantan penyerang Barcelona itu kemudian berhasil menggiring bola melalui sisi kanan pertahanan AS Roma.

Eto’o kemudian melepaskan satu umpan yang membuahkan kemelut di depan gawang AS Roma. Bek sayap Sampdoria, Lorenzo De Silvestri, lalu berhasil memanfaatkannya untuk mencetak gol pertama Sampdoria.

Setelah tertinggal, Garcia langsung merespons dengan melakukan pergantian pemain. Totti yang mati kutu di babak kedua digantikan oleh Daniele Verde. Hanya saja, Garcia sepertinya tidak memiliki ide lain untuk mengubah jalannya pertandingan.

Pergantian Totti dengan Verde hanya merupakan pergantian pemain semata tanpa diiringi dengan perubahan taktik. Hal ini menyebabkan Roma tetap kesulitan untuk menembus pertahanan Sampdoria.

Hasilnya, Roma pun semakin terpuruk dengan terciptanya gol kedua Sampdoria yang diciptakan oleh Luis Muriel. Penyerang berusia 23 tahun ini, berhasil memanfaatkan serangan balik Sampdoria pada menit ke-77.

Setelah tertinggal 2 gol, Garcia baru mulai melakukan perubahan. Kali ini dia memasukan Seydou Doumbia dan Adam Ljajic untuk menggantikan Iturbe dan Torosidis. Dengan kondisi ini, Doumbia ditempatkan sebagai penyerang tunggal di depan, sedangkan Gervinho, Daniele Verde, dan Adam Ljajic bermain sebagai gelandang serang.

Pergantian ini cukup berhasil membuat sisi tengah pertahanan Sampdoria lebih tertekan. Pasalnya, pergerakan tanpa bola Doumbia berhasil menarik hingga 2 pemain bertahan dan memberikan ruang bagi Ljajic.

Hanya saja, pergantian sepertinya agak terlambat karena dilakukan di penghujung pertandingan. Ditambah lagi ketika itu Roma sudah bermain dengan 10 pemain setelah Seydou Keita diusir wasit. Pertandingan pun berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan Sampdoria.

Kesimpulan

Roma kembali memperburuk catatan tidak pernah menang pada pertandingan kandang Serie A pada tahun 2015. Hal ini tentu saja menjadi catatan buruk bagi Rudi Garcia. Pelatih asal Prancis ini tidak pernah sekali pun melakukan perubahan skema permainan selama musim 2014/2015.

Dari 27 pertandingan, Roma selalu memakai formasi 4-3-3 dan cara bermainnya pun hampir serupa, dengan Totti pangeran yang menentukan ke mana arah bola yang akan dikirimkan.

Kemiskinan kreasi Garcia ini menjadi bahan pertimbangan yang harus dilakukan manajemen Roma, sebab banyak sekali pemain yang begitu berpotensi untuk membuat Garcia melakukan eksperimen. Sebut saja Iturbe yang tidak harus selalu menjadi penyerang. Mantan pemain Verona tersebut juga bisa bermain menjadi pemain sayap, seperti yang ia lakukan di Verona. Serta Florenzi mungkin bisa dicarikan tempat yang lebih ideal dalam skema Garcia.

Jika sampai akhir musim Garcia tidak mau mencoba skema lain, jangan harap posisi runner-up Serie A dapat diraih. Dan bukan tidak mungkin, Roma akan terus mengalami kekalahan demi kekalahan yang menyebabkan serigala ibu kota ini semakin terpuruk.
Β 
====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads