Arsenal berhasil meneruskan tren positif saat menjamu Liverpool di Emirates Stadium. Menang 4-1, The Gunners menorehkan tujuh kemenangan beruntun di Liga Inggris.
Gol-gol dari Hector Bellerin, Mesut Oezil, Alexis Sanchez,dan Olivier Giroud membawa Arsenal menang telak atas The Reds.
Dengan raihan tiga angka ini, Arsenal kini naik ke peringkat kedua dengan raihan 63 poin, tepat di belakang Chelsea --dengan jarak tujuh poin. Jika Manchester City gagal meraih kemenangan saat melawat ke markas Crystal Palace, Arsenal akan tetap bertahan di posisinya saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beruntung bagi anak-anak asuhan Brendan Rodgers, salah satu saingan terdekat lainnya di klasemen sementara, Southampton, dikalahkan Everton dengan skor 0-1.
Susunan Pemain
Baik Arsene Wenger maupun Brendan Rodgers sama-sama menurunkan formasi andalan mereka di pertandingan semalam. Wenger setia kepada formasi 4-2-3-1 sedangkan Rodgers kembali mempercayai formasi 3-4-3 yang membawa peruntungan baik di putaran kedua.
Kieran Gibbs yang disibukkan dengan agenda bersama tim nasional Inggris selama jeda internasional didaftarkan sebagai pemain cadangan. Perannya dimainkan Nacho Monreal, yang bersama Hector Bellerin melengkapi barisan pertahanan andalan Wenger, Laurent Koscielny dan Per Mertesacker.
Di kubu lawan, Rodgers mempercayakan tugas menggedor pertahanan Arsenal kepada Lazar Markovic, Raheem Sterling, dan Philippe Coutinho. Sementara itu, Daniel Sturridge, sama seperti Gibbs, duduk di bangku cadangan.

Starting XI Arsenal (merah) dan Liverpool (kuning)
Sekilas, Liverpool nampak menang jumlah di sektor tengah karena Arsenal hanya memiliki Francis Coquelin dan Aaron Ramsey. Namun, Arsenal justru menempatkan lebih banyak orang di area pertahanan Liverpool.
Menggantikan Martin Skrtel yang harus absen akibat menjalani larangan bertanding, Kolo Toure berhadapan langsung dengan Giroud dan Santi Cazorla.
Sementara itu, Sanchez bersama dengan Oezil diinstruksikan untuk memberi tekanan kepada Mamadou Sakho dan Emre Can (lihat grafik line up).
Tekanan Arsenal Lahirkan Kemenangan
Sejak awal pertandingan, Arsenal bermain agresif dan menekan lini pertahanan Liverpool bergerak sedekat mungkin dengan gawang yang dikawal Simon Mignolet. Keempat penyerang Arsenal tak membiarkan barisan pertahanan Liverpool dengan nyaman keluar membawa bola.
Tekanan dari pemain Arsenal memaksa Liverpool melakukan kesalahan mendasar dan membuat kesebelasan tamu, yang mengandalkan pertukaran umpan menyusur tanah, kesulitan membangun serangan.
Β
Sepanjang babak pertama, Arsenal mencatatkan sebelas tackle berhasil. Tiga tackle berhasil yang ditunjukkan dalam chalkboard di bawah ini terjadi dalam lima belas menit pertama pertandingan.

Chalkboard tekel Arsenal sepanjang pertandingan. Sumber: fourfourtwo.com
Kesulitan Liverpool dalam membangun serangan semakin parah karena tekanan Arsenal memaksa Lucas Leiva dan Joe Allen turun memperkuat pertahanan. Akibatnya, jarak antara lini tengah dan barisan penyerang Liverpool terlalu jauh.
Secara khusus, Arsenal memaksa Toure bekerja keras dengan Sanchez yang sering bergerak ke tengah sebagai tandem Giroud. Tak ayal, Arsenal tampak memainkan formasi 4-1-3-2 ketika sedang menyerang.
Francis Coquelin menjadi satu-satunya gelandang yang melindungi barisan pertahanan karena Ramsey bermain di area sayap kanan, wilayah yang ditinggalkan Sanchez. Oezil beroperasi di sisi sebelah kiri sedangkan Cazorla bergerak bebas.
Β
Untuk merespons hal ini, Jordan Henderson dan Alberto Moreno turun ke lini pertahanan dan membentuk barisan berisi lima pemain. Namun, hal ini malah menyebabkan Oezil dan Ramsey memiliki ruang gerak yang lebih luas. Cazorla yang bertindak sebagai pengatur serangan pun mendapat bantuan dari Monreal dan Bellerin.
Di depan lini pertahanan Liverpool, Arsenal tetap menang jumlah melawan Allen dan Lucas. Kemenangan Arsenal dalam penguasaan ruang ditandai oleh gol Bellerin. Sebuah tendangan yang ditempatkan ke tiang jauh dari area sebelah kiri pertahanan Liverpool. Dari area yang sama, gol kedua Arsenal tercipta.
Pergerakan dinamis barisan serangan Arsenal memaksa Mamadou Sakho melanggar Oezil yang saat itu melakukan pergerakan di sisi kanan serangan Arsenal. Oezil mengeksekusi sendiri tendangan bebas yang ia dapatkan. Sama seperti Bellerin, Oezil menempatkan bola ke sisi kanan Simon Mignolet. Dua kosong untuk Arsenal.

Chalkboard chance created Arsenal di sepanjang pertandingan
Tak berhenti di situ, gol ketiga Arsenal juga melibatkan pergerakan di wilayah Sakho dan Moreno. Bellerin yang memenangi perebutan bola liar melepas umpan kepada Ramsey. Pemain berkebangsaan Wales tersebut kemudian bergerak ke arah dalam sembari menggiring bola sebelum mengarahkan umpan terobosan kepada Sanchez.
Giroud bergerak menyilang untuk membuka ruang, namun Sanchez memilih untuk melewati Toure. Berhasil, Sanchez langsung melepas tendangan kaki kanan.Arsenal tiga, Liverpool nol.
Β
Perubahan Formasi yang Tidak Berarti
Tak banyak yang bisa dilakukan ketika satu kesebelasan sudah dalam posisi ketinggalan tiga nol. Lawan mereka akan bermain dengan lebih nyaman dan dengan tingkat kepercayaan diri tinggi.
Rodgers sendiri merespons ketertinggalan tiga gol tersebut dengan mengubah formasi. Sturridge masuk menggantikan Markovic tepat di permulaan babak kedua. Dia bermain sebagai penyerang tunggal dalam formasi 4-1-4-1.
Β
Sterling yang semula ditempatkan di tengah dipindahkan ke sayap kiri, sedangkan Leiva memainkan peran gelandang bertahan seorang diri dengan Coutinho bersama Allen di depannya. Di barisan belakang, Moreno mengisi pos bek sayap kiri sementara Can menjadi pemain paling kanan.
Liverpool nampak lebih leluasa menguasai bola. Hal ini terbukti dari peningkatan jumlah umpan dan akurasinya.
Pada babak pertama, Liverpool hanya berhasil mencatatkan 170 umpan berhasil dengan persentase akurasi 79,81%. Selepas turun minum, angka tersebut meningkat menjadi 240 umpan berhasil dengan tingkat ketepatan yang juga lebih baik: 85,71%.
Sedikit banyak, perubahan pendekatan Arsenal memainkan peran dalam peningkatan tersebut. Di babak kedua, 'Gudang Peluru' mengendurkan tekanan dan lebih banyak menunggu di area permainan sendiri, menanti peluang untuk melancarkan serangan balik.

Chalkboard attempts Liverpool di sepanjang pertandingan
Akan tetapi, Liverpool tidak berhasil memanfaatkan keleluasaan ini dengan baik. Mereka memiliki persentase umpan sepertiga akhir yang baik β lebih dari setengah umpan Liverpool di babak kedua adalah umpan sepertiga akhir dengan tingkat ketepatan 75,18% β namun tidak berhasil mencetak gol dari permainan terbuka.
Liverpool memiliki sepuluh tembakan, namun hanya dua di antaranya yang mengarah tepat ke gawang; dan satu dari dua tendangan tepat sasaran tersebut adalah tendangan penalti.
Masalah lain Liverpool di babak kedua adalah Can. Ia mengisi pos bek kanan namun tidak memainkan peran bek kanan. Ia lebih terlihat seperti seorang gelandang yang bergerak di area seorang bek kanan, dan memang itulah Can yang sebenarnya.
Can mengecewakan karena dua hal: ia bermain seperti seorang gelandang ketika diminta menjadi bek sayap kanan (hanya tiga kali Can melepas umpan silang, dan ketiganya gagal), dan ia bermain seperti seorang gelandang yang buruk. Sebagai pemain yang dipuja setinggi langit karena dinilai memiliki visi bermain dan kualitas umpan yang baik, Can tidak memenuhi harapan.

Chalkboard aksi Can di sepanjang pertandingan
Sepanjang babak kedua, Can melepas dua belas umpan mengarah ke depan, tapi hanya lima di antaranya yang berakhir tepat sasaran. Kualitas umpan Can tidak terlihat di babak kedua.
Di lain pihak, visi bermainnya lebih tak terlihat lagi. Can lebih banyak melepas umpan ke arah belakang ketimbang depan atau samping (umpan vertikal Can berjumlah sepuluh, sembilan di antaranya tepat sasaran).
Empat belas kali Can melepas umpan kepada pemain yang posisinya lebih dekat dari gawang Liverpool ketimbang Arsenal, dengan akurasi sempurna yang menjadi percuma.
Kesimpulan
Dengan memainkan empat penyerang βOezil, Giroud, Sanchez, dan Cazorla-, yang bermain dengan tekanan tinggi, Arsenal mampu membuat bek-bek Liverpool kesulitan dalam membangun serangan.
Selain itu, taktik ini membuat Lucas dan Allen turun terlalu dalam sehingga menciptakan ruang yang lebar antara lini tengah dan lini belakang.
Sisi kiri pertahanan Liverpool yang diisi Sakho dan Moreno kembali terbukti menjadi titik masalah. Terbukti, tiga gol Arsenal pun berawal dari pergerakan yang terjadi dari area Moreno.
Selepas turun minum, praktis Liverpool memiliki peluang yang amat berat untuk mengejar ketinggalan. Meski melakukan perubahan formasi dan bisa mendapatkan penguasaan bola, barisan pertahan Arsenal nyaris tak pernah terganggu. Satu-satunya gol yang tercipta pun hanya melalui titik penalti.
Kemenangan ini membuat Arsenal berpeluang mencatatkan prestasi tertinggi mereka di Liga Inggris dalam satu dekade terakhir, yaitu menduduki peringkat dua. Dengan rentetan performa baik dan ditopang oleh Giroud dan Sanchez yang sedang menampilkan permainan terbaiknya, takkan mengejutkan jika di akhir musim mereka mampu melakukannya.
(cas/cas)











































