5 Gol Berkat Taktik Tanpa Formasi ala Bielsa

Liga Prancis: Marseille 2-3 PSG

5 Gol Berkat Taktik Tanpa Formasi ala Bielsa

- Sepakbola
Senin, 06 Apr 2015 11:20 WIB
5 Gol Berkat Taktik Tanpa Formasi ala Bielsa
ANNE-CHRISTINE POUJOULAT/AFP/Getty Images
Jakarta - Pemain Olympique de Marseille dan Paris Saint-Germain memasuki lapangan pertandingan dengan iringan lagu Jump dari Van Halen dan koreografi di semua sisi tribun Stade VΓ©lodrome yang dipadati 65.145 pasang mata; rekor jumlah penonton di stadion kebanggan Marseille. Namun kemenangan tidak ditentukan oleh kualitas sambutan pembuka pertandingan dan besarnya dukungan. PSG keluar sebagai pemenang dalam edisi terbaru Le Classique.

Marseille menjadi kesebelasan pertama yang mencetak gol di pertandingan ini. Tak lama berselang PSG mencetak gol balasan. Tak terkejut oleh gol balasan yang cepat, Marseille kembali mencetak gol dan menyudahi babak pertama dengan keunggulan.

Kewalahan di babak pertama, PSG menunjukkan peningkatan kualitas permainan selepas jeda. Dua gol yang tercipta dalam rentang dua menit di babak kedua pun memastikan kekalahan Marseille di hadapan ribuan pendukung mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berkat kemenangan penting ini, PSG kembali ke puncak klasemen sementara Ligue 1. Pasukan Laurent Blanc menjaga keunggulan satu angka dari Olympique Lyonnais yang juga berhasil mengantungi kemenangan dari pertandingan tandang melawan En Avant de Guingamp. Marseille, sementara itu, tertahan di peringkat ketiga dan semakin terancam oleh AS Monaco yang berada tepat tiga angka di belakang mereka dengan tabungan satu pertandingan.

Susunan Pemain

Marcelo Bielsa menurunkan pasukannya dalam formasi 3-3-3-1. Tidak ada pemain kunci yang absen kecuali Gianelli Imbula yang menjalani larangan bertanding. Peran pemain yang tidak pernah absen tersebut dipercayakan kepada Mario Lemina yang bermain di antara Brice Dja Djedje dan Benjamin Mendy. Barisan belakang dipercayakan kepada trio Jeremy Morel, Alaixys Romao, dan Rod Fanni.

Posisi terdepan diisi oleh Andre-Pierre Gignac yang lebih dipercaya ketimbang Michy Batshuayi. Begitu pula peran penyerang sayap kanan yang dimainkan oleh Florian Thauvin; bukan Lucas Ocampos. Dimitri Payet dan Andre Ayew memainkan peran penyerang lubang dan penyerang sayap kiri.
Β 
PSG sendiri tampil dengan kekuatan penuh dalam formasi 4-3-3. Di hadapan Salvatore Sirigu berdiri sebuah barisan Brasil berisikan Maxwell, David Luiz, Thiago Silva, dan Marquinhos. Thiago Motta bermain sebagai gelandang bertahan di antara Marco Verratti dan Blaise Matuidi. Ketiganya menjadi jembatan antara lini belakang dan barisan depan yang berisikan Edinson Cavani, Zlatan Ibrahimovic, dan Javier Pastore.

Marseille Bermain Tanpa Formasi

Marseille langsung bermain menekan sejak menit pertama. PSG tak perlu menunggu lama untuk menemukan jalan masuk ke area berbahaya. Permainan terbuka Marseille dengan sendirinya menciptakan lubang di mana-mana. Namun itu hanya terlihat di awal pertandingan saja, saat para pemain Marseille masih melakukan penyesuaian terhadap lawan.

Walaupun terdaftar dalam formasi 3-3-3-1, para pemain Marseille pada praktiknya bermain tanpa formasi. Bielsa membei instruksi man-to-man marking yang ekstrem sehingga penempatan posisi pemain Marseille tergantung kepada tempat lawan mereka berada.

Jeremy Morel bertugas mengawal pergerakan Zlatan Ibrahimovic sementara Rod Fanni mengawasi Edinson Cavani. Dalam keadaan tertentu, keduanya dapat bertukar lawan. Javier Pastore, sementara itu, menjadi tanggung jawab Alaixys Romao.


Heatmap Lemina dan Verratti

Tak hanya pemain depan, para gelandang dan pemain bertahan PSG pun mendapat kawalan khusus. Mario Lemina secara khusus memberi perhatian kepada Marco Verratti, Dimitri Payet, bukan Benjamin Mendy, mengikuti pergerakan Thiago Motta, sedangkan Brice Dja Djedje terlibat dalam banyak pertarungan melawan Blaise Matuidi.

Andre-Pierre Gignac, selain mengemban tugas mencetak gol, juga bekerja khusus mengganggu Thiago Silva. Andre Ayew dan Florian Thauvin bertanggung jawab terhadap kedua bek sayap lawan.


Heatmap Dja Djedje dan Matuidi

Pendekatan pertahanan tanpa formasi ini pun membuat para pemain Marseille harus melakukan improvisasi ketika memulai serangan dari keberhasilan merebut bola; mereka memulai serangan dari tempat berdiri mereka masing-masing, yang ditentukan oleh tempat berdirinya lawan mereka masing-masing.

Kombinasi man-to-man marking dan improvisasi serangan menghasilkan gol kedua Marseille. Pastore yang menerima umpan Verratti tidak mengontrol bola dengan sempurna. Romao pun langsung merebut bola dan melepas umpan kepada Gignac yang berdiri bebas di area terbuka. Gignac berhadapan satu lawan satu dengan Sirigu dan dengan tenang menempatkan bola ke tiang jauh.

Peran Sentral Marco Verratti

Berbeda dengan Marseille, para pemain PSG menempatkan diri berdasarkan formasi. Mereka bertahan sebagai sebuah unit, menerapkan garis pertahanan tinggi namun tidak menekan. Berbeda dengan Marseille yang menerapkan taktik man-to-man marking, PSG meredam setiap ancaman dengan zonal marking.

Para pemain PSG tidak buru-buru merebut bola. Mereka mengarahkan lawan ke area yang tidak berbahaya dan menunggu terjadinya kesalahan. Ketika kesalahan yang ditunggu tak kunjung tiba, saat itulah PSG tertimpa petaka. Contoh kasus: gol pertama Marseille.

Gignac menerima lemparan kedalam Mendy di area sebelah kanan pertahanan PSG. Gignac kemudian melepas umpan membelah lapangan kepada Payet, yang langsung mengirim umpan silang kepada Gignac yang berlari memasuki kotak penalti. Gignac memenangi duel udara melawan Marquinhos; menyundul bola ke tiang dekat dari dalam kotak enam belas.

Seperti dalam bertahan, ketika menyerang pun PSG lebih terstruktur ketimbang Marseille. Jika PSG berhasil merebut penguasaan bola di area middle third, mereka langsung melepas umpan kunci ke area pertahanan Marseille. Jika serangan dimulai dari area pertahanan mereka sendiri, para pemain PSG akan membangun serangan dengan umpan-umpan pendek melalui area tengah. Para pemain yang terlibat adalah David Luiz, Thiago Silva, Thiago Motta, dan sang pemeran utama: Marco Verratti, gelandang penjelajah yang selalu berada di manapun bola dimainkan.


Penempatan posisi dan penerimaan umpan Verratti

Kedua bek sayap PSG tidak terlibat dalam proses ini karena mereka langsung naik jauh ke depan, memberi tekanan sekaligus menarik Andre Ayew dan Florian Thauvin mundur jauh ke area pertahanan Marseille.

Pengawalan Mario Lemina membuat Verratti terbatasi. Namun hal tersebut tidak menghentikan pemain Italia tersebut. Karena kebebasan menjadi hal yang langka dalam pertandingan ini, Verratti memanfaatkan sebaik mungkin kesalahan yang dilakukan lawannya.

Setelah gol pertama Gignac, para pemain Marseille sempat kehilangan konsentrasi. Dua di antaranya adalah Lemina dan Payet. Verratti dan Motta pun memanfaatkan keuntungan ini untuk membangun serangan cepat yang melibatkan Blaise Matuidi. Dja Djedje tidak mengendurkan pengawalannya terhadap Matuidi, namun itu bukan masalah. Dengan sebuah gerak tipu, Matuidi mengecoh Dja Djedje sebelum melepas tendangan melengkung. Steve Mandanda hanya mampu menyentuh bola dengan ujung jarinya. PSG pun menyamakan kedudukan.

Menguasai Babak Kedua, Mengunci Kemenangan

Selepas jeda, Marseille tidak mampu mencetak gol sementara PSG berhasil dua kali membobol gawang Steve Mandanda. Mandulnya Marseille di babak kedua memiliki hubungan yang lebih erat dengan kualitas serangan mereka sendiri ketimbang kualitas pertahanan PSG. Banyak menebar ancaman dari sayap, Marseille tidak memiliki kualitas umpan silang yang cukup baik.


Umpan silang Marseille di babak kedua

Selain itu, Marseille memiliki akurasi umpan final third yang cukup baik: 74,65%. Namun hal tersebut tidak dibarengi oleh kualitas penyelesaian akhir yang baik; dalam hal inilah Marseille dan PSG berbeda.

Kedua kesebelasan memiliki jumlah tembakan yang nyaris sama: sembilan dan sepuluh. Namun dari sembilan tembakan yang dilepaskan para pemain Marseille, hanya dua di antaranya yang tepat sasaran. PSG, sementara itu, melepas lima tembakan tepat sasaran; satu di antaranya menjadi gol; sambaran jarak dekat Marquinhos mengiringi tendangan bebas Ibra.

Melihat angka-angka yang tersaji, PSG memang pantas mendapatkan dua gol di babak kedua. Selepas jeda, mereka menunjukkan peningkatan yang nyata. Selain berhasil melepas tujuh tembakan lebih banyak ketimbang babak pertama, PSG juga mampu melancarkan serangan balik yang lebih efektif.

Gol kelima pada pertandingan ini, gol kemenangan PSG, adalah buah dari serangan balik cepat yang memanfaatkan kesalahan para pemain Marseille. Romao dan Dja Djedje bertukar lawan dan sama-sama kecolongan. Pastore berlari menggiring bola tanpa gangguan berarti. Umpan silang yang ia lepaskan membentur Rod Fanni dan dibelokkan ke gawang Marseille oleh Jeremy Morel yang mendapat tekanan dari Ibrahimovic.
Β 
Kesimpulan

Taktik tanpa formasi yang diterapkan Marcelo Bielsa sebenarnya menempatkan Marseille di posisi yang baik. Dengan taktik ini, Marseille berhasil menciptakan dua gol dan membuat PSG kesulitan mengembangkan permainan. Namun di saat yang bersamaan, taktik ini juga mengharuskan Marseille bermain sempurna karena jika tidak, lawan memiliki banyak peluang untuk mengeksploitasi celah yang terbuka. Gol Matuidi adalah buktinya.
Β 
Mengingat Marseille menyudahi babak pertama dengan keunggulan, bolehlah dikatakan bahwa taktik ini berjalan baik pada babak pertama. Namun tidak begitu halnya pada babak kedua. Selepas jeda, Marseille tidak mampu mencetak gol sementara PSG dua kali membobol gawang Steve Mandanda.
Keberhasilan PSG memastikan kemenangan di babak kedua tak dapat sepenuhnya disebut sebagai kegagalan taktik Marseille. PSG menang karena mereka berhasil meningkatkan kualitas permainan dan di saat yang bersamaan, Marseille memiliki kualitas penyelesaian akhir yang kurang baik.

(din/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads